Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Patah Hati



Pangeran Denzel membanting botol berisi minuman beralkohol di atas meja. Pria itu benar-benar frustasi sampai-sampai malam ini Dia memutuskan untuk mabuk-mabukan. Pangeran Denzel telah berada di titik terendah kehidupannya. Dia telah ditinggalkan oleh semua orang yang pernah ia percaya dan juga ia sayangi. Dimulai dari orang tua kandungnya sendiri. Pengawal-pengawal setianya, bahkan wanita yang ia cintai juga ikutan pergi meninggalkannya karena lebih memilih pria lain.


"Tuan, anda sudah minum begitu banyak minuman beralkohol. Itu tidak baik untuk kesehatan anda sendiri. Di mana keluarga anda atau kerabat anda. Apa Anda datang ke tempat ini sendirian?" Wanita itu mencari ke segala arah berharap ada yang mengenali pria yang ada di hadapannya ini.


Seorang wanita yang tidak lain adalah pelayan club malam tersebut memilih untuk memperingati Pangeran Denzel agar tidak minum lagi. Wanita itu sama sekali tidak tahu kalau pria yang kini ada di hadapannya adalah calon Raja Belanda. Wanita itu hanya prihatin melihat keadaannya. Dia tahu kalau orang-orang yang suka mabuk-mabukan adalah orang yang sedang patah semangat.


"Elyna, kenapa kau tidak mau menikah denganku?” igau Pangeran Denzel. Pria itu ambruk di atas meja. Kedua matanya terpejam namun mulutnya tidak berhenti untuk mengoceh dan menyebutkan nama Elyna. Dia benar-benar terlihat sangat menyedihkan.


"Elyna? Apakah Elyna itu kekasihnya? Apa mungkin pria ini sedang patah hati?” gumam wanita itu di dalam hati.


"Tuan, apa anda memiliki uang? Saya akan mengantarkan Anda ke hotel untuk istirahat." Wanita itu memeriksa dompet Pangeran Denzel. Ketika ia melihat beberapa lembar uang kertas di dalamnya, wanita itu langsung saja mengambilnya. Dia akan menggunakan uang itu untuk memesan taksi dan hotel agar Pangeran Denzel tidak terlantar dan bisa istirahat di tempat yang layak.


Ketika ingin pergi mencari taksi, tiba-tiba Pangeran Denzel menarik tangan wanita itu. "Elyna, kau mau pergi ke mana? Kemarilah. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu Elyna. Apakah kau tidak tahu kalau aku benar-benar tulus mencintaimu? Kenapa kau harus memilih pria lain. Apa kurangnya aku?" ujar Pangeran Denzel. Dari tatapan pria itu terlihat jelas rasa kecewa yang kini dia rasakan.


Dengan kuat Pangeran Denzel menarik tangan wanita itu dan meletakkannya di atas pangkuan. Wanita itu berusaha untuk berontak namun cengkraman Pangeran sangat kuat. Hingga tanpa di duga, Pangeran Denzel dengan begitu lancang mencium bibirnya. Wanita itu juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tubuhnya benar-benar terkunci dan tidak bisa berontak lagi.


Beberapa saat kemudian, Pangeran Denzel terlihat seperti sadar dengan apa yang ia lakukan. Pria itu memijat kepalanya yang terasa pusin. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh wanita tersebut untuk berdiri dan menghindar. Namun ia tidak langsung pergi untuk mencari taksi. Wanita asing itu tetap berdiri di sana sembari memandang wajah Pangeran Denzel dengan begitu serius.


"Apa Anda begitu sedih sampai-sampai lupa diri. Tuan, siapapun anda. Saya harap anda bisa menemukan wanita pengganti yang jauh lebih baik daripada wanita yang sekarang anda cintai. Hidup memang kejam. Tidak selamanya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Namun putus asa bukan satu-satunya pilihan. Masih ada banyak pilihan untuk membuat kita bahagia."


"Elyna." Pangeran Denzel mengangkat kepalanya. Bibirnya tersenyum bahagia ketika wanita yang berdiri dihadapannya kini ia pandang sebagai Elyna. "Elyna, kau kembali? Apa kau sudah memutuskan untuk menikah denganku?"


"Aiapa pria ini? Sepertinya sejak tadi kulihat kau terus saja memperhatikannya. Apa dia rekan-mu?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul.


"Dia teman sekolahku dulu. Sekarang aku akan mencarikan taksi dan membawanya pulang. Jam kerjaku juga sudah selesai," dusta wanita itu. Dia segera memapah Pangeran Denzel agar berdiri dan membawanya ke luar meninggalkan bar. Sedangkan wanita yang baru saja muncul tadi hanya geleng-geleng kepala saja.


Elyna dan Dominic juga baru saja turun dari mobil. Mereka berdua berencana untuk bersenang-senang di di klub malam yang tidak jauh dari rumah Zion berada. Besok mereka semua akan datang berkunjung ke rumah Letty untuk melamar Elyna dan membahas masalah pernikahan antara Dominic dan Elyna. Sebelum pergi, Elyna ingin menikmati keindahan malam di kota tersebut. Karena dia juga tidak tahu, entah kapan bisa kembali lagi.


"Apa aku boleh meminum minuman beralkohol?” tanya Elyna sambil tersenyum. Wanita itu segera merangkul lengan calon suaminya dengan mesra. Dia berharap permintaannya kali ini dikabulkan oleh Dominic.


"Tidak. Mulai sekarang jagalah kesehatanmu. Bukankah tadi janjinya di rumah kau hanya ingin menari saja? Ya sudah kalau begitu menari saja. Tidak perlu meminum minuman beralkohol,” sahut Dominic. Tanpa sengaja pria itu melihat Pangeran Denzel yang kini dipapah oleh salah satu pelayan klub malam tersebut. Wanita itu kelihatan sangat kesulitan membawa Pangeran Denzel yang sedang mabuk. Supir taksi yang dia pesan segera turun untuk membantu. Mereka sama-sama membawa Pangeran Denzel menuju ke taksi.


"Bukankah itu Pangeran Denzel? Mau ke mana dia? Lalu siapa wanita yang bersama dengannya?” gumam Dominic di dalam hati. Dia memandang ke arah Elyna untuk memastikan kalau calon istrinya itu tidak melihat keberadaan Pangeran Denzel. Jika wanita itu sampai melihatnya, Dominic yakin pasti Elyna akan mengkhawatirkan keadaan Pangeran Denzel. Karena memang saat ini pria itu terlihat sangat menyedihkan. Dia seperti orang mabuk dan tidak lagi sadarkan diri.


"Kenapa berhenti? Ayo kita masuk ke dalam,” ajak Elyna dengan wajah bingung.


"Aku rasa tempat ini terlalu ramai. Ayo kita cari tempat lain saja,” ujar Dominic. Dia segera merangkul pinggang Elyna dan berencana untuk membawanya pergi dari sana agar tidak bertemu dengan Pangeran Denzel.


Namun Elyna terlihat menolak. Wanita itu menahan langkah kakinya. "Di sini saja. Tempatnya sangat bagus. Ayo tunggu apa lagi?” ajak Elyna. Wanita itu terus saja memaksa Dominic untuk segera masuk ke dalam.


Secara sembunyi-sembunyi, Dominic melirik ke tempat Pangeran Denzel berada. Setelah memastikan Pangeran Denzel dan wanita itu sudah masuk ke dalam taksi, Dominic mulai merasa lega. Dia tersenyum lalu melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam klub malam tersebut.


Baru beberapa langkah menuju ke dalam, tiba-tiba Elyna dan Dominic dikejutkan oleh suara yang sangat memekakkan telinga. Telah terjadi kecelakaan yang posisinya tidak jauh dari letak Elyna dan Dominic kini berada. Semua orang yang ada di sana berlari untuk melihat keadaan korban.


"Pangeran Denzel," celetuk Dominic dengan wajah pucat. Mobil yang kecelakaan adalah taksi yang ditumpangi oleh Pangeran Denzel dan wanita asing tadi.


"Ada apa? Kenapa kau menyebut nama Pangeran Denzel? Apa dia ada di sini? Apa tadi Kau melihatnya?” tanya Elyna bingung. Wanita itu mencari ke segala arah tetapi tidak menemukan apapun di sana. "Dominic, jangan diam saja. Cepat jawab apa yang kau lihat."


"Elyna tunggulah di sini. Aku akan memeriksa kecelakaan itu." Tanpa mau menjelaskan apapun Dominic segera berlari menuju ke taksi yang baru saja kecelakaan. Namun Elyna tidak mau menuruti perintah Dominic. Wanita itu juga ikut berlari mengejar Dominic untuk memeriksa apa yang terjadi di sana.


"Sepertinya penumpang di taksi itu tidak bisa diselamatkan,” ucap salah satu warga yang sudah melihat ke arena kecelakaan langsung. Dominic semakin kesulitan untuk melangkah. Tiba-tiba saja pria itu merasa bersalah karena tadi tidak sempat memanggil Pangeran Denzel.


"Kalau saja tadi aku memanggilnya dan membiarkannya untuk bertemu dengan Elyna sejenak saja, mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi. Apa itu artinya aku sudah membunuh Pangeran Denzel?" gumam Dominic di dalam hati.


Elyna lagi-lagi merangkul lengan Dominic dan menagih sebuah penjelasan. Dia merasa sangat bingung ketika melihat ekspresi wajah Dominic yang berubah total. Padahal tadi saat di rumah pria itu terlihat sangat bersemangat dan ceria.


Dominic masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Pria itu semakin mendekati taksi. Dari kejauhan terdengar suara ambulans. "Tuan, Sebaiknya anda tidak mendekati lokasi kecelakaan,” ucap polisi yang sudah tiba di lokasi kecelakaan.


"Aneh. Kenapa Dominic tiba-tiba seperti ini? Sebenarnya siapa yang kecelakaan?” Karena tidak sabar, Elyna pada akhirnya menerobos keramaian itu. Dia ingin melihat langsung sebenarnya siapa yang sudah kecelakaan. Ketika korban dikeluarkan dari dalam taksi, Elyna mematung dengan mata berkaca-kaca. Di sana ia bisa melihat jelas wajah Pangeran Denzel yang kini dipenuhi dengan luka dan darah. Sekujur tubuh wanita itu seperti gemetar. Kakinya bahkan lemah dan tidak bisa untuk melangkah lagi. "Pangeran Denzel?" lirih Elyna. Ketika petugas rumah sakit meletakkan tubuh pangeran di atas tandu, wanita itu segera menghampirinya. Dia ingin mengetahui apakah Pangeran Denzel masih hidup atau sudah tiada.


"Nona, tolong jangan halangi kami. Kami akan segera membawa korban ke rumah sakit.” Salah satu petugas rumah sakit berusaha untuk menyingkirkan Elyna agar tidak menghalangi jalan mereka.


"Saya temannya. Apa teman saya ini baik-baik saja? Bagaimana keadaan teman saya?” tanya Elyna panik. Wanita itu kembali memandang ke arah Pangeran Denzel yang sudah tidak sadarkan diri.


"Pria ini masih bisa diselamatkan. Tetapi wanita yang bersama dengannya tewas di tempat,” sahut salah satu petugas rumah sakit tersebut. Tanpa mau memberi penjelasan panjang lebar mereka segera memasukkan Pangeran Denzel dan wanita yang bersama dengan Pangeran Denzel itu ke dalam ambulans dan membawanya menuju ke rumah sakit.


Elyna memutar tubuhnya dan mencari keberadaan Dominic. Tetapi pria itu masih mematung di sana dengan tatapan yang tidak terbaca. Elyna segera berlari untuk menghampirinya.


"Apa tadi kau sempat melihat Pangeran Denzel masuk ke dalam taksi itu?” tanya Elyna untuk kembali memastikannya.


"Maafkan aku. Aku terlalu cemburu sampai-sampai tidak lagi peduli dengannya. Seharusnya tadi aku memanggilnya dan menyapanya. Dia terlihat sangat kacau. Aku tahu keadaannya seperti itu pasti karena dia patah hati,” jawab Dominic. Pria itu kini terlihat frustasi dan menyesali keputusan yang telah dia ambil.


"Dominic, tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini sudah takdir. Pangeran Denzel masih bisa diselamatkan. Sekarang ayo kita ikuti ambulans itu. Kita akan melihat kondisinya di rumah sakit,” ajak Elyna sambil menatap wajah Dominic.


Dominic mengangguk setuju. Pria itu segera membawa Elyna menuju ke mobil dan mereka langsung saja mengikuti ambulans yang kini membawa Pangeran Denzel.


***


Setibanya di rumah sakit, Elyna dan Dominic langsung berlari ke resepsionis. Mereka ingin tahu di mana kini Pangeran Denzel di rawat. Karena tadi mobil yang mereka tumpangi tidak berhasil mengejar ambulans yang membawa Pangeran Denzel karena jalanan begitu ramai.


"Suster, baru saja telah terjadi kecelakaan taksi. Sekarang di mana pasien itu berada?” tanya Elyna kepada suster yang kini ada di depannya.


"Pasien korban kecelakaan? Yang laki-laki atau yang perempuan, Nona?” tanya suster itu sembari memeriksa data yang baru saja masuk.


"Yang laki-laki," jawab Elyna cepat.


"Pasien yang laki-laki langsung dilarikan ke ruang operasi karena mengalami pendarahan hebat. Apa anda kerabat korban?"


Elyna tidak langsung menjawab. Wanita itu memandang ke arah Dominic. "Ya kami saudaranya,” jawab Dominic tanpa berpikir lagi.


"Kalau begitu tolong tanda tangan di sini." Suster itu menyodorkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Dominic. Tanpa bertanya lagi, Dominic segera menandatanganinya. "Di mana ruang operasinya?” tanya Dominic lagi.


"Mari saya antar, Tuan." Suster itu segera melangkah menuju ke sebuah lorong.


Dominic menggenggam tangan Elyna dan membawanya untuk mengikuti suster tersebut. Sepanjang perjalanan menuju ke ruang operasi baik Elyna maupun Dominic tidak ada bicara sepatah katapun. Di dalam hati mereka kini sangat mengkhawatirkan Pangeran Denzel. Mereka berdua sama-sama berdoa agar Pangeran Denzel baik-baik saja.


"Anda bisa menunggu di sini Tuan. Ketika dokter sudah selesai melakukan operasi, Nanti kalian bisa bertanya langsung bagaimana keadaan pasien,” jelas Suster itu lagi sebelum pergi.


"Ayo kita duduk di sana,” ajak Dominic.


Ketika Dominic ingin mengajak Elyna menuju ke kursi tersebut tiba-tiba saja Elyna menahan langkah kakinya. Dominic menatap wajah Elyna dengan tatapan bingung. "Ada apa Sayang? Aku hanya tidak ingin kau kelelahan?"


"Apakah kau tidak marah? Jika kau tidak nyaman berada di sini, kita tinggalkan saja Pangeran Denzel. Kita bisa menghubungi pihak kerajaan Belanda agar mereka mengirim utusan dari sana untuk mengurus segalanya. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi untuk menemaninya di sini."


Elyna sengaja mengatakan kalimat sekejam itu karena dia masih menjaga perasaan Dominic. Sebentar lagi mereka akan menikah. Elyna tidak mau ada kesalahpahaman di sana.


"Aku memang akan segera menghubungi pihak kerajaan Belanda tetapi untuk sekarang Aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja. Elyna Aku tidak akan cemburu lagi. Mulai sekarang aku akan mempercayaimu. Aku tahu kau tidak akan berpaling ke pria lain. Hanya ada aku satu-satunya pria di dalam hatimu. Meskipun aku lihat kau berduaan dengan pria lain, aku tidak akan marah lagi. Sekarang aku bersikap lebih dewasa. Aku tidak mau sifatku yang begitu posesif akan membuatmu merasa tidak nyaman."


Elyna terharu. Wanita itu mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia segera memeluk Dominic. "Terima kasih atas pengertiannya. Aku sangat mencintaimu."