
"Lalu ini foto saat aku usia berapa tahun?" tanya Elyna sambil menunjuk foto anak kecil kucir dua yang kini memeluk boneka panda.
"Itu saat kau berusia 10 tahun. Kita jalan-jalan ke Belanda, lalu kau -"
"Belanda?" Elyna melepas semua foto yang ada di genggamannya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit ketika mendengar kata Belanda.
"Sayang, kau kenapa?" Letty terlihat sangat khawatir.
"Kepalaku," lirih Elyna. Dia merasa sangat kesakitan hingga akhirnya membuat Letty merasa bersalah.
"Apa karena foto ini?" gumam Letty. Wanita itu segera menyimpan semua foto yang tadinya ia tunjukkan kepada Letty. "Sayang, maafkan Mommy. Mommy hanya ingin kau percaya kalau kau adalah putri Mommy. Mommy tidak memiliki niat untuk membuatmu tersiksa seperti ini."
Elyna sendiri tidak tahu apa yang menyebabkannya sakit. Wanita itu memandang Letty sebelum memeluknya. Dia menangis. "Aku tidak tahu siapa aku sebenarnya. Tetapi aku percaya kalau kau adalah wanita yang baik."
Letty mengangguk sambil menangis. Wanita itu memeluk erat tubuh Elyna. "Terima kasih sayang. Mommy akan menjagamu. Mommy janji, tidak akan membuatmu kesakitan seperti ini lagi."
Elyna melepas pelukannya lalu memandang wajah Letty dengan saksama. "Kapan kita bisa pulang ke rumah." Elyna menahan kalimatnya. "Mommy?"
"Oh God. Anakku. Elyna putriku. Secepatnya sayang. Jika Dokter sudah memberi izin, maka kita akan langsung pulang ke rumah."
Pintu terbuka lebar. Miller masuk dengan dua kantung berisi makanan ditangannya. Pria itu mengernyitkan dahi melihat Elyna dan Letty yang kini sama-sama menghapus air mata. "Ada apa? Kenapa kalian menangis seperti ini?"
"Elyna memanggilku Mommy. Aku senang dan akhirnya menangis," jawab Letty apa adanya.
Miller memandang ke arah Elyna. Pria itu merasa cemburu karena putrinya belum ada memanggilnya Daddy sejak sadar kemarin. "Bagaimana denganku?"
Letty mengangguk cepat. "Ya, sayang. Dia Daddymu. Kamu berdua adalah orang tua kandungmu."
Elyna mengukir senyum bahagia. "Aku takut. Tapi sejak aku tahu kalau aku memiliki kalian berdua, aku tidak takut lagi."
"Kamu akan menjagamu. Kami tidak akan membiarkanmu terluka." Miller mengusap kepala Elyna. Pria itu lalu memeluknya. Letty yang tidak mau ketinggalan juga segera masuk ke dalam pelukan itu.
"Aku memang tidak mengingat apapun. Tetapi mereka berdua sangat tulus menyayangiku. Aku yakin, mereka berdua adalah orang tua yang baik. Aku pasti sangat menyayangi mereka sebelum aku melupakan semuanya," gumam Elyna di dalam hati.
"Sayang, apa yang kau pikirkan?" Letty mengusap pipi Elyna. Dia tahu kalau putrinya sedang memikirkan sesuatu.
"Pria yang kemarin. Dia siapa? Apa dia memiliki niat jahat padaku?" tanya Elyna sembari membayangkan wajah Dominic.
"Dominic maksudmu?" tebal Miller. Karena memang belum ada pria manapun yang pernah menemui Elyna selama di rumah sakit selain Dominic.
"Namanya Dominic?" tanya Elyna kembali memastikan.
"Ya, sayang. Kalian berteman. Sangat dekat sekali. Sampai-sampai Mommy dan Daddy sempat kepikiran untuk-"
Miller menepuk pundak Letty. Pria itu tidak suka jika istrinya memanfaatkan keadaan Elyna yang sekarang untuk menjodohkannya dengan Dominic.
"Dia putra temen Mommy. Kalian saling kenal tetapi tidak terlalu dekat," jelas Miller apa adanya. Hal itu membuat Letty memajukan bibirnya. Meskipun begitu, Letty tetap tidak menyerah. Wanita itu benar-benar memiliki niat untuk menjodohkan Elyna dan Dominic.
"Selagi Elyna amnesia, aku akan membuat Elyna dan Dominic bersatu. Mereka harus menikah!" gumam Letty di dalam hati.