Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Wanita Pembunuh



"Uhuk uhuk!"


Dominic langsung tersedak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Elyna. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Elyna akan bertanya seperti itu.


"Apa maksudmu Elyna? Kenapa kau bisa memiliki pemikiran seperti itu? Bukankah ini pertama kalinya kau berada di Las Vegas dan kau berkunjung ke rumahku. Bagaimana mungkin kau terlibat dalam kematian pengawal dan pelayananku?"


Dominic berusaha untuk menutupinya. Jelas saja ia tidak mau menjelaskan semua yang terjadi karena itu hanya akan membuat Elyna sedih dan tidak bersemangat.


"Dominic, tolong jangan sembunyikan masalah ini dariku. Aku tahu ada rahasia besar yang kalian tutupi selama ini. Aku sudah dewasa. Aku sudah bisa menentukan mana yang terbaik dalam hidupku dan mana yang tidak baik. Sebaiknya katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak akan marah dan menyalahkan siapapun. Setidaknya aku bisa jauh lebih tenang setelah mendengar penjelasan yang keluar langsung dari bibirmu." Elyna menatap wajah Dominic dengan penuh harap.


"Sekarang aku harus bagaimana? Bukannya aku tidak mau menceritakan semuanya kepadamu tetapi aku takut terjadi sesuatu kepadamu. Dokter melarang keras agar kami tidak mengingatkan masa lalumu. Kau hanya boleh mengingat masa lalumu secara perlahan," batin Dominic.


"Dominic, tolong Jangan pikirkan lagi alasan untuk membodohiku!" ucap Elyna sembari memegang tangan Dominic. Wanita itu menatap dengan tulus hingga membuat Dominic menjadi tidak tega.


"Elyna, sebaiknya kau lupakan saja semua yang pernah terjadi. Jalani dan nikmati keadaanmu yang sekarang. Masalah itu tidak pantas untuk kau ingat kembali. Percayalah pada kedua orang tuamu. Mereka melakukan semua ini demi kebaikanmu juga.


Bukannya kami sengaja menutupi semua yang terjadi tetapi memang semua Itu demi kebaikanmu. Dokter melarang keras agar kami tidak mengingatkanmu dengan hal-hal yang membuat kepalamu kembali sakit. Kami hanya tidak mau kau menderita Elyna."


Elyna tersenyum pahit mendengar penjelasan Dominic. Perkataan Dominic justru memperjelas semuanya kalau memang sebelum amnesia Elyna itu adalah wanita pembunuh.


"Kau tidak perlu menjelaskannya lagi karena sekarang aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya sebelum kecelakaan Aku ini memang wanita yang jahat." Elyna terlihat sedih. Bahkan kedua matanya sampai berkaca-kaca. "Kecelakaan itu adalah karma yang harus aku terima. Bayaran atas perbuatanku di masa lalu."


"Elyna ... Jangan bicara seperti itu. Kau ini adalah wanita yang baik. Bahkan wanita terbaik yang pernah aku temui." Dominic segera beranjak dari kursi yang ia duduki lalu menghampiri Elyna. Pria itu memaksa Elyna untuk berdiri.


"Lihatlah mataku. Kau harus percaya pada kami. Kalau kami melakukan semua ini demi kebaikanmu. Kau ditakdirkan kecelakaan bukan karena sedang dihukum tetapi diberi ketenangan hati. Tuhan masih menyayangimu hingga kau diberi kecelakaan dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.


Elyna, sebenarnya kau tidak sejahat itu. Sebelum Kecelakaan terjadi Kau sudah berubah menjadi wanita yang baik. Pemimpin sebuah perusahaan hingga perusahaan yang sempat terbengkalai itu menjadi maju. Jadi mulai detik ini jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.


Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sebaiknya kau pandang saja masa depan. Cari kebahagiaanmu dan bentuklah jati dirimu yang baru. Jadi jika suatu saat nanti kau kembali mengingat semuanya kau tidak akan lagi menyesalinya. Cara ampuh untuk menghapus kegagalan adalah dengan berubah menjadi lebih baik lagi."


"Terima kasih Dominic. Kau memang pria yang baik." Elyna langsung memeluk Dominic. Wanita itu memejamkan mata dan menenangkan pikirannya sendiri.


Dominic mematung ketika tubuh Elyna memeluknya dengan begitu erat. Kini pria itu terlihat kebingungan karena dia tidak tahu harus melakukan apa. Secara perlahan tangannya terangkat lalu mengusap punggung Elyna dengan lembut. Dominic berusaha untuk membiasakan diri agar tidak merasakan reaksi apapun ketika Elyna memeluknya.


Namun sayangnya apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Karena nyatanya kini debaran jantung Dominic menjadi tidak karuan. Bahkan pria itu malu. Dia takut jika Elyna sampai mendengar detak jantungnya yang terdengar begitu jelas tersebut.


"Bukankah kita harus ke Kasino lagi? Kenapa kita berlarut-larut di restoran ini?" Dominic pada akhirnya memiliki alasan agar Elyna segera melepas pelukannya. Wanita itu tersenyum lalu menghapus buliran air mata yang sempat menetes.


"Kau benar. Sekarang ayo kita berangkat ke kasino. Aku tidak mau sampai gagal lagi. Bukankah kau akan mengajariku untuk menjadi penjudi yang handal?" ujar Elyna sambil tersenyum manis. Dominic hanya mengangguk saja.


"Ayo kita pergi," ajak Dominic. Mereka berdua sama-sama pergi meninggalkan restoran menuju ke gedung Dominic yang letaknya tidak jauh dari restoran tersebut berada.


...***...


"Pangeran, kami telah berhasil menemuka identitas orang yang sudah membunuh Yang Mulia Raja," ucap Brandon dengan penuh keyakinan.


Meskipun kepergian Yang Mulia Raja baru beberapa hari yang lalu, tetapi kini mereka semua telah berhasil mengetahui identitas sang pembunuh dan itu membuat Pangeran Denzel merasa jauh lebih tenang. Bahkan ia sudah tidak sabar untuk melihat informasi tentang si pembunuh tersebut.


"Kau benar-benar hebat, Brandon. Pantas saja selama ini Papa selalu mempercayaimu. Ternyata hasil pekerjaanmu selalu memuaskan," puji Pangeran. Dia menerima map coklat yang sudah disiapkan oleh Brandon di atas meja lalu membukanya dan membaca isinya dengan saksama.


"Itu adalah foto Yang Mulia Raja ketika dia pertama kali ditemukan di dalam kamar. Maafkan kami karena baru memberikan foto itu sekarang. Karena kemarin kami tidak mau anda semakin terguncang melihat keadaan Yang Mulia Raja yang begitu mengenaskan," jelas Brandon.


Pangeran Denzel semakin emosi ketika melihat ada luka tembakan di dahi Ayah kandungnya. "Mereka benar-benar kejam. Mereka bukan hanya menyiksa Papa tetapi juga membunuhnya dengan senjata api. Apa di istana ini tidak ada yang mendengar suara tembakan?"


"Sebenarnya apa yang sudah mereka ambil dari papa?" Pangeran Denzel meletakkan map itu di atas meja lagi.


"Mereka membawa lari uang dan berlian yang disimpan oleh Yang Mulia Raja. Jumlahnya memang sangat fantastis." Padahal yang sebenarnya terjadi, Brandonlah yang sudah mengambil semua barang berharga tersebut.


"Jika hanya itu yang mereka inginkan, aku bisa memberikannya secara cuma-cuma Tetapi sayang semua sudah terlambat. Sekarang Papa sudah tidak ada dan mereka semua harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Mereka pasti tidak akan menyangka kalau setelah melakukan pencurian itu sekarang mereka harus menjadi buronan. Ada berapa orang yang sudah mencelakai Papa?"


"Hanya satu orang saja pangeran. Tetapi sepertinya ia pembunuh yang sangat handal. Dia Pemimpin sebuah geng mafia. Memang sudah lama terkenal sebagai pembunuh bayaran. Misi mereka tidak pernah gagal. Identitas mereka juga tidak mudah untuk diketahui. Tapi dengan orang-orang profesional yang kita miliki saya berhasil mengambil foto wanita tersebut."


"Wanita kau bilang?" celetuk Pangeran Denzel dengan alis saling bertaut. Sejak tadi yang ada di dalam pikirannya kalau seorang pria yang sudah membunuh Ayah kandungnya. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau ternyata seorang wanita yang sudah membantai keji Ayah kandungnya.


"Benar pangeran. Dia seorang wanita." Brandon mengeluarkan foto Elyna dari balik jasnya. Pria itu sudah tidak sabar untuk menonton aksi balas dendam Pangeran Denzel terhadap Elyna. Dengan begitu jejak kejahatannya akan benar-benar hilang.


"Ini foto wanita itu pangeran. Kami sangat sulit untuk mengambilnya. Penampilannya terlihat sederhana tetapi dibalik itu Dia adalah seorang pembunuh yang sangat profesional. Dia sangat ahli dalam menyamar dan bersikap manis."


Pangeran Denzel menerima foto tersebut namun belum membaliknya. Dia masih menguatkan hati karena seumur hidupnya ia akan dendam kepada sosok yang ada di dalam foto tersebut.


"Jika Anda ingin melihat wajah wanita itu nanti, tidak masalah pangeran. Yang penting saya sudah memberikan fotonya. Jadi jika suatu saat nanti Anda bertemu dengannya anda sudah tahu kalau dia adalah pembunuh ayah kandung anda sendiri."


"Tidak perlu nanti karena semakin cepat semakin baik," sahut pangeran Denzel sebelum membalik foto Elyna. Pria itu syok bukan main ketika melihat wajah cantik Elyna yang terpampang di sana.


"Memang wanita itu sangat cantik pangeran. Tetapi anda jangan sampai terjebak dengan kecantikannya. Dia wanita yang sangat licik. Kapanpun anda siap Kita akan mempersiapkan serangan untuk membalaskan perbuatannya." Brandon terus saja berusaha untuk memanas-manasi Pangeran Denzel.


"Wanita ini langsung yang turun tangan untuk membunuh papa?" tanya Pangeran Denzel untuk kembali memastikan.


"Benar pangeran!"


"Kau yakin 100%?" tanya Pangeran Denzel sekali lagi.


"Saya yakin 100% kalau orang yang saya kirim untuk menyelidiki kasus ini tidak akan mungkin salah. Memang wanita ini yang sudah berhasil menerobos masuk ke dalam istana dan membunuh Yang Mulia Raja di dalam kamar pribadinya. Kenapa Anda terlihat tidak yakin? Apa sebelumnya Anda pernah bertemu atau mengenal wanita ini, Pangeran?" tanya Brandon penuh selidik.


Pangeran lalu memijat pangkal hidungnya. Dia meletakkan foto Elyna begitu saja di atas meja. "Bagaimana mungkin Elyna yang sudah membunuh papa. Jika malam kejadian itu Elyna masih berdansa denganku. Apa Elyna memiliki saudara kembar. Aku sangat yakin kalau Elyna yang aku kenal tidak terlibat dalam kematian papa. Sepertinya ada yang salah di sini," gumam pangeran di dalam hati.


"Pangeran, apa Anda sakit? Apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Brandon dengan wajah yang sok khawatir.


"Siapa nama wanita ini dan di mana tempat tinggalnya? Apa Dia memiliki keluarga? Aku ingin informasi lengkap tentangnya."


"Informasi lengkap tentang wanita ini sudah ada di dalam map tersebut Pangeran. Anda hanya perlu membacanya satu persatu."


"Kalau begitu Pergilah. Aku sudah tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Aku ingin kembali menenangkan pikiranku. Masalah ini sangat rumit hingga membuat kepalaku terasa sangat pusing."


"Baik Pangeran." Brandon menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sambil berjalan pria itu tersenyum bahagia karena sudah tidak sabar untuk melihat aksi Pangeran Denzel nantinya.


Ketika Brandon sudah menghilang dari ruang pribadinya, Pangeran Denzel cepat-cepat membuka dan membaca isi di dalam map coklat tersebut. Pria itu menghela napas panjang ketika melihat nama Elyna Miller tertulis jelas di sana.


"Sepertinya seseorang ingin menjebakmu, cantik. Aku tahu kalau kau wanita yang baik. Tidak mungkin kau terlibat dalam masalah ini. Bahkan aku sendiri yang menjadi saksi kalau kau tidak ada di lokasi kejadian saat Papa merenggut nyawanya.


Tapi kenapa mereka mengaitkan masalah ini denganmu. Sepertinya aku harus menyelidiki masalah ini sendiri. Tidak ada lagi yang bisa aku percaya di istana ini," gumam Pangeran Denzel sambil menatap foto Elyna yang kini ada di genggaman tangannya.