Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Dia Lagi



Sejak tadi Pangeran Denzel masih belum mau menemui siapapun. Kini pria itu ada di dalam ruang pribadinya untuk menenangkan diri. Walau selama ini dia tidak terlihat terlalu dekat dengan sang raja tetapi sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam Pangeran sangat menyayangi Ayah kandungnya. Dia bahkan tidak mau Ayah kandungnya itu segera meninggalkan dunia ini. Pangeran ingin Ayah kandungnya hidup sampai dia menikah dan memiliki anak nanti.


Kepergian Sang Raja memang seperti mimpi buruk bagi pangeran. Sayangnya pria itu baru tahu sekarang kalau Ayah kandungnya sudah tiada. Padahal yang sebenarnya terjadi, ayah kandungnya itu tewas di tangan Brandon. Pria yang paling dipercaya oleh Raja.


Pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Pangeran memandang ke depan dengan tatapan kosong. Pengawal setia Pangeran masuk bersama dengan beberapa pelayan wanita yang kini membawa makanan dan minuman.


Sudah seharian Pangeran berdiam diri tanpa memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Kini mau tidak mau ia harus memaksa Pangeran agar mau makan dan minum. Pria itu tidak mau terjadi sesuatu kepada penerus selanjutnya.


"Bawa makanan dan minuman itu keluar karena aku tidak mau memakannya. Aku hanya butuh ketenangan bukan makanan!" ketus Pangeran sebelum memalingkan wajahnya.


"Letakkan semua makanan dan minuman itu di atas meja yang ada di sana," perintah pria itu tanpa peduli dengan perintah pangeran yang baru saja dikatakan.


Setelah beberapa pelayan wanita itu menata makanan di atas meja, pengawal itu meminta semua pelayan wanita untuk keluar meninggalkan ruangan. Sedangkan tangan kanan Pangeran Denzel itu masih ada di ruangan untuk memberi semangat.


"Saya sudah memeriksa semua kamera CCTV yang ada di istana. Tetapi sayangnya tidak ada petunjuk apapun. Raja tewas di istana tepatnya di dalam kamar pribadinya sendiri dalam keadaan terbunuh. Ini sama sekali sangat mencurigakan.


Sepertinya pembunuh ini benar-benar cerdas sampai-sampai ia berhasil membunuh Sang Raja tanpa diketahui oleh pengawal pribadi yang ada di istana.


Bahkan sempat-sempatnya dia menguasai CCTV hingga kita tidak memiliki bukti apapun. Tetapi anda jangan khawatir Pangeran, saya akan terus mencari bukti-bukti untuk mengungkap kebenaran." Pria itu menjelaskan apa yang dia ketahui. Berharap Pangeran Denzel tidak sedih lagi.


Pangeran Denzel masih belum mau memberikan respon. Sepertinya hatinya terlalu sedih hingga bicara saja ia malas. Bibirnya juga terlihat kering karena belum ada minum sejak tadi siang.


"Pangeran, saya mohon. Makanlah walau sedikit dan minumlah. Jika anda sakit justru pembunuh itu akan semakin senang. Kita tidak tahu apa tujuannya membunuh Raja. Bisa jadi setelah ini mereka mengincar nyawa anda."


Kali ini perkataan pria itu membuat Pangeran Denzel tersadar. "Kau benar. Tidak seharusnya aku terpuruk seperti ini. Aku harus bangkit agar bisa membalaskan dendam papa. Pembunuh itu harus mendapat balasannya," sahut Pangeran Denzel penuh amarah.


Pangeran beranjak dari kursi yang ia duduki menuju ke sofa tempat makanan dan minuman itu dihidangkan. Tiba-tiba mereka mendengar suara ketukan pintu. Pangeran memandang sekilas ke arah pintu sebelum duduk.


"Biar saya yang melihat ke depan, Pangeran. Sebaiknya Anda lanjut makan dan minum saja," ucap pria itu sebelum berlalu pergi menuju ke arah pintu.


Pangeran Denzel membenarkan posisi duduknya di sana lalu mengambil segelas air putih sebelum meneguknya secara perlahan. Dia sama sekali tidak peduli dengan sosok yang baru saja mengetuk pintu ruangan pribadinya.


Pengawal itu berdiri di depan pintu dengan bingung. Di depannya telah berdiri tangan kanan Yang Mulia Raja yang tidak lain adalah Brandon.


"Aku ingin bertemu dengan pangeran. Ada yang ingin aku bicarakan sekarang juga," ucap Brandon dengan wajah sedih.


Ternyata rencana ini benar-benar sudah sangat matang mereka persiapkan. Sampai-sampai ketika berita Yang Mulia Raja tewas sudah beredar, kini justru Brandon sudah kembali ke wajah aslinya untuk melanjutkan misi selanjutnya.


"Pangeran belum mau bertemu dengan siapapun. Dia masih butuh ketenangan saat ini. Aku baru saja berhasil membujuknya untuk makan jadi sebaiknya jangan mengganggu pangeran Denzel!" Pria itu menolak.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di sini sampai Pangeran Denzel sudah siap untuk bertemu denganku," ucap Brandon sebelum berdiri tegap sambil menatap ke arah pintu.


Tangan kanan Pangeran Denzel terlihat tidak peduli. Memang selama ini ia tidak terlalu suka dengan Brandon. Pria itu kembali menutup pintu tanpa mau memberi kepastian kapan Pangeran Denzel bisa ditemui.


Pangeran mengunyah makanannya dengan tidak semangat. Padahal jelas-jelas makanan yang dihidangkan semua adalah makanan favorit pangeran. Rasanya sangat lezat dan sangat cocok di lidah pangeran. Tetapi entah kenapa ketika masuk ke dalam mulut makanan itu justru terasa hambar. Pangeran masih saja kepikiran akan kepergian Ayah kandungnya. Kini dia benar-benar sendiri di dunia ini. Pangeran Denzel sendiri tidak tahu harus percaya dengan siapa lagi.


"Pangeran, jika anda telah selesai makan sebaiknya minum vitamin ini. Anda juga butuh istirahat." Pria itu meletakkan beberapa bulir vitamin di atas piring kecil yang ada di dekat Pangeran.


"Siapa yang ada di depan?"


"Brandon, Pangeran."


Pangeran yang tadinya ingin memasukkan makanan ke dalam mulut tiba-tiba menahan gerakannya. Pria itu sangat kaget ketika mendengar kalau Brandon sudah ada di depan kamarnya. Padahal selama ini pria itu terlihat menghilang.


"Sebaiknya Anda tidak perlu bertemu dengannya karena saat ini anda hanya butuh istirahat Pangeran," ucap pria itu kembali memperingati.


Pangeran Denzel meletakkan sendok dan garpu yang sempat dia genggam lalu meneguk air putih sampai gelasnya kosong. Tidak lupa ia meminum vitamin yang sudah disiapkan oleh pengawal pribadinya tersebut.


"Suruh dia masuk. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadanya."


Pengawal itu terlihat tidak setuju. Namun ia tidak pernah berani menentang perintah dari pangeran. "Baik, Pangeran." Pria itu menunduk hormat lalu berjalan ke arah pintu.


Ketika melihat Brandon masih berdiri di sana, pria itu langsung saja memberinya izin untuk masuk ke dalam. Bersamaan dengan itu para pelayan wanita juga dipersilakan masuk untuk membersihkan bekas makanan Pangeran Denzel.


"Selamat malam, Pangeran. Sebelumnya saya ingin mengucapkan turut berduka cita. Bukan hanya anda saja yang sedih karena kehilangan Yang Mulia Raja, tetapi saya juga kaget ketika mendengar kabar Ini. Seluruh warga Belanda juga masih tidak menyangka kalau Yang Mulia Raja akan pergi secepat ini," ucap Brandon sambil menunduk hormat.


Pangeran Denzel hanya mengangguk saja. Pria itu lalu beranjak dari sofa dan kembali menuju ke kursi kerjanya.


Pengawal pribadi Pangeran Denzel berjalan mengikuti Pangeran lalu berdiri di sampingnya. Jelas saja ia akan terus mendampingi Pangeran untuk melindungi pria itu dari bahaya.


"Kau menghilang dan sekarang tiba-tiba muncul ketika Papa sudah tiada," ucap Pangeran Denzel sembari menatap foto ayah kandungnya sendiri yang ada di atas meja.


"Ada beberapa urusan penting yang harus saya selesaikan. Bahkan Yang Mulia Raja sendiri sudah mengizinkan saya untuk pergi keluar istana. Saya pernah berjanji kepada Raja kalau saya akan segera kembali. Saya sama sekali tidak menyangka kalau ketika saya kembali, Yang Mulia Raja sudah tiada." Brandon menunduk dan menghapus air mata yang menetes seolah-olah ia benar-benar sangat kehilangan Yang Mulia Raja. Padahal yang sebenarnya terjadi air mata itu hanya air mata palsu yang sengaja ia keluarkan agar Pangeran percaya.


"Bagaimanapun juga kau adalah orang yang sangat dekat dengan papa. Aku tahu kau juga pasti akan merasakan kehilangan."


"Siapa dia? Kenapa dia tega membunuh raja sebaik Yang Mulia Raja. Yang mulia Raja itu selama ini sangat baik kepada semua orang. Kenapa masih ada saja orang yang mengincar nyawanya. Pangeran, Anda harus segera menegakkan keadilan. Anda harus segera menangkap dan menghukum orang yang sudah membunuh Yang Mulia Raja," ucap Brandon dengan bersungguh-sungguh.


"Aku akan mencari bukti-bukti untuk menangkap si pembunuh. Aku ingin kau juga membantuku dalam hal ini." Pangeran mengatur napasnya lalu memijat pangkal hidungnya.


Brandon terlihat lega ketika Pangeran tidak mencurigainya sama sekali. "Baik, Pangeran. Saya pasti akan membantu Anda. Setelah Yang Mulia Raja tidak ada lagi di dunia ini saya akan membaktikan diri saya kepada anda. Karena memang tidak lama lagi pasti anda lah yang akan menduduki posisi yang mulia raja." Brandon terlihat sangat percaya diri.


Pangeran Denzel tidak memberikan komentar apapun lagi. Pria itu hanya menunduk sambil memikirkan kenangannya bersama Yang Mulia Raja ketika masih kecil dulu.


"Kalau begitu saya permisi dulu, pangeran." Brandon menunduk hormat lagi sebelum berpaling. Pria itu menatap sekilas ke arah pengawal pribadi Pangeran Denzel. "Sebentar lagi aku akan menggeser posisimu pria tidak tahu diri. Setelah itu aku akan membunuh Pangeran Denzel. Aku akan membuat Pangeran Denzel percaya padaku 100%. Hingga akhirnya ia rela menjadikanku sebagai ahli waris atas kekayaannya ia miliki ini," gumam Brandon di dalam hati