LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 12 Menyakitkan



Kau dihatiku


Slalu menjadi pujaanku


Kau di jiwaku


Mengalir di dalam darahku


Yang terdalam


Yang sama pernah kurasakan


Yang terindah


Yang takkan kulupakan


Tapi takkan kumiliki


Semua cinta didirimu


Karna kau telah memilih


Satu cinta teman baikku


🎢🎢


Prasta telah menyelesaikan tugas deadline nya hari ini. Namun ia masih betah di kantor. Duduk di kursi kerjanya dengan laptop yang masih menyala. Hands free terpasang di kedua telinganya, mendengarkan lagu dari Caffeine, Aku Takkan Memiliki. Helaan napasnya terdengar berat.


Pertemuannya dengan Pak Danny sore tadi, sedikit banyak membuatnya berpikir. Ingatannya kembali pada Renata dan hubungannya dengan gadis itu. Sesak ia rasakan bila mengingat semua itu. Mengingatnya semakin membuatnya tak bisa melupakan gadis itu. Gadis yang masih sangat dicintainya hingga saat ini. Ia tak bisa membohongi dirinya jika ia masih sangat mencintai gadis itu dan belum sepenuhnya melupakannya.


Prasta menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya. Memejamkan kedua matanya yang lelah seperti halnya hatinya yang lelah berusaha melupakan Renata.


Semua kan jadi kenangan


Yang tersimpan dalam hidupku


Yang takkan pernah terjadi


Saat cinta seperti dulu


Aku takkan miliki


Aku takkan memiliki


🎢🎢


Kembali Prasta teringat pertemuannya dengan Pak Danny. Sikap, perlakuan dan perkataan Pak Danny membuatnya kembali berpikir. Pria paruh baya itu dengan jelas dan terang-terangan memperkenalkannya sebagai calon menantunya kepada seluruh rekan kerja yang bersamanya sore tadi. Ia boleh kan, merasa Ge-Er dengan perkataan Pak Danny tersebut ? Namun, kembali ia teringat bahwa hubungannya dengan anak gadis Pak Danny telah berakhir. Tak ada lagi Prasta dan Renata. Semua telah berakhir. Ingat, Pras ! Semua telah usai, tak ada lagi Prasta dan Renata ! Tak perlu kau ambil hati semua perkataan Pak Danny. Yakinnya dalam hati.


Prasta bangkit dari duduknya. Mematikan laptop nya dan membereskan meja kerjanya hingga rapi.


Hampir pukul 10 malam. Ia pakai jaket kulitnya, meraih tas ranselnya dan bersiap untuk pulang.


Mengingatmu,


Serasa ingin membunuh diriku sendiri


Namun, saat ingin melupakanmu


Membuatku tak mampu melepas cinta ini


~ Prasta ~


*******


Atrium mall tempat dilaksanakannya pameran wedding sudah terlihat ramai. Prasta baru saja tiba di tempat itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Olly.


Seorang panita acara mengatakan jika para model busana pengantin berada di balik panggung. Dilihatnya MC acara peragaan busana pengantin sudah bersiap di samping panggung. Acara peragaan busana pengantin sesaat lagi akan segera dimulai.


Prasta pun menge-cek kesiapan kameranya. Ia pun mengedarkan pandangannya melihat situasi sekitar area acara pameran. Mencari objek yang tepat dan menarik untuk dibidik oleh kameranya.


Senyumnya mengembang saat matanya menangkap sosok gadis dengan balutan kebaya panjang berwarna navy dengan dihiasi payet dan manik-manik di bagian kerah dan bros warna putih disematkan di bagian dada. Dipadupadankan dengan rok batik berwarna hitam. Riasan khas Sunda dengan siger, cunduk mentul dan ronce melati membuat penampilannya semakin anggun dan cantik.


Prasta tersenyum simpul. Ia mengintip dibalik jendela bidik kameranya, mencari angle dan menanti momen yang tepat untuk membidik objeknya. Sesaat kemudian, ia tersenyum puas setelah berhasil membidik objeknya.


Para model peragaan busana pengantin telah siap untuk berlenggak-lenggok di atas panggung. Musik pun sudah diputar untuk mengiringi para model cantik yang mengenakan berbagai model busana pengantin. Satu per satu para model cantik berjalan anggun di atas panggung.


Prasta tak menyangka jika Olly, yang dikenalnya tomboy, sangat anggun berjalan di atas panggung dengan balutan busana pengantin khas Sunda.


Prasta tampak lincah bergerak ke sana kemari untuk memotret para model peragaan busana pengantin tersebut. Mencari angle dan momen yang tepat untuk mengabadikan para model yang berjalan anggun di atas panggung.


Sesekali Prasta mengedarkan pandangannya ke sekeliling area pameran. Sebagai pewarta foto, ia harus jeli dengan objek yang dapat dijadikan sebagai sumber berita.


Saat peragaan busana pengantin daerah telah selesai, Prasta masih sibuk berkeliling di area pameran. Mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling area pameran, mengamati situasi yang terjadi serta mengamati gerak-gerik para pengunjung pameran yang kebanyakan pasangan kekasih. Prasta tersenyum getir, menyaksikan beberapa pasangan kekasih yang mampir di beberapa stand peserta pameran yang rata-rata adalah Wedding Organizer atau Salon Perias Pengantin dan Butik Busana Pengantin baik busana pengantin daerah maupun modern.


Masih dengan kamera di tangannya, Prasta terus mengedarkan pandangannya mencari-cari sesuatu yang menarik untuk dibidik. Namun, pandangannya berhenti ketika kedua matanya beradu pandang dengan kedua manik bening milik gadis yang sangat dikenalnya. Gadis yang masih selalu ada di hatinya, tetapi juga ingin dilupakannya.


Jarak di antara mereka tidak lebih dari 2 meter. Keduanya saling menatap tanpa berkedip. Terpaku di tempat mereka berdiri.


" Ay.... "


Meskipun tak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh gadis itu karena bisingnya area pameran, samar Prasta masih dapat mendengar dan ia juga dapat dengan jelas membaca gerak bibir gadis itu yang memanggilnya dengan panggilan sayang padanya.


Prasta masih tertegun dan mematung di tempatnya. Gadis di hadapannya, yang selama ini berusaha dilupakannya, masih memanggilnya dengan panggilan sayang itu. Sesungguhnya ia rindu dengan panggilan itu.


Perlahan gadis itu berjalan mendekat menghampiri Prasta. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia terus melangkah mendekati Prasta.


" Ay... " lirih gadis itu memanggil Prasta.


Kini gadis itu telah berdiri tepat di hadapan Prasta, sangat dekat. Kedua tangannya menggenggam erat tali tas selempang nya.


" Kamu... kenapa sekarang kurus ? "


Prasta tersenyum tipis, sekilas ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya berdegup kencang. Ia seolah tak percaya, gadis di hadapannya yang tak lain adalah Renata, masih sebegitu perhatian padanya. Menanyakan keadaannya yang memang saat ini tubuhnya lebih kurus dibanding sebelumnya. Sesungguhnya ia ingin merengkuh tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Namun, kembali ia teringat, hubungannya dengan gadis di hadapannya itu telah berakhir. Dan ia yang mengakhiri.


Renata meremas tali tas selempang nya. Ia menunduk, berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. Ia tidak ingin menangis lagi.


" Prasta ! "


Seseorang memanggil Prasta. Keduanya sontak menengok pada asal suara.


" Renata ? Apa kabar ? "


" Baik, Olly. Kamu apa kabar ? " Renata balik bertanya.


" Baik, " jawab Olly singkat.


Ya, Olly lah yang memanggil Prasta. Saat ini, Olly sudah berganti pakaian. Tidak lagi mengenakan busana pengantin.


" Udah kelar ya, Ly ? Kamu langsung pulang ? Uummm... fotonya ga bisa sekarang ga apa kan ? " tanya Prasta.


Olly tersenyum lebar, " Satu-satu nanyanya, dong... Santai Pras, foto bisa kapan aja, kok ! "


Renata merasa tidak nyaman berada di antara mereka.


" Maaf. Olly, kamu keren di atas panggung tadi. Aku permisi, bye.... " pamit Renata dengan senyum tipisnya, ia pun beranjak pergi dari tempat itu. Merasa diabaikan dan tidak penting berada di antara mereka.


" Ata ! "


Renata menghentikan langkahnya. Prasta memanggilnya. Memanggil namanya, hanya namanya. Ia sadar, dirinya sudah tidak mempunyai arti untuk laki-laki yang masih menghuni ruang hatinya. Bahkan, menjawab sapaannya tadi saja, Prasta sudah enggan. Tak ada sedikitpun ia membalas obrolannya. Ia benar-benar sudah diabaikan oleh Prasta. Ingin sekali ia menangis saat itu. Dadanya sesak dan nyeri menahan sakit atas segala yang terjadi hari ini. Namun, ia harus bertahan. Bertahan untuk tidak rapuh, tidak menangis. Ia memejamkan kedua matanya, menunggu apa yang akan dikatakan Prasta tanpa membalikkan tubuhnya.


" Ta, salam buat semua di rumah. Tolong bilang sama Rakha, aku minta maaf belum bisa menepati janjiku mengajaknya hunting. Tolong sampaikan ke Om Danny juga, fotonya nanti aku kirim via kurir. Maaf ! "


Renata mendengarkan semua yang diucapkan Prasta dengan jelas. Ia yakin jika Prasta berdiri di belakangnya, tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Namun ia enggan untuk berbalik menghadap laki-laki itu.


Renata menganggukkan kepalanya, " Baik, akan aku sampaikan. Thank you. "


Segera ia bergegas pergi dari tempat itu. Tanpa menengok pada laki-laki yang pernah mencintainya. Tapi tidak untuk sekarang, tak ada lagi cinta untuknya. Dirinya tidak lagi berarti untuk Prasta. Semua sudah berakhir. Hari ini, Renata memutuskan untuk tidak lagi berharap.


Saat Renata hendak berbelok ke arah toilet, ia dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggil namanya.


" Renata ! "


Renata mengenal suara lembut itu, Danisha.


" Ha... Hai, Danish, Saka ! " sapa Renata sedikit gugup.


" Hai, Ren. Kamu ga apa-apa ? Kok gugup ? " tanya Danisha.


" Hah ? Ga, ga apa-apa kok ! " Renata tersenyum, senyum yang dipaksakan.


" Sorry, aku buru-buru ! " Renata segera masuk ke toilet, tanpa mempedulikan Danisha dan Saka.


Danisha dan Saka saling berpandangan heran. Mereka ingin menunggu hingga Renata keluar dari toilet. Namun, keduanya memutuskan untuk pergi dari tempat itu karena ada hal penting yang harus mereka selesaikan.


Di dalam toilet, Renata memasuki salah satu bilik toilet. Ia duduk di kloset yang tertutup yang sebelumnya sudah ia alasi dengan cukup banyak tissue. Ia menangis. Menutup mulut dengan tangannya agar tidak terdengar tangisannya oleh orang lain. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya. Sangat sakit. Kenapa harus sesakit ini, gumamnya sambil terus terisak.


Kenapa mencintaimu begitu menyakitkan ?


Sebegitu bencinya dirimu padaku ?


Hingga kau mengabaikanku


Tak peduli lagi pada diriku


Mana cintamu yang dulu ?


Ini sungguh lebih sakit dari dikhianati


~ Renata ~


Tbc





**Hellooww Cintaa πŸ’—πŸ’—


Eps ini sungguh buat aku kesel loh... aku udah nulis 900 kata, udah aku save, tapi tiba-tiba hilang hampir 600 kata entah kenapa 😭😭


Jadi aku harus re write sodara2, dan itu susah banget karena feel nya dah ga sama lagi πŸ˜”


Harusnya udah bisa up semalam tapi baru bisa up hari ini dan maafkan kalo eps kali ini tidak panjang dan tidak sesuai ekspektasi πŸ˜ŒπŸ™πŸ™


Selalu ditunggu like n komennya ya Cinta πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk kalian πŸ€—πŸ˜˜πŸ’—πŸ’—**