Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Masih Hilang



Elyna membuka kedua matanya secara perlahan. Wanita itu langsung terperanjat kaget melihat Pangeran Denzel duduk di hadapannya. Karena terlalu panik Elyna sampai-sampai memeluk dirinya sendiri dengan selimut yang ada di sana. Belum juga mengeluarkan kata Elyna cepat-cepat memperhatikan ruangan tempat dirinya berada saat ini.


"Kenapa aku bisa ada di sini. Apa yang sudah kau lakukan terhadapku. Kau menculikku?" tuduh Elyna asal saja. Wanita Kembali memaksa ingatannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun sayangnya Elyna tidak ingat apapun selain terakhir kali dirinya meneguk segelas minuman.


"Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba kau ada di sini. Seseorang mengirimmu ke sini. Seseorang itu mengincar nyawamu. Kau harus tahu kalau dia ingin membunuhmu. Seharusnya kau berterima kasih karena pada akhirnya aku temukan. Aku akan melindungimu di tempat ini. Sekarang kau tidak perlu khawatir lagi." Sambil berbicara, Pangeran Denzel mulai menyelidiki ekspresi Elyna. Apa benar wanita selembut itu tega membunuh?


"Kita hanya beberapa kali bertemu dan itu hanya berkenalan saja. Aku tidak tahu apa tujuanmu menolongku. Yang aku tahu tidak ada yang gratis di dunia ini. Lalu apa yang harus aku bayar atas jasa pertolonganmu ini?"


"Aku hanya ingin kau berdiam diri di tempat ini. Jangan pergi kemanapun. Jangan temui siapapun. Apalagi bicara dengan siapapun selain aku."


"Berani sekali kau mengaturku. Aku memiliki keluarga. Mereka pasti sangat mengkhawatirkanku saat ini. Dan Dominic. Di mana dia? Bukankah terakhir kali aku pergi ke kasino bersama dengannya?" Elyna terus saja mencari orang-orang yang dekat dengannya. Wanita itu sangat kebingungan.


"Setelah rencanaku berhasil aku akan membebaskanmu dan mempertemukanmu dengan kekasihmu yang bernama Dominic itu!" ujar Pangeran Denzel dengan wajah jutek.


"Kami hanya berteman. Lalu berapa lama aku harus ada di tempat ini?"


"Selama dua minggu saja. Beri aku waktu 2 minggu. Aku ingin menyelidiki sesuatu dan aku mohon kali ini kau membantuku meskipun kita tidak dekat. Kematian ayah kandungku sangat misterius dan aku berencana untuk menyelidikinya." Wajah Pangeran Denzel kembali serius.


"Kedengarannya masalah ini sangat rumit. Kenapa juga harus melibatkanku? Aku benar-benar tidak habis pikir. Lalu sekarang aku ada di mana. Apa rumahku jauh dari sini?"


"Sepertinya sangat jauh. Sebaiknya Kau tidak perlu tahu sekarang ada di mana dengan begitu kau tidak akan mencari cara untuk mencari informasi tentang tempat ini. Menurutlah dengan apa yang aku katakan tadi. Tetaplah di dalam rumah ini dan jangan pergi kemanapun."


Elyna menghelan napas kasar. Sebenarnya dia tidak suka diatur-atur seperti ini apalagi oleh pria yang baru beberapa kali ia temui. Namun mau bagaimana lagi? Untuk kabur juga dia tidak tahu harus pergi ke mana.


"Sebaiknya aku menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh pria ini. Secara pelan-pelan aku akan mencari cara untuk menghubungi Mommy agar bisa segera menjemputku di tempat ini," gumam Elyna di dalam hati.


"Apa kau mau makan? Aku tahu Kau pasti sangat lapar."


"Ya," jawab Elyna malas. Wanita itu bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun Pangeran Denzel tidak terlalu mempermasalahkannya. Pria itu segera keluar meninggalkan kamar tempat Elyna berada.


Setelah pintu kembali tertutup rapat Elyna segera turun dari tempat tidur. Namun tiba-tiba saja wanita itu terjatuh hingga akhirnya pintu kamar kembali terbuka dan Pangeran Denzel berlari panik melihat Elyna tergeletak di lantai.


"Elyna, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa jatuh seperti ini?" protes Pangeran Denzel.


"Harusnya aku yang bertanya kenapa kakiku tidak bisa digerakkan!" sahut Elyna dengan wajah marah. Bahkan wanita itu mendorong Pangeran dengan begitu kasar. "Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?" Elyna memegang kakinya yang terasa kaku. Wanita itu benar-benar kesulitan untuk menggerakkan kakinya sendiri. Ia merasa seperti orang lumpuh.


"Elyna, tenanglah. Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu. Sekarang lebih baik kau kembali naik ke atas tempat tidur. Aku akan membantumu untuk naik ke atas." Pangeran Denzel berusaha membujuk Elyna berharap wanita itu mau menurut dengan perkataannya.


Namun tiba-tiba saja Elyna melakukan hal yang tidak terduga. Wanita itu menarik jas Pangeran hingga pria itu berada di depan wajah Elyna. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.


"Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu. Kau ini pasti orang jahat. Sejak pertama kali kita bertemu pasti kau sudah berniat untuk mencelakaiku. Sekarang cepat katakan padaku apa sebenarnya tujuanmu melakukan semua ini."


Bukan segera menjawab justru Pangeran Denzel terpikat dengan wanita itu. Wajah Elyna yang kini sangat dekat dengannya terlihat begitu sempurna. "Cantik," celetuk Pangeran. Hingga akhirnya membuat Elyna segera mendorong tubuh pangeran.


"Aku tidak bisa berbuat gegabah. Aku harus tenang. Aku harus tahu sumber permasalahannya. Jika aku terus-terusan menyalahkannya seperti ini yang ada dia tidak mau menjelaskan apa tujuannya mengurungku di tempat ini," gumam Elyna dalam hati.


Pangeran Denzel tersadar. Pria itu berdehem pelan. "Kau tidak perlu marah padaku. Aku tidak pernah memiliki niat jahat terhadapmu. Soal kaki ini pasti akan ada solusinya. Sekarang ayo aku angkat ke atas lagi."


Kali ini Elyna segera menggangguk dan tidak mau banyak protes lagi. Pangeran Denzel segera menggendong tubuh Elyna dan meletakkannya di atas tempat tidur dengan hati-hati.


"Sebenarnya obat apa yang sudah diberikan oleh Brandon? Kenapa tiba-tiba Elyna tidak bisa berjalan?" gumam Pangeran di dalam hati.