
HAPPY READING ☺️
Sebuah mobil Expander hitam berhenti tepat di depan sebuah rumah bertingkat dua dengan pagar besi berwarna putih. Tak lama kemudian, seorang lelaki tinggi bertubuh atletis dan berkulit putih keluar dari mobil itu dengan sebuket mawar merah di tangannya. Ia tersenyum dan berjalan memasuki halaman rumah kekasihnya.
Sementara di teras rumah itu, tampak Bu Nia sedang duduk-duduk sambil berbincang santai bersama putranya, Rakha. Keduanya berhenti berbincang ketika menyadari kedatangan seseorang yang mereka kenal, Bian.
"Malam, Tante! Hai, Kha!" salam Bian dengan senyum semringah.
"Malam," sahut Bu Nia, senyum tipis terbit di bibirnya. Sementara Rakha bergeming, tetapi kedua netranya tak lepas menatap kekasih kakaknya itu dengan lekat.
"Ata-nya ada, kan?" tanya Bian, masih dengan senyum lebar mengembang di bibirnya.
"Duduk dulu, Bian. Tante panggil Ata dulu, ya," ujar Bu Nia sebelum beranjak masuk ke dalam rumah untuk memanggil anak gadisnya.
"Hai, Kha! Gimana basketnya?" sapa Bian pada Rakha yang berdiri dari duduknya hendak masuk ke dalam rumah.
"Baik," sahut Rakha dengan raut datar. "Sorry, aku masuk dulu!" imbuh adik lelaki Renata itu, berlalu meninggalkan Bian yang masih berdiri di tempatnya dengan senyumnya yang kaku.
Bian menghela napasnya panjang, lalu duduk di kursi teras dan meletakkan buket bunga mawar merah yang dibawanya di atas meja kecil di hadapannya. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi teras yang terbuat dari rotan sintetis, tanpa menyadari kehadiran Renata yang berdiri di ambang pintu sembari menatapnya dengan raut sendu.
Perlahan Renata berjalan mendekat dan duduk di kursi teras yang kosong tepat di sisi kiri di seberang lelaki yang pertama kali membuatnya jatuh cinta kala mereka masih berseragam putih abu-abu. Mereka duduk di kursi dengan meja sebagai pembatasnya.
"Hai, Sayang!" Bian sedikit terkejut mendapati kekasihnya yang tiba-tiba sudah duduk di seberang kirinya. Lelaki itu menatap lekat Renata dengan menampilkan senyumnya yang menawan. Ia meraih buket bunga mawar yang dibawanya tadi dari atas meja, lalu ia berdiri dan menghampiri gadis itu. Dengan posisi kedua lutut yang bertumpu di lantai, ia memberikan buket bunga mawar merah itu kepada Renata.
"So happy of your graduation day. Congratulation, Baby! Proud of you, Hun," ucap Bian dengan kedua netra berbinar menatap gadisnya dengan senyum bahagia.
Renata bergeming untuk sesaat sembari menatap buket bunga mawar merah di tangan kokoh lelaki penggemar olahraga basket itu. Lalu pandangannya beralih pada lelaki berwajah tampan di hadapannya. Perlahan gadis yang juga penggemar olahraga basket itu menarik kedua sudut bibirnya, seulas senyuman pun terbit di bibir merahnya yang terlihat basah karena lipgloss yang dipakainya.
Gadis itu tidak bisa menolak pesona senyuman menawan milik Bian dengan tatapan netranya yang tajam seolah menembus ke dasar hatinya.
"Thank you so much!" balas Renata akhirnya, binar bahagia terpancar dari parasnya yang manis. Buket bunga mawar merah itu kini beralih ke tangannya, mencium wangi bunga itu dengan mata terpejam untuk beberapa saat.
Tanpa ragu, Bian mendaratkan bibirnya di pipi Renata dan menciumnya dengan sayang.
Paras manis Renata tersipu menerima perlakuan Bian. Rautnya berubah merona.
"Thank you again!" ucap Renata tulus. Sebelah tangannya mengusap lembut rahang tegas Bian.
"I love you, Hun." Bian menggenggam jemari Renata yang masih menempel pada rahangnya.
"Maaf tadi nggak bisa datang. Ada kerjaan yang nggak bisa aku tinggal," lanjut lelaki itu.
Renata menghela napasnya pelan, lalu tersenyum pada lelaki yang masih duduk berlutut di hadapannya.
"Sebenarnya aku kecewa. Tapi ... Ya, udah! Aku sadar siapa kamu," ungkap Renata jujur.
Bian tersenyum kecil, menimbulkan sedikit lekukan di kedua pipinya. "Sorry, Hun! Forgive me, please!" pinta lelaki itu dengan puppy eyes-nya. "Uummm ... by the way, emang aku ini siapa?" tanya Bian dengan sebuah senyuman miring.
"Kamu itu ... laki-laki super sibuk! Super padat jadwalnya! Enaknya dimaafin, nggak, ya?" gumam Renata, netra beningnya melirik lelaki tampan di hadapannya dengan bibir mengulum senyuman.
Masih memasang tatapan puppy eyes, Bian bergeming dengan posisinya. bibirnya menyunggingkan senyuman terbaiknya.
"Maaf, Sayang!" ucap Bian memohon, kedua tangannya menggenggam tangan Renata yang masih memegang buket bunga mawar darinya.
"Please ...." Bian memohon, nada suara lelaki itu terdengar penuh penyesalan.
Renata menghela napasnya singkat. Ia meletakkan buket bunga pemberian Bian di atas meja. Lalu menatap dalam pada lelaki dengan senyum menawannya itu. Dan lelaki itu menyambut tatapan kekasihnya dengan lekat. Senyum menawannya terus mengembang di bibirnya. Pandangan keduanya terkunci untuk beberapa saat. Manik bening milik Renata menyelisik manik hitam Bian, mencari sesuatu yang sangat diinginkannya saat ini. Kejujuran dan ketulusan.
"Hun ...." Bian memecah keheningan keduanya, lalu ia membingkai wajah Renata dengan kedua tangannya. Kedua netra-nya menatap dalam manik bening kekasihnya.
"I-love-you ... so-much." Lirih lelaki itu berucap dengan penekanan di setiap kata. Tatapan sendu dan dalam menghujam manik bening Renata. Gadis itu terpaku menatap lelaki yang baru saja mengucapkan pernyataan cinta yang entah sudah berapa kali keluar dari bibirnya. Tak dipungkiri, hati gadis itu menghangat. Perasaannya membuncah bahagia mendengar pernyataan cinta dari lelaki yang sesungguhnya pernah meninggalkannya begitu saja beberapa tahun yang lalu.
Renata merasakan hangat di kedua pelupuk netranya. Bibirnya bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu.
"I promise, Hun! This won't happen again. I'll try! Please, trust me!" tegas Bian meyakinkan Renata.
Kedua tangan Renata memegang tangan Bian dan perlahan menjauhkannya dari wajah gadis itu. Renata memejamkan kedua netranya dan seketika cairan bening di pelupuk netranya luruh.
"Hey, Baby!" Bian kembali membingkai wajah Renata dan mengusap lembut wajah gadis itu untuk menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Sayang, please ... Maafkan aku!" ucap Bian sedikit panik.
Renata menatap lekat kedua netra Bian.
"Berjanjilah padaku, Bi! Janji, kamu akan selalu ada bersamaku. Berjanjilah untuk selalu menjadi orang pertama yang aku butuhkan dan tidak akan pernah meninggalkan aku lagi, apa pun yang terjadi," pinta Renata diiringi isak tangis yang sedikit tertahan. "Itu jika memang benar kamu tulus mencintaiku," ujar gadis itu selanjutnya.
"As I said, I'll try and I promise!" sahut Bian, lalu merengkuh tubuh gadis yang masih terisak itu ke dalam pelukannya.
*****
"Rakha! Rakha!" pekik Bu Nia dengan berjalan tergopoh-gopoh keluar dari kamar anak gadisnya. Tangannya menggenggam erat sebuah kertas putih dengan tulisan tangan anak gadis satu-satunya.
Rakha yang mendengar namanya dipanggil dengan kencang oleh sang Mama segera menghambur keluar kamar dan menemukan wanita paruh baya itu terisak di depan kamarnya.
"Mama! Ada apa?" tanya Rakha kebingungan. Sang Mama terisak sembari menunjukkan kertas di tangannya.
"Kakak kamu ...." lirih Bu Nia, isak tangisnya pun pecah.
Tanpa bertanya lagi, Rakha menyambar kertas itu dan membacanya dengan kening terlipat dalam dan wajah yang menegang.
Untuk yang tercinta, Papa dan Mama
Maaf!
Maafkan Ata, Pa, Ma. Maafkan Ata, kali ini Ata tidak bisa menuruti perkataan Papa dan Mama. Tapi bukan berarti Ata tidak ingin bersama kalian. Bukan berarti Ata tidak mencintai dan menyayangi Papa dan Mama. Bukan itu. Ata sangat mencintai dan menyayangi Papa dan Mama melebihi siapa pun. Ata juga sangat menyayangi Rakha. Kalian segalanya, semangat hidup Ata.
Ata ingin mewujudkan keinginan Ata, masa depan Ata. Kesempatan ini yang sudah lama Ata tunggu dan Ata inginkan, ada di depan mata. Ata nggak mungkin melepasnya, Pa, Ma. Ata ingin meraihnya, yang mungkin belum tentu ada lain kali. Yang belum tentu bisa dimiliki orang lain. Ata juga ingin belajar mandiri. Ata hanya ingin menjadi anak yang bisa mandiri tanpa bergantung pada orang tua. Ini saatnya, Pa, Ma. Biarkan Ata berjuang untuk masa depan Ata. Doa Papa, Mama dan Rakha yang Ata minta sekarang dan untuk seterusnya.
Dan tolong, jangan kaitkan semua ini dengan Bian. Memang ini semua berkat dia. Tapi bukan berarti dia mempengaruhi Ata. Bukan! Ini murni keinginan Ata. Ata yang meminta dia untuk mencarikan informasi mengenai pekerjaan yang sangat Ata inginkan. Mencarikan kesempatan yang memungkinkan untuk mewujudkan keinginan Ata. Dan dia lah yang support Ata. Hanya dia yang saat ini selalu mengerti keinginan Ata.
Sekali lagi maafkan Ata, telah membuat Papa dan Mama kecewa. Ata janji, akan memberikan yang terbaik untuk kalian. Ata janji akan memberikan kabar pada kalian selama di Jakarta.
Untuk adik tersayangku, Rakha
Titip Papa dan Mama ya, tolong jaga mereka dengan baik. Dan tolong jangan jadi pembangkang seperti Kakak. Cukup Kakak yang membangkang. Patuhi Papa dan Mama ya, Dek. Kuliah yang rajin, main basket yang disiplin. Dua-duanya sama pentingnya. Jangan mengorbankan salah satu, karena keduanya aset untuk masa depan kamu. Tolong jangan kecewakan Papa dan Mama. Be a good man!
Ata menyayangi kalian semua.
Ata
Tanpa sadar, anak lelaki itu meremas kertas itu setelah membaca kalimat demi kalimat yang tergores di sana. Kakaknya pergi dari rumah. Nekat pergi tepatnya! Karena sebelumnya, kedua orang tuanya melarang sang Kakak pergi ke Jakarta untuk mengejar mimpinya, meraih masa depan yang diinginkannya.
Bian. Laki-laki brengs*k itu telah membawa kakaknya pergi. Rakha mendengkus, otot rahangnya terlihat mengeras. Beberapa saat kemudian, ia tersadar dari semua kekacauan yang terjadi pada sore hari menjelang Maghrib itu.
"Mama!" Rakha melihat sang Mama terduduk lesu di sofa yang ada di dekat tangga dengan wajah yang berurai air mata. Si Bibi, asisten rumah tangga keluarga itu, yang entah kapan datangnya, sudah berada di samping Bu Nia, berusaha untuk menenangkan sang Majikan.
Rakha duduk di samping kiri sang Mama, merangkul bahu wanita yang melahirkannya dan memeluknya sayang.
"Bi, tolong ambilkan minum buat Mama, ya," titah Rakha, yang segera mendapat anggukan dari wanita yang sudah hampir 8 tahun bekerja dengan keluarga itu.
Bu Nia masih menangis dalam pelukan putranya sembari menyebut nama anak gadisnya berulangkali.
"Tenang, Ma. Kak Ata pasti baik-baik aja. Mama tenang dulu, ya!" Rakha mengusap lembut punggung sang Mama penuh sayang.
"Papa, Kha!" rengek Bu Nia, kepala wanita paruh baya itu mendongak dan menatap Rakha masih dengan wajah yang berurai air mata.
"Iya, Rakha hubungi Papa sekarang. Tapi Mama berhenti dulu nangisnya, tenang dulu, ya," sahut Rakha cepat.
"Bukan itu! Papa pasti marah besar kalau tahu kakak kamu pergi," jelas Bu Nia sembari menyeka air mata di kedua sudut netranya menggunakan jemari tangannya. Tangisannya sudah mulai mereda, hanya sesekali terdengar sesenggukan kecil.
"Nggak akan, Ma. Udah, Mama tenang, ya," ujar Rakha menenangkan sang Mama, meskipun sebenarnya perasaan dan pikirannya juga sedang berkecamuk.
"Ini airnya, Bu. Diminum dulu," ujar Bibi menyerahkan gelas berisi air putih hangat kepada majikannya, yang langsung disambut oleh Rakha.
"Makasih, Bi," ucap Rakha. Anak lelaki itu lalu membantu memegang gelas yang berisi air putih hangat untuk diminum sang Mama.
"Pelan-pelan, Ma."
Bu Nia menyesap air putih hangat itu hingga setengah gelas. Wanita paruh baya itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Rakha meletakkan gelas di atas meja di depan sofa panjang yang mereka duduki.
"Maaf, Bu, Mas Rakha. Mbak Ata kapan perginya, ya? Bibi masih ketemu Mbak Ata waktu pulang dari kampus. Bahkan tadi masih minta tolong Bibi buat motongin pepaya," tutur Bibi dengan raut bingung. Wanita berusia akhir 40 tahun itu terlihat bingung dan gelisah karena tidak mengetahui kepergian anak gadis majikannya.
"Mungkin perginya pas Bibi istirahat di kamar," cetus Rakha.
Si Bibi mengangguk-angguk. "Oh, iya, benar! Sebelum azan Asar sepertinya. Karena setelah azan Asar selesai, Bibi keluar kamar dan tidak menemukan Mbak Ata. Bibi pikir, Mbak Ata-nya ada di kamar," ujar wanita itu membenarkan.
Ya, Rakha dan Bu Nia saat itu memang masih belum berada di rumah. Rakha masih di kampus dan Bu Nia masih dalam perjalanan pulang ke rumah dari tempatnya mengajar.
"Ya, Allah ... Ata ...! Kamu kok tega sama Mama, Nak! Tega banget kamu!" Bu Nia kembali menangis sembari bergumam apa saja.
"Bu ... Sudah, Bu. Mbak Ata pasti baik-baik saja. Maafkan saya, karena nggak tahu perginya Mbak Ata," cicit si Bibi.
Rakha kembali merengkuh tubuh sang Mama ke dalam pelukannya. Mengusap perlahan punggung wanita pertama yang sangat dicintainya.
"Udah, Bi. Bukan salah Bibi, kok." Rakha berkata dengan tangan yang tak berhenti mengusap punggung sang Mama penuh sayang.
"Mama istirahat dulu, ya. Ayo, Rakha antar ke kamar," bujuk Rakha, perlahan mengurai pelukannya dan menyeka wajah sang Mama yang basah oleh air mata.
Bu Nia mengangguk menatap putra bungsunya dengan pandangan nanar dan kedua netra yang sembab. Tangisnya sudah mereda, tetapi masih tersisa isakan yang tertahan. Rakha menuntun sang Mama dibantu si Bibi menuju ke kamarnya.
"Bi, tolong nyalakan AC dan minta tolong buatkan teh hangat untuk Mama," titah Rakha pada si Bibi ketika sampai di kamar orang tuanya.
"Baik, Mas." Bibi segera melaksanakan perintah putra majikannya dengan sigap.
"Makasih ya, Bi," balas Rakha dengan seulas senyuman. Si Bibi pun membalasnya dengan sebuah anggukan sebelum beranjak dari kamar majikannya.
Sementara Bu Nia yang kini duduk di sofa tak jauh dari ranjang tidurnya, menghela napasnya berat. Wanita paruh baya itu merasakan dadanya penuh dan sesak, teringat pada putri satu-satunya yang pergi dari rumah tanpa sepengetahuan mereka.
Rakha yang menyadari kondisi sang Mama segera mendekat dan duduk berlutut di lantai menghadap sang Mama.
"Ma, sabar, ya. Rakha akan cari tahu keberadaan Kak Ata. Mama sabar dulu, ya," tutur Rakha menenangkan sang Mama tercinta.
Dalam hatinya, Rakha merutuk tindakan sang Kakak yang nekat pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya yang tidak mengizinkan kepergiannya. Ya, semalam kakaknya itu sempat beradu mulut dengan sang Papa yang tidak memberikan izin padanya untuk pergi mengejar mimpinya di luar kota, tepatnya di Jakarta. Bagaimanapun orang tua pasti berat membiarkan anak gadisnya pergi dari rumah ke tempat yang jauh dari pengawasan. Kekhawatiran kedua orang tuanya tentu saja hal yang wajar dan dibenarkan. Rakha tidak tahu dasar pemikiran kakaknya yang bertindak sangat nekat dan kekanakan. Tidak berpikir panjang. Seperti bukan seorang Renata, kakak perempuan satu-satunya.
TBC
**Hai, Cinta ❤️❤️❤️ Aku datang lagi ☺️
Duh, Renata kabur 🤭 Tapi aku masih di sini, nggak bakal kabur, koq 😁
Apa yang terjadi sama Renata? Prasta gimana, donk? Sabar ya ... tunggu eps selanjutnya ☺️🙏
Sekali lagi nih, aku mau promo Buku Antologi Cerpen aku yang ke-2 udah bisa dipesan dan sekarang lagi masa PO sampai 8 Des 2021.
Judul buku antologinya Busur Arah Kehidupan yang diterbitkan oleh Penerbit Loka Media Cab Riau. Buku ini berisi untaian kisah-kisah kehidupan yang bermakna dan menginspirasi.
Ada 22 cerpen yg ditulis oleh 20 Penulis Kontributor. Nah, cerpen aku ada di hal. 19 ya, berjudul "Cerita Indah di Bulan Purnama".
Yuk, ikutan PO segera. PC, DM via IG or chat aku langsung ke nomor WA di banner
0822 3276 8817 sesuai format pemesanan di bawah ini.
Btw, kalian yang ada di luar pulau Jawa bisa membeli via Shopee utk hemat ongkir. Nama toko di Shopee : bukulokamediariau. Kalau kalian udah check out di Shopee, cuss info segera ke aku ya, supaya bisa segera aku check dan tracking.
Thank you & Love you all as always 🤗😘💕💕**