Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Rencana Kedua



Pangeran Denzel duduk di pinggir tempat tidur sembari memandang wajah cantik Elyna. Pria itu merasa ada yang aneh. Sudah beberapa hari ini Elyna tidak kunjung membuka matanya. Wanita itu seperti sedang tidur. Tetapi kenapa sampai beberapa hari tidak bangun sedikitpun!


"Sebenarnya obat apa yang sudah diberikan oleh Brandon. Kenapa Elyna tidak juga bangun sampai sekarang?" gumam Pangeran Denzel di dalam hati.


Suara pintu terbuka membuat Pangeran Denzel segera beranjak dari tempat tidur Elyna. Pria itu memasang ekspresi dingin agar pelayan wanita yang datang tidak tahu kalau sebenarnya sekarang dia sedang mengkhawatirkan Elyna.


"Maaf, Pangeran. Saya tidak tahu kalau anda ada di sini." Pelayan wanita itu terlihat ketakutan. Bahkan tangannya gemetar saat itu.


"Apa yang kau bawa?" Pangeran Denzel fokus ke nampan yang di bawa oleh pelayan wanita itu.


"Ini ...." Semakin pelayan wanita itu gugup, Pengeran Denzel semakin penasaran.


"Apa Brandon yang memerintahkanmu?" Pangeran semakin menyelidiki.


"Maafkan saya, Pangeran. Saya tidak berani untuk menolaknya." Pelayan wanita itu langsung berlutut di hadapan Pangeran Denzel. "Tolong selamatkan nyawa saya, Pangeran. Tuan Brandon meminta saya untuk menyuntikan sebotol cairan ke lengan wanita itu. Saya sendiri tidak tahu fungsinya apa. Mohon maafkan saya karena saya sudah melakukannya tanpa perintah dari anda."


"Menyuntikkan cairan? Apa jangan-jangan karena cairan ini Elyna tidak bangun," batin Pangeran Denzel.


"Pangeran, mohon maafkan saya." Pelayan wanita itu memelas bekas kasih Pangeran Denzel. Hal itu membuat Pangeran Denzel hanya bisa menghela napas kasar saja.


"Pergilah. Letakkan benda yang kau bawa itu di atas meja."


"Baik, Pangeran." Wanita itu segera beranjak dan meletakkan barang-barang yang ia bawa di atas meja. Setelah berpamitan ia segera pergi meninggalkan ruangan tempat Elyna di sekap.


"Aku harus memeriksa obat ini." Pangeran Denzel mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Cepat temui aku. Aku memiliki tugas baru."


"Ada yang bisa saya bantu, Pangeran?"


"Selidiki obat itu. Aku ingin tahu sebenarnya obat apa itu."


"Baik, Pangeran." Pria itu segera mengambil botol kecil yang ada di meja lalu membawanya pergi.


"Sepertinya aku harus memindahkan Elyna. Dia harus istirahat di tempat yang jauh dari jangkauan Brandon. Tapi, dimana?" Pangeran Denzel mengingat kembali tempat yang cocok untuk Elyna. Hingga tidak lama kemudian pria itu tersenyum.


"Tempat itu sangat cocok untuk Elyna. Aku yakin dia pasti akan menyukainya."


***


PRANGGG


Pecahan gelas itu berserak kemana-mana. Brandon marah ketika mendapat kabar kalau sampai detik ini Pangeran Denzel belum memberikan hukuman apapun kepada Elyna.


"Aku sengaja memberikannya obat agar Pangeran sialan itu bisa dengan mudah menghukumnya. Tetapi justru pria itu memilih untuk menunggunya sampai sadar. Jika sudah begini, sepertinya aku harus bertindak sendiri. Aku akan membuat wanita itu segera tewas. Bukankah jika dia sampai tewas dikediaman Pangeran, masalah ini bisa aku manfaatkan untuk membuat Pangeran Denzel turun dari tahta yang seharusnya dia duduki?"


"Benar, Tuan. Tetapi Pangeran Denzel juga pria yang cerdas. Bagaimana kalau dia lebih dulu tahu rahasia kita?"


"Cerdas kau bilang?" Brandon tertawa puas sembari membayangkan wajah Pangeran Denzel. "Pangeran Denzel adalah pria paling tidak berguna yang pernah aku temui di dunia ini! Dia hanya tahu bersenang-senang di luar. Berkeliling dunia dan menghabiskan uangnya. Dia sama sekali tidak berguna. Belanda tidak membutuhkan pemimpin seperti dia!"


Pria itu justru terdiam. Memang sejauh ini dari apa yang dia lihat, Pangeran Denzel itu pria yang lemah. Sama sekali tidak bisa diandalkan. Akan tetapi pria itu ragu untuk menilai Pangeran Denzel sebagai pria tidak berguna.