Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Penyusup



Pangeran Denzel muncul dengan membawa makanan untuk Elyna. Pria itu terlihat bahagia melihat Elyna sudah rapi dan wangi. Karena tidak bisa berjalan akhirnya Pangeran meminta pelayan wanita untuk mengurus Elyna secara khusus. Membantu wanita itu mandi dan berias. Bahkan Pangeran Denzel juga memperhatikan pakaian yang akan dikenakan oleh Elyna. Dia memperlakukan Elyna layaknya kekasih.


Karena memang sudah jam makan, Pangeran meletakkan makanan yang dia bawa di meja dekat sofa. "Bagaimana keadaanmu hari ini? Apa obat yang diberikan oleh dokter sudah memberikan efek yang baik untuk kakimu?” tanya Pangeran. Pria itu mengangkat meja kecil dan meletakkannya di atas tempat tidur sebelum mengambil lagi makanan yang tadi sempat diletakkan di meja.


"Ya, aku sudah mulai bisa menggerakkan kakiku secara perlahan. Tetapi aku belum bisa menggunakannya untuk berjalan,”jawab Elyna apa adanya. Wanita itu melirik makanan dan minuman yang kini dibawa oleh Pangeran Denzel. "Apa itu untukku? Aromanya membuatku lapar.”


"Ya, aku tahu Kau pasti lapar. Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu. Semoga saja kau menyukainya.”Pangeran Denzel segera merapikan makanan itu. Dia meletakkan makanan dan minuman di atas meja yang ada di tempat tidur.


"Aku sudah berhasil menemukan pembunuh ayahku. Ternyata dia adalah orang yang paling dipercaya oleh Papa selama ini. Aku masih tidak menyangka kalau dia tega mengkhianati Papa. Sampai-sampai membunuh Papa dengan begitu kejam. Alasan utamanya ia ingin mencuri berlian berharga yang disimpan oleh papa. Aku masih tidak habis pikir kenapa di dunia ini masih ada orang yang rela membunuh hanya demi harta.” Selama ini kehidupan Pangeran dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.


"Kenapa harus heran. Di dunia ini ada banyak sekali orang yang seperti itu. Mereka rela melakukan apapun hanya demi mendapatkan uang," ucap Elyna tanpa berdosa. Wanita itu segera meneguk air putih yang ada di sana sebelum memulai untuk makan. Sedangkan Pangeran Denzel memilih untuk diam karena dia tidak mau mengganggu Elyna ketika sedang mengunyah makanannya. Berbeda jauh dengan Elyna yang justru tertarik untuk bercerita walaupun kini ia sedang makan.


"Lalu apa yang kau lakukan terhadap pembunuh itu? Apa kau akan menjebloskannya ke dalam penjara?"


"Aku tahu Brandon pria yang sangat licik. Ia akan mudah lolos jika aku menyerahkannya kepada polisi. Jadi aku putuskan untuk menghukumnya dengan caraku sendiri."


Elyna mengangguk. "Kau juga akan membunuhnya dan menyiksanya seperti dia memperlakukan ayah kandungmu? Apa seperti itu caramu balas dendam?”


“Aku tidak boleh terlihat jahat di depan Elyna. Dia ini wanita lembut dan memiliki rasa tidak tega terhadap orang lain. Lebih baik aku jawab saja seolah-olah aku ini pria pemaaf,” batin Pangeran Denzel. Dia menggeleng kepalanya. "Aku tidak sekejam itu. Aku masih memiliki hati. Meskipun aku sudah tahu kalau dia bersalah, tetapi tetap saja ada keinginan di dalam hatiku untuk memaafkan kesalahannya asalkan dia mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun aku tahu dia melakukan kesalahan yang begitu fatal, tetapi aku yakin semua di dunia ini ada sebab akibatnya. Dia pasti memiliki alasan sendiri kenapa melakukan semua ini.”


Pangeran Denzel tidak akan pernah menyangka kalau wanita yang kini dia ajak bicara justru pembunuh paling kejam yang pernah ada. Bahkan tidak pernah memandang usia setiap kali ingin menghabisi targetnya. Mungkin saja kalau Elyna tidak amnesia dan Yang Mulia Raja adalah targetnya, tanpa segan-segan dia akan membunuhnya.


"Itu berarti secara tidak langsung kau ingin mengatakan kalau kau akan memaafkan kesalahannya asalkan dia mau jujur? Begitu?” Wajah Elyna kembali serius. Dia mulai mengagumi kebaikan dan jiwa pemaaf Pangeran Denzel.


"Anggap saja seperti itu. Bukankah kejujuran sangat mahal nilainya. Dan aku yakin Brandon akan sulit untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi."


Untuk beberapa saat baik Pangeran Denzel maupun Elyna kembali membisu. Elyna hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Saat makanan itu benar-benar habis Elyna dan Pangeran Denzel baru mau melanjutkan obrolan mereka.


"Boleh aku melihat foto pria bernama Brandon itu? Entah kenapa tiba-tiba saja aku tertarik untuk melihat wajahnya. Bisa jadi aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini?” pinta Elyna dengan penuh rasa penasaran di dalam hatinya. Dia ingin tahu seperti apa wajah seorang pembunu. Apa menyeramkan seperti yang di film-film?


"Aku tidak yakin pernah menyimpan fotonya di ponselku. Akan aku coba untuk mencarinya.” Pangeran Denzel mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu mencari foto Brandon di dalam galeri. Pria itu menemukan foto Brandon ketika sedang menghadiri acara bersama dengan Yang Mulia Raja. Melihat senyum tulus di wajah Ayah kandungnya membuat Pangeran Denzel merasa sedih. Sampai detik ini pria itu masih tidak menyangka kalau ia sudah tidak memiliki Ayah lagi.


Pangeran Denzel memandang wajah Elyna dengan mata berkaca-kaca. "Ini fotonya. Pria yang ada di sebelah kiri ini bernama Brandon.”Pangeran Denzel memberikan ponselnya kepada Elyna agar Elyna bisa melihat wajah Brandon dengan jelas.


Elyna menatap foto Brandon yang ada di ponsel Pangeran Denzel. Tiba-tiba saja bayangan sebuah kejadian muncul di dalam ingatannya. Elyna merasa tidak asing dengan wajah pria yang bernama Brandon itu. Namun ia tidak tahu di mana ia pernah bertemu dengannya. Kepala Elyna terasa sakit ketika ia memaksa ingatannya untuk mengingat semua yang sudah hilang. Karena terlalu sakit sampai-sampai ponsel yang sempat ia genggam terlepas begitu saja.


"Elyna, Apa kau baik-baik saja?" tanya Pangeran Denzel khawatir.


"Kepalaku sakit,” jawab Elyna sembari memegang kepalanya. Namun kali ini wanita itu berusaha kuat. Dia tidak mau jatuh pingsan seperti yang sebelum-sebelumnya terjadi.


"Apa mau aku panggilkan dokter?” Pangeran Denzel semakin khawatir.


"Jangan. Ini biasa terjadi jika aku memaksa Ingatanku untuk mengingat semuanya,” jawab Elyna tanpa memandang.


Pangeran Denzel mengernyitkan dahinya. Dia bingung dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Elyna. "Memaksa ingatanmu? Apa maksudnya?”


"Pangeran, sebenarnya aku sempat mengalami kecelakaan dan Amnesia. Aku sama sekali tidak ingat dengan apa yang terjadi sebelum aku mengalami kecelakaan. Dokter bilang aku bisa kembali mengingat semuanya tetapi tidak tahu entah kapan. Bisa cepat atau lambat. Sampai detik ini aku terus saja berusaha untuk memaksa ingatanku tetapi dokter melarangku untuk melakukan itu. Katanya aku bisa saja gila jika terus-menerus memaksa ingatanku untuk mengingat semua yang pernah terjadi.”


Pangeran Denzel kaget bukan main ketika dia tahu kalau Elyna pernah amnesia. "Kapan kau kecelakaan Elyna?”


"Kenapa kau tidak bilang sejak kemarin. Elyna, apakah kau tahu kalau dokter yang selama ini merawat kakimu juga dokter hebat yang bisa membantumu untuk mendapatkan kembali Ingatanmu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu Elyna. Saat itu aku mengalami kecelakaan dan mengalami Amnesia. Aku seperti pria bodoh yang tidak tahu apa-apa. Bahkan rasanya aku malu ketika semua orang memanggilku dengan sebutan Pangeran. Tetapi aku sembuh setelah melakukan perobatan selama enam bulan.”


Hanya enam bulan saja?” tanya Elyna kurang percaya.


"Ya. Kau juga bisa sembuh Elyna. Apa kau mau sembuh? Karena ada beberapa orang yang lebih memilih untuk tidak pernah mengingat masa lalu mereka lagi. Mereka ingin memulai hidup yang baru.”


“Tidak. Aku ingin mengingat semuanya. Tolong bantu aku.” Elyna terlihat tertarik dengan obrolan mereka kali ini.


"Ya. Elyna, itulah yang membuatku sangat senang untuk berkeliling dunia. Saat aku tidak lagi mengingat ingatanku, papa mengizinkanku untuk bersenang-senang. Dia sama sekali tidak membebaniku dengan urusan di kerajaan ini. Lalu aku bertemu dengan dokter yang sekarang merawat kakimu itu. Dia melakukan terapi dan membuat ingatanku secara perlahan kembali. Hingga pada akhirnya aku bisa mengingat semuanya. Memang butuh waktu lama dan kesabaran. Te tapi setidaknya bisa membuahkan hasil.” Semangat yang diberikan Pangeran Denzel membuat Elyna kembali bangkit.


"Pangeran, tolong bantu aku bertemu dengan dokter itu lagi. Aku ingin dia mengobatiku agar aku tidak amnesia lagi. Aku ingin mengingat semuanya. Aaku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku mengalami kecelakaan.” Tanpa sadar Elyna menggenggam tangan Pangeran Denzel karena terlalu bahagia.


"Tetapi itu kembali lagi dengan kondisimu Elyna. Bukankah kondisi setiap orang tidak sama. Tapi aku berharap kau bisa segera sembuh. Kau tenang saja. Lebih baik sekarang kau tetap menjaga kesehatanmu. Jangan terlalu memaksa ingatanmu karena itu hanya akan membuatmu menderita. "


Elyna hanya menjawab dengan anggukan saja. Wanita itu merasa sangat senang karena kini ia bisa menemukan titik terang untuk bisa menyembuhkan amnesia yang dia derita. "Semoga saja dokter itu bisa menyembuhkan amnesiaku ini."


Saat sedang asyik cerita terdengar suara ketukan pintu. Pangeran Denzel segera beranjak dari kursi yang ia duduki. "Aku akan memeriksa siapa yang datang,”ucapan Pangeran Denzel sebelum berlalu pergi menuju ke arah pintu. Dia membuka kamar tersebut lalu memandang pengawal setianya yang sudah berdiri di sana.


"Ada apa? Bukankah tadi kau bilang kau ingin menemui Brandon dipenjara?”


"Ada yang ingin mencelakai Brandon Pangeran. Dia memberikannya racun. Setelah diperiksa racun ini memang sangat mematikan. Tetapi dokter sudah menyuntikkan penawarnya hingga akhirnya nyawa Brandon masih bisa untuk diselamatkan.”


"Seseorang? Siapa sebenarnya yang juga menginginkan nyawa Brandon. Apakah kau sudah memeriksa semuanya?” Pangeran terlihat sangat serius.


"Sudah, Pangeran. Bahkan kami sudah menangkap orang yang mengantarkan minuman beracun itu. Dia adalah pengawal yang bekerja di penjara. Ternyata dia diancam oleh seseorang hingga mau melakukan semua itu. Sampai detik ini kami masih melakukan penyelidikan untuk mencari tahu apa tujuan sosok misterius ini. Kenapa dia juga menginginkan nyawa Brandon. Sepertinya Brandon ini memiliki banyak musuh, Pangeran.”


"Aku akan menemui Brandon. Tetapi sebelum itu aku ingin berpamitan dengan Elyna.” Pangeran Denzel kembali masuk ke dalam kamar.. Tidak butuh waktu lama pria itu Kembali keluar. "Ayo! Sekarang kita harus segera menemui Brandon. Sekarang dia ada di mana?"


"Dia masih ada di penjara, Pangeran. Tetapi melihatnya menderita seperti tadi aku merasa puas. Rasa sakit itu memang hukuman yang setimpal untuk membalas perbuatan yang sudah ia lakukan. Dia ini pria kejam yang tidak memiliki hati. Untuk apa anda mengkhawatirkannya seperti ini?”


Melihat ekspresi khawatir di wajah Pangeran Denzel membuat pengawal setianya itu cemburu. Pria itu takut jika sampai Pangeran berubah pikiran dan tidak jadi untuk menyiksa Brandon sampai tewas.


"Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku sangat menginginkannya mati. Tetapi tidak secepat ini. Aku ingin tahu kejujuran darinya. Aku juga ingin sekali membunuhnya. Tetapi, tidak sekarang,” jawab Pangeran asal saja agar pengawal setianya itu tidak lagi berburuk sangka terhadapnya.


Pria itu menahan langkah kakinya. Tiba-tiba saja ia berputar lalu mengamati lorong yang baru saja mereka lewati. Hal itu menarik perhatian Pangeran hingga pria berbadan tinggi itu juga ikut berhenti.


"Ada apa? Apa yang baru saja kau cari?” Pangeran Denzel juga mengamati lokasi sekitar dengan serius.


"Aku merasa seseorang sedang mengawasi kita. Apa Anda tidak merasa demikian Pangeran?"


Pangeran juga memperhatikan keadaan sekitar namun ia tidak menemukan apapun di sana. Yang ada hanya keheningan saja. "Mungkin itu hanya firasatmu saja karena kau terlalu benci dengan Brandon. Ayo cepat kita harus segera menemui Brandon. Aku ingin menemui Elyna lagi. Ada banyak hal yang harus kami bicarakan."


Ketika Pangeran Denzel dan juga pengawal setianya sudah menjauh, tiba-tiba sosok misterius itu keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tersenyum licik sebelum memandang kamar tempat Elyna berada. Pria itu mengeluarkan kunci dari dalam saku.


“Akhirnya kita bertemu lagi, Elyna.”