
Zion mengangkat tubuh Brandon dan melemparnya ke dinding hingga tubuh kekar Brandon terbentur dengan begitu keras. Kali ini pria itu bisa tahu apa yang dirasakan oleh pangeran Denzel tadi. Bahkan kondisi Brandon jauh lebih mengenaskan daripada Pangeran Denzel. Bukan hanya keluar dari mulut saja. Bahkan dari hidung dan telinga Brandon juga mengeluarkan darah segar. Pria itu kesulitan untuk menguasai keadaan sekitar. Meskipun begitu ia masih sanggup untuk tertawa dan bersikap seolah baik-baik saja.
"Sekarang sudah terbukti siapa yang paling kuat di antara kita," ucap Zion dengan penuh kemenangan. Rasanya ia merasa sangat puas ketika melihat anak buah Brandon telah tewas ditangan pasukan Gold Dragon dan juga Queen Star.
"Kebenaran tidak akan pernah terungkap. Aku akan membawa kebenaran itu mati bersama denganku. Kalian semua selamanya akan mempercayai sandiwara yang sudah kuperbuat. Kalian semua tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi," ujar Brandon. Pria itu tertawa lagi seperti orang gila.
"Kebenaran akan selalu terungkap meskipun terlambat!"
Pangeran Denzel dan juga Zion memandang ke arah Elyna yang tiba-tiba muncul di sana. Zion terlihat kesal ketika melihat Elyna justru kembali ke rumah itu. Bahkan Dominic juga ikut bersama dengannya.
"Aku sudah bilang agar kalian segera pergi! Kenapa kembali lagi ke sini? Aku bisa mengatasi semuanya. Kalian tidak perlu repot-repot memikirkan keselamatanku," ujar Zion. Pria itu berpikir kalau Elyna dan Dominic kembali karena memikirkan keselamatannya.
"Ada hal penting yang ingin dikatakan Elyna kepada Pangeran Denzel," jawab Dominic. Wajah pria itu terlihat sangat serius hingga akhirnya Zion tidak berani mengeluarkan kata lagi.
"Raja Belanda yang asli telah tewas di tangan Brandon sejak lama. Lebih tepatnya hari di mana Aku kecelakaan adalah hari kematian Yang Mulia Raja."
Brandon melebarkan kedua matanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau hari ini Elyna akan mengatakan kebenaran yang selama ini ia tutup rapat. "Bukankah wanita ini lupa ingatan? Kenapa dia bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi? Apa selama ini dia hanya pura-pura saja?" gumam Brandon di dalam hati.
"Aku melihat jelas Brandon menembak kepala Yang Mulia Raja sampai pria itu tewas. Ada banyak pejabat yang terlibat di dalamnya. Mereka semua bersekongkol untuk membunuh Raja Belanda. Aku yang tanpa sengaja menyaksikan hal itu harus terlibat ke dalam masalah ini. Mereka mengejar mobilku hingga akhirnya aku kecelakaan dan amnesia. Inilah alasan utama Brandon membawaku ke hadapan Pangeran Denzel dan memperkenalkanku sebagai pembunuh Yang Mulia Raja. Dia ingin membuat Pangeran Denzel salah paham dan membunuhku agar satu-satunya saksi atas kejahatannya ia lakukan hilang. Tetapi sayangnya Tuhan berkehendak lain. Kebenaran akan kejadian yang sebenarnya pada akhirnya bisa diungkap dengan jelas." Elyna merasa lega karena pada akhirnya ia bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi di depan Pangeran Denzel. Meskipun dia tahu kalau kenyataan ini sangat menyakitkan bagi Pangeran Denzel. Tetapi mau tidak mau Pangeran Denzel harus menerimanya.
"Bohong! Omong kosong apa yang sudah kau katakan? Lalu kenapa selama ini Yang Mulia Raja ada di istana? Kau ini hanya wanita gila yang suka mengarang cerita bohong!" teriak Brandon histeris. Meskipun sudah kalah pria itu berusaha untuk membuat keadaan di sana menjadi kisruh.
"Aku menceritakan semuanya tidak berharap agar Pangeran percaya dengan ceritaku. Karena itu semua sama sekali tidak menguntungkan bagiku. Satu hal yang pasti. Pria yang selama sebulan terakhir ini kalian pandang sebagai Yang Mulia Raja adalah Brandon sendiri. Pria itu menyamar dengan topeng. Dia bisa meniru suara siapapun yang dia inginkan. Karena kelebihan itulah yang membuatnya sangat mudah untuk menjadi Raja palsu."
"Kau benar-benar wanita gila!" Brandon berdiri. Dia mengambil senjata api dari pengawal yang yang sudah tewas dan tergeletak di lantai. Ketika ingin menembak Elyna, tiba-tiba saja Dominic mengangkat senjatanya dan segera menembak Brandon hingga tewas. Bahkan pria itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Brandon untuk bicara lagi. Setelah Brandon terjatuh dan tergeletak di lantai, Dominic kembali menatap wajah Elyna dengan serius.
"Elyna, apakah kau sudah mengingat semuanya? Apa sekarang kau tidak amnesia lagi?" tanya Dominic untuk kembali memastikan.
Elyna mengangguk pelan. Dia memandang ke arah Pangeran Denzel. Melihat Pangeran Denzel dalam keadaan kritis seperti itu membuatnya merasa iba. Elyna melangkah maju untuk menolong Pangeran Denzel.
Dominic yang cemburu hanya diam saja di tempatnya berdiri. Zion datang menghampiri Dominic lalu merangkul pundak kakak iparnya tersebut. "Sekarang bukan saatnya untuk cemburu. Bagaimanapun juga pangeran Denzel memang membutuhkan bantuan kita," bisik Zion. Pria itu tidak mau kakak iparnya marah karena itu hanya akan merepotkan dirinya sendiri.
"Elyna terus saja membelanya. Dia tidak pernah ada di pihakku," sahut Dominic.
"Zion, sebenarnya apa yang baru saja kau katakan? Semakin ke sini kau semakin kurang ajar. Apa kau lupa kalau aku adalah Kakak iparmu? Jangan mentang-mentang kau sudah berhasil menikahi adikku sekarang kau bisa berbicara kurang ajar seperti itu." Dominic terlihat marah dan tidak mau menerima nasehat dari Zion.
Pada akhirnya Zion memilih diam. Namun di dalam hati pria itu masih menertawai sikap Dominic.
"Dominic, tolong bantu aku membawa pangeran ke istana," ucap Elyna.
Dominic menghela napas kasar mendengar perkataan Elyna. Dengan terpaksa pria itu maju dan membantu Elyna untuk membawa Pangeran Denzel menuju ke istana.
...***...
Elyna membersihkan luka yang ada pada wajah Pangeran Denzel. Dominic yang tadinya juga ada di dalam ruangan itu memilih untuk pergi. Ternyata ia tidak sanggup untuk melihat Elyna membersihkan luka yang ada pada tubuh dan wajah Pangeran Denzel.
Kini hanya Zion satu-satunya orang yang selalu ada di sisi Dominic. Pria itu berusaha keras untuk menguatkan hati kakak iparnya agar tidak menyerah dan tidak sampai salah paham menilai sikap baik Elyna terhadap Pangeran Denzel.
"Elyna, Kenapa tadi kau mengatakan cerita seperti itu? Sebelumnya kau tidak mau menceritakannya kepadaku. Apakah semua itu benar?" Pangeran Denzel ingin kembali memastikan. Rasanya sulit sekali bagi Pangeran untuk menerima kenyataan yang ada.
"Aku tidak bisa memaksamu untuk percaya dengan apa yang aku ceritakan. Tetapi memang seperti itulah yang terjadi. Mungkin saja jika aku tidak kecelakaan dan tidak amnesia sejak sebulan yang lalu Brandon pasti sudah menjadi musuhku. Kami pasti sudah melakukan pertarungan sebelum kita berdua saling mengenal. Karena aku yakin Brandon tidak akan diam ketika dia mengetahui saksi mata berkeliaran bebas."
"Lalu di mana jasad ayahku? Berarti jenazah yang kemarin dikebumikan bukan jasad ayahku."
Elyna menghela napas. Dia terlihat sedih sekali. "Soal itu hanya Brandon yang tahu ke mana dia membuang jasad Yang Mulia Raja."
Pangeran Denzel terlihat sedih. Pria itu menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Aku benar-benar anak yang tidak berguna. Selama ini aku hanya memikirkan kesenanganku sendiri sampai-sampai aku gagal untuk menjaga orang tuaku. Coba saja aku tidak sering pergi pasti Brandon tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perbuatan keji seperti itu terhadap papa."
"Pangeran, sudahlah. Tidak ada gunanya Anda larut dalam kesedihan. Lebih baik sekarang anda doakan saja." Elyna yang tidak tega dengan kesedihan yang kini dirasakan oleh Pangeran Denzel memutuskan untuk memeluk pria itu.Dia berharap dengan pelukan itu Pangeran bisa jauh lebih tenang.
Di waktu yang bersamaan Dominic kembali masuk ke dalam ruangan itu setelah beberapa kali Zion membujuknya. Kali ini pria itu semakin sakit hati. Dia melihat langsung ketika Elyna memeluk Pangeran Denzel.
"Sepertinya Elyna tidak membutuhkanku lagi. Sebaiknya sekarang aku kembali ke Las Vegas bersama dengan Zion dan Gold Dragon. Queen Star pasti akan menjaga Elyna dengan baik," gumam Dominic di dalam hati. Tanpa berpamitan pria itu pulang ke Las Vegas dan meninggalkan Elyna di Belanda.