Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Kembali Bersama



Pagi yang cerah. Matahari baru saja muncul ke permukaan. Kota yang sempat sunyi itu, kini kembali dipenuhi para warga yang beraktifitas. Beberapa toko yang sempat tutup juga sudah buka kembali.


Dominic duduk sambil menatap ke luar jendela. Bibirnya yang sempat pucat, kini sudah berwarna merah lagi. Matanya terlihat berkaca-kaca saat ia kembali mengingat peristiwa menyakitkan hati yang ada di Belanda.


Ketika tiba di Las Vegas, Dominic langsung dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba saja pingsan. Pria itu harus menjaga kesehatannya dengan baik. Dokter menyarankan agar Dominic tidak banyak pikiran dan lebih banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi.


Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dominic terus saja memikirkan Elyna meskipun saat itu dia sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan Elyna di Belanda. Di dalam pikiran Dominic kini Elyna sedang bersenang-senang dengan Pangeran Denzel. Padahal yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu.


"Tuan, ini sarapan pagi anda. Anda harus segera memakannya agar kondisi Anda bisa kembali pulih," ucap seorang pelayan wanita sembari membawa makanan yang menjadi sarapan pagi Dominic saat itu.


"Aku tidak mau makan. Perutku masih kenyang," dusta Dominic. Padahal sebenarnya pria itu tidak selera makan karena terlalu banyak memikirkan Elyna. Bukan karena masih kenyang.


Pelayan wanita itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Dominic sendiri. Dia juga tidak tahu harus bagaimana lagi. Dominic kembali fokus dengan layar televisi yang ada di hadapannya. Pria itu tidak berselera untuk mencicipi sarapan yang masih hangat.


Lagi-lagi pintu ruangan tempat Dominic dirawat kembali terbuka. Dominic berfikir kalau pelayan wanita tadi yang kembali muncul di sana.


"Aku akan memakannya nanti. Pergilah! Jangan ganggu aku. Aku butuh waktu untuk sendiri," ketus Dominic. Karena tidak ada respon pria itu akhirnya memiringkan kepalanya ke samping. Dia kaget bukan main melihat Elyna berdiri di sana. Tadinya dia berpikir kalau mereka tidak akan pernah bertemu lagi.


"Elyna, kau datang ke sini? Ke Las Vegas lagi?"


Elyna tersenyum manis. Wanita itu masuk ke dalam ruangan dan berjalan ke arah meja. Dia mengambil bubur yang masih hangat dan membawanya menuju ke tempat Dominic berada. "Bagaimana bisa aku meninggalkan kota Las Vegas yang indah ini. Meskipun ingatanku telah kembali, tetapi aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan kota Las Vegas. Aku ingin bersenang-senang lagi di sini bersama denganmu."


"Ya. Karena kebetulan kau tidak lagi amnesia, jadi aku katakan sekarang juga padamu. Waktu itu kau datang ke sini untuk merebutnya dariku. Tetapi sekarang kau tidak perlu melakukan itu lagi. Jika kau ingin menjadikan kota Las Vegas sebagai markas Queen Star, silakan. Karena mulai sekarang kota Las Vegas menjadi milikmu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan kota jelek ini," ucap Dominic.


Lalu pria itu kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Dia tidak mau terlalu lama memandang wajah Elyna karena itu hanya akan membuat debaran jantungnya menjadi tidak karuan.


"Terima kasih atas tawarannya Dominic. Aku sangat senang. Tetapi untuk sekarang aku tidak mau memikirkan yang lain lagi. Aku hanya ingin fokus dengan kesenanganku sendiri." Elyna duduk di samping Dominic lalu ia menyendok sedikit bubur yang masih hangat sebelum menyuapkannya ke Dominic.


"Buka mulutmu. Kau harus makan agar bisa kembali pulih," bujuk Elyna. "Aku masih tidak habis pikir bisa-bisanya kau sakit. Ternyata pria keras kepala sepertimu bisa sakit juga."


Sebenarnya Dominic senang melihat Elyna ada di sana. Namun ketika ia membayangkan bagaimana perlakuan baik Elyna terhadap Pangeran Denzel, hatinya kembali merasa cemburu. Meskipun kini pria itu tidak ada lagi di sini.


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu peduli seperti itu padaku. Urus saja Pangeran Denzel. Sepertinya dia lebih membutuhkanmu daripada aku."


Elyna menghela napas kasar ketika lagi-lagi Dominic membahas soal Pangeran Denzel. Wanita itu meletakkan mangkuk bubur di atas meja sebelum memandang ke depan.


"Sebenarnya aku marah padamu karena kau meninggalkanku begitu saja di Belanda. Bahkan kau tidak berpamitan dulu padaku. Setelah aku mendapat kabar kalau kau dan Zion kembali ke Las Vegas, aku juga segera bersiap-siap pulang ke rumah Mommy. Aku tidak lagi bertemu dengan Pangeran Denzel setelah kejadian itu.


Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di rumah bersama dengan Mommy dan Daddy. Aku tahu Kau pasti tidak akan percaya dengan penjelasanku ini. Tetapi memang seperti itulah yang terjadi. Aku sama sekali tidak membohongimu. Bahkan tidak pernah memiliki niat untuk membohongimu."


Sebenarnya Dominic senang mendengar penjelasan dari Elyna. Namun tetap saja pria itu masih memasang wajah gengsi seolah-olah ia tidak membutuhkan Elyna. Padahal yang sebenarnya terjadi kini ia sangat merindukan Elyna. Pria itu ingin sekali memeluknya karena terlalu rindu.


"Sepertinya bubur ini enak."


Tiba-tiba saja Dominic mengambil mangkuk bubur yang ada di tangan Elyna lalu memakannya dengan begitu lahap. Perutnya mulai terasa lapar setelah ia mendengar penjelasan lengkap dari Elyna. Sedangkan Elyna yang melihat kejadian itu hanya tersenyum saja sambil geleng-geleng kepala.


Tanpa sengaja Elyna melihat ada foto yang ada di dekat Dominic. Karena penasaran wanita itu segera mengambil foto tersebut. Dia ingin tahu sebenarnya foto siapa yang selalu dilihat oleh Dominic selama pria itu ada di rumah sakit. Sedangkan Dominic sendiri tidak tahu akan hal itu. Dia masih asyik menghabiskan bubur yang ada di genggaman tangannya.


Elyna membalikkan kertas foto itu. Dia melebarkan kedua matanya ketika melihat wajahnya sendiri. Dominic terlihat malu saat itu. Dia segera merebut foto yang ada di tangan Elyna sebelum memalingkan wajahnya.


***


Aku juga tidak tahu kenapa fotomu bisa ada di sini. Dominic segera meletakkan mangkuk bubur di atas nakas gang ada di sampingnya. Pria itu terlihat malu karena kini Elyna telah tahu kalau secara diam-diam diam ia sering memperhatikan wajah Elyna melalui foto berukuran 4x6 inchi tersebut.


Tersenyum manis rasanya itu sudah tidak sabar untuk meledek Domini. "Aku tidak menyangka ternyata kau ini adalah penggemar rahasiaku. Memang aku akui wajahku ini sangat cantik. Tetapi kau tidak perlu memasang wajah galak seperti ini ketika ada di hadapanku. Jika kau suka katakan saja suka dan jika kau cinta katakan saja cinta. Tidak perlu malu-malu lagi dan berusaha untuk menutupi perasaanmu itu." Elyna memajukan bibirnya.


Dominic mengernyitkan dahi mendengar perkataan Elyna. "Kau ini percaya diri sekali. Siapa juga yang suka padamu. Apalagi sampai jatuh cinta?"


"Itu buktinya. Foto ini sudah menjawab semuanya kalau sebenarnya secara diam-diam kau mengagumiku." Elyna masih bersih keras. Dia yakin Dominic juga mencintainya. Seperti yang sekarang ia rasakan.


Dominic kehabisan kata-kata ketika berdebat dengan Elyna. Hingga tiba-tiba saja Elyna merangkul lengan pria itu dan menjatuhkan kepalanya di sana dengan begitu manja. "Aku mau tidur. Aku ngantuk," rengek Elyna.


"Tidur saja. Kenapa harus pamitan?" ketus Dominic.


"Kenapa sulit sekali bagimu untuk mengatakan yang sebenarnya kau rasakan. Aku butuh kepastian. Sebenarnya sampai detik ini aku juga takut jika perasaan yang aku rasakan ini bertepuk sebelah tangan. Tetapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin seorang wanita yang mengungkapkan perasaannya lebih dulu," gumam Elyna di dalam hati.


Wanita itu memejamkan kedua matanya secara perlahan. Sejak di perjalanan tadi ia belum ada istirahat dan kini adalah momen yang tepat baginya untuk tidur sejenak. Pundak Dominic menjadi bantal ternyaman bagi Elyna. Di tambah lagi lengan kekar pria itu yang kini sudah ia peluk layaknya sebuah guling.


Dominic tidak melakukan gerakan apapun. Dia membebaskan Elyna tidur di atas pundaknya sambil memeluk lengannya. Setelah dirasa Elyna terlelap, secara perlahan pria itu membaringkan Elyna agar tidur di sampingnya. Lagi-lagi dia memandang wajah cantik Elyna sambil tersenyum bahagia.


"Aku berpikir kalau semua ini hanya mimpi yang akan segera hilang setelah aku membuka mata. Tetapi tidak. Semua ini nyata. Kau benar-benar ada di sisiku dan sedang tidur di sampingku Elyna. Terima kasih karena kau telah kembali ke sisiku."


Dominic mengusap pucuk kepala Elyna dengan mesra. Tiba-tiba saja pria itu mengecup pucuk kepala Elyna. Dia memang sudah sangat ingin melakukannya sejak tadi.


Namun belum memiliki kesempatan. Hal yang tidak terduga terjadi. Dominic langsung membatu ketika tiba-tiba saja Elyna membuka matanya. Ternyata wanita itu hanya pura-pura tidur karena ingin mengetahui bagaimana reaksi Dominic setelah ia memejamkan mata. Kini Elyna seperti sedang tersenyum dan menertawainya. Dominic benar-benar malu jadinya.


"Kau belum tidur?" Ketika pria itu ingin menjauhkan tubuhnya, tiba-tiba saja Elyna menarik leher Dominic dan menahannya agar tetap ada di hadapannya.


"Kenapa harus melakukannya secara diam-diam? Lakukan saja ketika orangnya bangun seperti ini." Elyna menyipitkan kedua matanya. "Ternyata kau ini suka sekali mencuri ya."


"Elyna, apa yang kau katakan?" Meskipun sudah tertangkap basah tetap saja Dominic gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri. Hingga pada akhirnya Elyna menarik leher Dominic lebih kuat lagi sampai-sampai bibir mereka bersentuhan. Dominic merasa seperti ada sengatan listrik di sana. Pria itu mematung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Rasanya sangat aneh ketika bibir mereka bersentuhan seperti itu.


Elyna memejamkan matanya sebelum ******* bibir Dominic secara perlahan. Sebenarnya dia sangat tidak berpengalaman. Elyna sendiri tidak tahu bagaimana caranya berciuman yang benar. Akan tetapi dia juga tidak mau berhenti di tengah jalan. Dia sudah tergila-gila dengan Dominic. Entah sejak kapan itu.


Dominic juga mulai bisa menikmati bibir Elyna. Cumbuan itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Baik Elyna dan Dominic sama-sama menikmatinya. Mereka ingin waktu segera berhenti agar tidak ada yang mengganggu lagi.


Elyna melepas bibir mereka lalu memegang pipi Dominic. Wanita itu menatap kedua mata Dominic dengan penuh cinta. Ya, Dominic bisa melihat rasa cinta Elyna dari cara wanita itu memandangnya.


"Dominic, aku mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku ...."


"Ssttt."


Dominic meletakkan satu jarinya di depan bibir Elyna. Dia mengusap bibir bawah Elyna dengan lembut sebelum kembali menciumnya. Kali ini Dominic yang lebih mendominasi. Pria itu sudah kecanduan dengan manisnya bibir Elyna. Ditambah lagi ada perasaan lega di dalam hatinya ketika dia tahu kalau ternyata Elyna juga mencintainya.


"Aku akan segera melamarmu Elyna. Kita akan segera menikah agar kau menjadi milikku seutuhnya," batin Dominic dengan penuh rasa bahagia.