Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Akhir yang Manis



Dua Minggu Kemudian


"Kak Denzel, Apa Anda suka ikan goreng?" tanya Faith sembari menawarkan ikan goreng masakannya kepada Pangeran Denzel.


Elyna dan yang lainnya hanya tersenyum saja sebelum lanjut untuk menghabiskan makan siang mereka.


"Aku suka ikan goreng. Tolong letakkan di piringku. Tapi jangan terlalu banyak," jawab Pangeran Denzel sambil tersenyum.


"Kak, kau ini mau sampai kapan tinggal di rumah ini? Bukankah istanamu itu sangat luas?" ucap Zion sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulut. "Atau jangan-jangan kau berencana untuk menjual istanamu dan uangnya untuk bersenang-senang," ledek Zion selalu lagi.


"Memang rumah ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan istanaku yang ada di Belanda. Tetapi keluargaku ada di sini. Aku memiliki adik-adik yang sangat manis dan memiliki Ayah yang sangat menyayangiku."


Pangeran Denzel memandang ke arah Zean dan Dominic bergantian. Hal itu membuat Zean tersenyum sambil mengangguk setuju.


Pada akhirnya Dominic benar-benar berlapang dada untuk memaafkan Pangeran Denzel dan menerima pria itu sebagai saudaranya.


Pasukan Gold Dragon dikirim secara khusus oleh Zion untuk memeriksa kejanggalan yang terjadi di Belanda. Ternyata kecelakaan itu juga direncanakan oleh seseorang yang telah mengincar posisi Pangeran Denzel sebagai seorang Raja.


Karena kasihan dengan hidup Pangeran Denzel yang tidak lagi memiliki keluarga, pada akhirnya Zean mengangkat pria itu sebagai putranya. Karena usia Pangeran Denzel yang paling tua, pada akhirnya Dominic dan Faith akan menjadi adiknya. Lalu Zion dan Elyna akan menjadi adik iparnya.


Pangeran Denzel sendiri juga sudah menghilangkan rasa cintanya terhadap Elyna. Kali ini pria itu menyayangi Elyna hanya sebatas sebagai saudara saja. Tidak lebih dari itu. Justru pria itu yang paling mendukung pernikahan antara Elyna dan juga Dominic kali ini. Dia mempersiapkan semuanya. Pangeran Denzel ingin membuat pesta pernikahan yang mewah dan paling berkesan yang pernah ada.


"Pa, hari ini kami akan pulang ke rumah Elyna. Bukankah Papa juga sudah janji akan ikut bersama dengan kami?" Dominic angkat bicara. Pria itu menjauhkan piring yang sudah kosong sebelum meneguk air putih yang ada di hadapannya. "Kak Denzel juga boleh ikut. Sebagai kakak kau harus mendampingi adikmu ini untuk mempersiapkan pernikahannya."


"Tentu saja aku ikut. Aku tidak mau ketinggalan jika kalian ingin bepergian. Bukankah sekarang kita adalah satu keluarga?" ucap Pangeran Denzel dengan penuh semangat. Pria itu juga mengakhiri makan siangnya ketika perutnya sudah merasa jauh lebih kenyang.


"Kalau begitu aku akan bersiap-siap. Kita semua akan sama-sama berangkat dan berlibur di kota Kak Elyna," ujar Faith dengan penuh semangat.


"Oh iya, aku hampir saja lupa. Salah satu pejabat yang sudah merencanakan kecelakaan itu juga sudah berhasil ditangkap oleh pasukan Gold Dragon. Mereka mendapatkan banyak bukti-bukti dan setelah diselidiki memang benar kalau merekalah dalang dari kecelakaan yang Kak Denzel alami. Lalu sekarang hukuman apa yang ingin anda berikan kepada mereka agar mereka tidak lagi melakukan kesalahan yang sama?" tanya Zion dengan ekspresi wajah yang serius.


"Sebenarnya aku sudah tidak peduli lagi dengan kerajaan Belanda. Bahkan aku sudah tidak ingin menduduki posisi sebagai Raja," sahut Pangeran Denzel.


"Kau tidak bisa mengambil keputusan seperti itu. Bagaimanapun juga Kerajaan Belanda adalah milik leluhurmu. Kau harus memimpinnya untuk menjadi kerajaan yang jauh lebih baik," sahut Zean.


Tiba-tiba saja pria itu kembali ingat dengan tragedi yang pernah terjadi di kerajaan Belanda. Ada banyak sekali korban di sana. Namun semua itu hanya akan menjadi rahasia Zean dan yang lainnya. Mereka semua tidak tertarik untuk menceritakan masa lalu mereka yang buruk kepada keturunan mereka.


"Tetapi aku tidak suka dengan aturan kerajaan," jawab Pangeran Denzel lagi. "Diantara kalian berdua, Apa kalian tidak ada yang ingin menjadi Raja?" tawarnya kepada Zean dan juga Dominic.


Pertanyaan Pangeran Denzel membuat Zion tertawa. Bahkan jika memang pria itu menginginkan posisi sebagai Raja, dia bisa dengan mudah memimpin kerajaan Cambridge. Akan tetapi sampai detik ini juga Zion tidak pernah tertarik dengan kekuasaan.


Sama halnya dengan Dominic. Justru pria itu sudah menguasai kota Las Vegas dan itu sudah lebih dari cukup baginya. Dominic juga bukan tipe pria yang serakah. Dia sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk menggantikan Pangeran Denzel menduduki posisinya sebagai Yang Mulia Raja.


"Kami tidak pantas untuk menduduki posisi itu. Hanya anda yang pantas," sahut Dominic. "Lebih baik setelah pesta pernikahan kami berlangsung, Kak Denzel pulang saja ke kerajaan Belanda dan urus masalah yang ada di sana. Seperti apa yang dikatakan Papa tadi. Pimpinlah kerajaan Anda agar menjadi kerajaan yang jauh lebih baik dan bisa dicontoh oleh negara lain. Meskipun Kak Denzel tidak menyukai posisi itu, tetapi tanggung jawab rakyat Anda telah ditujukan kepada anda dan anda tidak bisa menghindar lagi."


Penjelasan yang diucapkan oleh Dominic membuat Pangeran Denzel berpikir lebih jernih lagi. Hingga akhirnya pria itu mengangguk setuju. "Ya, kau benar. Kalau begitu aku akan pulang ke Belanda dan mengambil posisiku sebagai raja di sana. Aku akan memimpin kerajaanku menjadi kerajaan yang jauh lebih baik dari sekarang," ucap Pangeran Denzel dengan penuh keyakinan.


...***...


Pangeran Denzel yang juga sudah bersiap-siap kini berjalan menghampiri Elyna. Awalnya pria itu terlihatlah ragu ketika ingin mendekati Elyna. Dia takut Dominic nanti akan salah paham. Namun ia sudah sangat yakin dengan isi hatinya sendiri Kalau sudah tidak ada nama Elyna lagi di sana. Pria itu sudah benar-benar Ikhlas dan merestui hubungan Elyna dan juga Dominic.


"Apa yang sedang kau kerjakan? Aku lihat kau terlihat asik sendiri sejak tadi." Pangeran Denzel duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Posisinya berhadapan langsung dengan Elyna.


"Aku baru saja menelepon Mommy," jawab Elyna. Wanita itu segera menyimpan ponselnya ke dalam tas. "Dimana yang lain? Apa mereka belum siap?" Meskipun Elyna tahu kalau kini Pangeran Denzel tidak lagi memiliki perasaan apapun terhadapnya, tetapi tetap saja ketika mereka berduaan seperti ini Elyna merasa canggung. Bahkan wanita itu tidak tahu harus bicara apa lagi.


"Aku tidak tahu barang apa yang mereka bawa. Kenapa lama sekali. Elyna, kau suka warna apa?" tanya Pangeran Denzel ingin tahu.


"Warna?" sahut Elyna dengan wajah bingung. Wanita itu bertanya-tanya di dalam hati. Kira-kira apa tujuan Pangeran Denzel menanyakan warna favoritnya.


"Kau tidak perlu salah paham seperti itu. Aku bertanya warna favoritmu karena aku ingin menyiapkan tema yang sesuai dengan warna favoritmu," jawab Pangeran hingga akhirnya Elyna tertawa mendengarkannya.


"Maafkan aku karena tadi aku sempat salah paham. Warna favoritku bisa warna hitam atau merah. Hanya dua warna itu yang aku sukai. Namun lebih sering memakai warna hitam. Tetapi kelihatannya Dominic lebih menyukai warna putih," jawab Elyna apa adanya.


"Kalau begitu kita akan mengkombinasikan tiga warna itu. Bagaimana? Apa kau setuju?"


"Aku sudah menyerahkan tema pernikahan ini kepada Kak Denzel. Aku yakin selera kakak tidak akan mungkin diragukan lagi," jawab Elyna sambil tersenyum manis.


"Ya, kau seharusnya mempercayakan semuanya padaku. Dominic sekarang sudah menjadi adikku. Aku ingin yang terbaik untuknya."


"Dominic pernah bilang padaku kalau seumur hidupnya dia tidak pernah membayangkan bisa memiliki seorang kakak. Ketika dia memiliki Kak Denzel Dia terlihat sangat bahagia. Aku harap kalian berdua bisa saling menyayangi sebagai saudara meskipun kalian tidak saudara kandung."


"Dominic pria yang sangat sulit untuk ditebak. Sulit juga diajak bercanda. Ketika sudah menikah nanti, kau harus bisa memahami sifatnya agar kalian tidak sering bertengkar. Memang baru satu minggu kami resmi menjadi adik kakak. Tetapi waktu singkat Itu sudah memberikan banyak pengalaman berharga bagiku. Entah kenapa sejak dulu aku selalu menginginkan seorang adik laki-laki. Tetapi di usiaku yang sekarang baru aku bisa mendapatkannya. Aku sama sekali tidak keberatan jika aku kehilangan wanita yang aku cintai. Karena memiliki keluarga lengkap seperti ini tidak semua orang bisa mendapatkannya."


"Ya. Kak Denzel juga bisa memanggil Mommy sebagai Mommy Kak Denzel. Tidak perlu ragu-ragu. Tetapi sebelum itu Kak Denzel harus tahu bagaimana watak Mommy. Mommy itu sangat cerewet. Ketika ia marah ia bisa berubah menjadi monster yang sangat menakutkan," jelas Elyna sambil tersenyum. Dia juga kembali membayangkan wajah ibu kandungnya yang memang suka sekali berubah-ubah.


Pangeran Denzel tertawa mendengarnya. Bersamaan dengan itu Dominic muncul dengan satu koper di tangannya. Pria itu bahkan tersenyum bahagia melihat Pangeran Denzel sedang asyik mengobrol dengan calon istrinya. Dia segera menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Pangeran Denzel lalu memandang pria itu dengan tatapan penuh arti.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau lagi-lagi cemburu?" tebak Pangeran Denzel asal saja.


"Tidak. Aku sama sekali tidak cemburu. Aku ingin meminta sesuatu dari kakakku yang baik ini." Tatapan Dominic yang berubahembuat Pangeran Denzel menyipitkan kedua matanya.


"Apa lagi?" Pangeran Denzel mendengus kesal. "Kau sudah meminta segalanya dariku dan aku sudah memberikannya tanpa terkecuali. Apa masih ada yang kurang juga?"


"Sebenarnya ini tidak terlalu sulit tetapi aku tidak yakin kakakku ini bisa mengabulkannya." Dominic membenarkan posisi duduknya. "Elyna pernah bermimpi kalau dia akan membangun sebuah gedung dan mengumpulkan anak-anak terlantar di gedung tersebut. Tetapi sepertinya kota Las Vegas tidak cocok untuk mereka. Mereka lebih cocok untuk tinggal di istana. Maksudku di Belanda. Aku akan membangun gedung di Belanda dan mengumpulkan mereka di sana. Aku dan Elyna sudah membicarakan masalah ini dan Elyna juga sudah setuju. Sekarang tinggal persetujuan dari Kak Denzel saja."


"Kenapa harus minta izin? Lakukan saja apa yang menurutmu baik. Aku akan menyetujuinya apapun itu," jawab Pangeran Denzel tanpa rasa keberatan sedikitpun.


Elyna dan Dominic saling memandang. Mereka sama-sama bahagia mendengar kabar baik ini. "Oh iya ada satu informasi lagi yang belum aku sampaikan kepada Kak Denzel. Wanita yang kecelakaan bersama dengan kakak waktu itu adalah pelayan klub malam yang kita datangi. Dari rekaman CCTV terlihat jelas kalau dia ingin membawa Kak Denzel pergi. Tapi kami semua tidak tahu apa motifnya membawa pergi Kak Denzel ke taksi. Namun satu hal yang harus menjadi perhatian kita saat ini. Ternyata wanita itu adalah seorang ibu. Ia memiliki anak perempuan berusia 1 tahun yang kini dirawat oleh tetangganya."


"Apa?" Pangeran Denzel kaget mendengarnya. "Kenapa kalian baru memberitahuku sekarang. Lalu bagaimana nasib anak itu saat ini?"


"Dia baik-baik saja karena dia dirawat oleh orang baik. Tetapi kami belum berani memberitahu mereka kalau ibu anak itu telah tewas dalam kecelakaan. Mungkin mereka juga tidak akan percaya karena tidak melihat wajahnya secara langsung. Jadi aku dan Dominic berencana untuk membiayai anak kecil itu sampai dia besar. Walaupun kita semua tidak tahu tujuan ibunya membawa Kak Denzel ke taksi baik atau buruk. Tetapi sebagai anak kecil tidak berdosa ia pantas untuk mendapatkan pertolongan kita."


Pangeran Denzel hanya diam saja. Pria itu merasa bersalah karena wanita itu mengalami kecelakaan dan tewas di taksi yang sama dengannya. "Kalau saja malam itu Aku tidak mabuk, mungkin masalah ini tidak akan pernah terjadi. Anak kecil itu tidak akan pernah kehilangan ibunya," gumamnya di dalam hati.