Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Keputusan



Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Pangeran Denzel membuat Dominic melebarkan kedua matanya. Dia merasa tersaingi karena Pangeran Denzel dengan berani menunjukkan rasa sukanya.


"Pangeran, apa yang anda katakan? Saya tidak mau menikah secepat itu. Saya hanya ingin fokus dengan kaki saya yang sakit dan ingatan saya yang hilang. Anda jangan salah paham." Elyna berusaha menolak Pangeran Denzel dengan kalimat yang sopan.


"Tidak perlu sekarang. Kita bisa menikah nanti ketika kau sudah benar-benar sehat. Bahkan jika harus menunggu hingga beberapa bulan ke depan aku tetap bersedia asalkan kau mau menikah denganku Elyna." Pangeran Denzel sendiri masih tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Keberanian itu muncul begitu saja karena dia tidak mau kehilangan Elyna. Sampai-sampai dia mengatakan semua kalimat itu dengan penuh percaya diri.


Elyna memandang ke arah Dominic yang kini berdiri mematung tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Pria itu terlihat cemburu tapi terlihat juga seperti orang kebingungan.


"Dominic. Apa ada yang ingin kau katakan?" Entah kenapa tiba-tiba saja Elyna ingin Dominic juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Pangeran Denzel. Bukan karena Elyna suka untuk diperebutkan. Tetapi karena dia ingin tahu apa yang dirasakan oleh Dominic saat ini. Namun sampai detik ini pria itu tidak juga menunjukkan tanda-tanda ingin mengungkapkan perasaannya. Dan itu membuat Elyna kecewa.


"Kenapa Dominic diam saja? Apa dia tidak menyukaiku?" batin Elyna.


"Sepertinya di sini sudah jelas kalau Elyna mau menikah denganku nanti ketika dia sudah sembuh. Sekarang anda tidak perlu lagi ada di sini, Dominic. Pergi sana dan kembalilah ke Las Vega sendirian. Soal Elyna akan menjadi urusanku karena tidak lama lagi kami akan menikah," usir Pangeran Denzel.


"Siapa yang bilang ingin menikah denganmu? Aku sama sekali tidak menyukaimu. Jadi jangan pernah bermimpi kalau aku mau menikah denganmu!" protes Elyna pada akhirnya.


"Kenapa kau harus menolakku, Elyna? Aku memiliki segalanya. Aku berjanji bisa membahagiakanmu Elyna. Kau juga tidak memiliki kekasih bukan? Itu berarti iau tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima lamaranku."


"Kau ini adalah seorang pangeran bahkan calon raja. Kenapa melamar wanita dengan cara seperti ini? Mendadak sekali dan sama sekali tidak romantis. Wanita mana yang mau menerima lamaranmu? Hanya modal kata-kata saja semua pria juga bisa." Elyna mencari-cari alasan untuk mengulur waktu.


"Lamaran mewah maksudmu? Baiklah Elyna aku akan mempersiapkan lamaran seperti yang kau impikan. Yang penting sekarang kau tidak pergi dari sini. Tetaplah berada di sisiku."


Ketika Pangeran Denzel ingin memegang tangan Elyna, wanita itu segera menyembunyikan tangannya. Lagi-lagi Elyna memandang ke arah Dominic. Wanita itu berharap Dominic mengeluarkan suara tidak membuatnya kecewa seperti ini. "Dominic, apakah tidak ada rasa cinta sedikitpun di dalam hatimu? Kenapa kau diam saja ketika ada pria lain yang mengajakku untuk menikah. Apakah Kau rela jika aku menikah dengan Pangeran Denzel? Apa memang selama ini kau hanya menganggapku sebatas teman saja? Tidak lebih dari itu?" gumam Elyna di dalam hati.


Di saat belum juga ada keputusan yang jelas apakah Elyna akan bertahan di Belanda atau kembali ke Las Vegas, tiba-tiba saja pintu kembali terbuka dan Pengawal setia Pangeran muncul dengan wajah panik.


"Pangeran, ada segerombolan orang muncul dan menyerang penjara bawah tanah. Sepertinya mereka komplotan Brandon. Mereka ingin membawa Brandon pergi dari sini!" ujar pria itu dengan wajah panik.


"Apa?" Pangeran terlihat kaget. Dia tidak mau Brandon pergi sebelum pria itu mengatakan yang sebenarnya terjadi. "Dominic, tolong jaga Elyna. Tolong jangan bawa ia pergi ke Las Vegas sebelum aku kembali. Masih ada banyak hal-hal yang harus kita bicarakan. Aku akan mengantarkan kalian ke istana. Kalian bisa ke istana bersama dengan orang yang aku urus dari istana. Elyna juga akan menjalani pengobatan dengan dokter yang selalu merawatnya."


Pangeran Denzel segera pergi meskipun Elyna dan Dominic belum menjawab sepatah kata pun. Setelah ruangan itu kembali sunyi, Elyna menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari posisinya berdiri saat ini. Wanita itu merasa kelelahan meskipun hanya berdiri beberapa waktu saat saja.


"Kenapa kau berdiri seperti patung? Jika kau lelah duduklah. Ceritakan padaku apa yang sudah kau lakukan sampai-sampai kau bisa muncul di sini dan mengetahui keberadaanku." Elyna memalingkan wajahnya.


Dominic tidak tertarik lagi untuk menceritakan semuanya. Kini pikiran pria itu hanya dipenuhi dengan lamaran yang baru saja diucapkan oleh pangeran Denzel.


"Dominic! Apa yang kau pikirkan? Kau ke sini bersama dengan siapa? Apa kau ke sini sendirian?" tanya Elyna sembari mengguncang-guncang tangan kanan Dominic.


"Elyna, apakah kau menyukai Pangeran Denzel? Apakah kau benar-benar mau menikah dengannya?"


"Kenapa kau membahas masalah itu lagi? Sekarang Pangeran Denzel tidak ada di sini. Dia itu hanya pria gila. Jangan diambil serius apa yang baru saja dia katakan."


Dominic duduk di tempat tidur tepatnya di samping Elyna berada. Pria itu menatap Elyna dengan begitu serius. "Apakah kau mencintainya?"


"Bukankah tadi sudah aku jawab kalau aku tidak menyukainya dan aku tidak mau menikah dengannya. Kenapa kau membahas masalah ini lagi. Aku hanya ingin fokus dengan kesehatan kakiku dan mengembalikan masa laluku yang hilang."


Dominic menghela napas sambil tersenyum. "Syukurlah. Sekarang aku bisa bernapas lega. Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan pria itu. Apa lagi sampai menikah dengannya."


"Kenapa?" tanya Elyna dengan wajah yang serius. Wanita itu berharap kalau Dominic akan menjawab kalau pria itu cemburu karena dia sangat mencintai Elyna.


"Karena dia tidak pantas untukmu."


"Kenapa kau bisa bilang kalau dia tidak pantas untukku? Bukankah dia seorang Raja? Dia memiliki kekuasaan. Setiap orang pasti tahu kalau dia bisa membahagiakan wanita yang ia nikahi dengan kekuasaan yang ia miliki."


"Karena ...." Dominic menahan kalimatnya. Pria itu tidak tahu harus jawab apa sekarang.


Pintu kembali terbuka. Zion muncul di sana dengan senjata api di tangannya. Pria itu menghela napas lega ketika melihat Dominic dan Elyna baik-baik saja.


"Kenapa lama sekali? Tadi sudah kubilang berikan petunjuk jika kau berhasil menemukan Elyna. Kenapa kau duduk santai di sini? Kami semua panik bukan main di sana. Kita tidak bisa menyerang salah satu penjaga kerajaan karena itu sama saja mengajak perang sebuah kerajaan!" protes Zion dengan wajah kesal. Sejak tadi memang ia sangat khawatir. Dia takut terjadi sesuatu terhadap kakak iparnya. Tetapi kini justru ia melihat kakak iparnya duduk santai berduaan dengan Elyna di dalam sebuah kamar.


"Pangeran Denzel mengaku kalau dia tidak menculik Elyna. Justru dia berencana untuk mengobati Elyna. Seseorang memberikan Elyna racun hingga membuatnya tidak bisa berjalan. Aku tidak tahu apakah harus memaksa Elyna untuk kembali ke Las Vegas atau membiarkannya bertahan di sini," jawab Dominic apa adanya.


Zion memandang ke arah Elyna. "Masalah ini bisa kita bicarakan nanti yang penting sekarang kita harus pergi dari sini. Keadaan tidak aman. Apa lagi penjara bawah tanah. Mereka sedang bertarung di sana. Sebaiknya kita tidak terlibat dengan masalah yang terjadi di antara mereka. Ayo cepat kita harus pergi." Zion memperhatikan belakangnya sebelum memandang Dominic lagi.


Karena tidak memiliki pilihan lain akhirnya Dominic mengangguk setuju. Pria itu segera menggendong Elyna dan membawa Elyna pergi meninggalkan rumah itu bersama dengan Zion dan pasukan mafia milik mereka.


"Sepertinya Dominic memang tidak menyukaiku. Aku yang salah karena terlalu berharap banyak padanya," batin Elyna dengan wajah sedih.