LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 9 Thinking 'Bout Life, You & Me



" Ada apa dengan kamu, Pras ? " Distha bertanya setelah Prasta kembali duduk.


Prasta tersenyum getir.


" Kak Mitha udah cerita, kan ? " tanya balik Prasta.


" Aku pengen tau dari kamu, bukan dari Kak Mitha ataupun orang lain, " sahut Distha.


" Ga ada apa-apa sih, masalah biasa, " ucap Prasta terkekeh.


" Ga biasa menurutku, melihat sikapmu yang berubah 180 derajat beberapa hari ini. Kamu berubah diem, ga ada semangat, sering melamun dan yang lebih parah, kamu merokok, " tutur Distha.


" Merokok itu biasa, Dis. Apalagi aku cowok, " kilah Prasta.


" Ck ! Sejak kapan lagi kamu bisa ngomong begitu, merokok itu biasa. Bukan kamu ! " ucap Distha sedikit ketus.


" Ok, kalo kamu masih ga mau cerita. Itu hak kamu. Aku cuma ga mau lihat sahabatku terpuruk hanya karena masalah cinta, " imbuh Distha.


Prasta terdiam dan menunduk. Ia ingin menceritakan masalah yang dihadapinya pada Distha dan kedua sahabatnya yang lain. Namun ia tidak tahu harus dari mana memulainya.


" Apa yang kamu tau dari Kak Mitha ? " tanya Prasta kemudian.


" Kak Mitha hanya cerita tentang kejadian di cafe temannya itu. Kamu juga ga cerita apapun sama Kak Mitha, kan ? " Distha berkata sesuai yang Kak Mitha tahu pada saat kejadian di cafe milik Bian.


" Entahlah, Dis. Mungkin dia emang bukan untuk aku. Emang harus berakhir, aku saja yang terlalu berharap. Apalah aku bila dibandingkan dengan Bian, " kesah Prasta.


" Emang sebenarnya apa masalah kalian ? " tanya Distha ingin tahu.


Prasta tersenyum dan berkata, " Salahku juga terlalu cepat ngomong sama orang tuanya jika aku serius dan ingin melamarnya. Kedengaran konyol, kan ? Anak kuliahan belum ada pekerjaan tetap udah berani mau melamar. Konyol dan bodoh. " Prasta tertawa mencibir dirinya sendiri.


" Lalu orang tua Renata bilang kamu konyol dan bodoh, begitu ? " Distha agak sedikit kurang paham dengan apa yang Prasta ucapkan.


" Ga sama sekali. Orang tuanya senang aku mengaku serius dan ingin melamar anaknya, " jelas Prasta.


" Lalu, apa masalahnya ? " Distha menautkan kedua alisnya, ingin tahu masalahnya dimana.


" Masalahnya, anaknya ga bisa terima dengan niatku itu ! " sungut Prasta.


" Jadi Renata menolak kamu untuk serius menjalani hubungan dengan melamarnya ? " tanya Distha menegaskan perkataan Prasta.


Prasta mengangguk tegas.


" Konyol dan bodohnya diriku ! " tukas Prasta tersenyum kecut.


" Sebentar. Kamu serius ingin melamar Renata ? Lalu menikah dalam waktu dekat ? " tanya Distha mencecar Prasta, meyakinkan apa yang dilakukan sahabatnya itu adalah benar.


" Aku ga pernah main-main untuk sebuah hubungan sama cewek. Lagipula orang tuanya yang bertanya padaku lebih dulu soal hubungan kami. Aku bukan laki-laki yang tak bertanggung jawab, Distha ! Seenaknya mempermainkan anak orang. Aku mencintai Renata. Ah, sudahlah ! Aku malas bicara soal ini. Sorry, Dis ! " Prasta beranjak dari duduknya, dadanya sesak jika mengingat peristiwa itu. Ia ingin melupakan semuanya, merelakan semua yang terjadi padanya adalah sebuah takdir yang memang harus dia jalani. Dan untuk semua itu, ia butuh waktu. Tidak mudah baginya untuk melupakan begitu saja gadis yang sangat ia cintai.


Distha terbengong mendengar dan melihat kepergian Prasta yang terburu-buru dan terlihat emosi. Distha mengedikkan bahunya sembari bergumam sendiri, " Inikah cinta ? Emang rumit ! "


******


Renata hendak beranjak pulang saat Bang Hendra mengatakan ada yang mencarinya.


" Sapa, Bang ? " tanya Renata.


" Yang jelas bukan Prasta, " sahut Bang Hendra.


" Sapa, sih ? " Renata benar-benar penasaran.


" Daripada nanya mulu, mending buruan disamperin, Neng ! " ujar Bang Hendra yang kemudian berlalu meninggalkan Renata yang masih saja bengong di ruang penyiar.


Renata pun bergegas beranjak ke ruang tamu.


Matanya melebar melihat seseorang duduk di sofa ruang tamu studio.


" Bian ? "


" Hai, Hun ! " Bian tersenyum lebar membalas sapaan Renata.


" Kamu.... "


" Kenapa ? Heran, aku tau tempat kamu kerja ? Kok ga bilang kalo kamu penyiar di radio ini, hem ? " cecar Bian.


" Ada apa cari aku di sini ? " tanya Renata malas.


" Jemput kamu dong, Hun.... " ucap Bian diikuti dengan senyum menggodanya.


Renata menatap lelaki tampan di hadapannya. Senyumnya terlihat penuh pesona. Ah ! Kenapa denganku ?


" Aku bisa pulang sendiri, Bi. Udah aku bilang, tolong jangan pernah temui aku lagi, " ujar Renata sedikit kesal. Ia pun beranjak dari duduknya hendak pergi dari tempat itu. Namun, dengan cepat Bian menahannya.


" Ata, aku ingin berbicara denganmu ! * sahut Bian.


" Emang dari tadi kita ngapain ? "


" Maksudku aku ingin kita bicara berdua. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, " jelas Bian menatap mata gadis yang masih disayanginya.


" Please.... "


" Ok, bicaralah ! " Renata kembali duduk di sofa, mempersilahkan Bian untuk bicara.


" Ata, please... jangan berlagak tidak tau maksudku. Ikutlah denganku, kita bicara di tempat lain dan sekalian aku antar pulang, " ujar Bian.


" Apa itu harus ? " tanya Renata kembali.


" Ta, tolong dong ! Jangan buat aku gila dengan sikapmu ! " sungut Bian sedikit terpancing emosinya.


" What ? Aku buat kamu gila ? Yang ada, kamu yang sempat buatku hampir gila ! " tukas Renata yang beranjak pergi meninggalkan Bian begitu saja.


" Ata ! Ta, please deh ! Tolong dengerin aku dulu, " seru Bian memohon.


Renata menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghampiri Bian.


" Kamu tunggulah di luar. Aku ambil tasku dulu, " ujar Renata kemudian berbalik masuk untuk mengambil tasnya.


Bian tersenyum menang.


" Siap, Hun ! Aku tunggu di luar. Yess ! " seru Bian kegirangan.


Renata memutar bola matanya sembari menghela napasnya singkat.


" Udah buruan, ntar ditinggal nyesel lho ! Cakep n tajir pula keknya ! " celetuk Bang Hendra sembari terkekeh.


" Tinggal aja ! Bodo amat ! " sungut Renata, ia benar-benar kesal. Tapi memang ia harus berbicara dengan Bian, meluruskan semuanya.


Renata pun bergegas pergi setelah berpamitan pada Bang Hendra dan lainnya.


Bian membawa Renata ke cafe nya. Cukup ramai pengunjung setelah jam makan siang yang berakhir satu jam lalu.


" Ke ruanganku aja, yuk ! " ajak Bian.


" Uumm... aku pengen di sini aja, " pinta Renata yang ingin duduk di sudut ruangan dengan jendela kaca yang dapat melihat keluar cafe.


" Yakin mau di sini ? " tanya Bian.


Renata mengangguk, ia langsung mengambil tempat duduknya.


" Mau minum apa ? " tanya Bian lagi sambil duduk di hadapan gadis manis itu.


" Iced lemon tea with less sugar, " jawab Renata.


Bian tersenyum simpul dan memanggil salah satu pelayan cafe untuk membuatkan minuman dan makanan ringan untuk mereka.


Setelah pelayan itu berlalu, Bian menatap Renata yang sedang memandang ke luar jendela cafe.


" Hun.... "


" Please, Bi. Jangan pernah kamu memanggilku seperti itu, " ucap Renata memalingkan wajahnya menatap Bian dengan pandangan tak suka.


" Kenapa ? Aku terbiasa memanggilmu seperti itu, Ata, " sahut Bian.


" Itu dulu. Sekarang biasakan dirimu untuk tidak memanggilku seperti itu, " tukas Renata.


" So, apa yang mau kamu bicarakan ? " tanya Renata kemudian yang tak mau berbasa-basi lagi.


" Aku ingin kita seperti dulu, Ata, " Bian berkata menatap Renata dengan raut wajah sendu dan merindu. Ya, lelaki itu sesungguhnya sangat merindukan gadis di hadapannya.


" Aku rindu kamu, Ata. "


Terkejut, reaksi Renata mendengar perkataan Bian. Hatinya berdebar kencang, ia tatap wajah tampan di hadapannya. Mencari sesuatu tentang maksud semua ucapannya.


Bian meraih tangan Renata perlahan, digenggam dan diusapnya lembut telapak tangan gadis itu.


" Aku tak bisa melupakanmu, Renata Eka Andara. Aku kembali karena kamu. Aku di sini karena aku sayang kamu. Ah tidak ! Lebih tepatnya aku mencintaimu. Ya, aku mencintaimu, " tutur Bian bersungguh-sungguh, menatap Renata penuh cinta.


Renata terdiam terpaku mendengar semua penuturan Bian. Tidak salah dengar kah ? Napasnya terhenti, dadanya sesak sekali. Benarkah apa yang baru saja didengarnya ?


" Maafkan aku, Ata. Aku bersalah pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. Maafkan aku yang baru menyadari perasaanku setelah aku jauh darimu. Maafkan aku, " sesal Bian, kedua tangannya menggenggam erat tangan Renata.


Renata masih terpaku. Waktu serasa berhenti berputar. Ia tidak dapat berpikir jernih. Tiba-tiba terlintas di kepalanya bayangan Prasta. Lelaki yang telah menyembuhkan lukanya. Lelaki yang membuat dirinya bisa tertawa kembali, membuatnya kembali percaya akan cinta. Lalu ia pun tersadar.


Seketika ia menarik tangannya yang digenggam Bian.


" Sorry, " ucap Renata singkat, sedikit salah tingkah.


Bian tersentak. Ia mengerutkan dahinya, menatap Renata.


" Lalu Windy ? " tanya Renata ragu.


Bian terkejut dengan pertanyaan Renata.


" Dia... Aku tak pernah punya hubungan apapun dengannya, " jelas Bian gugup.


" Oh ya ? Bukannya dulu alasan kamu pergi ke Swiss karena dia ? " cecar Renata, kedua tangannya bersedekap di dadanya. Sesungguhnya ia malas membahas tentang masa lalu. Membuatnya tidak nyaman karena itu menyakitkan buatnya.


" Ta, maafkan aku, " ucap Bian memohon.


" Sorry, aku udah melupakan semuanya, Bi. Kita udah punya kehidupan masing-masing saat 2 tahun lalu kamu pergi. "


Renata berdiri dari duduknya, membuat Bian pun berdiri mengikuti Renata.


" Ta, please give me a chance to prove, " mohon Bian.


Renata menatap Bian. Laki-laki itupun menatapnya penuh harap.


" Bian, Renata. "


Suara seseorang menyadarkan mereka dan seketika pandangan mereka beralih ke asal suara.


" Mitha ! Eh, udah lama ? " sapa Bian pada Kak Mitha yang baru saja datang.


" Lumayan sih, tadi aku ketemu temanku dulu di depan itu, " ujar Kak Mitha menunjuk ke salah satu meja yang ada di dekat pintu masuk.


" Hallo, Kak, " sapa Renata tersenyum pada Kak Mitha, sedikit canggung.


" Hai, Ren, " balas Kak Mitha singkat.


" Kita ke ruanganku aja, Mith, " ajak Bian kemudian, lalu ia berjalan menuju ruangannya.


" Kakak sendiri ? " tanya Renata ragu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan cafe.


Kak Mitha tersenyum tipis melihat sikap Renata.


" Cari Prasta ? Kakak datang sendiri, Ren. "


Sejenak Kak Mitha terdiam, lalu melanjutkan ucapannya.


" Kakak ga tau masalah kalian apa. Kakak juga ga tau hubungan kamu dan Bian sesungguhnya bagaimana. Prasta sekarang tak lagi sama dengan Prasta yang Kakak kenal. Saran Kakak, ada baiknya kalian berdua bicara baik-baik dan selesaikan masalah kalian. Sebelum kalian menyesali semuanya, " tutur Kak Mitha sebelum kemudian beranjak dari tempat mereka.


" Tunggu ! Maksud Kakak apa ? Prasta kenapa ? " cecar Renata.


Kak Mitha menoleh ke arah Renata dan berjalan mendekati gadis itu.


" Kamu harusnya lebih tau bagaimana dan seperti apa Prasta. Kamu itu segalanya buat dia, Renata, " Kak Mitha tersenyum, sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan Renata yang berdiri mematung di tempat itu.


Bicara baik-baik dengan Prasta ? Itu yang ia ingin lakukan sejak dulu. Tapi apa ? Menemui dan melihatku pun dia tak mau. Hanya sekedar menelpon atau kirim pesan pun tidak, gumamnya dalam hati.


******


Prasta sedang asyik melihat-lihat kamera dan aksesorisnya di salah satu stand pameran alat-alat elektronik di sebuah mall ketika tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


" Kak Prasta ! "


Prasta pun menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya.


" Hey, Rakha ! " Prasta tersenyum menepuk lengan Rakha, adek Renata.


" Apa kabar, Kak ? " tanya Rakha.


" Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri, apa kabar ? " tanya balik Prasta.


" Baik, Kak. Kakak udah lama banget ga pernah ke rumah. Papa dan Mama sering nanyain kakak, " ujar Rakha sembari sesekali melihat beberapa tipe kamera yang ada di display stand yang mereka kunjungi.


Prasta tersenyum simpul.


" Papa dan Mama sehat, Kha ? Maaf ya, kakak lagi sibuk. Banyak yang dikerjain. Kamu ke sini sama siapa ? "


" Tadi sama teman, tapi dia udah pulang duluan. Papa dan Mama sehat. Kakak sibuk atau lagi berantem sama Kak Ata ? "


Prasta terdiam mendengar pertanyaan Rakha.


" Sejak kejadian malam itu, kakak udah ga pernah lagi datang ke rumah. Kak Ata sering menangis di kamarnya setelah kejadian itu, " lanjut Rakha dengan raut wajah serius.


" Kakak benar sibuk, Kha. Kakak kuliah dan kerja, harus bagi waktu. Mungkin lain kali kakak akan mampir, kalo udah slow, ya, " tutur Prasta, tersenyum simpul pada adek laki-laki Renata.


" Oh ya, kamu ke sini mau beli ponsel atau kamera ? " tanya Prasta kemudian mengalihkan pembicaraan.


Rakha tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Papa udah belikan kamera 2 minggu yang lalu. Sebenarnya aku mau belinya sama kakak sih, tapi karena kakak ga pernah ke rumah jadinya pergi belinya sama Papa, " ucap Rakha.


Prasta terkekeh, " Ngapain kok belinya sama kakak ? Yang mau belikan dan yang punya duit buat beli kan Papa, Kha. Bukan kakak. "


" Tapi kan, kakak yang lebih tau soal kamera. Lagian sapa tau beli kamera sama kakak bisa dapat diskon. Kan lumayan bisa buat ngopi, duit sisanya, " sahut Rakha tertawa.


Prasta pun ikut tertawa sembari menepuk lengan Rakha. Sesungguhnya ia merindukan suasana bercanda bersama keluarga Renata. Keluarga yang hangat dan penuh rasa kekeluargaan.


" Kak, aku pulang dulu, ya, " ucap Rakha menyadarkan lamunannya.


" Kok pulang, ga mau lihat-lihat dulu ? " tanya Prasta.


" Udah sore, aku harus jemput Kak Ata, " sahut Rakha.


Prasta mengangguk.


" Ok, Rakha. Salam buat Papa dan Mama ya, kamu hati-hati di jalan, " ujar Prasta.


" Kak Ata ga dikasih salamnya ? " tanya Rakha tersenyum nakal.


Prasta hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya.


Dadanya kembali sesak mengingat gadis yang dicintainya. Ya, Prasta masih mencintai gadis itu. Teramat mencintainya. Ia berusaha mati-matian melupakan gadis yang membuatnya jatuh hati dengan kesederhanaannya meskipun keluarganya dari golongan berada.


Hampir 2 bulan sejak kejadian di cafe itu, ia tidak lagi pernah menghubungi atau menemui Renata. Walaupun gadis itu pernah beberapa kali mengiriminya pesan dan menelponnya, tak sekalipun ia membalas pesannya atau menghubungi kembali gadis itu.


Baginya kejadian di cafe itu sudah menjelaskan semuanya. Ia ingin melupakan semuanya. Kuliah dan bekerja dilakoninya dengan giat.


Saat ini, Prasta sedang mengajukan magang kerja di salah satu perusahaan advertising besar di Surabaya. Ia juga mengajukan magang kerja di sebuah media massa terbesar di kota ini juga. Ia berharap mendapat panggilan dari salah satu perusahaan tersebut.


Atrium mall tempat diadakannya pameran elektronik semakin sore semakin ramai.


Suara boy band asal Irlandia, Westlife, menggema di atrium mall tersebut.


🎢🎢


Most guys will get high when feeling low


But I don't think that that's the way to go


Sometimes I'll be sitting on my own


Thinking 'bout life, thinking 'bout you and me


How do you lose the one you love?


After giving it all, you gave it up


Maybe my love wasn't enough


You think you know, but you never can


How do you lose your only plan?


Well darling, just give me one more chance


And I'll give you everything I have


I'll try to be a better man


🎢🎢


Prasta menghela napasnya panjang, mencoba menetralkan hatinya. Benar kata Saka, sahabatnya, mencoba berdamai dan mengikhlaskan mungkin akan lebih baik walaupun itu memang menyakitkan.


Tbc





**Hello Cintaaaa πŸ’—πŸ’—


Apa kabar kalian ? 5 days full mati gaya eikeh, maafken πŸ™πŸ™


Eikeh butuh piknik n me-refresh otak yg udah over space 🀧


Thank you udah mau baca karya recehku


Banyak terima kasih, cinta & sayang yg udah baca, like & rated juga vote πŸ€—πŸ˜˜


Jangan lupa jaga kesehatan selalu πŸ’—πŸ’—πŸ’—**