
Pangeran Denzel memperhatikan Elyna yang kini masih tertidur dengan lelap. Wanita itu baru saja minum obat. Ia langsung memejamkan mata karena memang efek dari obat yang ia konsumsi. Sembari memandang wajah Elyna, Pangeran Denzel kembali mengingat apa yang dikatakan bawahannya. Pria itu bertanya apakah dia menyukai Elyna. Namun Pangeran Denzel sendiri tidak tahu apa yang sekarang ia rasakan. Apa ini cinta atau hanya sekedar rasa kagum saja. Hingga pada akhirnya Pangeran Denzel tidak bisa menjawab pertanyaan pengawal setianya.
"Apa itu cinta? Apa itu suka? Yang aku tahu, aku tidak mau kau bersedih. Aku tidak mau kau menderita. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum."
Pangeran Denzel memegang tangan Elyna lalu mengusapnya dengan lembut.
"Ada banyak sekali wanita yang aku temui. Tetapi, aku tidak pernah peduli dengan mereka. Tetapi semua terasa berbeda ketika aku bertemu denganmu Elyna. Ada sebuah getaran yang aku sendiri tidak tahu apa.
Apa getaran seperti ini yang dinamakan cinta? Apa mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Lalu, apa yang akan terjadi pada hidupku jika rasa cinta ini sampai tidak terbalas? Hanya berdiri di hadapanmu seperti ini saja sudah membuat debaran jantungku tidak karuan. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal yang seperti sekarang."
Pangeran Denzel meletakkan tangan Elyna dengan hati-hati. Ia beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki.
"Dominic ...."
Pangeran Denzel menahan langkah kakinya. Pria itu segera berputar mendengar suara yang keluar dari mulut Elyna. Karena tidak bisa mendengar dengan jelas, pada akhirnya Pangeran mendekati wajah Elyna.
"Dominic ...." Elyna lagi mengigau dan menyebut nama Dominic.
"Dominic?" celetuk Pangeran Denzel. Entah kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa panas. Padahal tadinya semua baik-baik saja.
Tanpa disadari Pangeran Denzel, kini dia merasakan cemburu. Pria itu belum siap jika sampai wanita yang ia cintai lebih memilih pria lain daripada dirinya. "Kenapa kau menyebut nama pria lain di saat kau tertidur? Apa kau sangat merindukannya Elyna?"
Pangeran Denzel menatap wajah cantik Elyna. Dilihat dengan jarak yang begitu dekat membuat Pangeran Denzel semakin tergila-gila dengan Elyna. "Kecantikanmu ini sempurna Elyna." Pangeran Denzel mengusap bibir Elyna dengan jarinya. Pria itu mendekatkan bibirnya. Sejenak ia terlihat ragu untuk mencium Elyna. Namun, entah kenapa dorongan itu semakin kuat hingga akhirnya Pangeran Denzel mencium bibir Elyna di saat dia tidak sadar.
"Aku tidak peduli siapa pria yang kau cintai. Yang aku tahu, aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu. Elyna, entah ini cinta atau bukan." Tatapan Pangeran Belanda itu berubah tajam. " Yang aku tahu Kau harus menjadi istriku!"
...***...
Dominic dan Zion berada di sebuah cafe. Mereka akan bertemu dengan pasukan Queen Star dan juga Gold Dragon. Kini mereka akan rapat untuk mencari keberadaan Elyna. Waktu terus berjalan. Zion bahkan tidak peduli kalau kini langit sudah gelap.
"Bos, kami menemukan gerak-gerik yang mencurigakan." Pasukan Queen Star menyodorkan beberapa foto. "Pria yang berdansa dengan Bos Elyna adalah Pangeran Belanda dia bernama Denzel. Selama hidupnya ia habiskan untuk berkeliling dunia. Pria ini mencintai alam dan kehidupan yang bebas. Tidak suka menetap di satu negara sana. Meskipun dia akan menjadi pewaris kerajaan tetapi pria ini sama sekali tidak terobsesi dengan kekuasaan.
Saya tidak tahu bagaimana Bos Elyna bertemu dengan Pangeran Denzel. Tetapi dilihat dari cara pria ini menatap Bos Elyna, saya bisa simpulkan kalau dia menyukai Bos Elyna. Kemungkinan pria ini terlibat dalam masalah ini. Bisa jadi Dia sengaja menculik Bos Elyna karena ingin mendapatkannya. Setiap pria yang sudah terobsesi dengan satu wanita rela melakukan apapun demi mendapatkan wanita yang ia sukai," jelas Pasukan Gold Dragon.
"Lalu sekarang dia ada di mana?" tanya Dominic ingin tahu.
Mendengar penjelasan dari pasukan Gold Dragon membuat dada Dominic mendidih. Pria itu tidak rela jika ada pria lain yang mencintai Elyna. Meskipun Dominic sendiri juga masih ragu dengan perasaannya. Tetapi tetap saja ia ingin Elyna selalu ada di sisinya. Hanya namanya yang boleh ada di dalam ingatan Elyna.
"Apa kita sedang menghadapi cinta segitiga?" ledek Zion sambil menahan tawanya. Sejak tadi suasana terlihat begitu menegangkan dan semua orang memasang wajah yang begitu serius. Momen ini dimanfaatkan oleh Zion untuk mencairkan suasana.
"Aku tidak menyukai Elyna. Aku hanya tidak mau ia berada dalam bahaya." Meskipun sudah terlihat jelas dari ekspresi wajah Dominic kalau pria itu sangat mencintai Elyna, tetapi tetap saja Dominic berusaha untuk menyangkal semua itu.
"Kakak ipar, jika cinta katakan cinta. Jika kau terus menghindar dan tidak mau mengakui perasaanmu maka bisa jadi wanita yang kau cintai itu akan direbut oleh orang lain." Zion semakin senang meledek Kakak iparnya.
"Zion, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas soal perasaan. Kita harus fokus untuk mencari keberadaan Elyna. Apa kau mengerti?" Nada bicara Dominic yang meninggi membuat Zion kembali terdiam. Pria itu tahu kalau kini kakak iparnya mulai marah dan Zion tidak mau memancingnya lagi.
"Oke oke. Maafkan aku kakak ipar. Aku hanya bercanda saja tadi. Jangan diambil serius. Aku hanya tidak mau kakak iparku ini stress karena memikirkan masalah Elyna." Zion membaca beberapa informasi yang sudah dikumpulkan oleh pasukan Gold Dragon. Ekspresi pria itu terlihat tenang dan sangat santai. Berbeda jauh dengan ekspresi Dominic saat ini. Zion berpikir kalau masalah ini adalah masalah ringan yang sangat mudah untuk diatasi. Dia merasa sangat yakin kalau dalam waktu dekat Elyna pasti akan segera ditemukan.
"Raja Belanda telah tewas karena dibunuh?" celetuk Zion dengan wajah yang serius.
"Benar, Bos!" sahut pasukan Gold Dragon.
"Tewas karena dibunuh? Bukankah itu berarti ayah kandung dari pangeran Denzel telah tiada. Kapan kejadiannya? Kenapa seorang Raja bisa sampai mati terbunuh? Bukankah ini masalah yang langkah? Dimana para penjaga dan dimana orang-orang yang ada tinggal di istana. Kenapa seorang Raja bisa sampai tewas dan mati mengenaskan seperti ini? Sudah berapa lama kejadiannya?"
"Baru beberapa hari ini saja bos," jawab salah satu pasukan Queen Star.
"Pangeran Denzel awalnya berada di Las Vegas. Dia sudah memesan hotel selama 1 minggu tetapi baru dua malam ia menginap di hotel, pria itu sudah meninggalkan Las Vegas begitu saja. Sepertinya ia kembali ke Belanda karena mendapat kabar kalau Ayah kandungnya telah tewas. Bukankah di sini ada banyak hal yang begitu mencurigakan. Kenapa hilangnya Elyna bersamaan dengan tewasnya Raja Belanda?" Zion seperti menemukan titik terang. Pria itu terlihat semakin serius. Sama halnya dengan Dominic. Pria itu juga ikut memeriksa informasi yang berhasil didapatkan oleh pasukan Queen Star dan juga Gold Dragon.
"Kita harus ke Belanda sekarang juga. Aku yakin kita akan menemukan petunjuk di sana," ucap Zion pada akhirnya.
"Kau yakin?" Dominic masih terlihat ragu. Pria itu hanya tidak mau mereka membuang-buang waktu saja.
"Jika dalam waktu beberapa hari kita tidak menemukan petunjuk apapun di Belanda kita akan pergi ke tempat lain yang kira-kira menjadi tempat di mana Elyna berada. Berdiam diri di Las Vegas juga bukan sebuah solusi karena pada nyatanya Elyna tidak ada di Las Vegas ini."
...***...
Elyna duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang tidak bersemangat. Wanita itu ingin melangkah Lagi. Dia tidak mau kakinya lumpuh seperti ini. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Dalam keadaan seperti ini Elyna merindukan keluarganya. Tetapi kini wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah Pangeran Denzel untuk berdiam diri di rumah sederhana tersebut.
"Apa yang sudah terjadi? Kenapa tiba-tiba saja kakiku tidak bisa digerakkan lagi. Apa ini bagian dari rencana Pangeran Denzel agar aku tidak kabur? Tetapi Kenapa dia setega itu padaku. Aku tidak melakukan kesalahan apapun terhadapnya. Apa sebelum aku amnesia Kami sempat bertemu dan aku sempat membuatnya tersinggung.
Hingga pada akhirnya kini Ia memutuskan untuk balas dendam. Apa mungkin selama ini kebaikan yang ia tunjukkan di hadapanku itu hanya pura-pura saja agar aku percaya padanya? Aku benar-benar bodoh. Bisa-bisanya Aku mau berkenalan dengannya. Sampai-sampai aku mau berdansa dengannya malam itu."
Elyna memutar kepalanya ke samping ketika mendengar seseorang berjalan mendekati kamar. Karena tidak mau bertemu dengan siapapun pada akhirnya Elyna kembali berbaring dan pura-pura tidur. Tidak lama setelah itu Pangeran Denzel muncul di dalam kamar Elyna. Kali ini ia tidak datang sendirian. Ada dokter yang ikut bersama dengannya untuk memeriksa keadaan Elyna.
"Saya dengar anda dokter paling hebat yang ada di Amerika. Saya sengaja memanggil anda secara khusus untuk datang ke Belanda agar bisa memeriksa keadaan Elyna. Dia ini saudara saya. Saya mau Anda menyembuhkan kakinya. Seseorang telah memberinya racun hingga akhirnya ia sampai lumpuh seperti ini. Saya takut jika tidak segera diobati Elyna akan lumpuh permanen." Ekspresi wajah Pangeran Denzel terlihat sangat khawatir. Pria itu benar-benar tulus untuk menolong Elyna. Namun sayangnya kini kepercayaan Elyna telah pudar. Wanita itu memandang Pangeran Denzel sebagai pria yang jahat dan suka memanfaatkan situasi.
"Baiklah Pangeran. Saya akan mulai melakukan pemeriksaan. Tapi sebelumnya apa bisa anda membangunkan Nona Elyna. Pemeriksaan ini tidak akan berjalan sempurna jika Nona Elyna masih tertidur," pinta dokter tersebut sembari memandang wajah Elyna.
"Seharusnya Elyna memang sudah bangun. Tapi kenapa dia masih tertidur seperti ini. Apa dia sakit? Atau jangan-jangan sakitnya semakin parah," gumam Pangeran Denzel semakin khawatir. Pria itu berjalan mendekati Elyna untuk membangunkannya.
Masih berdiri di samping tempat tidur saja Elyna sudah membuka matanya secara perlahan. Wanita itu juga berharap kalau dokter yang dibawa oleh Pangeran Denzel bisa menyembuhkan kakinya yang lumpuh.
"Pangeran, Sejak kapan Anda ada di sini?" tanya Elyna dengan wajah pura-pura bingung.
"Baru saja. Maafkan aku karena sudah mengganggu waktu istirahatmu. Aku memanggil dokter terkenal dari Amerika. Aku harap dia bisa segera mengobati kakimu agar bisa berjalan lagi."
"Jika memang Pangeran Denzel yang sudah membuatku lumpuh, seharusnya dia tidak perlu repot-repot untuk mencarikan dokter terbaik," gumam Elyna di dalam hati.
"Nona, saya akan segera melakukan pemeriksaan. Anda harus ikuti apa yang saya perintahkan," ucap Dokter itu mengambil alih. Pangeran Denzel menyingkir agar dokter itu bisa mendapatkan posisi yang nyaman ketika memeriksa kaki Elyna.
"Apa ada rasa sakit Nona?" tanya dokter itu sembari memegang titik saraf yang ada pada kaki Elyna.
"Ya tapi tidak terlalu parah," jawab Elyna dengan wajah penuh semangat. "Apakah itu berarti kakiku bisa segera sembuh, Dok? Aku ingin segera berjalan lagi seperti biasa."
"Saya memiliki penawarnya. Racun ini masih diberikan dalam dosis rendah. Kita belum terlambat untuk mengobatinya. Tetapi, sebelum memberi penawarnya, saya ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saya butuh sampel darah anda Nona."
"Ambil saja dok berapapun yang anda butuhkan," tawar Elyna dengan penuh semangat.
Dokter itu tersenyum. Dia mengambil darah Elyna dengan menggunakan jarum suntik yang sudah ia persiapkan. Pangeran Denzel yang sejak tadi masih ada di sana hanya diam saja memperhatikan wajah cantik Elyna. Pria itu kembali membayangkan kejadian ketika dia mencium bibir Elyna.
"Elyna. Kau pasti sembuh."
Pangeran Denzel mengernyitkan dahi ketika melihat pengawal pribadinya muncul di dalam kamar itu. Karena tidak mau Elyna sampai curiga, Pangeran Denzel cepat-cepat membawa pengawal itu pergi meninggalkan kamar.
"Ada apa? Kenapa kau masuk ke dalam kamar Elyna tanpa perintah dariku?"
"Bos, saya baru saja mendapatkan informasi terbaru tentang Brandon. Informasi ini pasti akan membuat Anda kaget," ucap pengawal itu dengan penuh antusias.
"Sebenarnya informasi apa yang sudah Kau dapatkan. Cepat katakan padaku. Aku tidak memiliki banyak waktu aku harus segera masuk ke dalam untuk menemani Elyna dan memastikan dokter itu melakukan tugasnya dengan benar."
"Ternyata tujuan utama Brandon membunuh Yang Mulia Raja karena dia ingin menguasai harta yang dimiliki oleh Yang Mulia Raja. Berlian yang disimpan oleh Yang Mulia Raja berhasil kami temukan di kediaman Brandon. Mungkin dia tidak akan menyangka kalau kejahatannya bisa diketahui secepat ini. Hingga pada akhirnya ia tidak memiliki persiapan apapun untuk menyembunyikan berlian yang sudah berhasil ia curi."
"Bagus. Bukti ini akan menjadi kekuatan kita untuk mendesak Brandon. Kali ini pria itu tidak akan bisa menghindar lagi."
"Pangeran, ini berliannya. Saya tidak berani untuk menyimpan berlian ini karena berlian ini bukan hak saya." Pria itu segera memberikan berlian yang ia temukan di kediaman Brandon kepada Pangeran Denzel. "Saya sudah selesai. Saya akan kembali menemui Anda jika mendapatkan informasi terbaru."
Pangeran Denzel terlihat bahagia melihat pengawal setianya. "Tunggu!" ucap Pangeran Denzel ketika pengawal itu ingin pergi. Pangeran Denzel mengambil beberapa berlian lalu memberikannya kepada pengawal itu. "Ini untukmu. Anggap saja hadiah dariku karena kau bekerja dengan begitu giat hari ini."
"Pangeran, Saya tidak pantas mendapatkan benda berharga seperti ini. Hanya orang-orang kerajaan saja yang berhak menyimpannya."
"Kau tidak perlu menyimpannya jual saja jika memang kau membutuhkan uang." Pangeran Denzel menepuk pundak pria itu. "Aku harus kembali masuk ke dalam. Jaga Brandon jangan sampai dia kabur."
Pria itu menunduk hormat. "Baik pangeran." Pangeran Denzel kembali masuk ke dalam. Ketika pria itu tidak terlihat lagi, pengawal itu kembali memandang berlian yang baru saja ia terima. "Aku masih tidak menyangka kalau hari ini aku bisa mendapatkan berlian dari pangeran Denzel. Brandon benar-benar licik. Sekarang tugasku harus memastikan pria itu membusuk di dalam penjara. Aku tidak akan membiarkannya bebas dengan begitu mudah!"