Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Masih Marah



Dominic benar-benar tidak habis pikir melihat kelakuan Elyna. Wanita itu marah padanya hingga tidak mau bicara sepatah kata pun. Bahkan ketika Dominic melontarkan beberapa pertanyaan Elyna juga terlihat cuek. Dia telah menunjukkan sisinya sebagai seorang wanita ketika sedang marah.


Karena tidak jadi makan malam di sebuah restoran akhirnya Dominic mengirimkan makanan ke kamar Elyna. Tetapi sayangnya makanan itu sama sekali tidak disentuh oleh Elyna. Hingga ketika pagi telah tiba.


Dominic telah duduk di meja makan untuk sarapan tetapi Elyna tidak juga memperlihatkan batang hidungnya. Dominic tidak mau mulai sarapan sebelum Elyna ada di sana. Seorang pelayan yang ditugaskan oleh Dominic untuk memanggil Elyna telah kembali. Hal itu membuat Dominic mengernyitkan dahi karena dia tidak melihat Elyna bersama dengan pelayan tersebut.


"Di mana Elyna? Apa dia tidak mau sarapan denganku?" tebak Dominic asal saja. Pria itu tahu kalau kini Elyna masih marah padanya.


"Nona Elyna bilang kalau dia akan segera turun. Nona meminta saya untuk mengatakan kepada anda jika anda ingin sarapan anda sarapan saja duluan tidak perlu menunggunya." Pelayan itu kembali menunduk dengan wajah takut.


Dominic kembali diam sejenak. Sedangkan pelayan wanita itu masih berdiri di sana menunggu perintah dari Dominic lagi. "Kau boleh pergi."


"Terima kasih, Tuan. Permisi." Pelayan wanita itu segera kembali ke dapur sedangkan Dominic beranjak dari kursi yang ia duduki. Dia melangkah menuju ke tangga yang akan menghubungkannya ke kamar tidur Elyna.


Di dalam kamar, Elyna terlihat duduk sambil memperhatikan pemandangan yang ada di luar jendela. Sebenarnya dia sudah tidak marah lagi dengan Dominic. Justru kini Elyna merasa bersalah karena sudah melontarkan kata-kata kasar tadi malam. Elyna tidak mau sampai Dominic memulangkannya ke rumah. Dia sudah terlalu cinta dengan Las Vegas dan ingin bersenang-senang lebih lama lagi di kota tersebut.


"Apa yang harus aku katakan ketika nanti aku bertemu dengan Dominic? Aku yakin dia pasti sakit hati dengan perkataanku tadi malam. Kenapa juga aku tidak bisa berpikir jernih. Bisanya menyakiti hati orang lain saja!" umpat Elyna kepada dirinya sendiri.


Suara ketukan pintu membuat Elyna terperanjat kaget. Wanita itu segera turun dari sofa lalu berjalan menuju ke arah pintu. "Ia sebentar," ujar Elyna dari dalam. Karena pintu itu dikunci jadi tidak sembarang orang bisa masuk.


Elyna membuka kunci kamar lalu membuka pintu tersebut dengan lebar. Dia tertegun melihat Dominic berdiri di hadapannya.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" gumam Elyna di dalam hati.


"Ayo kita sarapan. Tadi malam kau tidak menghabiskan makan malammu. Pagi ini kau juga tidak mau untuk sarapan denganku. Jika aku salah, aku minta maaf. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa agar kau mau memaafkanku. Aku tidak pernah memiliki niat untuk menghancurkan kesenanganmu.


Tadi malam aku melakukan itu karena aku mengkhawatirkan keselamatanmu. Tolong percaya padaku. "Dominic tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Saat ini yang terpenting adalah senyum Elyna. Pria itu ingin melihat Elyna ceria lagi.


"Aku tidak mau keluar kamar bukan karena aku masih marah padamu. Justru aku yang ingin minta maaf karena sudah berkata kasar tadi malam. Aku tahu kalau niatmu sangat baik. Kau jelas saja tidak akan tahu kalau aku sudah pernah bertemu dengan pria itu." Elyna masih menunduk saja.


Dominic merasa lega sekarang. Sudah ada senyum tipis dibibirnya. "Oke. Sepertinya hanya salah paham kecil saja. Sekarang kita sudah berteman?"


"Aku tidak mau kita bertengkar. Aku ingin bersenang-senang. Kau masih punya hutang padaku. Nanti malam kau harus membawaku ke Kasino." Elyna mengangkat kepalanya memandang Dominic.


"Baiklah. Kalau begitu kita lupakan perselisihan yang pernah terjadi di antara kita. Sekarang ayo sama-sama kita turun dan sarapan pagi. Aku tidak mau sampai kau jatuh sakit. Setelah ini aku juga harus pergi sebentar karena ada beberapa urusan. Sebaiknya kau tidak pergi kemanapun tanpa pengawasan dariku. Bukannya aku tidak percaya tetapi aku-"


"Baiklah mulai sekarang aku akan menuruti perkataanmu. Kau tidak perlu khawatir lagi. Aku janji akan menjadi gadis yang penurut dan baik hati," sahut Elyna dengan sungguh-sungguh sambil tersenyum manis. Dominic hanya tersenyum saja mendengarnya. Lalu pria itu memutar tubuhnya dan membawa Elyna untuk turun ke bawah.


...***...


Sambil mengepal kuat tangannya Pangeran Denzel berusaha untuk tetap kuat. Meskipun begitu di dalam hati ia merasa marah dan bertekad untuk membalas orang yang sudah menyebabkan Ayah kandungnya tewas dengan cara mengenaskan seperti ini.


Malam di saat Pangeran Denzel berada di Las Vegas Ia mendapat kabar Kalau Yang Mulia Raja telah meninggal dan akan segera dikebumikan besok pagi. Namun di tengah jalan Pangeran Denzel mengalami masalah hingga ia tidak bisa tiba di pagi hari.


Ketika jenazah Yang Mulia Raja ingin dikuburkan, Pangeran Denzel baru bisa tiba di pemakaman. Kabar yang didapat dari pangeran Denzel bahwa Yang Mulia Raja sengaja dibunuh oleh seseorang. Dia tidak tahu kalau semua ini memang sudah di atur oleh Brandon.


"Pangeran, Kami turut berduka cita. Kabar ini sangat mengejutkan negara kita. Saya harap sebagai calon raja Anda bisa lebih tegar untuk menghadapinya. Cepat atau lambat keadaan seperti ini juga pasti akan terjadi karena bagaimanapun juga Anda adalah pewaris kerajaan Belanda," ucap seorang pria yang selalu mendampingi Pangeran Denzel selama berada di istana Belanda.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba papa meninggal? Sbelumnya dia terlihat baik-baik saja. Pengawasan di Istana bukan main jumlahnya. Kenapa bisa sampai kebobolan. Apa jangan-jangan ada orang dalam yang memang berencana untuk membunuh raja?" tebak Pangeran Denzel.


"Pangeran, masalah ini masih dalam penyelidikan. Secepatnya pasti akan segera terungkap," jelas pria itu agar Pangeran Denzel tidak berpikir yang aneh-aneh lagi. "Anda harus sabar. Jangan sampai ada yang memanfaatkan kesedihan anda ini."


Pangeran Denzel hanya mengangguk saja. Pria itu kembali memandang ke arah pemakaman yang kini sudah dipenuhi oleh bunga. Para keluarga juga sudah meninggalkan wilayah pemakaman setelah mengucapkan belasungkawa kepada Pangeran Denzel. Kini hanya Pangeran Denzel yang tersisa di sana bersama dengan beberapa pengawal yang berjaga beberapa meter dari posisinya berada.


"Papa, maafkan aku karena selama ini selalu ingin pergi meninggalkan istana hingga kita tidak pernah memiliki waktu untuk bersama. Papa tidur yang tenang di sana. Aku pasti akan membalas orang yang sudah merenggut nyawa papa. Aku tidak akan tinggal diam!" gumam Pameran Denzel di dalam hati.


...***...


Elyna merasa bosan. Wanita itu turun ke lantai bawah untuk mencari makanan di kulkas. Pelayan dan pengawal terlihat berlalu lalang. Tetapi, ada satu hal yang membuat Elyna bingung sejak tadi. Beberapa pekerja itu terlihat ketakutan ketika melihat Elyna. Bahkan setelah bertemu dengan Elyna, mereka terlihat membahas sesuatu.


"Sebenarnya mereka kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Ini juga pertama kalinya aku ada di rumah ini. Lalu kenapa mereka memandangku seperti itu?" batin Elyna.


Pekerja yang ada di rumah Dominic hanya tahu kalau Elyna ada Big Boss Queen Star. Wanita jahat yang pernah menyerang Las Vegas bahkan kediaman Dominic hingga menewaskan beberapa pekerja di rumah itu. Mereka sama sekali tidak tahu kalau Elyna amnesia.


Karena sudah terlanjur penasaran, akhirnya Elyna bersembunyi di balik dinding untuk menguping apa yang dibicarakan oleh para Pekerja. Wanita itu bahkan mencari posisi yang benar-benar tersembunyi agar tidak ketahuan.


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Tuan Dominic. Kenapa dia mau memaafkan wanita jahat itu. Tuan Dominic mengalami kerugian besar karenanya," ucap seorang pelayan wanita sambil membersihkan guci yang ada di hadapannya.


"Aku juga bingung ketika pertama kali melihat wanita jahat itu ada di rumah ini. Tuan Dominic juga terlihat sangat menyayanginya. Apa sekarang mereka saling mencintai sampai-sampai Tuan Dominic melupakan semua kesalahan yang sudah pernah ia perbuat?"


"Kalau aku jadi Tuan Dominic, Aku tidak mau memaafkan wanita itu apapun yang ia katakan. Bahkan waktu itu Tuan Dominic hampir saja tewas di tangannya. Bagaimana kalau wanita itu hanya pura-pura saja. Dia sengaja bersikap manis di depan Tuan Dominic agar bisa mendapatkan kepercayaan darinya. Bukankah sejak dulu tujuan utamanya adalah menguasai Las Vega."


"Tapi kita bisa apa? Tuan Dominic juga tidak akan mendengarkan perkataan kita. Lebih baik sekarang kita bekerja saja. Dan jangan lagi menjelekkan wanita jahat itu karena jika dia sampai mendengarnya bisa gawat. Dia akan melaporkannya kepada Tuan Dominic dan kita semua bisa dipecat."


Para pelayan wanita itu kembali diam dan melanjutkan pekerjaan mereka. Tidak dengan Elyna yang kini berdiri sambil memasang wajah bingung.


"Wanita jahat? Mereka memandangku sebagai wanita jahat? Sebenarnya apa yang pernah aku lakukan terhadap Dominic sampai-sampai pekerja di rumah ini memandangku sebagai wanita jahat. Dan kenapa mereka mengatakan kalau aku hampir saja membunuh Dominic. Tidak! Kali ini aku tidak bisa diam lagi. Aku akan meminta Dominic untuk menjelaskan semua yang terjadi. Aku tahu pasti ada rahasia besar di sini. Tidak mungkin para pekerja itu mengatakan kalimat seperti tadi," gumam Elyna di dalam hati.