
BYURRR
Brandon terbangun ketika guyuran air membasahi sekujur tubuhnya. Pria itu menatap sinis ke arah sosok yang baru saja melemparkan seember air ke tubuhnya.
"Lancang sekali! Apakah kau tidak takut aku hukum?”ujar Brandon. Meskipun kini dia adalah tahanan tetap saja pria itu memasang wajah angkuh dan berbicara dengan nada yang begitu sombong. Seolah-olah dia benar dan pasti akan segera dibebaskan.
"Hei Brandon! Kau ini sekarang bukan siapa-siapa lagi. Kau hanya tahanan hina yang bisa kami siksa kapanpun kami mau. Jika saja Pangeran Denzel tidak melarang kami untuk membunuhmu, mungkin detik ini juga kami sudah menghabisi nyawamu. Jadi jangan lagi bersikap seolah-olah kau yang paling hebat di antara kami." Salah satu penjaga di sana terlihat benci sekali dengan Brandon. Ingin sekali dia segera menyiksa Brandon dan membuatnya menderita.
Beberapa penjaga yang ada di penjara itu juga terlihat sangat membenci Brandon. Memang sejak dulu Brandon itu terkenal dengan kesombongannya. Ia merasa paling hebat karena menduduki posisi sebagai tangan kanan Yang Mulia Raja. Tidak ada satu orang pun yang berani mengusik ketenangannya.
Siapapun yang mendapat perintah darinya juga tidak akan pernah berani untuk menolak. Bertahun-tahun lamanya istana dibuat tidak tenang dengan kehadiran Brandon. Tetapi kini semua telah berakhir. Sekarang mereka semua bisa bernapas dengan lega ketika Brandon terbukti bersalah. Dan akan segera dihukum mati.
"Aku tidak sendirian. Orang-orang ku akan segera membebaskanku. Dan jika sampai waktu itu tiba, aku akan menghabisi kalian semua!" ucap Brandon tidak mau kalah. Bahkan pria itu menatap satu persatu orang yang ada di sana untuk menandai wajah mereka. “Dimulai dari kau! Kau ini terlalu lancang!” ujar Brandon lagi.
Jelas saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana tertawa terpingkal-pingkal. "Bahkan kau saja tidak bisa melepas borgolmuitu. Bagaimana bisa orang bayaranmu bisa masuk ke penjara bawah tanah ini tanpa izin dari pangeran Denzel. Jadi sebaiknya mulai detik ini belajarlah untuk menjadi pria yang lebih baik lagi. Setidaknya di detik-detik kematianmu kau sudah tobat dan sudah berubah menjadi lebih baik lagi.”
Brandon kembali membisu. Sebenarnya dia sendiri juga ragu dengan orang-orang kepercayaannya. Sudah beberapa hari ini tetapi mereka tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan menolong Brandon. Padahal seharusnya hari dimana Brandon di tangkap, mereka harus segera muncul untuk menyelamatkannya.
"Apa pangeran sudah berhasil menemukan dan menangkap mereka. Tetapi itu tidak mungkin. Tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan kalau mereka adalah orang kepercayaanku. Sekarang aku hanya perlu terlihat lemah dan menyedihkan agar orang-orang yang ada di penjara ini tidak lagi menjagaku dengan ketat. Dengan begitu orang kepercayaanku bisa memiliki peluang untuk menyelamatkanku," gumam Brandon di dalam hati.
Setelah puas mencaci Brandon, para penjaga yang berada di penjara berkumpul di sebuah ruang kosong yang tidak jauh dari ruangan tempat Brandon disekap. Mereka meminum minuman beralkohol sambil bercerita. Brandon mengatur napasnya yang terasa begitu sesak. Pria itu merasa ada yang aneh dengan minuman yang baru saja ia teguk.
"Kenapa dadaku terasa panas. Apa mereka baru saja meracuniku?” gumam Brandon di dalam hati. “Tolong! Uhuk Uhuk.”Pria itu batuk-batuk dan terlihat sangat kesakitan. Jelas saja hal itu menyita perhatian semua orang. Beberapa pengawal yang berjaga di sana segera menghampiri Brandon untuk memeriksa keadaannya. Namun ketika melihat ekspresi wajah Brandon justru mereka berpikir kalau ini adalah trik yang sedang dimainkan oleh Brandon untuk kabur.
"Jangan berakting lagi. Kami semua tidak akan percaya dengan tipu muslihatmu pria licik!” ujar salah satu pengawal yang ada di sana. Tetapi kali ini Brandon tidak memberikan respon apapun. Pria itu terlalu fokus dengan sakit yang kini ia rasakan. Bahkan untuk bernapas saja ia merasa kesulitan.
“Sakit tolong,” lirihnya dengan ekspresi yang menyedihkan.
"Sepertinya dia benar-benar kesakitan. Cepat hubungi Pangeran Denzel dan tanyakan kepadanya apa yang harus kita lakukan,” perintah pengawal lainnya. Justru sebagian dari mereka kini terlihat panik Karena Mereka takut jika Brandon sampai tewas maka Pangeran Denzel pasti akan menyalahkan mereka.
"Panas! Apa kalian baru saja meracuniku!” teriak Brandon dengan wajah memerah. Rasa sakit yang ia rasakan begitu luar biasa. Kali ini dia tidak sedang berakting. Pria itu benar-benar keracunan dan butuh pertolongan dokter.
"Cepat lepaskan borgolnya. Biarkan dia berbaring,” ujar salah satu pengawal memberi solusi. Toh saat itu Brandon berada di sebuah tahanan yang sudah dikunci. Mereka yakin kalau Brandon tidak akan mungkin kabur dengan mudah. Jika memang pria itu sedang berakting saat ini.
Salah satu pengawal segera mengambil kunci dari dalam saku dan membuka rantai yang mengikat tangan dan kaki Brandon. Setelah itu mereka segera membaringkan Brandon dan memberikannya air putih.
"Aku tidak memerintahkan siapapun untuk memberikannya minum," sahut pengawal satunya lagi.
"Seseorang datang dan memberikanku segelas air minum sebelum kalian semua tiba di sini. Apa kalian tidak mengenalnya. Atau jangan-jangan kalian hanya pura-pura tidak tahu saja padahal sebenarnya kalian bersekongkol dengan pria itu untuk meracuni ku." Brandon lagi-lagi bersuara.
Brandon memegang dadanya yang terasa begitu sakit. Bersamaan dengan itu pengawal setia Pangeran Denzel muncul, Pria itu ingin memeriksa secara langsung keadaan Brandon. Ia juga terlihat bingung ketika melihat Brandon kesakitan seperti itu.
“Apa yang kalian lakukan terhadapnya?” tanya pria berbadan tegap itu bingung.
“Tuan, kami tidak melakukan apapun. Dia tiba-tiba saja berteriak kesakitan. Dia bilang seseorang memberinya minum. Tetapi sejak tadi kami belum memerintahkan siapapun untuk memberikannya minum. Apa mungkin dia sedang berakting saja? Dia ini pria licik. Kita tidak bisa mempercayai apa yang dia katakan begitu saja.”
Pria itu berjongkok lalu memeriksa denyut nadi Brandon. Setelah dia tahu kalau Brandon memang benar-benar keracunan, akhirnya dia mengeluarkan perintah.
"Panggilkan dokter untuk memeriksa keadaannya sekarang juga. Dia tidak boleh mati tanpa izin dari pangeran Denzel. Pria ini harus hidup agar dia bisa merasakan penderitaan yang selama ini dirasakan oleh orang lain.”
"Baik Tuan.” mereka semua mengambil alih tugas masing-masing. Sedangkan Brandon mulai memejamkan matanya karena dia sudah sangat kelelahan. Tenaganya sudah benar-benar habis akibat racun yang ia konsumsi. Namun di saat semua orang kembali sibuk untuk mencari pertolongan, pria itu kembali membuka matanya.
"Aku sudah jahat kepada kalian. Kenapa kalian masih memiliki niat untuk memanggilkan dokter? Biarkan saja aku mati dengan cara menyedihkan seperti ini. Bukankah ini balasan yang setimpal atas perbuatan yang aku lakukan?” lirih Brandon dengan suara yang sangat lemah.
"Kau pikir aku mau memanggilkan dokter karena aku peduli dengan keadaanmu? Tidak Brandon. Seorang pembunuh tidak bisa lagi dimaafkan. Aku hanya tidak mau kau mati sebelum waktunya tiba,” sahut pria itu dengan senyum penuh kemenangan. “Kau sama sekali tidak berarti di mata kami.”
Brandon tertawa pelan. Untuk berteriak saja pria itu sudah tidak sanggup lagi. "Sepertinya aku akan mati hari ini juga. Napasku benar-benar terasa berat. Dadaku terasa sakit. Bahkan sekujur tubuhku seperti ditusuk jarum."
Seorang dokter muncul lalu segera memeriksa keadaan Brandon. Ketika dia tahu kalau tubuh Brandon sudah dipenuhi racun, dokter itu segera menyuntikan penawarnya. Pengawal yang ada di sana saling memandang satu sama lain. Mereka semua masih bertanya-tanya di dalam hati kira-kira siapa yang sudah berani memberikan racun kepada Brandon. Apa lagi tanpa ada perintah dari Pangeran Denzel. Bukankah itu berarti seseorang itu sudah berani menentang perintah Pangeran?
"Dokter, apa pria ini benar-benar keracunan atau dia hanya sekedar membohongi kami saja?” tanya salah satu pengawal. Meskipun Brandon sudah sekarat, tetapi tetap saja mereka tidak percaya.
"Dia memang keracunan. Denyut nadinya sangat lemah. Terlambat sedikit saja menyuntikkan penawarnya mungkin pria ini akan tewas,” jawab dokter itu apa adanya.
Pengawal Setia Pangeran Denzel hanya diam saja sembari menatap Brandon dengan wajah yang begitu serius. "Sepertinya bukan aku saja yang menginginkan kematiannya. Tetapi ada orang lain yang membencinya hingga ingin dia mati secepatnya. Tetapi kira-kira siapa yang sudah melakukan semua ini?" gumamnya di dalam hati.
Secara diam-diam Dokter itu menyelipkan belatih di bawah tubuh Brandon. Brandon sendiri baru sadar kalau ini adalah bagian dari rencana anak buahnya sendiri. Kini sudah ada wajah kelegaan di sana. Rasanya Brandon sudah tidak sabar untuk menunggu aksi selanjutnya.