Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Tidak Marah



Hari ini Dominic benar-benar sibuk hingga ia harus pulang larut malam. Sambil melangkah masuk ke dalam rumah, Dominic terlihat kusut dan lelah. Sepanjang perjalanan Ia terus saja memikirkan Elyna. Mereka baru saja berbaikan. Dominic tidak mau jika sampai Elyna marah padanya karena ia tidak bisa untuk mengajak Elyna ke Kasino malam ini.


"Aku masih memiliki waktu untuk membawa Elyna ke Kasino. Semoga saja dia tidak marah padaku. Hari ini aku benar-benar sibuk. Aku tidak menyangka kalau pekerjaan menjadi semakin menumpuk ketika aku terus saja menundanya," keluh Dominic sambil berjalan.


Tanpa mau ganti pakaian dan mandi terlebih dahulu, Dominic langsung saja menuju ke kamar Elyna berada. Belum juga sampai di depan kamar Elyna pria itu sudah kembali menahan langkah kakinya ketika melihat Elyna berdiri di sana dengan tatapan penuh arti.


Dominic berpikir kalau Elyna pasti marah padanya karena ia sudah pulang terlambat. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau sebenarnya Elyna ingin membahas masalah lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kasino.


"Maafkan aku," ucap Dominic sebelum Elyna marah.


"Kau baru saja pulang?" Nada bicara Elyna yang masih bersahabat justru membuat Dominic bingung. Namun pria itu merasa sedikit lega karena Elyna tidak langsung marah-marah padanya seperti tadi malam.


"Aku sudah mengirimkan kabar tapi kau tidak membalas pesanku. Aku juga sudah menyiapkan mobil jika kau ingin jalan-jalan sendiri. Memang hari ini pekerjaanku sangat menumpuk hingga Aku tidak bisa pulang lebih awal." Lagi-lagi Dominic mencari alasan. Dia sangat yakin kalau Elyna pasti marah padanya.


"Apa kau sudah makan?" tanya Elyna tanpa mau membahas masalah yang baru saja diucapkan oleh Dominic.


"Belum. Bagaimana denganmu, Elyna?" tanya Dominic balik.


"Aku juga belum makan. Apakah kau mau menemaniku untuk makan di luar? Tenang saja kali ini aku yang traktir," ajak Elyna sambil tersenyum manis.


Dominic juga tersenyum mendengar penawaran Elyna. Pria itu benar-benar bahagia karena Elyna sama sekali tidak membahas masalah keterlambatannya kali ini. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau sebenarnya Elyna sengaja mencari suasana yang tepat untuk memaksa Dominic menceritakan yang semuanya yang terjadi.


"Tidak perlu. Aku masih sanggup untuk membayar makanmu. Baiklah kalau begitu aku mandi dulu. Setelah itu kita akan pergi ke restoran paling enak yang ada di kota Las Vegas. Aku yakin kau akan ketagihan makan di sana," ucap Dominic dengan penuh percaya diri.


Elyna hanya mengangguk saja sambil tersenyum terpaksa. Wanita itu memandang Dominic yang kini kembali turun ke tangga karena memang letak kamar Dominic ada di lantai bawah.


"Sebaiknya aku juga segera bersiap-siap." Elyna masuk ke dalam kamarnya lagi.


...***...


Tidak butuh waktu lama bagi Dominic untuk bersiap-siap. Kini pria itu telah rapi dan wangi. Mereka berdua telah ada di dalam mobil yang kini meluncur cepat menuju ke salah satu restoran mewah yang ada di Las Vegas. Sepanjang perjalanan Elyna lagi-lagi tidak banyak bicara. Justru wanita itu sedang mempersiapkan kalimat yang cocok untuk diucapkan di depan Dominic nanti.


"Elyna, sepertinya ada yang sedang kau pikirkan. Kau tidak terlihat bahagia dan bersemangat malam ini. Apa terjadi sesuatu selama aku tidak ada di rumah?" Dominic memandang ke arah yang dimaksud dengan sebelum ke depan lagi.


"Tidak ada," jawab Elyna tanpa memandang. "Oh iya apa pekerja yang ada di rumahmu itu sudah lama bekerja di rumah itu. Mereka Semua terlihat sangat baik kepadaku."


"Sebenarnya hanya sebagian saja pelayan lama. Sisanya pelayan baru. Bahkan hampir semua pengawal itu adalah orang-orang baru," jawab Dominic apa adanya.


"Memangnya kenapa pengawal dan pelayan lamamu pergi? Apa mereka tidak betah bekerja di rumahmu?" tebak Elyna. Wanita itu berusaha untuk memancing Dominic agar bisa mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi.


"Mereka tidak pergi tetapi mereka tewas," jawab Dominic tanpa sadar. Pria itu memandang ke depan dengan pikiran yang kembali ke peristiwa beberapa bulan yang lalu.


Dominic terdiam. Pria itu baru sadar kalau dia telah salah bicara. Secepat mungkin Dominic berusaha mengukir senyum terpaksa. Dominic menurunkan laju mobilnya agar tidak celaka.


"Kau pasti salah dengar. Sebaiknya kita tidak usah membahas masalah mereka lagi. Semua itu sudah terjadi dan tidak ada yang perlu dibahas lagi. Sekarang lebih baik kita nikmati saja malam yang indah ini." Dominic lagi-lagi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Sepertinya apa yang dikatakan pelayan tadi memang benar adanya. Dilihat dari ekspresi Dominic sepertinya ia sedang menutupi sesuatu dariku. Malam ini aku tidak boleh sampai gagal. Aku harus membuat Dominic menceritakan apa yang sebenarnya terjadi," batin Elyna. Wanita itu berusaha membenarkan posisi duduknya lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka tiba di restoran yang sudah dipesan oleh Dominic. Sampai mereka turun dari mobil dan duduk di salah satu kursi yang ada di dalam restoran, Dominic masih belum curiga terhadap Elyna.


Begitu juga dengan Elyna yang masih menunjukkan sikap sewajarnya. Mereka memesan beberapa makanan dan minuman ketika pelayan restoran datang. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Elyna kembali memandang Dominic untuk mencari sedikit demi sedikit informasi yang ingin dia ketahui.


"Selain kau. Apa ada orang lain yang tinggal di rumah itu. Maksudku apa kau masih memiliki orang tua atau saudara?'


"Ibuku sudah lama meninggal. Tapi aku masih memiliki papa dan seorang adik perempuan. Tapi dia sudah lebih dulu menikah dan sekarang sedang mengandung. Beberapa waktu yang lalu adikku memintaku dan juga Papa untuk datang mengunjungi rumahnya. Dia bilang dia ingin kami ada di sana. Karena tidak mau kandungannya kenapa-kenapa kami menuruti permintaannya."


"Lalu kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau di sana bersama dengan adikmu?" Elyna terlihat bingung.


"Aku mencari alasan agar bisa keluar dari rumah itu. Di sana sangat membosankan. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dia juga sudah memiliki suami. Setelah menikah dia sudah tidak lagi membutuhkan bantuanku." Dominic membayangkan Faith dan Zion sambil tersenyum hangat.


Elyna mengangguk pelan sebelum melontarkan pertanyaan berikutnya. "Apa kau tinggal di rumah itu sejak lahir bersama dengan keluargamu?"


Dominic menggeleng pelan. "Baru dewasa ini saja aku menetap di Las Vegas dan membeli rumah di situ. Sebelumnya aku tinggal di apartemen. Tempat tinggalku tidak menentu. Aku menyewa apartemen di mana lokasi kerjaku berada. Aku tidak mau menjadi beban orang tuaku meskipun saat itu aku tahu kalau orang tuaku sanggup untuk membiayai hidupku. Meskipun aku tidak bekerja."


"Kau benar-benar laki-laki yang mandiri. Sekarang kau hanya perlu menikmati hasil jerih payahmu itu. Aku sangat kagum denganmu Dominic," puji Elyna sambil tersenyum manis.


Beberapa chef muncul lalu menghidangkan makanan yang dipesan oleh Elyna dan Dominic. Tanpa pikir panjang mereka segera melahap makanan itu karena memang mereka sangat lapar. Elyna masih menahan hasratnya untuk bertanya. Wanita itu hanya ingin bicara ketika perut Dominic sudah dalam keadaan kenyang.


"Bagaimana? Makanannya apa tidak enak? Kenapa kau tidak menghabiskan makananmu?" tanya Dominic penasaran. Padahal jelas-jelas Dominic tahu kalau makanan yang dihidangkan di meja itu terasa sangat lezat.


"Aku terlalu banyak minum di rumah tadi. Jadi sekarang perutku terasa penuh. Memang aku akui kalau makanan di sini sangat enak. Lain kali bawa aku ke sini lagi."


"Bukankah tadi sudah kubilang kalau kau pasti akan ketagihan untuk makan di tempat ini." Dominic segera menyelesaikan makan malamnya.


"Dominic, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."


"Katakan saja. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu," sahut Dominic dengan santai. Pria itu mengambil segelas air putih yang ada di hadapannya lalu meneguknya secara perlahan.


"Apa aku yang sudah membunuh pelayan dan pengawal yang ada di rumahmu?"