
Suasana malam di kota Las Vegas memang sangat menyenangkan. Gemerlap kota Las Vegas berhasil menyihir siapa saja yang ada di sana. Lampu warna-warni menerangi kota hingga membuat semua anak manusia merasa seperti berada di dunia mimpi.
Kota judi itu memang dipenuhi oleh banyak orang. Tetapi kali ini Elyna bersenang-senang bersama sang pemilik wilayah. Jelas saja dia merasa aman di setiap langkahnya.
Tadi siang setelah Pangeran Denzel menghilang ternyata mobil Dominic kembali muncul. Pria itu juga jadi khawatir ketika melihat tas dan ponsel Elyna tertinggal di mobil. Elyna yang sudah tidak bersemangat untuk membeli baju memaksa Dominic untuk mengantarkannya ke rumah yang akan ia tempati selama berada di Las Vegas.
"Apa kau senang? Sebentar lagi akan ada pertunjukan. Aku yakin, kau akan menyukainya," ucap Dominic sambil tersenyum. "Setelah itu kita akan makan malam di gedung sana. Setelahnya kita akan bermain di kasino. Aku akan memberitahumu cara bermain judi agar selalu menang."
Elyna tertawa mendengarnya. "Apa ini yang kau bilang bisnis?"
Dominic hanya diam saja sembari tersenyum simpul. Pria itu meneguk minuman dinginnya sampai habis sebelum memandang wajah cantik Elyna lagi.
Malam itu Elyna memakai gaun merah pendek dengan sepatu boot warna hitam. Rambutnya sengaja di kucir satu. Elyna terlihat energik. Cocok sekali jika berdampingan dengan Dominic yang gagah.
"Aku ingin ikut dengan mereka." Elyna melangkah maju. Ternyata wanita itu tidak bisa berdiri diam ketika melihat ada banyak sekali orang yang menari di depannya. Dominic hanya mengamati dari kejauhan saja. Pria itu tidak mau menari karena memang tubuhnya terasa lelah hari ini. Jika bukan karena Elyna, mungkin dia sudah tidur sampai besok pagi.
Pangeran Denzel juga ada di sana. Pria itu mengenakan topeng berwarna hitam. Dia sengaja menutupi identitasnya karena tidak mau ada yang sampai mengenalinya.
"Sangat membosankan," gumam Pangeran Denzel ketika melihat keramaian di depannya. Ketika ingin pergi pria itu tertahan. Dia terpaku melihat Elyna yang kini menari dengan gembira. Ada senyum dibibir Pangeran Denzel. Pria itu senang karena untuk yang ketiga kalinya mereka dipertemukan lagi.
"Sepertinya kita memang berjodoh," ucap Pangeran Denzel penuh dengan percaya diri. Pria itu segera bergabung dengan yang lainnya untuk menikmati tarian yang sedang berlangsung.
Pangeran Denzel muncul di depan Elyna dengan memamerkan gerakan dansa yang berani. Jelas saja hal itu menarik perhatian semua orang. Bukan Elyna saja. Hingga pada akhirnya mereka semua berhenti dan memutuskan untuk menonton tarian yang dilakukan oleh Pangeran Denzel.
"Come on!" Pangeran Denzel mengulurkan tangannya di depan Elyna. Wanita itu menyambut uluran tangan Pangeran Denzel tanpa ragu. Mereka berdua berdansa seolah memang mereka adalah pasangan dansa yang sudah sangat profesional.
Melihat pemandangan itu membuat Dominic tidak bisa diam saja. Dia memanggil pengawal pribadinya agar mendekat.
"Siapa pria bertopeng itu?"
"Saya tidak tahu, Bos."
"Tidak tahu kau bilang?" Dominic mulai emosi. "Jaga tempat ini dengan ketat!" Setelah memberi perintah, Dominic maju ke depan. Pria itu membuka jasnya dan melonggarkan dasi. Bisa tidak bisa kini pria itu juga akan berdansa dengan Elyna dan juga Pangeran Denzel. Jelas saja dia tidak mau kalah!
"Aku tidak bisa berdansa. Aku merasa gerakanku sangat kaku. Tetapi ketika bersama dengannya aku terlihat sangat profesional. Sebenarnya siapa dia?" tanya Elyna sembari berputar-putar mengikuti gerakan yang di atur oleh Pameran Denzel.
"Ini aku," ucap Pangeran Denzel. "Kita tadi baru saja bertemu."
Elyna mengernyitkan dahi. Ketika pangeran Denzel membuka topengnya sejenak, Elyna hanya tersenyum saja. Setidaknya kini dia tidak berdansa dengan orang asing. Meskipun Elyna tidak tahu pria di depannya baik atau jahat, setidaknya dia bisa memberikan kebahagiaan malam ini.
Saya sedang asyik, tiba-tiba saja Dominic menarik pinggang Elyna dan memaksa wanita itu berdansa dengannya. Gerakan Dominic memang tidak sebagus Pangeran Denzel. Tetapi setidaknya pria itu bisa juga membuat Elyna kagum dan tersenyum.
"Hanya denganmu," jawabnya sebelum menatap sinis ke arah Pangeran Denzel.
Pangeran Denzel berdiri mematung. Jelas saja dia tidak takut dengan tatapan tajam itu. Dia justru merasa tertantang untuk mendekati Elyna lagi.
"Maaf, Tuan. Dia wanitaku! Aku tidak akan membaginya dengan pria lain!" ketus Dominic ketika dia tahu maksud gerakan yang dilakukan oleh Pangeran Denzel.
Elyna mengernyitkan dahi mendengarnya. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau Dominic akan mengatakan kalimat seperti itu. Pangeran Denzel tidak bisa berbuat banyak. Kini wajahnya justru terlihat kecewa ketika dia tahu kalau wanita pujaannya sudah memiliki kekasih.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini," ajak Dominic sembari merangkul pinggang Elyna dan membawanya pergi.
Elyna yang tidak tahu harus berbuat apa hanya menurut saja. Sambil berjalan wanita itu kembali memandang ke arah Pangeran Denzel yang kini menatapnya dengan wajah kecewa.
Setelah tiba di tempat yang sedikit lebih sunyi, Elyna segera melepas tangan Dominic yang sejak tadi ada di pinggangnya lalu menatap pria itu dengan tajam. "Apa yang kau lakukan? Lalu siapa yang kau maksud wanitamu? Bukankah kita hanya berteman. Aku bebas dekat dengan pria manapun. Pria tadi hanya mengajakku untuk berdansa. Tidak lebih dari itu. Kenapa kau jadi sensitif sekali?" ketus Elyna marah.
"Elyna, kau tidak akan tahu bagaimana kehidupan di Las Vegas ini. Semua pria yang ada di tempat ini tidak bisa dipercaya. Mereka semua hidung belang," jawab Dominic yang saat itu berusaha membela diri.
"Termasuk dirimu sendiri?" sahut Elyna cepat dengan wajah yang kesal. Wanita itu melipat kedua tangannya lalu memalingkan wajahnya. "Tadi di rumah kau bilang akan mengajakku untuk bersenang-senang. Ketika aku mulai menikmati tempat ini kau justru menggangguku dan menghancurkan semuanya. Bukankah kau bisa melindungiku jika pria tadi berniat untuk mencelakaiku. Lagi pula aku sudah pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Dia pria yang baik. Dia sempat melindungiku dari orang-orang yang ingin mencelakai ku waktu itu."
Dominic kaget mendengarnya. "Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya? Di mana?"
"Kau tidak perlu tahu karena itu privasi."
Dominic menghela napas. Bagaimanapun juga ia tidak bisa memaksa Elyna apalagi di saat wanita itu sedang amnesia seperti sekarang. "Oke maafkan aku karena telah mengecewakanmu. Maafkan aku juga karena telah mengganggu kesenanganmu. Jika saja tadi Aku tahu kalau pria itu adalah pria baik mungkin aku tidak akan menghalangimu untuk berdansa dengannya. Elyna, Apa kau lupa kalau kedua orang tuamu menyerahkan keselamatanmu kepadaku? Aku hanya tidak mau mengecewakan mereka. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu kepadamu. Dengan begitu aku lebih waspada dan lebih hati-hati jika kau berdekatan dengan pria asing."
Elyna masih belum mau menjawab. Sepertinya wanita itu benar-benar marah kepada Dominic. Hal itu membuat Dominic terlihat kebingungan. Sebelumnya ia tidak pernah membujuk wanita dan kini pria itu sama sekali tidak tahu harus bicara apa agar Elyna tidak marah lagi padanya.
"Ayo kita makan. Pasti kau lapar."
"Aku ingin pulang saja!" ketus Elyna sebelum berlalu pergi. Dominic menghela napas panjang sebelum menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa dia benar-benar marah padaku? Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Pangeran Denzel sendiri sudah ada di dalam hotel. Pria itu berencana untuk mandi sebelum istirahat. Besok pagi ia akan menelusuri kota Las Vegas dan bersenang-senang di sana sebelum memutuskan untuk pindah ke negara lain. Sambil menghabiskan makan malamnya, Pangeran Denzel kembali ingat dengan wajah cantik Elyna. Ada senyum di bibir pria itu. Ternyata kali ini dia benar-benar mengagumi seorang Elyna.
"Elina Miller. Sepertinya aku harus menyelidiki tentang kehidupannya. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia berasal dari keluarga baik-baik. Lalu siapa pria yang ada di sampingnya tadi? Apa mungkin itu kakak kandungnya atau jangan-jangan itu sepupunya. Aku tidak yakin kalau pria itu bukan pacarnya karena dari cara Elyna marah padanya terlihat jelas kalau mereka tidak memiliki hubungan asmara."
Ternyata tadi secara tidak sengaja Pangeran Denzel sempat mendengar perdebatan antara Elyna dan juga Dominic. Di saat itu juga pangeran Denzel yakin kalau Elyna dan Dominic tidak pacaran.
Ketika sedang asyik memikirkan wajah cantik Elyna, tiba-tiba ponsel Pangeran Denzel berdering. Pria itu segera mengangkat ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia meneguk segelas air putih sebelum bicara.
"Ada apa?" tanya Pangeran Denzel. Wajah pria itu langsung berubah khawatir ketika mendengar penjelasan seseorang dari dalam telepon. "Aku akan pulang ke Belanda sekarang juga!"