Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Siapa dia?



Elyna segera memegang tangan Dominic. Wanita itu tidak mau sampai Dominic kabur sebelum menjelaskannya kalimat sepotong yang baru saja dia ucapkan. Memang sejak pulang dari rumah sakti, Letty belum ada menyinggung soal perusahaan. Dan ini membuat Elyna menjadi curiga. Dia berpikir kalau kedua orang tuanya memang sedang menyembunyikan rahasia besar darinya.


"Elyna, apa Tante Letty tidak mengatakannya kepadamu?" Dominic berusaha tetap tenang. "Mungkin waktunya saja yang belum tepat. Kau tidak perlu khawatir. Orang tuamu pasti ingin kau istirahat dulu selama beberapa waktu. Karena jika mereka membahas soal perusahaan sekarang, kau pasti akan terbebani. Dan itu akan berdampak buruk terhadap kesehatanmu," jelas Dominic sambil tersenyum.


Elyna menghempas tangan Dominic. Meski dalam keadaan amnesia, tetap saja sifat galaknya tidak hilang. "Sepertinya kau sudah bekerja sama dengan kedua orang tuaku. Oke, jika kau tidak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi, aku bisa cari sendiri!" Elyna langsung pergi meninggalkan Dominic. Waktu itu Dominic masih berusaha mencegah Elyna. Namun tiba-tiba saja ponselnya berdering. Melihat nama adik tercinta muncul membuat Dominic tidak bisa mengabaikannya lagi.


"Halo, Faith. Apa kabar?" Dominic memandang ke arah Elyna yang kini sudah menjauh dan menghilang di tengah keramaian. Wajahnya kecewa.


"Kak, aku rindu sama kakak dan papa. Bisakah kakak datang ke rumahku bersama papa dan menginap selama sebulan di sini?"


"Sebulan?" Dominic melebarkan kedua matanya. "Tapi itu terlalu lama. Bagaimana dengan pekerjaanku?"


"Kak, ini demi calon keponakan kakak juga. Aku mohon."


Mendengar suara adiknya yang begitu memelas membuat Dominic tidak memiliki pilihan lain. "Baiklah. Aku akan temui papa dan mengajak papa ke sana."


"Terima kasih." Faith langsung memutuskan panggilan telepon tersebut. Dominic memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu masih tidak rela jika harus meninggalkan Elyna dalam keadaan seperti ini. Ini adalah kesempatan yang bagus bagi Dominic untuk mendapatkan hati Elyna. Tetapi justru dia harus pergi selama satu bulan lamanya.


"Aku akan pikirkan cara lain agar tetap bisa terhubung dengan Elyna. Untuk saat ini sebaiknya aku fokus dengan Faith saja dulu," gumam Dominic di dalam hati.


Elyna menendang semua benda yang menghalangi jalannya. Wanita terlalu kesal hingga tidak sadar ke arah mana sekarang dia melangkah. Dia terus saja memaksakan diri untuk mengingat masa lalu yang sudah terlupakan. Bukan berhasil justru Elyna merasa kepalanya menjadi sakit.


"Sebenarnya apa tujuan mommy!" Botol kosong yang ada di depannya membuat Elyna berhenti. Bukan memasukkan botol itu ke tong sampah justru Elyna kembali menendangnya. Kali ini sangat kuat hingga akhirnya botol kosong itu mendarat di kepala seseorang.


Pria yang sedang asyik duduk di kursi itu beranjak dan melangkah menuju ke arah Elyna. Tidak lupa botol kosong yang sempat mendarat di kepalanya ia bawa. Tatapannya terlihat tidak suka. Dari situ Elyna sudah memiliki firasat kalau dia berada dalam masalah.


Pasukan Queen Star yang melihat jelas kejadiannya mulai membidik pria itu dengan serius. Sedikit saja dia memiliki niat untuk mencelakai Elyna, maka mereka tidak segan-segan untuk menembaknya hingga tewas.


"Maaf." Elyna membungkukkan tubuhnya di depan pria itu. "Aku tidak sengaja."


"Maaf?" celetuk pria asing tersebut. Rahangnya mengeras. Tatapannya sangat tajam seperti belatih. Dia memperhatikan penampilan Elyna dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia berpikir kalau Elyna itu adalah wanita brandal yang tidak tahu aturan. Bisanya hanya membuat orang lain dalam kesulitan.


Elyna mengangkat kepalanya dan memandang langsung wajah pria di depannya. "Aku tidak sengaja. Sepertinya kau juga tidak sampai terluka. Jika sudah seperti ini, seharusnya tidak ada yang perlu di bahas lagi!" Elyna ingin pergi namun pria itu segera mencengkeram tangan Elyna. Tanpa sengaja dia memandang pasukan Queen Star yang kini membidiknya. Karena berpikir kalau mereka adalah musuh, dengan cepat pria itu menarik Elyna dan membawanya pergi. Hal itu membuat pasukan Queen Star tidak bisa berbuat banyak. Jika sampai salah menembak, justru Elyna yang akan celaka.


"Hei, kau mau membawaku kemana? Lepaskan!" berontak Elyna.


Pria itu menahan langkah kakinya ketika seorang pria berpenampilan rapi berdiri di pinggiran jalan. "Kenapa kau ke sini? aku sudah bilang, jangan ikuti aku!" ketus pria asing itu.


"Pangeran, Raja ingin bertemu dengan anda. Siapa wanita ini?"


Elyna segera menarik tangannya lalu memalingkan wajahnya. "Kami tidak saling kenal. Permisi!" Elyna berlalu begitu saja. Sedangkan pria yang di panggil pangeran tadi hanya berdiri sambil memandang punggung Elyna.


"Pangeran, kita harus pulang ke Belanda sekarang juga."