
Raja palsu itu langsung terdiam. Ekspresi wajahnya terlihat panik. Dia memalingkan wajahnya ke samping. Pria yang baru saja dipertanyakan oleh Pangeran Denzel adalah dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak kepikiran kalau Pangeran Denzel akan menanyakan hal seperti itu.
"Aku tidak mungkin mengatakan kalau Brandon sudah tewas karena melaksanakan tugas yang aku beri. Setelah rencana ini berhasil, aku ingin kembali ke identitasku yang semula. Sebaiknya aku katakan saja kalau Brandon ada urusan penting dan harus pergi dalam waktu beberapa bulan," batin Brandon di dalam hati.
"Pa, ada apa? Kenapa Papa terlihat kebingungan? Bukankah biasanya dimana ada Papa di situ ada Brandon?" tanya Pangeran Denzel semakin penasaran.
"Ehhem." Raja palsu berdehem pelan untuk kembali mencairkan suasana. "Brandon pergi."
"Pergi? Sejak kapan? Bukankah dia pernah bilang tidak akan pernah meninggalkan papa?"
"Ya, itu dulu. Dia juga memiliki kehidupannya sendiri. Aku tidak bisa memaksanya agar selalu ada di istana ini." Brandon terus saja memalingkan wajahnya karena tidak berani memandang Pangeran Denzel langsung.
Pangeran Denzel tidak mau banyak bicara lagi. Pria itu segera pergi meninggalkan kamar. Bersamaan dengan itu, para pengawal yang berjaga segera menutup rapat pintu kamar Yang Mulia Raja.
"Pangeran!"
Pangeran Denzel menahan langkah kakinya. Dia melihat seorang pria berlari menghampirinya. Di tangan pria itu ada sebuah paper bag berwarna putih.
"Pangeran, ada yang ingin saya sampaikan." Pria itu mengatur napasnya. Dia memandang pangeran Denzel sebelum tersenyum ramah. "Seseorang memberikan ini kepada saya. Dia meminta saya untuk memberikannya kepada anda langsung. Setelah saya periksa, tidak ada benda berbahaya di dalamnya. Hanya ada secarik kertas dengan tulisan yang saya sendiri tidak mengerti apa artinya."
Karena penasaran, Pangeran Denzel segera mengambil paper bag itu dan memeriksa isi di dalamnya. Secarik kertas itu ia buka dan ia baca. Alisnya saling bertaut melihat gaya tulisan yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Ini tulisan Papa. Untuk apa Papa menulis kalimat seperti ini?" Pangeran Denzel memandang ke arah kamar lagi. Tulisan itu menggunakan sandi. Hanya pangeran dan Raja yang mengetahui artinya.
"Pangeran, ada apa? apa tulisannya?" Pria itu mulai penasaran.
"Kau mau tahu?"
"Di sini tertulis kalau setiap orang bisa terlihat sana. Namun ada satu hal yang bisa membedakannya. Yaitu dari cara menulisnya. Apa sebelumnya kau pernah melihat orang yang berbeda dengan gaya tulisan yang sama persis?"
"Maksudnya apa? Lalu, siapa yang mengirimkannya? Apa anda kenal? Kenapa harus membahas masalah tulisan? Sebenarnya itu kode apa?" Pria itu juga bingung.
Pengeran Denzel terdiam. "Apa sebenarnya maksud papa. Siapa yang harus dibedakan untuk saat ini? Kenapa juga papa tidak mengatakannya secara langsung. Tidak perlu ada kode-kodean seperti ini. Aku jadi pusing jika harus bermain dengan cara seperti ini."
Ketika membalik suratnya, ada lagi tulisan yang tertera di sana. Lagi-lagi menggunakan sandi yang rahasia. "Raja hanya satu?" batinnya bingung.
"Pangeran, anda masih mendengar saya?"
"Aku butuh istirahat!" ketus Pangeran Denzel hingga akhirnya membuat pria di depannya tidak banyak bicara lagi.
Pria itu langsung saja membawa Pangeran Denzel ke dalam kamar. Tidak lupa dia membawa paper bag berisi surat rahasia tersebut.
Dari kejauhan, seorang pria sedang mengawasi pangeran Denzel diam-diam. Dia adalah mata-mata yang dipekerjakan oleh Brandon.
"Sebenarnya apa isi surat itu? Aku harus bisa merebutnya dan membaca isi di dalamnya. Bagaimana kalau isi surat itu membahayakan keberadaan Bos Brandon? Rencana besar kami bisa gagal nanti."
Pria itu segera pergi menjauh. Dia melirik pengawal yang berjaga di depan kamar.
"Ada apa? Raja tidak mau bertemu dengan siapapun!" ketus salah satu penjaga.
"Aku membawa obat pesanan Raja. Jika tidak percaya, kalian bisa tanyakan langsung," sahutnya dengan penuh percaya diri.
Pengawal itu saling memandang sebelum membukakan pintu. dengan santainya pria itu masuk ke dalam. "Dasar orang bodoh! Kalian mudah sekali tertipu," ledeknya di dalam hati.