Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Bertarung



Zion terpaksa mengangkat senjata apinya ketika melihat beberapa orang mengangkat senjata api mereka ingin menembak Elyna. Sambil menembak musuh pria itu kembali memperhatikan Dominic dan Elyna untuk memastikan kalau mereka berdua tetap dalam keadaan aman. Bersamaan dengan itu pasukan Queen Star dan Gold Dragon juga muncul untuk melindung Elyna dan juga Dominic. Mereka menembak ke segala arah tempat musuh bersembunyi.


"Mereka sudah salah paham. Mereka berpikir kalau kita ada di pihak Pangeran Denzel," ujar salah satu pasukan Gold Dragon.


"Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan saat ini. Yang aku pedulikan hanya keselamatan kakak iparku dan juga Elyna. Kawal mereka agar selamat sampai di mobil. Pastikan mereka tidak cedera sedikitpun!" perintah Zion. Pria itu mengisi peluru senjata apinya setelah memberi perintah.


"Baik, Bos."


Zion kembali fokus dengan gerombolan pria bersenjata yang ada di hadapannya. Tiba-tiba saja pria itu tertarik untuk melihat situasi yang ada di lokasi penjara bawah tanah. Dengan didampingi oleh pasukan Gold Dragon, pria itu melangkah masuk.


Seperti apa yang dipikirkan Zion sebelumnya. Di dalam penjara bawah tanah itu keadaan sangat kacau. Ada banyak mayat tergeletak di bawah. Darah berceceran di mana-mana. Tetapi Zion belum juga berhasil menemukan keberadaan Pangeran Denzel.


DUARRR


DUARRR


DUARRR


Suara tembakan terdengar begitu nyata di depan sana. Dengan sikap yang begitu waspada Zion melangkah maju ke depan selangka demi selangkah. Bahkan langkahnya nyaris tidak menimbulkan suara sedikitpun.


"Bos, untuk apa kita masuk ke dalam sini? Bukankah lebih baik kita segera pergi meninggalkan Belanda dan pulang?" Pasukan Gold Dragon itu masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Zion.


"Kau tahu siapa orang yang sekarang menjadi musuh Pangeran Denzel?" tanya Zion penasaran. Dia berjongkok dan memperhatikan mayat yang tergeletak. Rata-rata tewas karena ditembak.


"Namanya Brandon. Dia memiliki pasukan khusus yang rela mati hanya demi membelanya. Pria bernama Brandon ini sangat berbahaya. Dia juga sangat licik. Saya tidak yakin malam ini Pangeran Denzel bisa mengalahkannya. Semua sudah direncanakan Brandon sejak awal."


"Kalau begitu mari kita bantu. Pangeran Denzel melakukan semua ini karena dia tidak terima Ayah kandungnya dibunuh dengan cara yang begitu kejam. Anggap saja kita membantunya secara tidak sengaja. Kita juga tidak akan mengharap imbalan apapun."


"Tapi kehidupan kita sudah tenang bos. Anda yakin ingin mencari masalah lagi? Anda harus ingat kalau sekarang Nona Faith sedang mengandung anak anda. Jika kita lagi-lagi memiliki musuh, maka ketenangan keluarga anda akan terusik." Pasukan Gold Dragon berusaha memperingati agar Zion tidak sampai salah mengambil keputusan.


Belum selesai diskusi antara Zion dan anak buahnya, tiba-tiba mereka sudah melihat Pangeran Denzel tergeletak di lantai. Tubuh pria itu didorong dengan begitu kuat sampai-sampai ia mengeluarkan darah dari mulut. Pemandangan itu terjadi di hadapan Zion hingga akhirnya Zion tidak bisa mundur lagi. Dia bertekad untuk membantu Pangeran Denzel.


"Aku tidak akan menyerah. Aku akan bangkit lagi untuk mengalahkanmu Brandon. Pembunuh sepertimu tidak pantas dibiarkan hidup!" ujar Pangeran Denzel. Meskipun keadaannya sudah sangat kritis, tetapi ia masih sanggup untuk berdiri dan berusaha untuk melawan Brandon sendirian. Karena memang terlihat jelas kalau pengawal setia Pangeran Denzel telah tewas. Yang tersisa justru pengawal kerajaan yang bersedia menghianati Pangeran Denzel dan tunduk atas perintah Brandon.


"Bos, anda yakin?" pasukan Gold Dragon lagi-lagi berusaha untuk memperingati Zion agar tidak ikut campur.


"kita sudah sampai di sini jadi tidak bisa mundur lagi. Aku pernah ada di posisinya. Dikhianati oleh orang yang aku percaya dan itu rasanya sungguh menyakitkan sekarang. Aku ingin buktikan kepada Brandon bagaimana rasanya hidup menderita setelah memutuskan berkhianat kepada orang yang benar-benar tulus untuk menolong kita!"


Pangeran Denzel kembali terjatuh meskipun ia belum melakukan perlawanan. Pria itu mengangkat kepalanya dan melihat pengawal-pengawal setianya yang kini sudah tidak bernyawa. Hatinya sangat sedih. Dia sama sekali tidak takut jika kerajaan Belanda jatuh ke tangan Brandon. Dia hanya tidak rela jika kematian ayah kandungnya tidak juga mendapatkan keadilan. "Pa, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa berjuang lagi. Penghianat ini benar-benar pria yang sangat licik," gumam Pangeran Denzel di dalam hati.


Di detik ketika Pangeran Denzel menyerah, pria itu melihat Zion dan pasukan Gold Dragon yang kini mengangkat senjata dan menembak pasukan Brandon dengan keji. Bersamaan dengan itu perhatian Brandon tidak lagi tertuju kepada Pangeran Denzel. Kini pria itu fokus ke arah Zion dan berniat untuk mengalahkannya.


"Siapa pria ini? Kenapa tiba-tiba dia muncul untuk menolong Pangeran payah ini! Aku tidak boleh sampai kalah. Usahaku sudah sampai di titik ini. Apapun ceritanya aku harus menang!" batin Brandon dengan penuh semangat. Pria itu maju ke depan untuk melawan Zion.


"Apakah anda yang bernama Brandon?" tanya Zion. Pria itu menahan langkah kakinya lalu memperhatikan penampilan Brandon dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada yang spesial dari pria itu.


"Pergilah dari sini. Jangan ikut campur dengan urusan kami!" usir Brandon dengan wajah tidak suka.


"Sayang sekali. Saya tidak suka diatur-atur. Saya akan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan saya dan hari ini hati saya ingin membunuh pria licik seperti anda. Karena manusia seperti anda tidak pantas untuk hidup di muka bumi ini!" sahut Zion dengan wajah angkuhnya. Jelas saja pria itu tidak takut dengan Brandon. Sebelumnya masalah yang begitu rumit saja pernah ia lewati.


"Kau akan menyesal karena sudah ikut campur dengan urusanku!" Brandon mengangkat belatihnya dan berlari menghampiri Zion. Pria itu menargetkan dada Zion untuk dijadikan sasaran pelatihnya yang tajam. Tetapi dengan begitu cepat Zion menghindar. Kini mereka sama-sama bertarung dengan tangan kosong. Zion dengan mudahnya membuat Brandon melepas belati yang sempat ia genggam.


Pangeran Denzel berdiri dibantu oleh pasukan Gold Dragon yang tidak ikut bertarung. "Siapa Kalian? Kenapa kalian mau membantuku? Apa kalian tahu resikonya membantuku,? Brandon pria yang sangat kuat. Kalian akan celaka sedangkan aku tidak bisa membantu kalian lagi."


"Tuan, luka anda harus segera di obati." Pasukan Gold Dragon terlihat khawatir.


"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku melihat pria itu kalah. Kalian sudah rela mempertaruhkan nyawa kalian hanya untuk menolongku. Aku tidak mau menjadi manusia yang tidak tahu berterima kasih dengan pergi dari sini."


"Baiklah, jika memang Anda tidak mau pergi tidak masalah. Tetapi sekarang ikut dengan saya. Kita harus menjauh dari sini Bos Zion akan marah jika anda mengganggu pertarungannya. Anda serahkan saja semuanya kepada bos Zion. Kami yakin Bos Zion pasti bisa mengalahkan Brandon."


Pangeran Denzel mengganggu. Pria itu mengepal kuat tangannya sembari memandang Zion dan Brandon yang kini sedang bertarung. "Terima kasih karena sudah mengirimkan malaikat pria tangguh ini untuk menolongku, Tuhan." Pangeran Denzel tidak pernah menyangka kalau Zion adalah kakak ipar dari pria yang menjadi saingannya mendapatkan Elyna.


...***...


Di sisi lain, Elyna dan Dominic berhasil masuk ke dalam mobil dengan selamat. Karena pasukan Queen Star dan Gold Dragon memutuskan untuk membantu Zion pada akhirnya mereka hanya berduaan saja di dalam mobil. Meskipun hanya berdua, tetap saja mereka berdua terlihat canggung. Sama-sama tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


"Dominic, lihatlah mereka. Sepertinya mereka berjalan menuju ke arah kita," ucap Elyna dengan wajah khawatir.


"Mereka memakai seragam pengawal kerajaan. Sepertinya mereka orang kepercayaan Pangeran Denzel. Mungkin mereka orang yang diutus untuk mengantarkan kita ke istana," jawab Dominic menebak-nebak.


"Kau benar. Tapi bukannya kita ingin pergi ke bandara? Itu berarti kita tidak perlu bertemu dengan mereka. Ayo sekarang kita pergi saja dari sini. Jangan sampai kita bertemu mereka. Aku tidak mau mereka memaksa kita untuk pergi ke istana," ajak Elyna. Wanita itu memandang ke luar lagi untuk memastikan kalau pengawal-pengawal itu masih jauh.


"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan." Dominic segera menghidupkan mesin mobil lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Segerombolan pengawal itu terlihat tidak terima. Mereka juga masuk ke dalam mobil dan mengejar mobil yang ditumpangi oleh Elyna dan Dominic dari belakang.


"Kenapa mereka mengejar kita?" tanya Elyna bingung. Tadinya dia pikir pengawal itu akan menyerah dan kembali ke istana meskipun dengan tangan kosong.


"Sepertinya Pangeran itu yang sudah meminta mereka untuk menangkapmu. Aku yakin pria itu tidak akan rela jika kau pergi meninggalkannya. Dia benar-benar sudah gila!" umpat Dominic kesal. Pria itu menambah lagi laju mobilnya agar orang-orang yang mengejarnya di belakang tidak bisa menangkapnya.


"Dominic, hati-hati." Elyna lagi-lagi memandang ke arah belakang. Wanita itu sangat kesulitan untuk duduk dengan tenang. "Tapi di mana pangeran Denzel? Suara tembakan yang berasal dari ruang bawah tanah terdengar begitu mengerikan. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu terhadap Pangeran Denzel?" Elyna membutuhkan jawaban Dominic agar hatinya kembali tenang.


Namun sayangnya reaksi Dominic tidak sama dengan apa yang diharapkan Elyna. "Kau mengkhawatirkannya? Jika kau ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang, kenapa tadi kau ikut denganku? Ikut saja dengannya untuk melawan musuh," ketus Dominic dengan wajah cemburu.


"Dominic, Kenapa kau kejam sekali? Aku memang tidak tahu Pangeran Denzel itu pria baik atau jahat. Tetapi sejauh yang aku lihat, dia tidak pernah menyakitiku. Justru dia selalu menolongku ketika aku dalam keadaan sakit. Tidak bisakah kau berdamai dengannya? Kalian bisa saja menjadi teman."


"Stop, Elyna! Jangan bahas pria itu lagi di sini. Aku tidak suka mendengarnya!" teriak Dominic hingga suaranya memenuhi seisi mobil.


Dominic benar-benar disulut api emosi. Saat ini ia sangat kesal melihat beberapa mobil yang mengejarnya di belakang ditambah lagi kini Elyna terus saja menyebut nama Pangeran Denzel. Bahkan terkesan memihak pria itu daripada dirinya.


"Jika kau marah tidak jelas seperti ini sebaiknya hentikan saja mobilnya. Aku lebih baik turun daripada naik di mobil yang dikemudikan oleh pria egois sepertimu Dominic!" ujar Elyna dengan emosi tertahan.


"Elyna, Stop!" teriak Dominic lagi. Pria itu memandang ke arah Elyna untuk beberapa detik. "Aku tidak mau bertengkar denganmu. Tapi tolong jangan bicara lagi."


Elyna memalingkan wajahnya ke depan. Wanita itu langsung melebarkan kedua matanya ketika melihat truk yang tiba-tiba saja berhenti di depan. "Dominic, awas!" teriak Elyna.


Dominic juga segera memandang ke depan. Pria itu juga kaget bukan main ketika melihat mobil besar ada di hadapannya. Dengan cepat pria itu membanting stir mobil ke kiri.


"Elyna, pegangan!" teriak Dominic sembari berusaha menyelamatkan mobil yang mereka tumpangi.


"Mommy, tolong aku!"


tiba-tiba saja Elyna kembali mengingat teriakannya di detik-detik sebelum mobil yang ia tumpangi menabrak pohon. Wanita itu memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia bahkan tidak lagi fokus dengan semua yang terjadi saat ini.


Hingga pada akhirnya Dominic berhasil menghentikan laju mobil mereka tanpa ada benturan sedikitpun. Pria itu memandang ke arah Elyna dengan napas tersengal. Dia segera memeriksa tubuh Elyna untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.


"Elyna, maafkan aku. Aku tidak berniat untuk mencelakaimu. Apa kau terluka? Apa ada yang sakit? Cepat katakan padaku. Tolong maafkan aku Elyna. Aku benar-benar bodoh karena sudah menyetir mobil sambil marah-marah!" Dominic terlihat ketakutan. Pria itu tidak mau sampai Elyna mengalami cedera lagi. Namun sayangnya Elyna belum mengeluarkan satu kata pun.


"Elyna, kenapa kau diam saja? Cepat katakan sesuatu. Jangan buat aku semakin bingung."


Elyna memandang ke arah Dominic dengan tatapan yang berbeda. "Elyna, Apa kau baik-baik saja? Kau masih marah padaku?" tanya Dominic.


"Dominic, apakah kau membawa senjata api?"


"Aku tidak membawa senjata. Tetapi ini mobil milik pasukan Gold Dragon. Seharusnya mereka membawa senjata dan meninggalkannya di mobil ini. Biar aku cari." Dominic mencari ke segala tempat yang ada di mobil hingga akhirnya pria itu menemukan dua senjata api yang tersimpan rapi di dalamnya. Setelah memeriksa kalau peluru di dalam senjata itu masih ada, ia segera memamerkan senjata itu di depan Elyna.


"Apakah kau mau memintaku untuk melawan mereka dengan senjata ini, Elyna?" Dominic tersenyum.


Elyna merebut senjata api yang sempat digenggam oleh Dominic. "Biar aku yang menghadapi mereka!" ucap Elyna sebelum turun dari mobil. Jelas saja hal itu membuat Dominic bingung. Tidak mau tinggal diam, pria itu juga mencari senjata api dan segera turun dari mobil untuk membantu Elyna.


Pengawal kerajaan berhenti dihadapan Elyna. Mereka semua adalah pengawal yang tidak setia terhadap Pangeran. Mereka lebih memilih tunduk atas perintah Dominic karena memikirkan keluarga mereka yang kini sedang berada di dalam genggaman Brandon.


"Apa yang kalian inginkan? Kenapa kalian mengejar kami?" tanya Elyna. Wanita itu tidak mau langsung menembak karena ia ingin tahu terlebih dahulu alasan segerombolan pria itu mengejarnya.


"Kami ingin Anda mati!" sahut salah satu pengawal. Sebenarnya dilihat dari ekspresi para pengawal kerajaan itu Elyna bisa tahu kalau mereka terlihat ketakutan. Tetapi mendengar jawaban mereka membuat Elyna emosi.


"Baiklah. Jika memang itu yang kalian inginkan. Jangan salahkan aku jika berbuat kejam terhadap kalian semua!" ujar Elyna sebelum mengangkat senjatanya dan menembak pengawal itu satu persatu. Dominic yang menyaksikan kejadian itu hanya berdiri mematung. "Elyna, kenapa dia bisa menembak lagi?"