
Hari yang dinanti akhirnya tiba juga. Hari ini adalah tanggal terakhir yang ada di bulan Desember. Elyna dan Dominic akan segera mengucapkan janji untuk sehidup semati. Mereka berdua akan menikah hari ini.
Dominic sudah berdiri di samping pendeta untuk menunggu sang pengantin wanita datang. Lelaki itu mengenakan jas berwarna putih agar selaras dengan calon istri yang mengenakan gaun berwarna putih. Suasana memang terlihat tenang namun tetap saja membuat hati Dominic tidak karuan. Lelaki itu gugup hingga mengeluarkan peluh seolah habis berlari kencang.
Pintu terbuka saat rombongan pengantin wanita telah tiba. Di ambang pintu berdiri Elyna dengan gaun panjang yang menyapu lantai. Selendang berwarna putih menutupi wajahnya yang sangat cantik. Di samping Elyna telah berdiri Miller yang akan menjadi pendamping wanita itu. Semua tamu undangan berdiri untuk menyambut kedatangan pengantin wanita. Terdengar alunan musik untuk menyambut kedatangan Elyna.
Letty yang duduk di dekat akad dilaksanakan sudah tidak bisa membendung air matanya. Leona Beru untuk menenangkannya. Begitupun dengan Lana dan Katterine. Namun tetap saja pada akhirnya wajahnya basah karena air mata.
Dominic menatap calon istrinya tanpa berkedip. Hatinya cukup bahagia. Ia tidak pernah bermimpi kalau detik ini akan mengucapkan janji pernikahan kepada wanita yang ia cintai. Begitu banyak rintangan di dalam hidupnya, hingga membuat pria tangguh masih menganggap semua ini seperti mimpi.
Elyna berjalan secara perlahan. Ada senyum di bibirnya yang merah. Bahkan matanya yang tersembunyi di balik selendang putih itu tampang berkaca-kaca. Tangannya yang ada di lengan Miller kini telah berubah dingin seperti sebuah es.
Setelah berjalan beberapa meter, Elyna dan Miller tiba di hadapan Dominic. Miller berdiri tepat di samping Elyna. Lelaki itu menyerahkan putri tercintanya untuk mengucapkan janji suci bersama dengan lelaki yang di cintainya. Suasana berubah hening ketika janji sepasang pengantin itu di ucapkan.
Debaran jantung Dominic semakin tidak karuan saat mengucapkan sumpah sehidup semati di depan sang pencipta. Lelaki itu mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh. Seperti sebuah janji yang memang akan ia tepati hingga maut memisahkannya dengan sang istri.
Para tamu undangan juga meneteskan air mata haru saat janji itu telah terucap dari bibir masing-masing mempelai. Setelah janji itu di ucapkan dengan sempurna, Dominic meraih jemari Elyna. Lelaki itu menyematkan cincin pernikahan yang menjadi simbol bersatunya mereka. Elyna juga melakukan hal yang sama. Dengan bibir tersenyum bahagia, ia menyematkan cincin itu di jari Dominic.
Dominic bisa merasakan dengan jelas bagaimana dinginnya tangan Elyna saat itu. Ada senyum kecil di bibir Dominic saat kedua bola matanya memandang wajah Elyna. Secara perlahan, lelaki itu membuka selendang putih yang menutupi wajah istrinya.
Elyna memandang ke bawah. Wanita itu masih belum siap menatap wajah Dominic bahkan di saat selendang yang menutupi air mata harunya terbuka. Dominic merapikan selendang itu agar tidak merusak penampilan istrinya. Elyna memberanikan diri untuk menatap wajah Dominic secara langsung. Kelopak matanya naik secara perlahan saat kedua bola matanya ingin memandang wajah tampan Dominic.
Bibir Elyna tersenyum saat kedua bola matanya berhasil menatap langsung wajah suaminya. Pria yang sangat ia cinta dan akan selalu ia cinta. Dominic menarik pinggang Elyna agar wajah wanita itu dekat dengan wajahnya. Tanpa mau menunggu lagi, ia mendaratkan satu ciuman di bibir Elyna sebagai pelengkap ritual pernikahan mereka. Sorak tamu undangan terdengar begitu meriah.
“Aku mencintaimu, Elyna,” ucap Dominic saat ciumannya telah terlepas.
“Aku juga mencintaimu, Dominic.” Elyna mengukir senyuman yang cukup indah.
Hari sabtu itu merupakan hari paling indah bagi Dominic dan Elyna. Hari di mana mereka telah sah menjadi suami istri. Baik di mata hukum maupun agama. Setelah rintangan yang begitu menyesakkan dada mereka lalui beberapa waktu yang lalu.
Setelah acara di tempat itu selesai, Dominic dan Elyna berjalan ke depan gedung. Pengantin baru itu ingin menyapa semua warga yang sudah berkumpul di halaman depan gedung.
Sudah disediakan mobil pengantin di sana. Mereka berdua tidak langsung menyambut para tamu undangan yang datang. Dengan mobil yang telah disediakan, mereka akan mengelilingi kota Las Vegas. Semua warna Las Vegas harus melihat sang mempelai.
“Dominic, aku sangat bahagia,” ucap Elyna dengan senyuman yang cukup indah.
Dominic memandang wajah Elyna dengan senyuman yang cukup indah juga, “Bukan hanya hari saja. Sejak aku jatuh cinta padamu, sejak detik itulah aku mulai merasa bahagia.” Lelaki itu mengangkat tangan Elyna sebelum mendaratkan satu kecupan manis di punggung tangan Elyna, “Sayang, aku akan menjagamu dan selalu membuat hidupmu bahagia.”
Elyna mengangguk pelan, “Aku percaya kalau kau akan selalu menjaga dan membuat hidupku bahagia, Sayang.” Jemari Elyna menyentuh lembut wajah Dominic. Hatinya benar-benar tenang karena sudah berhasil menyandang status sebagai istri Dominic.
Letty dan Miller terlihat duduk saling berhadapan. Dominic sudah di kawal oleh pasukan Gold Dragon dan juga Queen Star. Hal itu tidak lagi membuat Dominic khawatir ketika mereka memutuskan untuk mengelilingi kota Las Vegas.
“Pesta pernikahan putri kita sungguh meriah. Hingga siang dan malam mereka akan mengadakan resepsi mewah di dalam rumah," ucap Letty. "Apa mereka akan lama? Aku sudah tidak sabar untuk memeluk putriku," protesnya lagi.
"Bukankah kita sudah diminta untuk menunggu Elyna dan Dominic di gedung lain? Sekarang ayo kita ke sana," jawab Miller. "Ajak yang lainnya juga."
"Kenapa mau bertemu anak sendiri susah sekali?" protes Letty. Namun wanita itu tetap menuruti perkataan Miller. Ia menemui keluarganya yang lain dan membawa mereka berpindah ke gedung lain. Nantinya Elyna dan Dominic juga akan muncul di gedung itu untuk menyambut semuanya.
...***...
Malam hari telah tiba. Dari mulai lagi sampai malam, Elyna dan Dominic tidak diberi waktu untuk istirahat. Acara pernikahan ini memang sangat melelahkan. Walaupun begitu, Elyna dan Dominic tetap terlihat bersemangat.
Setelah acara potong kue, sepasang pengantin berdansa di tengah-tengah kerumunan tamu. Malam itu Elyna menggunakan gaun yang tidak terlalu panjang seperti siang dan saat pernikahan. Malam ini adalah gaun kedua yang ia gunakan sejak akad pernikahan yang ia jalani. Malam itu Dominic mengenakan jas hitam yang cukup elegan. Sedangkan Elyna gaun berwarna merah. Begitupun dengan tamu undangan yang memakai baju yang sama dengan mempelai pengantin.
"Apa kau mau berdansa denganku sayang."
"Baiklah. Tapi jangan sampai yang lain tahu kalau aku tidak pandai berdansa," bisik Elyna malu-malu.
Dominic tertawa kecil. Dia segera menggandeng pinggang Elyna dengan begitu mesra. Bibirnya tersenyum bahagia sambil menatap wajah cantik Elyna yang berdiri di hadapannya. Elyna mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang milik Dominic. Wanita itu juga mengukir senyuman yang tidak kalah indah dari suaminya.
“Aku sangat bahagia malam ini,” ucap Elyna dengan wajah berseri, “Terima kasih karena kau telah memilihku sebagai wanita terakhir dalam hidupmu Dominic.”
“Bukan terakhir sayang. Tetapi yang pertama dan yang terakhir kalinya. Terima kasih juga karena telah memilihku menjadi lelaki pertamamu, Sayang.” Dominic menarik pinggang Elyna agar wanita itu semakin mendekat dengannya. Dengan gerakan lembut bibirnya mulai menyentuh bibir Elyna yang sejak tadi cukup menggoda.
Lagi-lagi sorak tepuk tangan terdengar dengan begitu meriah. Dansa sepasang pengantin baru itu memang sedang di saksikan semua tamu undangan.
“I love you, sayang,” ucap Dominic saat kecupan mesranya telah berakhir.
“I love you to, sayang,” jawab Elyna sebelum melepas kedua tangannya yang ada di leher Dominic. Wanita itu memilih menggandeng lengan Dominic sambil melambaikan tangan kepada semua tamu undangan. Wajahnya hanya memancarkan kebahagiaan malam itu.
Pangeran Denzel berjalan menghampiri Dominic dan Elyna. Pria itu ingin mengucapkan selamat. Begitupun dengan Faith dan Zion yang ikut bersama dengannya. Sejak tadi mereka tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mempelai karena tamu undangan sangat banyak.
"Dominic, selamat. Aku bahagia melihat kalian sudah menikah. Akhirnya tugasku sebagai seorang kakak telah selesai," ucap Pangeran Denzel.
"Kak, selamat ya." Faith segera memeluk Elyna. Wanita itu terlihat bahagia sekali. "Sekarang kakak sudah resmi menjadi kakak iparku," ucapnya lagi.
Zion juga tidak mau ketinggalan. Pria itu mengusapnya selamat kepada Dominic dan juga Elyna. Tidak lupa dia memberikan sebuah kado kepada pengantin. "Ini hadiah dari kami bertiga. Kamu harap Kak Dominic menyukainya," ucap Zion lebih harap.
"Apa ini? Apa boleh di buka sekarang?" tanya Dominic penasaran.
"Tentu saja boleh," sahut Pangeran Denzel.
Dominic memandang ke arah Elyna lalu mengajak wanita itu untuk bersama-sama membuka kado yang sudah dipersiapkan oleh Zion, Denzel dan Faith.
"Semoga saja isinya tidak mengecewakan," ucap Dominic lagi.
Elyna mengernyitkan dahi melihat sebuah kunci mobil. Dia memegangnya lalu menunjukkannya di depan Denzel, Zion dan Faith. "Dimana mobilnya?"
"Ada di depan. Mau lihat?" tawar Denzel.
Elyna dan Dominic mengangguk setuju. Sepasang pengantin itu diajak ke depan rumah untuk melihat mobil yang sudah disiapkan oleh mereka bertiga.
Elyna tersentuh melihat mobil sport keluaran terbaru kini terparkir indah di sana. Bahkan mobil itu hanya ada tiga di dunia.
"Ini sambat indah. Kami akan bersenang-senang dengan mengendarai mobil ini nanti," ucap Dominic penuh semangat.
"Oke, hadiah yang paling mewah akan segera tiba." Pangeran Denzel berdiri di tengah lapangan. Pria itu mengangkat satu tangannya ke atas sebelum berteriak. "Show time!"
Bunga api yang indah menerangi langit malam yang indah. Aneka warna menjadi pelengkap resepsi pernikahan Elyna dan Dominic malam itu.
Elyna merangkul lengan Dominic sambil bersandar di pundak suaminya. "Bunga api ini sangat indah. Aku harap pernikahan kita juga penuh dengan warna yang indah."