
Suasana di gedung Kasino itu sudah tidak lagi teratur. Semua pengunjung berlari kesana kemari setelah mendengar adanya alarm kebakaran. Bukan hanya sekedar alarm saja, kobaran api juga sudah terlihat jelas.
Entah apa yang sudah menyebabkan gedung mewah itu sampai mengalami kebakaran. Yang pasti sekarang semua orang sedang memikirkan diri mereka masing-masing. Semua berbondong-bondong meninggalkan gedung Kasino.
Setibanya di tempat Elyna berada, Dominic sudah tidak lagi menemukan wanita itu. Keadaan yang kacau membuat Dominic semakin panik. Pasukan Queen Star yang ikut bersama Dominic juga terlihat khawatir.
"Di mana bos Elyna? Bukankah tadi dia duduk di sini." Mereka memeriksa ke segala arah tanpa peduli dengan keramaian di sana.
"Dia pasti pergi meninggalkan gedung setelah mendengar alarm kebakaran. Sekarang kita harus mencarinya di luar gedung. Dia pasti sudah menungguku di sana." Dominic masih berusaha berpikir positif. Mereka sama-sama pergi meninggalkan gedung kasino.
Pasukan Queen Star hanya menurut saja. Sambil berjalan mereka mencari-cari Elyna. Setidaknya mereka harus memastikan juga kalau Elyna tidak tertinggal di dalam gedung, sebelum api melahap gedung itu sampai tidak tersisa. Bersamaan dengan itu, tim pemadam kebakaran telah tiba dan berusaha keras untuk memadamkan api.
"Sepertinya Bos Elyna memang tidak ada di gedung ini. Dia sudah pergi!" Pasukan Queen Star merasa yakin. Mereka memandang ke arah Dominic yang kini sudah keluar gedung.
Setibanya di depan gedung, justru Dominic tidak juga menemukan keberadaan Elyna. Pria itu berusaha memperhatikan satu persatu wajah wanita yang ada di sekitarnya. Namun tetap saja tidak ada wajah Elyna di sana.
"Elyna, sebenarnya kau ini ke mana?" Dominic mengeluarkan ponselnya berusaha untuk menghubungi nomor Elyna. Namun sayangnya panggilan telepon itu tidak lagi diangkat. Tidak mau patah semangat Dominic menghubungi orang yang ada di rumah. Dia meminta orang yang bekerja di rumahnya untuk segera menghubunginya ketika Elyna tiba di rumah.
"Semoga saja dia pulang menggunakan taksi. Entah apa yang harus aku katakan kepada Tante Letty jika sampai Elyna hilang."
Pasukan Queen Star yang tadi bersama dengan Dominic juga berlari menghampiri Dominic untuk menunjukkan ponsel Elyna yang mereka temukan di lantai tidak jauh dari kursi yang diduduki oleh Elyna.
"Kenapa Elyna bisa sampai menjatuhkan ponselnya? Apa dia terlalu panik hingga tidak sadar kalau ponselnya terjatuh," batin Dominic di dalam hati.
"Kebakaran ini seperti disengaja," ujar pasukan Queen Star.
"Disengaja? Apa maksud kalian? Bukankah kecelakaan seperti ini bisa saja terjadi? Aku akui pengamanan di kasino ini memang kurang. Sudah lama aku tidak melakukan evaluasi lagi."
"Sepertinya saat ini Bos Elyna dalam bahaya. Kami harus segera berangkat ke bandara. Hanya itu satu-satunya tempat yang bisa mereka gunakan untuk membawa Bos Elyna pergi dari sini." Tanpa mau menjelaskan terlalu panjang lebar pasukan Queen Star segera berlari menuju ke mobil mereka. Sedangkan Dominic masih berdiri untuk mencerna apa yang dimaksud oleh pasukan Queen Star tadi.
...***...
"Brandon, untuk apa kita ke sini? Aku masih memiliki banyak pekerjaan." Pangeran Denzel terus saja mengikuti Brandon dari belakang meskipun dia sendiri merasa tidak tertarik dengan ajakan bawahannya itu.
"Saya sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Anda Pangeran. Saya yakin anda pasti senang melihatnya," ujar Brandon dengan penuh percaya diri.
Pangeran Denzel menghela napas kasar. Memang dia tidak terlalu suka dengan Brandon. Apa lagi sampai menuruti perkataan pria itu seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi. Brandon terus memaksanya dan itu mengganggu Pangeran Denzel dalam melakukan rutinitas sehari-harinya.
"Silakan masuk Pangeran. Kejutannya ada di dalam," ujar Brandon sembari membuka sebuah pintu ruangan. Pangeran Denzel memperhatikan beberapa pengawal rahasia yang menjaganya. Jika saja Brandon memiliki niat jahat, pengawal itu akan segera keluar untuk menolongnya.
"Kenapa Pangeran hanya diam saja? Ada di sana. Ayo cepat masuk. Anda takut dengan saya?" ledek Brandon lagi sembari tertawa kecil.
"Awas aja kalau kau mengerjaiku!" ancam Pangeran Denzel sebelum masuk ke dalam. Sedangkan Brandon tersenyum tipis sebelum ikut masuk dan menutup pintu.
Pangeran Denzel menahan langkah kakinya ketika melihat Elyna tidur di atas tempat tidur. Wanita itu terlihat tidak sadarkan diri. Hal itu membuat Pangeran Denzel syok bukan main. Karena terakhir kali mereka bertemu Elyna masih ada di Las Vegas. Tetapi pagi ini wanita itu sudah ada di Belanda.
"Siapa dia? Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa kau menunjukkannya kepadaku?" tanya Pangeran Denzel seolah-olah dia tidak kenal dengan Elyna.
"Apa Anda lupa dengan wajah wanita ini pangeran? Dia adalah orang yang sudah membunuh Yang Mulia Raja. Saya tidak tahu kenapa dia tidak mau mengakui perbuatannya. Dia terus saja berkata kalau dia tidak melakukan apapun. Saya sengaja membawanya ke sini untuk menyerahkannya kepada anda. Sebagai anak Anda pasti memiliki cara tersendiri untuk menyiksa orang yang sudah membunuh nyawa orang tua anda."
Pangeran Denzel menghela napas kasar. Dia semakin yakin kalau Brandon adalah pria yang berbahaya. Karena hanya dalam beberapa hari saja pria itu sudah berhasil membawa Elyna ke Belanda.
"Bukti yang kita miliki tidak terlalu kuat. Kenapa Kau berani sekali menuduhnya sebagai pembunuh Raja. Tidak ada rekaman video atau sidik jari di kamar papa. Pengadilan juga pasti akan mengatakan kalau wanita ini terbukti tidak bersalah. Jika kita mengurungnya seperti ini justru ini akan menimbulkan masalah baru. Orang-orang akan berpikir kalau kita menyekap orang yang tidak bersalah."
"Anda tidak perlu memikirkan perkataan orang lain pangeran. Tang penting sekarang Anda sudah melihat orang yang membunuh ayah anda. Jika anda tidak tega untuk menyiksanya, serahkan semuanya kepada saya!" Brandon melangkah maju
"Jangan!" jawab Pangeran Denzel cepat. "Biar wanita ini menjadi urusanku."