
Elyna rela meninggalkan makan malamnya hanya demi mendapatkan petunjuk soal Las Vegas. Setelah melihat kertas yang berisi tulisan Las Vegas, wanita itu tidak bisa tenang lagi. Kali ini Elyna lebih serius memeriksa isi kamarnya.
Hingga pada akhirnya, di bawah tempat tidur wanita itu menemukan sebuah kotak berwarna hitam. Ternyata kali ini Letty telah ceroboh karena tidak benar-benar membersihkan kamar putrinya dari bukti-bukti yang mungkin akan membuat Elyna mengingat kembali masa lalunya.
"Apa ini?" Tanpa pikir panjang, Elyna segera membuka kotak tersebut. Elyna melebarkan kedua matanya melihat topeng dan senjata di dalamnya. Satu hal lagi yang membuat Elyna tercengang. Afa tulisan Quinn Star.
"Kepalaku." Elyna melepas kotak itu lalu memegang kepalanya yang terasa sakit. Wanita itu berusaha untuk tetap tenang. Namun, rasa sakit itu sungguh luar biasa. Rasanya ada jarum besar yang mengusik kepalanya.
Semua yang dilihat seperti berputar. Elyna kesulitan mengendalikan diri. Kedua matanya perlahan terpejam. Wanita itu tergeletak di lantai. Tepat di samping kotak yang tadi ia temukan di bawah tempat tidur.
...***...
"Elyna. Elyna."
Elyna membuka kedua matanya mendengar seseorang memanggil namanya berulang kali. Wanita itu menatap serius ke arah Dominic. Ternyata pria itu yang sudah membawa Elyna ke rumah sakit. Dominic menceritakan soal kedekatannya dengan Elyna hingga akhirnya Faith tidak lagi memaksanya untuk tinggal. Ketika tiba di rumah Elyna justru Dominic dibuat kaget ketika pelayan bilang kalau Elyna pingsan. Pria itu langsung saja membawa Elyna ke rumah sakit terdekat.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Elyna. Dia memperhatikan ruangan tempatnya berada saat ini. "Apa aku di rumah sakit?"
"Kau pingsan. Sebenarnya apa yang sudah membuatmu pingsan? Pelayan bilang kau belum makan malam. Apa itu yang sudah menyebabkanmu pingsan? Kau kehabisan tenaga?" tebal Dominic asli saja.
"Berapa lama kita saling kenal?" Elyna menatap tajam wajah Dominic. Hal itu membuat Dominic menjauhkan tubuhnya.
"Tidak terlalu lama. Hanya gitu bulan."
"Bagaimana caranya kita bertemu?"
"Lalu, apa sulitnya menjawab pertanyaanku?" potong Elyna kesal.
"Oke. Aku ... maksudku kita bertemu saat kedua orang tua kita bertemu. Sebuah acara. Bukankah kedua orang tua kita saling kenal? Mereka berencana untuk menjodohkan kita tetapi kita tidak menyetujuinya. Kau dan aku memiliki pemikiran yang sama. Tidak mau menikah dalam waktu dekat. Jadi akhirnya kita putuskan untuk berteman saja."
Elyna tidak bisa untuk tidak percaya. Ekspresi Dominic ketika menjelaskan terlihat sangat menyakinkan. "Sepertinya benar apa yang dikatakan Daddy kalau Dominic ini pria yang baik," puji Elyna di dalam hati.
"Sepertinya kau butuh istirahat. Aku akan tidur di sofa sana. Tadi aku sudah menghubungi kedua orang tuamu. Mereka akan tiba besok pagi." Dominic memutar tubuhnya. Namun tiba-tiba saja Elyna memegang tangan Dominic dan menahan pria itu.
Dominic melirik tangannya lalu menatap wajah Elyna. "Ada apa?"
"Bawa aku ke Las Vegas!"
Dominic melebarkan kedua matanya. "Las Vegas?"
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan Las Vegas?" Elyna mulai menyelidiki.
"Maksudku, dari sekian banyak tempat kenapa harus Las Vegas? Ada apa di Las Vegas?" Dominic lagi-lagi bersikap bodoh seolah-olah dia tidak tahu menahu soal Las Vegas.
"Aku tahu, sesuatu terjadi di sana. Kau tinggal jawab mau atau tidak membawaku ke sana!" ketus Elyna tidak sabar.
"Baiklah, aku akan menemanimu jalan-jalan ke Las Vegas," jawab Dominic pasrah.