
Pria itu segera melangkah lalu membuka pintu kamar Elyna secara perlahan. Setelah berhasil membuka kunci pintu kamar itu, dia segera masuk ke dalam. Tidak lupa dia menutup kembali pintu itu agar tidak ada yang curiga.
Elyna yang saat itu sedang asyik membaca majalah terlihat kaget ketika melihat sosok bertopeng yang muncul di hadapannya. Ketika ingin berteriak tiba-tiba sosok bertopeng itu segera membuka topeng yang ia kenakan.
"Dominic?" celetuk Elyna. Ada wajah bahagia di sana ketika melihat wajah Dominic ada di hadapannya.
"Elyna, akhirnya aku berhasil mnemukanmu,” ucap Dominic dengan wajah yang berseri. Pria itu langsung saja berlari menghampiri Elyna. Karena terlalu bahagia sampai-sampai ia tidak sadar kalau kini ia segera memeluk Elyna dengan begitu erat. “Aku senang kau baik-baik saja.”
"Dominic, lepaskan aku. Aku tidak bisa bernapas jika kau memelukku seperti ini,” protes Elyna.
Dominic segera melepas pelukannya lalu tersenyum bahagia. "Apakah kau baik-baik saja Elyna? Apa yang sudah dilakukan oleh pria itu? Aku sangat yakin kalau dialah yang sudah menculikmu dan membawamu pergi dari Las Vegas. Dia benar-benar pria yang licik. Di depan terlihat baik, ternyata di belakang merencanakan rencana jahat!” ketus Dominic kesal.
"Aku tidak yakin kalau dia yang sudah menculikku, Dominic. Terdapat banyak masalah di sini. Tetapi sekarang aku senang karena akhirnya bisa bertemu lagi denganmu lagi.”
"Elyna, ayo cepat kita harus pergi dari sini sebelum pria itu menyadari keberadaanku. Pasukan Gold Dragon juga sudah berjaga-jaga di depan rumah ini. Aku sama sekali tidak menyangka kalau rumah sekecil ini memiliki lorong yang menghubungkan ruangan bawah tanah yang begitu luas. Bahkan tadinya aku sempat berpikir kalau kau lah yang disekap di ruang bawah tanah itu. Aku sangat takut jika dia menyiksamu.”
"Aku tidak tahu bagaimana dan seperti apa lingkungan tempatku berada saat ini. Aku tidak pernah keluar kamar selama aku berada di sini, Dominic. Aku hanya duduk di tempat tidur saja,” jawab Elyna dengan wajah polosnya.
“Aku tahu kau amnesia. Tetapi, kenapa kemampuan bela dirimu juga ikut terlupakan? Kau ini wanita hebat Elyna. Seharusnya ketika di sekap kau mencari cara untuk kabur,” protes Dominic di dalam hati.
"Jangan banyak cerita lagi. Sekarang ayo kita pergi.” Dominic langsung saja menarik tangan Elyna. Hingga akhirnya Elyna terjatuh karena tidak bisa berdiri. Hal itu membuat Dominic kaget bukan main. Pria itu melebarkan kedua matanya sebelum berlutut di depan Elyna. Ada rasa bersalah di sana. Dia berpikir kalau menarik tangan Elyna terlalu kasar sampai membuat Elyna terjatuh seperti itu.
"Elyna, apa yang terjadi? Maafkan aku. Apa aku menarikmu terlalu kencang hingga kau sampai terjatuh seperti ini?” Dominic benar-benar merasa bersalah.
"Aku tidak bisa berjalan. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kakiku. Pangeran Denzel berkata kalau ada racun di tubuhku. Racun itu yang sudah membuat kakiku tidak bisa digerakkan. Dan membuatku seperti orang lumpuh. Tetapi dia juga sudah memanggilkan Dokter untuk mengobati racun yang ada di dalam tubuhku.” Elyna masih berusaha membela Pangeran Denzel agar Dominic tidak semakin salah paham.
"Elyna, kau Jangan mudah percaya dengannya. Bagaimanapun juga dia telah menculikmu hingga kau tidak bisa berjalan. Ayo biar aku gendong saja karena sekarang kita tidak memiliki banyak waktu. Kita harus segera pergi dari sini.”
Ketika Dominic sudah menggendong Elyna dan ingin kabur, tiba-tiba saja pintu terbuka dan pasukan bersenjata milik Pangeran Denzel muncul di sana. Elyna dan Dominic sama-sama kaget. Meskipun begitu Dominic tidak terlalu takut karena ia yakin pasukan Quinn Star dan Gold Dragon juga pasti akan segera tiba untuk melindunginya. Begitupun dengan Zion yang tidak akan tinggal diam.
"Lepaskan Nona Elyna atau kami akan menembakmu!" ancam pengawal setia Pangeran Denzel.
Bukan hanya sekelompok pengawal saja yang muncul. Pangeran Denzel juga ada di sana. Melihat Dominic kini menggendong Elyna membuat Pangeran Denzel terlihat kecewa. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang selain merelakan Elyna pergi bersama dengan Dominic. Pria itu juga tidak mau dipandang sebagai pria jahat oleh Elyna.
"Pangeran, tolong jangan celakai Dominic. Dia datang hanya untuk mencariku dan membawa pulang,” bela Elyna.
"Pergilah. Tinggalkan Kami bertiga di sini!” perintah Pangeran hingga akhirnya semua pengawal bersenjata yang sempat masuk ke dalam kamar itu keluar lagi. Bahkan pengawal setiap Pangeran juga ikut keluar dan memberikan waktu kepada mereka bertiga untuk mengobrol.
"Saya harap bukan Anda yang menculik Elyna karena jika memang itu yang terjadi saya akan memberikan pelajaran kepada anda!” ketus Dominic dengan wajah menahan amarah.
"Memang bukan saya yang membawa Elyna ke Belanda. Tetapi Brandon,” jawab Pangeran apa adanya.
"Brandon? Siapa itu Brandon? Kami sama sekali tidak mengenalnya.” Dominic terlihat bingung dan berusaha mengingat-ngingat siapa Brandon.
"Dia adalah pengawal pribadi Yang Mulia Raja. Beberapa hari yang lalu Ayahku tewas di kamar tidurnya. Kami mencari sosok yang sudah berani merenggut nyawa Ayahku. Lalu tiba-tiba saja Brandon membawa Elyna dan mengatakan kalau Elynala yang sudah membunuh Yang Mulia Raja,” Jelas Pangeran apa adanya. Pria itu berharap kalau tidak ada kesalahpahaman di sini. Dia tidak mau sampai hubungannya dan Elyna menjadi renggang.
Dominic menyunggingkan senyuman tipis. Jelas saja pria itu tidak mau percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh pangeran Denzel. Ditambah lagi kini Pangeran Denzel berbicara tanpa menunjukkan bukti-bukti yang jelas.
"menyingkirlah! Aku akan membawa Elyna pergi dari sini. Kali ini aku berusaha untuk mempercayai penjelasan Anda. Saya tahu anda ini pria yang baik.”
Dominic menaikan satu alisnya. Dia kembali curiga kalau ada sesuatu di sana. "Kenapa?"
"Seseorang berusaha untuk meracuni Elyna dan kini Elyna dalam masa pengobatan. Anda bisa bertanya sendiri kepada Elyna langsung. Apa yang sebenarnya terjadi. Saya juga memiliki niat untuk membuat Elyna kembali mengingat masa lalunya. Bahkan kami baru saja membahas masalah itu.”
Pangeran memandang Elyna dengan serius. Sama halnya dengan Dominic. Kini pria itu juga memandang ke arah Elyna. “Apa benar yang dikatakan oleh pria itu, Elyna?”
Elyna mengangguk setuju. “Ya. Aku sudah merasakan perbedaannya. Sekarang kakiku sudah mulai bisa digerakkan. Sebelumnya aku tidak bisa melakukan hal apapun. Bahkan untuk menggerakkan kakiku saja aku tidak memiliki kekuatan. Seolah-olah otot di kakiku ini mati.”
"Siapa dokternya? Aku ingin bertemu dengan dokter itu langsung dan membawanya ke Las Vegas.”Jelas saja pria itu tidak mau Elyna berlama-lama di Belanda. Dia tidak suka jika Elyna terlalu dekat dengan pangeran Denzel seperti ini.
"Dokter itu memiliki keluarga di Belanda. Dia tidak suka berpergian ke luar negeri Karena dia tidak mau meninggalkan keluarganya,” dusta Pangeran asal saja. Dia tidak mau sampai Elyna dibawa oleh Dominic.
"Kalau begitu aku akan mencari dokter lain saja. Aku yakin dokter lain juga bisa mengobati racun yang ada di tubuh Elyna." Dominic kembali melangkah. Rasanya pria itu sudah tidak sabar untuk membawa Elyna pergi dari kamar itu. Ketika sudah sampai di dekat pintu Pangeran Danger menghalangi langkah Dominic.
"Jika tidak segera diobati racunnya akan menyebar. Tolonglah jangan memaksa keadaan. Elyna harus tetap berada di sini sampai dia benar-benar sembuh.” Wajah Pangeran Denzel mulai terlihat memaksa.
"Di rumah kecil ini maksudmu?” Dominic juga terlihat mulai emosi.
"Tidak di sini. Hari ini aku berencana untuk membawa Elyna ke istana. Aku akan menempatkannya di kamar yang luas dan mewah. Kau tidak perlu khawatir. Serahkan saja Elyna padaku. Aku pasti bisa merawatnya dengan baik.” Tiba-tiba saja Pangeran Denzel ingin merebut Elyna dari gendongan Dominic. Jelas saja hal itu membuat Dominic semakin emosi.
"Jangan sentuh Elyna!” ketus Dominic. Pria itu benar-benar posesif terhadap Elyna sampai-sampai Pangeran Denzel saja tidak diperbolehkan untuk menyentuhnya.
"Aku akan membawanya ke istana. Sekarang sebaiknya kau pulang saja ke Las Vegas. Setelah Elyna sembuh, aku akan mengantarkan Elyna pulang ke Las Vegas.” Pangeran Denzel masih belum menyerah.
"Kau ini siapa? Berani sekali mengatur-ngaturku!” Nada bicara Dominic semakin meninggi. Pria itu siap untuk bertarung sekarang.
Melihat perdebatan antara Dominic dan Pangeran Denzel yang tidak kunjung ada akhirnya membuat kepala Elyna terasa pusing. "Dominic turunkan Aku. Aku masih bisa berdiri. Aku hanya tidak bisa melangkah saja.”
"Tidak Elyna. Kakimu masih sakit. Aku masih mampu untuk menggendongmu. Berapa lama pun harus berdiri, aku tetap bisa melakukannya," tolak Dominic. Sebenarnya pria itu hanya takut saja jika Pangeran Denzel membawa Elyna pergi.
"Turunkan aku!” ketus Elyna sekali lagi. Kali ini tatapan wanita itu sangat tajam hingga akhirnya membuat Dominic tidak mau banyak protes lagi. Secara perlahan dia menurunkan Elyna. Walaupun sudah tidak di gendong lagi, tetap saja Dominic memegang tangan Elyna karena dia tidak mau sampai Elyna dekat dengan Pangeran Denzel.
Pangeran segera menarik tangan Elyna. "Elyna, ayo ikut aku. Aku akan merawatmu,” ajak Pangeran Denzel. Dia berharap Elyna mau. Tiba-tiba saja Dominic memukul tangan Pangeran Denzel dengan wajah emosi.
"Jangan pernah bermimpi!” ketusnya.
Elyna memandang Dominic dan juga Pangeran Denzel secara bergantian. Wanita itu benar-benar tidak tahu harus pilih yang mana. Dua-duanya memiliki jasa. Elyna butuh Pangeran Denzel untuk menyembuhkan kaki dan juga mengembalikan ingatannya yang hilang. Tetapi dia tidak mau jauh-jauh dari Dominic karena Elyna sudah merasa nyaman dengannya.”
"Aku harus bagaimana sekarang? Pilihan ini membuat kepalaku menjadi pusing,” batin Elyna bingung.
Karena tidak sabar, Pangeran segera menarik tangan Elyna. Kali ini Dominic juga menarik tangan Elyna hingga akhirnya dua pria itu sama-sama menarik tangan Elyna. Dan itu membuat Elyna semakin geram.
"Kalian berdua seperti anak kecil! Aku tidak mau ikut dengan siapapun sekarang!" ketus Elyna kesal. Wanita itu langsung menarik kedua tangannya dan melipatnya di depan dada.
"Elyna, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan kepadamu tadi. Namun aku belum sempat untuk mengatakannya. Sejak pertama kali bertemu denganmu aku sudah merasakan jatuh cinta. Aku ingin kau menjadi istriku. Menikahlah denganku. Jadilah Ratuku. Kita akan sama-sama memimpin kerajaan Belanda ini,” ujar Pangeran Denzel dengan penuh keyakinan.