
Setelah Elyna mengatakan kalau dia mencintai Dominic. Sejak saat itu Dominic tidak canggung lagi ketika ingin bermesraan dengan Elyna. Meskipun sampai detik ini Dominic belum juga mengatakan perasaannya secara langsung di depan Elyna.
Hari ini setelah pulang berkelilingi kota Las Vegas, Dominic dan Elyna memutuskan untuk duduk santai di kediaman mewah milik Dominic. Meskipun hanya duduk di ruang tamu seperti itu tetapi rasanya sangat bahagia ketika ditemani oleh orang yang sangat mereka cintai. Sesekali terdengar suara tawa dari Elyna. Ketika dengan sengaja Dominic menjahili Elyna. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
"Dominic, hentikan. Ini terlalu geli. Kau terus saja menggangguku. Aku ingin tenang sambil menonton televisi," protes Elyna sambil tertawa.
Meskipun Elyna sudah berkata dengan nada yang kencang tetap saja Dominic tidak peduli dan pria itu kembali menggelitik Elyna sambil sesekali tertawa bahagia.
"Dominic!"
"Jangan panggil aku Dominic. Panggil aku dengan sebutan lain," protes Dominic gantian.
Elyna terlihat bingung. "Kau tidak mau aku panggil dengan namamu sendiri? Lalu kau ingin Aku memanggilmu apa?"
Dominic diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. "Panggil sayang mungkin atau Honey, Baby."
"Dominic! Kau ini benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya kau memintaku memanggil dengan sebutan mesra seperti itu tetapi sampai detik ini kau tidak juga menembakku."
"Untuk apa aku menembakmu Aku tidak mau mencelakaimu, Elyna."
"Bukan menembak yang seperti itu Dominic. Kenapa kau tidak jujur saja padaku kalau sebenarnya kau ini mencintaiku!" Elyna cemberut. Dia memajukan bibirnya lalu memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba saja Dominic mengeluarkan cincin yang memang sudah ia pesan secara khusus untuk Elyna. Dominic membuka kotak cincin itu lalu memamerkannya di depan Elyna. Tetapi sampai detik itu Elyna belum menyadarinya karena wanita itu masih memalingkan wajahnya dari Dominic.
"Sayang, Will you marry me?"
Mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Dominic membuat Elyna kaget. Wanita itu langsung memandang ke samping dan menatap cincin yang kini dipamerkan oleh Dominic. Cincin berlian itu sangat indah dan sudah pasti harganya sangat fantastis.
"Apa ini Dominic?" tanya Elyna sekali lagi. Wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Dominic. Dia takut jika Dominic hanya sekedar mengerjainya saja.
Dominic menunjukkan keseriusannya. Dia ingin Elyna tahu kalau kalau dia benar-benar ingin menikah dengannya. Dominic beranjak dari sofa lalu berlutut di depan wanita itu. Satu tangannya masih tetap memegang cincin dan memamerkannya. Sedangkan satu tangannya yang lain memegang tangan Elyna dan mengusapnya dengan lembut.
"Elyna Sayang maafkan aku karena selama ini aku tidak bisa romantis seperti pria lain pada umumnya. Bukan aku tidak mau tetapi aku tidak tahu caranya bersikap romantis di depan wanita yang kucintai. Yang aku tahu selama kita saling mencintai maka ungkapan dengan kata-kata tidak lagi diperlukan. Kita hanya perlu saling memahami satu sama lain agar bisa bahagia.
Bukan hanya ketika kau datang merawatku di Rumah Sakit kemarin. Tetapi sejak kau kembali ke Las Vegas ketika dalam keadaan amnesia getaran cinta ini mulai terasa. Namun Sayangnya aku hampir terlambat untuk menyadarinya. Sampai kau dekat dengan Pangeran Denzel. Dan itu membuatku cemburu.
Dari situ aku mulai semakin yakin dengan rasa cinta yang ada di dalam hatiku. Aku senang karena pada akhirnya rasa cintaku terbalaskan. Aku tidak suka menjalin hubungan yang tidak pasti. Kita berdua sudah sama-sama dewasa.
Hari ini aku ingin melamarmu. Aku ingin menjadikanmu istriku. Nyonya besar yang akan mengatur rumah ini. Aku akan memberikan kota Las Vegas kepadamu sebagai hadiah. Mulai detik ini Las Vegas ada di genggaman tanganmu. Kau bebas mau melakukan apapun terhadap kota ini."
Dominic melirik cincin yang sudah ia persiapkan untuk Elyna sebelum memandang wajah Elyna lagi. "Elyna sayang. Apakah kau mau menikah denganku?"
Rasanya tidak ada lagi yang perlu ditunggu oleh Elyna. Wanita itu langsung setuju. Dia menggangguk dan memamerkan jarinya agar Dominic segera menyematkan cincin lamaran itu di jari manisnya.
"Aku mau menikah denganmu Dominic. Terima kasih atas hadiah besar yang kau berikan padaku. Aku sangat mencintaimu," ucap Elyna sambil tersenyum bahagia.
"Aku juga sangat mencintaimu Elyna."
Dominic seperti tidak mau menunggu lagi. Pria itu cepat-cepat menyematkan cincin berlian yang ia pesan secara khusus di jari manis Elyna. Cincin itu tersemat indah di sana. Dia segera mengecup punggung tangan Elyna dengan mesra.
"Hari ini aku akan mengajakmu ke rumah Faith. Aku akan memberitahu kabar gembira ini kepada mereka. Papa juga ada di sana. Aku yakin mereka pasti akan sangat bahagia mendengar berita baik ini." Rasanya hati Dominic telah mantap. Kini dia akan mempertemukan calon istrinya dengan keluarga inti. Nantinya mereka akan membahas soal pernikahan di sana.
Elyna menggangguk pelan. "Aku juga ingin menelepon Mommy dan Daddy. Aku ingin memberitahu mereka kalau kita sudah bertunangan dan sekarang hanya tinggal menunggu tanggal pernikahan saja," jawab Elyna dengan senyum manisnya.
Dominic memeluk Elyna. Pria itu merasa sangat bahagia. Walaupun begitu masih ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya. Dia takut jika tiba-tiba Pangeran Denzel kembali muncul dan mengganggu semua rencana baik mereka. Bagaimanapun juga pria itu juga mencintai Elyna.
"Semoga saja tidak ada halangan lagi sampai kami berdua sah menjadi suami istri," batin Dominic dengan penuh harap.
...***...
"Apa papa ada di kamar?" tanya Dominic kepada Faith.
"Papa baru saja selesai makan. Sekarang dia ada di kamar mungkin dia sedang menonton TV. Selama tinggal di sini papa lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Sepertinya dia marah sama Kakak karena Kakak meninggalkannya tanpa memberi alasan," jawab Faith apa adanya. Dia memandang calon kakak iparnya sebelum mengukir senyum bahagia. "Kak Elyna, Aku senang bertemu dengan kakak. Aku sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya Kak Elyna dan Kak Dominic akan segera menikah. Aku doakan semoga rencana baik kalian berjalan lancar tanpa ada halangan apapun."
"Terima kasih Faith. Oh iya bagaimana dengan kandunganmu? Sudah berapa bulan? Kau semakin cantik ketika hamil."
"Sudah masuk trimester ketiga kak. Ya seperti yang kakak lihat, sekarang aku terlihat sehat. Tetapi terkadang aku terlihat seperti orang sakit. Namun sesekali masih saja mual muntah. Tetapi sudah tidak terlalu parah seperti hamil di bulan pertama kemarin. Oh iya kakak pasti lelah. Ayo aku bawa ke kamar Kakak biar Kak Dominic sendirian saja menemui papa." Faith merangkul dengan Elyna dan membawanya menuju ke kamar tamu. Wanita itu senang sekali karena tidak lama lagi Elyna akan menjadi kakak iparnya.
Melihat Elyna dan Faith yang sangat dekat membuat Dominic ikut bahagia. Pria itu menahan langkah kakinya menuju ke kamar Zean ketika melihat Zion muncul di sana. Ekspresi wajah pria tangguh itu sudah bisa di tebak. Kali ini adik iparnya itu pasti akan meledeknya.
"Aku senang mendengar kabar kalau kalian berdua akan segera menikah. Kalau aku boleh tahu siapa yang duluan mengatakan perasaannya. Tapi tidak. Aku pasti bisa menebaknya. Aku yakin Elyna duluan lah yang mengungkapkan perasaannya." Zion terlihat menahan tawa hingga membuat Dominic kesal dan memukul perut pria itu pelan.
"Kau ini benar-benar adik ipar yang kurang ajar," protes Dominic sebelum mendengus kesal.
"Kakak ipar. Ayo kita duduk di sana. aku akan meminta pelayan untuk memanggil kan Papa. Kita bertiga akan mengobrol santai di sana dan membahas masalah pernikahanmu dengan Elyna." Dominic tidak mau menolak. Pria itu hanya mengangguk saja lalu mengikuti Zion berjalan menuju ke halaman samping. Mereka duduk di kursi yang telah disiapkan. Sambil menunggu Zean muncul, Dominic meminta pelayan yang bekerja di rumah itu untuk menghidangkan minuman hangat.
"Apa semua baik-baik saja setelah kejadian di Belanda. Bagaimana kabar Pangeran Denzel?" Awalnya Zion ragu untuk membahas pangeran Denzel. Tetapi dia juga ingin tahu seperti apa reaksi kakak iparnya itu ketika mendengar nama pemimpin Belanda tersebut.
"Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Aku juga tidak peduli dengannya. Yang aku tahu Aku tidak mau bertemu dengannya lagi." Hanya menjawab gitu saja sudah membuat mood Dominic rusak.
"Apakah Kak Dominic takut jika Pangeran Denzel membawa Elyna pergi? Jika sudah memutuskan untuk menikah sebaiknya jangan ada lagi rasa ragu di dalam hati. Kak Dominic harus percayakan semuanya kepada Elyna. Aku yakin dia pasti bisa menjaga perasaannya meskipun ada banyak sekali pria yang tergila-gila padanya." Zion berusaha untuk merubah cara kakak iparnya memandang Pangeran Denzel. Dia ingin mereka berdua akur dan bisa menjadi teman.
"Tadinya aku ingin bersikap seperti itu tetapi karena terlalu cinta aku tidak rela jika sampai mereka bertemu dan Elyna sampai berubah pikiran. Bukankah kemungkinan buruk bisa saja terjadi dan sekarang aku ingin mencegah kemungkinan buruk itu terjadi," jawab Dominic mantap.
"Tetapi berprasangka buruk terhadap orang lain juga bukan ide yang bagus. Kenapa kak Dominic tidak memutuskan untuk berteman saja dengan Pangeran Denzel? Bukankah tidak buruk jika berteman dengannya. Aku di sini bicara bukan karena aku ada di pihak Pangeran Denzel. Tetapi aku tidak ingin kak Dominic memiliki musuh." Zion memperjelas kalimatnya lagi agar Dominic tidak sampai salah paham.
"Sejak aku tahu pria itu menatap Elyna karena dia telah jatuh cinta.Sejak saat itu juga aku sudah menganggapnya sebagai sainganku. Tetapi memang aku tidak mau memperlihatkannya karena aku tidak mau membuat masalah. Aku sendiri tidak tahu kenapa sulit sekali untuk menerima Pangeran Denzel sebagai teman."
Dominic dan Zion menghentikan obrolan mereka ketika melihat Zean muncul. Pria paruh baya itu terlihat senang karena bisa melihat Putra kesayangannya baik-baik saja. Dia segera membuka kedua tangannya karena ingin memeluk Dominic lagi.
"Jagoan Papa akhirnya datang juga. Sejak kemarin papa terus saja bertanya-tanya kira-kira apa yang dilakukan oleh Dominic ini. Menapa tiba-tiba dia pergi meninggalkan Papa sendirian di rumah Faith." Sindiran Zean hanya membuat Dominic dan Zion tertawa.
"Maafkan aku Pa. Aku tidak memiliki niat untuk meninggalkan Papa sendirian di rumah ini. Ada urusan yang jauh lebih penting yang harus aku selesaikan saat itu. Waktu itu aku belum sempat menjelaskannya kepada papa."
Zean mengangguk lalu duduk di sofa yang ada di dekat Zion. Sampai detik ini pria itu juga belum tahu masalah yang terjadi antara Dominic dan Elyna.
"Jadi sekarang kau sudah memutuskan untuk menebus rasa bersalahmu?" tanya Zean lagi.
"Aku ke sini bukan ingin menebus kesalahanku. Tetapi ada hal penting yang ingin aku katakan kepada papa. Aku harap Papa tidak kaget ketika mendengarnya nanti."
Ekspresi wajah Dominic yang berubah serius membuat debaran jantung Zean menjadi tidak karuan. Pria itu takut jika putranya mengalami masalah yang sulit dan tidak bisa menemukan jalan keluar. "Dominic, sebenarnya ada apa? Cepat ceritakan sekarang juga. Jangan membuat Papa penasaran seperti ini."
Dominic mengatur napasnya agar kembali tenang. Pria itu memandang Zion sejenak sebelum memandang ke arah Ayah kandungnya lagi. "Pa, aku sudah melamar Elyna. Dalam waktu dekat kami berdua akan menikah."
Zean mematung mendengarnya. Pria itu masih tidak habis pikir kenapa tiba-tiba saja Dominic mengatakan kalau dia dan Elyna akan segera
menikah. Karena Zean tidak juga memberikan respon pada akhirnya Dominic bertanya lagi. "Apa Papa tidak suka mendengar kabar baik ini? Apa Papa tidak mau merestui hubungan kami."
"Bukan Papa tidak setuju. Tetapi Elyna masih dalam keadaan amnesia. Bagaimana kalau ketika nanti ia ingatannya kembali lagi lalu perasaannya sudah berubah. Jadi dia tidak lagi tertarik padamu? Apakah kau siap menerima resiko itu?" Zean hanya mengatakan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Bukan karena dia tidak merestui hubungan putranya.
Dominic tersenyum bahagia mendengarnya. "Papa tenang saja. Hal buruk seperti itu tidak akan pernah terjadi karena Elyna sudah mendapatkan ingatannya kembali. Sekarang Elyna tidak amnesia lagi Pa. Itulah yang membuatku semakin mantap untuk menikahinya," jawab Dominic bahagia.
Wajah Zean langsung terlihat berseri. Momen seperti inilah yang sangat ia tunggu-tunggu sejak kemarin. Di mana putranya membahas soal pernikahannya sendiri. "Kalau begitu segera pertemukan Papa dengan Elyna. Papa ingin memberikan restu papa ini kepada kalian berdua."
Zion yang hanya menjadi pendengar setia hanya tersenyum saja mendengar obrolan antara Dominic dan juga papa mertuanya. "Tetapi aku juga tidak bisa diam saja. Di sini aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menemui Pangeran Denzel dan memastikan sendiri kalau pria itu tidak akan mengganggu kebahagiaan Kak Dominic dan juga Elyna," gumam Zion di dalam hati.