Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Kejutan Manis



"Lalu, kapan kau akan pulang ke rumah. Elyna. Katakan kepada keluarga Dominic untuk segera datang ke sini. Orang tua Dominic juga harus bertemu dengan kami. Setelah itu kami semua akan mendiskusikan soal pernikahan kalian berdua," ucap Letty di dalam telepon.


"Ya, Mom. Secepatnya kami akan ke sana bersama dengan Paman Zean, Faith dan juga Zion. Mommy tenang saja. Tidak perlu terburu-buru juga." Elyna menarik selimut yang ada di bawah kaki. Wanita itu sudah berbaring di kamar. Ia bahkan sudah memakai pakaian tidur.


"Sayang, apa kau benar-benar sudah mantap untuk menikah dengan Dominic? Mommy sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya kau jatuh cinta juga dengan pria yang Mommy jodohkan. Mommy sangat senang mendengarnya. Tolong jangan sia-siakan hubungan ini. Kalian berdua harus sama-sama menjaga dan saling setia. Mommy tidak mau kau memutuskan menikah karena dipaksa oleh seseorang."


"Siapa yang berani memaksaku, Mom? Tidak ada. Bukankah pilihan Mommy selalu yang terbaik. Tetapi aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Mommy kali ini. Karena Mommy sudah menjodohkanku dengan Dominic waktu itu. Jika Mommy tidak pernah memiliki niat untuk menjodohkan kami, tidak mungkin hubungan kami bisa sampai seperti sekarang."


"Cinta tidak pernah bisa dipaksakan nak. Sekarang kalian bersatu karena cinta itu sendiri yang menginginkan kalian berdua untuk bersatu. Mau sekeras apapun kami sebagai orang tua menjodohkan kalian, jika kalian tidak memiliki rasa cinta maka kalian berdua tidak akan mungkin pernah bersatu dan menikah," jawaban Letty membuat Elyna diam sejenak. Wanita itu membenarkan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh ibu kandungnya sendiri.


"Oh iya mom. Sebenarnya ada satu rahasia yang kemarin belum sempat aku katakan kepada Mommy."


"Rahasia apa? Elyna, kenapa tiba-tiba saja kau membuat Mommy menjadi tidak tenang. Cepat katakan sekarang juga. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi." Nada Letty mulai memaksa. Jika saja kini Elyna ada dihadapannya, mungkin dia sudah memegang kedua tangan putrinya.


"Saat pulang ke rumah kemarin ada yang ingin aku sampaikan kepada Mommy. Sebenarnya aku sudah tidak amnesia lagi, Mom. Aku sudah mengingat semuanya. Tetapi aku tidak sempat untuk menceritakannya kepada Mommy. Aku tahu ketika aku mengatakannya Mommy pasti akan menghujaniku dengan beribu pertanyaan. Sementara saat itu aku ingin kembali ke Las Vegas untuk menemui Dominic dan memperbaiki semua kesalahpahaman yang pernah terjadi di antara kami," jawab Elyna. Wanita itu berharap agar ibu kandungnya mau memahami posisinya kemarin dan tidak menyalahkannya.


"Elyna, kau ini benar-benar anak durhaka. Kenapa kau baru memberitahu Mommy sekarang setelah beberapa hari berlalu! Mommy sangat senang. Tetapi Mommy juga sedih."


"Maafkan aku Mom. Aku sudah bilang kalau aku sangat sibuk. Aku seperti ini karena aku sedang mengejar cinta dari pria yang aku sukai. Jika menunggu respon darinya duluan, itu akan lama. Karena Dominic pria yang payah untuk mengakui perasaannya sendiri." Elyna kembali membayangkan ekspresi santai Dominic ketika Pangeran Denzel mengajaknya menikah saat ada di Belanda.


"Ya, baiklah. Untuk masalah ini Mommy sudah memaafkanmu. Tetapi ingat jangan pernah diulangi lagi."


"Mommy, ada hal lain lagi yang ingin aku bicarakan kepada Mommy. Tapi kali ini aku tidak mau mendengar suara ketawa Mommy ya," ancam Elyna dengan suara yang jutek.


"Kenapa kali ini Mommy ingin tertawa sebelum kau mengatakannya?"


"Mommy, aku serius. Mommy harus berjanji untuk tidak menertawaiku," rengek Elyna.


"Ya Sayang. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan. Mommy janji tidak akan menertawaimu."


"Setelah aku pulang ke rumah, Mommy harus mengajariku untuk memasak. Soal berhias aku sudah menguasainya. Ajari aku untuk menjadi istri yang baik agar Dominic tidak kecewa Ketika menikahiku nanti." Elyna memejamkan mata sejenak. Dia tahu bagaimana kini ibu kandungnya itu tersenyum karena menertawainya.


"Bukankah waktu itu kau sendiri yang bilang. Jika suatu saat kau menikah, Kau tidak perlu memasak karena sudah bisa membayar koki. Kau tidak perlu membereskan rumah karena bisa membayar pelayan. Bahkan Kau tidak perlu pandai berhias karena kau bisa pergi ke salon. Kenapa sekarang tiba-tiba kau berubah pikiran dan ingin melakukan semua itu. Apa kau tidak takut repot?" Letty kembali memperjelas perkataan Elyna waktu itu.


"Mommy, aku tahu aku bisa melakukan semua itu dengan uang. Tapi tingkat kebahagiaan suamiku pasti berbeda jika aku bisa melakukannya sendiri. Mommy mau tidak membantuku? Kenapa Mommy banyak protes." Elyna mulai kesal. Padahal sebenarnya maksud Letty tidak seperti itu.


"Iya sayang iya. Nanti setelah pulang Mommy akan membantumu dan merubahmu menjadi wanita yang sempurna. Sampai detik ini juga Mommy masih memiliki banyak kekurangan. Belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk Daddymu. Tetapi Mommy akan berusaha untuk menjadikanmu istri yang sempurna di depan suamimu nanti," ucap Letty bersungguh-sungguh.


"Oke, kalau begitu aku mau tidur. Sekarang sudah malam. Dominic pasti akan marah jika dia tahu kalau sekarang aku belum tidur."


"Apa kalian tidur satu kamar?" tanya Elyna penuh selidik.


"Tentu saja tidak. Aku tidur di kamar atas sedangkan Dominic tidur di kamar bawah. Hanya aku sendirian yang tidur di kamar atas. Karena Faith Paman Zean dan juga Dominic ada di kamar bawah. Mereka benar-benar mengasingkanku disini."


"Mungkin karena mereka ingin kau berada di tempat yang lebih aman. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Bagaimanapun juga mereka semua akan menjadi bagian dari keluargamu sekarang. Cepat tidur. Kau harus bangun pagi agar tetap terlihat segar."


"Oke Mom. Sampai jumpa di rumah. Aku sangat merindukan Mommy."


"Mommy juga sangat merindukanmu sayang."


Elyna segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas sebelum berbaring dan memandang langit-langit kamar.


"Bahkan sampai detik ini Aku masih tidak percaya kalau sebentar lagi aku akan menikah dan menjadi pengantin yang cantik." Elyna memejamkan matanya secara perlahan. Namun tiba-tiba saja wanita itu membuka kedua matanya lagi ketika mendengar suara di luar kamar. Dengan sigap wanita itu mengambil senjata apinya dan berjalan menuju ke jendela.


Elyna berdiri di balik gorden dan mengintip. Wanita itu mengerngitkan dahi ketika melihat lilin yang sudah dihias dengan bentuk tulisan I love you. Tidak jauh dari posisi lilin itu berada ada Dominic yang berdiri dengan bunga di tangannya.


"Elyna, Aku sangat mencintaimu," teriak Dominic dari bawah. Pria itu terlihat sangat rapi dan tampan. Zion, Zean dan juga Faith juga ada di sana. Ternyata mereka berempat telah bekerja sama untuk menyiapkan kejutan manis itu untuk Elyna.


"Aku juga mencintaimu," teriak Elyna dari atas.


"Kemari! Turunlah. Bermain di sini bersamaku. Aku tahu Kau pasti tidak bisa tidur cepat," teriak Dominic lagi.


Elyna yang merasa kalau bangunan rumah itu tidak terlalu tinggi memutuskan untuk melompat saja. Tetapi dengan cepat Dominic mencegahnya.


"No. No. Turunlah dengan menggunakan tangga. Jangan melompat. Ingat Elyna, kau akan segera menikah denganku. Jadi Ikutilah aturanku. Jangan pernah lagi melakukan hal berbahaya seperti itu. Aku tidak mau kau celaka!" teriak Dominic dengan wajah khawatir.


"Dari tangga terlalu lama. Dari sini saja biar cepat." Elyna masih mempertahankan keputusannya.


"Elyna, Aku mohon jangan buat aku marah. Aku tidak mau kau celaka. Turunlah dengan menggunakan tangga," bujuk Dominic lagi.


"Kak Elyna turuti saja apa yang dikatakan oleh kak Dominic. Melompat dari atas sana sangat berbahaya dan beresiko. Sebentar lagi Kak Elyna dan Kak Dominic akan menikah. Tolong jaga tubuh Kak Elyna dengan baik," teriak Faith. Wanita itu juga berusaha untuk membujuk calon kakak iparnya.


Pada akhirnya Elyna menyerah. Wanita itu masuk lagi ke dalam kamar dan memutuskan untuk turun dengan menggunakan tangga.


Di bawah Dominic memijat kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing ketika melihat calon istrinya yang begitu barbar. "Bisa-bisanya dia mau melompat dari atas situ agar bisa segera sampai."


Tidak menunggu waktu yang lama, Elyna segera muncul. Wanita itu langsung berlari dan mendekati lilin-lilin yang sudah disusun oleh Dominic. Dia melompat ke tengah-tengah lilin yang berbentuk hati. Wanita itu terlihat bahagia.


"Sejak kapan kau berubah menjadi pria romantis seperti ini?" tanyanya masih dengan wajah tidak percaya.


"Apa kau suka?" tanya Dominic. Pria itu berjalan mendekati Elyna. Dia juga masuk ke dalam lingkaran lilin yang berbentuk hati.


"Tentu saja aku menyukainya. Bukankah ini tandanya Kau sangat mencintaiku."


"Kau ini masih saja meragukan perasaanku. Tanpa ada lilin ini hatiku juga tetap sama. Aku sangat mencintaimu dan sudah tergila-gila padamu."


"Ya aku tahu," jawab Elyna sambil tersenyum. Wanita itu memandang Dominic tanpa berkedip lagi.


Zean dan yang lainnya memutuskan untuk masuk ke dalam. Mereka tidak mau mengganggu Dominic dan Elyna yang kini sedang dimabuk asmara.


"Apa kau mau berdansa denganku?" tanya Dominic lagi.


Elyna mengangguk cepat. Wanita itu tidak pintar berdansa tetapi ia ingin mencobanya.


"Cuaca malam ini sangat dingin. Sebaiknya kau memakai jas ini." Dominic melepaskan jas yang ia kenakan lalu memakaikannya ke tubuh Elyna. Dia juga mengajak Elyna keluar dari lingkaran lilin dan berdansa untuk menikmati alunan musik yang sudah dimainkan oleh seseorang.


"Tadi aku menelepon Mommy. Mommy mau agar kau segera membawa keluargamu untuk menemui Mommy dan membahas soal pernikahan kita."


"Ya aku sudah membicarakan masalah itu kepada papa. Secepatnya Dia akan datang berkunjung ke kediaman orang tuamu." Dominic menyelipkan rambut Elyna di balik telinga.


"Lalu kapan aku akan pulang?"


Dominic mengernyitkan dahinya sebelum memandang wajah Elyna. "Apakah kau tidak suka berlama-lama di rumah ini? Apa pelayanan di rumah ini membuatmu bosan?"


"Tidak. Hanya saja aku sangat merindukan kedua orang tuaku. Bukankah sejak aku kembali dan mengingat semua Ingatanku aku belum pernah menghabiskan waktu bersama Mommy lagi. Bahkan Mommy baru tahu tadi jika aku sudah tidak amnesia lagi."


"Baru tadi kau menceritakan semuanya? Apa Tante Letty tidak marah?" tanya Dominic penasaran. Dia tahu betapa galaknya calon mertuanya itu.


"Ya seperti itu. Marah-marah sedikit," jawab Elyna sambil tertawa. Wanita itu memeluk Dominic lagi. "Sebenarnya aku pulang bukan karena merindukan Mommy. Tetapi aku ingin segera belajar menjadi istri yang baik. Aku ingin belajar memasak, belajar berias dan belajar melakukan hal-hal yang dilakukan oleh wanita pada umumnya. Tetapi aku malu untuk mengakuinya di depanmu. Biarlah semua ini menjadi rahasiaku. Jadi ketika kita sudah menikah nanti kau akan kaget dengan perubahan yang aku berikan," gumam Elyna di dalam hati.