Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Keluarga Bahagia



Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Ada banyak sekali aneka makanan dan minuman yang disiapkan Letty malam itu. Namun mereka semua belum bisa memulai makan malam karena Elyna belum juga muncul. Berbeda dengan Letty yang sudah sejak tadi hadir di meja makan.


Elyna harus memakai sepatu hak tinggi dan memperhatikan ulang penampilannya. Tidak boleh ada kesalahan di sana. Wanita itu ingin memberikan yang terbaik malam ini.


"Di mana Elyna, Tante? Kenapa dia belum keluar juga? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Dominic khawatir. Pria itu takut terjadi sesuatu terhadap calon istrinya. Meskipun dia tahu Elyna bisa melindungi dirinya sendiri dari bahaya. Tapi tetap saja Dominic tidak bisa duduk tenang.


"Elyna baik-baik saja. Dia masih ada di dalam kamar untuk berhias," jawab Letty sambil tersenyum penuh keyakinan. Wanita itu berharap agar Dominic tidak terlalu mengkhawatirkan putrinya. Karena memang sebenarnya saat ini Elyna baik-baik saja.


"Sejak kapan Elyna berhias?" Dominic mengernyitkan dahinya. "Setiap kali kami ingin pergi dia tidak pernah lama berada di dalam kamar. Bahkan terkadang dia lebih dulu yang keluar dari pada aku, Tante. Tolong periksa lagi. Pastikan kalau Elyna baik-baik saja. Aku tidak bisa duduk dengan tenang di sini." Dominic terlihat memohon hingga membuat Letty menjadi sedih.


"Kak Dominic, tenanglah. Aku juga kalau dandan selalu lama. Kenapa Kak Dominic tidak sabar seperti itu? Aku yakin sebentar lagi Kak Elyna pasti akan keluar," ucap Faith. Wanita itu berusaha untuk menenangkan hati Dominic agar tidak gelisah lagi. Toh mereka belum lama tiba di meja makan. Bahkan makanan yang dihidangkan juga masih panas.


"Tapi jika kau memang sangat mengkhawatirkan Elyna, Tante akan segera menjemputnya di dalam kamar." Letty beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki. Wanita itu juga khawatir karena menurutnya Elyna terlalu lama. Baru ingin melangkah wanita itu sudah tersenyum bahagia melihat putrinya muncul di sana.


Dominic dan yang lainnya juga segera memandang ke arah Elyna. Wanita itu memang terlihat sangat cantik malam ini. Balutan gaun panjang berwarna hitam sangat cocok ketika dikenakan oleh Elyna yang tinggi dan berkulit putih.


Malam itu Elyna sengaja menggerai rambutnya agar terlihat lebih manis. Tidak lupa Ia memakai anting-anting dan kalung agar terlihat Anggun dan menawan. Bukan hanya Dominic saja yang kagum. Tetapi semua orang yang di sana masih tidak menyangka kalau Elyna bisa berubah menjadi secantik itu. Selama ini memang Elyna jarang sekali berias. Maka dari itu ketika ia berias ia terlihat seperti seorang bidadari.


"Sepertinya adikku ini akan semakin tergila-gila kepada Elyna. Lihat saja matanya hampir jatuh seperti itu karena mengagumi kecantikan calon istrinya sendiri," ledek Denzel sambil tertawa. Dominic tidak lagi menghiraukan ledekan Dominic. Pria itu terlalu fokus dengan Elyna.


Sebenarnya Zion juga ingin ikut meledek Dominic. Namun kini posisinya dia hanya seorang adik ipar. Pria itu tidak berani meledek Dominic. Namun ia sangat mendukung kata-kata yang dikatakan oleh Pangeran Denzel.


"Lihatlah Putri kita. Bukankah dia sangat cantik?" bisik letty di telinga Miller. "Tidak sia-sia aku meriasnya tadi. Lihatlah semua orang kini mengagumi kecantikan Putri kita."


"Dia sangat mirip denganmu. Dulu saat pertama kali kita makan malam aku juga mengagumimu ketika kau memakai gaun itu. Aku masih tidak menyangka kalau sekarang kita sudah tua dan memiliki Putri secantik Elyna," sahut Miller dengan suara berbisik juga.


Elyna segera duduk di kursi yang ada di samping Letty. Wanita itu melempar senyum penuh cinta kepada Dominic sebelum mengatur posisi duduknya. Aroma parfum yang dikenakan oleh Elyna membuat Dominic tersenyum dan bersorak di dalam hati. Pria itu merasa bangga karena dia tahu kalau Elyna berubah cantik seperti ini demi dirinya.


"Oke, karena semua orang sudah berkumpul. Sebaiknya kita mulai makan malam kita ini," ucap Miller. Mereka semua berdoa sebelum makan. Ketika semua orang tengah hening dalam berdoa, Dominic justru tidak bisa diam. Itu mengalihkan perhatiannya untuk memandang wajah Elyna. Dilihat dari sudut manapun tetap saja kecantikan wanita itu terlihat sempurna.


"Mommy, bagaimana dengan penampilanku? Kenapa semua orang menatapku seperti itu? Apa Aku terlihat aneh?" bisik Elyna. Aku menambah polesan bedak tadi di kamar," sambungnya lagi.


"Tidak, Sayang. Malam ini kau terlihat cantik dan sempurna. Semua orang memandangmu karena mereka takjub akan kecantikanmu. Tenang saja. Kau tidak perlu berpikir yang aneh-aneh. Semua yang ada di meja makan ini sangat menyayangimu."


Elyna merasa jauh lebih lega sekarang setelah mendengar penjelasan dari Letty. Wanita itu juga segera memulai makan malamnya.


Tidak butuh waktu lama bagi semua orang untuk menghabiskan makanan dan minuman yang telah disediakan. Para pelayan yang ada di dapur juga sudah keluar untuk membereskan meja makan dan menggantinya dengan hidangan penutup. Momen itu digunakan oleh Miller dan yang lainnya untuk membahas pernikahan Elyna dan Dominic. Mereka semua sudah terlihat tidak sabar.


"Tuan, sebagai pihak wanita apa ada syarat khusus yang ingin kalian ajukan sebelum pernikahan ini dilaksanakan?" tanya Zean.


"Sebagai orang tua kami menyerahkan semuanya kepada Elyna karena dialah yang akan menjalaninya nanti," jawab Miller. Pria itu memandang ke arah Dominic. "Tetapi sebagai seorang ayah aku memiliki pesan khusus yang harus didengar dan diingat oleh Dominic. Aku ingin Dominic menjaga putriku dengan nyawa yang ia miliki. Jangan pernah sakiti putriku. Jangan pernah duakan cintanya. Meskipun dia ini wanita hebat yang sulit untuk ditaklukan. Tetapi dia tetaplah seorang wanita yang bisa menangis dan merasakan sakit hati." Nada bicara Miller seperti orang menahan tangis. Ternyata ada kesedihan yang ia pendam ketika dia tahu kalau putrinya akan segera menikah.


"Paman, saya janji akan menjaga Elyna dengan baik. Saya juga berjanji tidak akan menyakiti hatinya. Saya akan membuat Elyna selalu merasa bahagia. Anda harus bisa percaya Elyna kepada saya," ucap Dominic dengan ekspresi yang menyakinkan.


"Kenapa masih memanggil Paman? Bukankah bentar lagi Daddy juga akan menjadi Daddymu juga?" protes Elyna di sela-sela obrolan antara Dominic dan Miller.


Dominic mengangguk mendengar saran dari calon istrinya. "Daddy, mulai sekarang percayakan Elyna kepadaku. Aku janji tidak akan mengecewakan Daddy dan juga Mommy." Meskipun lidah Dominic belum terbiasa untuk menyebut kata Daddy dan Mommy. Tetapi pria itu berusaha membiasakannya.


Mendengar jawaban Dominic membuat Elyna tersenyum lagi. Semua orang yang ada di sana juga bahagia mendengarnya.


"Oh iya setelah menikah nanti rencananya kalian akan tinggal di mana? Apa kalian akan menetap di Las Vegas atau ada rencana lain untuk pindah negara?" tanya Letty ingin tahu. Wanita itu memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


"Nanti setelah menikah sering-sering ajak Elyna untuk pulang ke rumah ini. Mommy pasti akan sangat merindukan kalian berdua setelah kalian menetap di Las Vegas nanti." Letty mengambil tisu dan mengusap air mata yang menetes tanpa permisi.


"Mommy, Mommy jangan sedih seperti itu. Nanti aku juga ikutan sedih," ucap Elyna. Wanita itu segera memeluk ibu kandungnya. "Aku janji akan sering-sering mengunjungi Mommy dan Daddy. Meskipun nanti kami sudah menikah tapi keluarga akan tetap menjadi prioritas utama kami."


"Elyna benar. Keluarga tetap prioritas utama kami." Dominic menahan kalimatnya sejenak.


"Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan," ucap Dominic. "Setelah menikah nanti Papa Zean akan ikut bersama kami."


"Kenapa Papa tidak tinggal bersamaku saja?" protes Faith. Sepertinya wanita itu tidak setuju jika Zean harus menetap di rumah Dominic. Tidak di kediamannya lagi seperti biasa.


"Sebelumnya Papa memang tinggal di Las Vegas." Dominic tidak mau kalah. Sepertinya kini mereka akan memperebutkan Zean.


"Kalian berdua salah. Tadi di dalam pesawat aku sudah bernegosiasi terlebih dahulu dengan Papa dan Papa sudah memutuskan untuk menetap di Belanda setelah Dominic menikah!" jawab Pangeran Denzel dengan penuh kemenangan.


"APA?" Celetuk Dominic dan Faith tidak percaya. Mereka sama-sama memandang ke arah Zean untuk menagih sebuah jawaban.


"Kalau tidak percaya tanya saja langsung. Aku tidak pernah membohongi kalian berdua. Kalian berdua ini kan sudah menikah. Sudah memiliki pasangan masing-masing. Kenapa masih tidak rela jika Papa tinggal bersamaku yang masih jomblo ini. Sebagai adik kalian juga tidak boleh serakah," protes Pangeran Denzel.


"Pa, apa bener yang dikatakan Kak Denzel?" tanya Faith. Wanita itu tidak sabar untuk mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Zean langsung.


"Ya, Papa sudah memutuskan untuk menetap di Belanda dan menemani Denzel memimpin kerajaan Belanda. Kalian berdua tidak perlu panik seperti itu. Nanti papa akan sering-sering mengunjungi rumah kalian. Tetapi mungkin papa akan lebih banyak menghabiskan sisa hidup Papa di istana bersama dengan Denzel."


Jawaban Zean membuat Dominic dan Faith kembali diam. Mereka tidak bisa untuk mengatakan tidak setuju karena kini Pangeran Denzel sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Jika mereka sampai menunjukkan wajah tidak suka hal itu hanya akan menimbulkan masalah di dalam keluarga mereka sendiri.


"Bagaimana kalau 1 bulan di rumahku. Satu bulan di rumah Kak Dominic dan 1 bulan di rumah Kak Denzel? Bukankah itu ide yang bagus?" ujar Faith memberi solusi.


"Aku sudah bilang tadi kalian ini sudah memiliki keluarga dan pasangan hidup. Kenapa sulit sekali merelakan Papa untuk tinggal bersamaku? Nanti ketika aku sudah menemukan wanita yang kucintai dan menikah dengannya baru Papa boleh seperti itu." Pangeran Denzel berjuang keras mempertahankan Zean.


"Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Denzel ada masuk akalnya juga. Kalian berdua baru saja menikah. Umur pernikahan kalian masih seumur jagung. Kalian harus membina rumah tangga kalian masing-masing tanpa dicampuri oleh keluarga. Pernikahan itu tidak semudah yang kalian bayangkan. Jika terjadi selisih paham diantara kalian berdua, kalian harus menyelesaikannya hari itu juga. Tidak boleh menundanya lagi. Karena pernikahan adalah hidup bersama dengan orang yang kita cintai seumur. Jadi jika tidak ada saling pengertian, maka pernikahan itu tidak ada artinya." Letty pada akhirnya angkat bicara. Mendengar alasan yang dikatakan oleh Letty membuat Faith dan Dominic tidak mau protes lagi. Kini mereka sudah ikhlas jika Zean menetap di Belanda bersama dengan Denzel.


"Oke baiklah. Masalah ini telah selesai. Sekarang kita beralih ke pesta pernikahan. Bukankah akadnya akan dilakukan di Las Vegas. Begitupun dengan resepsinya?" Pangeran Denzel berusaha mencairkan suasana.


Elyna menatap Dominic sambil tersenyum. Wanita itu tahu apa yang dipikirkan oleh calon suaminya saat ini. Namun ia tidak bisa berbuat banyak karena ide yang diberikan Denzel juga ada baiknya.


"Kalian semua anak papa yang paling Papa sayangi di akhir hidup Papa ini. Papa hanya ingin melihat kalian saling mengasihi satu sama lain. Sebagai keluarga kalian harus melindungi keluarga kalian. Jika yang satu sakit kalian juga harus merasakan sakit," ucap Zean.


"Baik, Pa," jawab Dominic, Faith dan Denzel bersamaan.


Miller menggenggam tangan Letty. Ternyata pria itu sangat bahagia bisa menjalin hubungan keluarga bersama dengan Zean.


"Oke kalau begitu sekarang kita fokus dengan tanggal pernikahan. Sebentar lagi Elyna akan ulang tahun. Aku ingin putriku ini menikah di hari ulang tahunnya. Apa kau setuju sayang?" tanya Miller. Pria itu berharap kalau putrinya setuju.


"Sayang, kenapa kau tidak pernah bilang kalau sebentar lagi kau akan ulang tahun? Aku belum menyiapkan kado spesial untukmu," protes Dominic kepada Elyna.


"Aku terlalu sibuk memikirkan pernikahan kita sampai-sampai tidak ingat dengan tanggal. Tapi ulang tahunku 2 bulan lagi. Aku mau menikah dalam waktu dekat. Bagaimana kalau tahun baru saja? Kita akan buat pesta bunga api. Jadi di saat resepsi pernikahan bertepatan dengan pergantian tahun. Bukankah itu akan terlihat meriah?" ucap Elyna memberi solusi.


"Kali ini aku setuju dengan ide Kak Elyna," sahut Faith memberi pendapat.


Pangeran Denzel mengangguk setuju. "Aku juga setuju. Pesta bunga api akan menutup resepsi pernikahan mereka. Akan ada tarian dan dansa di sana. Semua orang berkumpul dengan balutan pakaian berwarna merah dan hitam. Itu sempurna!"