LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 35 Lemah



HAPPY READING ☺️


❤️


❤️


Rinai hujan sejak sore tadi masih setia menumpahkan rasa rindunya pada tempat manusia berpijak hingga hari beranjak malam. Udara dingin melenakan para penghuni bumi bergelung di bawah selimut di peraduannya, meskipun jarum jam masih belum menunjuk angka 9.


Namun, tidak demikian dengan seorang lelaki muda dengan rambut sebahunya. Malam belum begitu larut baginya yang terbiasa bekerja hingga larut malam menyusuri jalanan kota dan tempat-tempat lain di penjuru kota yang menarik untuk diabadikan menggunakan kamera kesayangannya.


Menikmati malam dan hujan di sebuah coffee shop sembari mengisap batang ber-Nikotin dan secangkir kopi americano yang dipesannya, lelaki yang akrab dipanggil Prasta itu tampak asyik mengutak-atik kamera DSLR-nya. Sesekali ia tampak tersenyum puas, sesekali pula ia menampakkan senyum miringnya. Rupanya ia tengah melihat-lihat hasil bidikan kameranya sore tadi bersama Angga, teman seprofesinya. Selepas salat Magrib tadi, Angga harus kembali ke kantor untuk merampungkan tugas deadline-nya. Sementara dirinya telah bebas tugas sejak sore tadi.


Benda ber-Nikotin di tangannya tersisa satu kali isapan, sementara kopi americano-nya masih separuh cangkir. Setelah isapan terakhir dan mematikan bara benda ber-Nikotin itu, ia lantas menyesap minuman ber-kafein miliknya hingga tandas. Kemudian ia mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pergi dari tempat itu. Hujan sudah mulai mereda. Hanya gerimis kecil, tidak masalah bagi Prasta menerobosnya. Sudah biasa.


Prasta memicingkan kedua netranya sesaat setelah keluar dari coffee shop itu. Baru tiga langkah mengayunkan kakinya keluar dari coffee shop, kedua netranya menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya. Joanna. Gadis itu berdiri bersandar pada sebuah tiang halte di depan coffee shop.


"Wait! Bukannya dia pergi ke acara amal sama Mas Bekti?" Gumam Prasta. Segera saja ia berlari menerobos gerimis dengan jaket hoodie waterproof menutupi tubuh dan kepalanya, hendak menghampiri gadis rekan kerjanya itu.


"Jo? Joanna?" panggilnya pada gadis itu yang sepertinya tak menyadari kehadirannya setelah beberapa saat berdiri beberapa langkah dari tempat gadis itu menyandarkan tubuhnya di tiang halte.


Perlahan kepala gadis itu menoleh ke arah Prasta, netranya menatap sayu lelaki itu.


"Kamu kok di sini? Ngapain? Acara amalnya udah selesai, ya?" tanya Prasta, berjalan mendekati Joanna.


Salah satu sudut bibir gadis itu terangkat, tersenyum tipis. Lantas ia menunduk.


"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya balik Joanna dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya berada dalam saku jaket hoodie-nya.


"Ck! Ditanya kok malah balik nanya, sih! Kebiasaan tahu!" decak Prasta sembari tersenyum kecil. Salah satu tangannya membuka penutup kepala jaketnya sehingga kepalanya bebas merasakan angin yang berembus disertai gerimis kecil.


Joanna menghela napas berat disertai kepala yang terangkat. Pandangan kedua insan yang pernah saling berbagi rasa nyaman itu bertemu. Namun, tak berlangsung lama karena Joanna buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Just tell me, Jo. What's going on? Are you ok?" cecar Prasta yang berjalan semakin mendekat pada gadis itu.


"I'm ok and I have to go now!" sahut Joanna cepat dengan kaki yang siap untuk melangkah pergi. Namun, dengan cepat Prasta menggamit lengan gadis itu, menahannya supaya tidak pergi dari tempat itu.


"No, you are not good now!" tukas Prasta. "Aku antar, ya," lanjutnya.


Joanna menghela napas panjang, sebelum membalikkan tubuhnya menghadap Prasta.


"Apartemenku kelihatan dari sini. Kalau kamu lupa," ucap Joanna lesu dengan tangan menunjuk ke arah gedung apartemennya yang hanya beberapa blok saja dari tempat mereka berdiri saat ini. Kira-kira tidak sampai 15 menit berjalan kaki.


"Yaaa ... Tapi tetap aja, ini udah malam dan kamu lagi nggak baik-baik aja, Jo. Aku antar, kita jalan kaki sama-sama. Please, jangan nolak," desak Prasta.


"Kamu lupa juga? Aku terbiasa jalan malam. Nothing to worry about. Thanks anyway," sahut Joanna dengan nada datar, bahkan sedikit ketus. Joanna berjalan tergesa meninggalkan Prasta yang masih berdiri mematung menatap kepergian gadis itu.


***


Prasta menghentikan motornya di seberang pintu masuk gedung apartemen tempat Joanna tinggal. Beberapa saat setelah Joanna pergi, ia segera mengambil motornya dan mengikuti gadis itu dari jarak beberapa meter dengan laju motor perlahan agar tidak diketahui gadis itu. Dilihatnya gadis itu memasuki lobby gedung apartemen, membuatnya bernapas lega.


Sejenak ia terdiam, lalu merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel. Ia mencari nama kontak seseorang, lantas melakukan panggilan telepon begitu menemukannya.


"Hallo ... Malam, Mas. Maaf mengganggu," sapa Prasta ketika panggilan teleponnya diangkat oleh si penerima telepon.


"Malam, Pras. Kenapa?"


"Uummm ... Mas Bekti sibuk?"


"Nggak! Baru selesai mandi ini. Ada apa, Pras?"


"Tadi acara amalnya jadi, kan?"


"Ya jadi, lah! Kenapa emangnya?"


"Mas Bekti jadi pergi sama Joanna, kan?" tanya Prasta.


"Iya! Ada apa sih, Pras?" Suara Mas Bekti terdengar bingung dan ingin tahu.


"Joanna pulang sendiri atau diantar Mas Bekti?"


"Dia pulang duluan tadi. Katanya ada keperluan. Kenapa, Pras?" tanya Mas Bekti lagi.


"Di sana nggak terjadi apa-apa?"


"Maksudnya?" tanya Mas Bekti ke sekian kalinya. "Bentar, Pras. Ini kita ngomongin Joanna? Apa terjadi sesuatu sama dia?" Nada cemas Mas Bekti terdengar dari seberang sana.


Prasta menghela napas panjang.


"Aku ketemu Joanna di halte depan coffee shop yang beberapa blok dari apartemennya. Dan dia ... kelihatan kacau," terang Prasta.


"Kapan? Barusan?" cecar Mas Bekti dari seberang sana.


"Iya. Ini aku di depan gedung apartemennya. Tadi aku tawarin antar pulang tapi dia menolak. Dia kelihatan nggak baik, Mas. Kacau begitu. Barangkali Mas Bekti tahu, mungkin telah terjadi sesuatu sama dia di acara amal itu?" terka Prasta.


"Sepertinya nggak ada apa-apa, ya. Soalnya kita nggak terpisah di sana. Kecuali pas dia melakukan tugasnya, ambil gambar acara itu. Pas wawancara juga sama aku tadi. Atau ...."


"Atau apa, Mas?" potong Prasta.


"Dia tadi izin ke toilet setelah selesai motret dan wawancara. Nggak lama setelah itu dia izin pulang duluan, katanya ada keperluan."


Penuturan Mas Bekti yang baru saja didengarnya meyakinkan Prasta tentang asumsinya, telah terjadi sesuatu di acara amal itu. Tapi apa?


"Baiklah, Mas. Makasih. Sekali lagi maaf udah mengganggu istirahatnya," ucap Prasta, pandangannya sejak tadi tak lepas dari pintu masuk gedung apartemen di seberangnya.


"Pras? Apa terjadi sesuatu yang serius dengan Joanna?" Atasannya itu bertanya dengan nada khawatir.


Tanpa berpikir panjang lagi, Prasta melajukan motornya menyeberang jalan dan masuk ke gedung apartemen tempat tinggal Joanna. Petugas keamanan gedung itu sudah hapal dengan dirinya yang acap kali berkunjung atau mengantar Joanna.


Setelah memarkirkan motornya di tempat parkir di basement gedung itu, Prasta bergegas menuju lift yang akan membawanya ke unit apartemen Joanna.


Dan di sinilah dirinya sekarang, di depan pintu unit apartemen Joanna. Terdengar gagang pintu yang dibuka setelah ia menekan bel beberapa kali.


"Hai!" sapa Prasta dengan seulas senyum terbaiknya.


Joanna menatap lelaki di hadapannya dengan datar tanpa berkata-kata. Membuat Prasta mencondongkan badannya.


"Aku boleh masuk? Atau kita bicara di luar aja?" tanya Prasta dengan kedua alis hitamnya yang terangkat.


Joanna berdecak pelan, dengan malas ia membuka pintu unit apartemennya lebar, pertanda mempersilakan lelaki yang dulu selalu memberikannya kenyamanan itu untuk masuk.


"Thanks," ucap Prasta, bibirnya melengkung sembari melangkah masuk ke dalam apartemen gadis itu.


Tanpa dipersilakan duduk, tubuh Prasta sudah mendarat di sofa ruang tamu. Sementara Joanna menutup pintu apartemennya. Tanpa banyak bicara, gadis itu melenggang ke dapur, mengambil dua botol air mineral dari dalam kulkas. Kemudian ia kembali menemui Prasta di ruang tamu sambil meletakkan dua botol air mineral dingin di atas meja ruang tamu.


Joanna duduk di single sofa tak jauh dari tempat Prasta duduk. Keduanya terdiam. Tak ada yang memulai berbicara. Sepertinya kedua insan itu kehabisan bahan pembicaraan atau terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Aku minta maaf!" Akhirnya Prasta yang buka suara mengurai kebisuan di antara keduanya.


Joanna mengernyit. "Untuk apa?" tanya gadis itu.


"Untuk kekepoanku," jawab Prasta tersenyum kecil.


"Kepo apaan?" sahut Joanna.


Prasta menghela napas dalam sembari menatap Joanna yang juga menatapnya.


"Kita udah lama kenal, Jo. Aku udah terbiasa memahami kamu ...."


"Maksudnya?" sela Joanna, kedua alis cantiknya hampir bertautan sembari menatap tajam Prasta.


"Nggak ada maksud apa-apa. Aku hanya merasa kamu lagi ada masalah," cetus Prasta to the point.


"Apa urusan kamu?" ketus Joanna.


Prasta sedikit terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir gadis itu. Kembali menghela napas lebih dalam dengan netra terpejam sebelum akhirnya bersuara.


"Karena itu aku minta maaf. Aku kepo dengan urusanmu." Prasta menjeda bicaranya.


"Jujur, aku nggak bisa lihat kamu kayak gini. Sedih dan kacau," lanjut Prasta, menatap gadis itu dengan kedua netra teduhnya.


"Kan udah aku bilang, aku nggak apa-apa. Aku baik-baik aja, kok! Siapa yang bilang aku sedih, kacau?" cerocos Joanna dengan raut kesal, nada bicaranya mulai meninggi.


"Aku yang bilang! Aku yang bilang kamu lagi kacau!" seru Prasta yang mulai terbawa emosi.


Joanna tersentak dengan perkataan Prasta yang setengah berteriak. Prasta segera menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Sorry, aku nggak bermaksud ...."


"Pergilah, Pras! Kamu nggak tahu apa-apa. Nggak perlu juga sok perhatian sama aku. Kita bukan siapa-siapa, bukan? Hanya rekan kerja. That's all!" tukas Joanna. Dada gadis itu naik turun menahan emosi yang mulai sedikit menguasainya. Ia berdiri berbalik arah, membelakangi Prasta yang masih duduk di tempatnya. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Berusaha mati-matian menahan emosi, juga agar tidak menangis.


"Jo ...." Prasta bangkit dari duduknya, berjalan mendekati gadis itu. Kini ia berdiri di samping Joanna, memandang gadis itu tak berkedip. Ia tahu gadis di sampingnya sedang membutuhkan seseorang untuk berbagi. Joanna sedang lemah.


Perlahan tangan Prasta meraih salah satu tangan Joanna. Mengusap dan menggenggamnya lembut.


"Bahuku selalu siap menjadi sandaran bila kamu membutuhkannya. Tanganku juga selalu siap menjadi pegangan agar kamu tidak terjatuh. Pun telingaku, selalu siap mendengarkan segala ceritamu. Masih sama seperti dulu, Jo. That's what friends are for," tutur Prasta lembut.


Kedua bahu Joanna naik turun, bulir bening di pelupuk netranya perlahan jatuh membasahi pipinya. Jika ia bisa memilih, ia tidak ingin berada pada situasi seperti ini. Sejak mengenal lelaki yang menggenggam tangannya ini, ia seolah bergantung padanya. Ia sudah terlanjur nyaman senyaman-nyamannya bersama lelaki berpostur tinggi ini. Tetapi semesta tak merestui. Mereka berbeda. Tidak akan bisa bersama. Sementara mereka berusaha untuk saling menjauh dan hampir berhasil. Namun, lagi-lagi semesta seolah mempermainkan hidupnya.


Acara amal yang dihadirinya sore tadi membawanya bertemu dengan lelaki yang hampir 6 bulan terakhir dekat dengannya. Siapa sangka, lelaki itu datang berdua dengan seorang wanita cantik dan keduanya terlihat sangat mesra. Ia merasa dikhianati dan itu sangat menyakitkan.


Lalu lelaki yang bersamanya saat ini tiba-tiba hadir lagi pada saat dirinya lemah dan terluka. Membuat dirinya tidak yakin bisa menjauh lagi dari rasa nyaman yang diberikan lelaki yang dulu selalu mengisi hari-harinya.


Joanna tertunduk, tangisnya pecah. Tanpa berkata-kata, Prasta merengkuh tubuh Joanna yang berguncang karena tangisannya. Gadis itu tidak melawan. Ia membiarkan dirinya berada dalam dekapan Prasta dan menangis di dada bidang lelaki yang selalu membuatnya nyaman dan aman.


"Menangislah," ucap Prasta lirih, tangannya mengusap punggung Joanna dengan lembut.


***


Renata baru saja mengakhiri pertemuannya dengan salah satu orang dari stasiun televisi tempatnya dulu bekerja di Jakarta pada sore menjelang Magrib. Sungguh tak pernah Renata duga, ia mendapat tawaran dari mantan atasannya itu untuk bekerja di stasiun TV yang sama sebagai kontributor liputan daerah Surabaya dan sekitarnya. Tanpa berpikir panjang, gadis itu menerima tawaran yang diberikan oleh mantan atasannya, Bang Andro, Asisten Produser Program Berita dan Liputan. Minggu depan ia akan memulai pekerjaannya.


Saat keluar dari pintu lobby, Renata meminta kepada seorang bell boy memanggilkan taksi untuknya. Sembari menunggu, gadis itu berdiri di pojok teras lobby dengan raut berbinar bahagia karena tawaran bekerja yang baru saja didapatnya. Namun, sesaat kemudian raut bahagianya berubah datar ketika netranya menangkap sosok yang tak asing baginya. Seorang perempuan bertubuh tinggi semampai dengan heels berwarna putih dan dress bermotif floral di atas lutut dengan potongan leher rendah, memperlihatkan belahan dada dan kulit putihnya. Salah satu tangannya memegang ponsel yang menempel di telinganya, sedang berbicara melalui panggilan telepon. Sementara tangan satunya menenteng totebag branded. Terlihat sangat berkelas.


Sesaat setelah perempuan itu menjauhkan ponsel dari telinganya, Renata hendak menghampiri dan menyapanya. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah mobil menghampiri perempuan itu yang menyambutnya dengan senyuman semringah.


Tunggu! Mobil yang menghampiri perempuan itu sepertinya tak asing bagi Renata. Detik berikutnya, gadis itu hampir tidak mempercayai penglihatannya. Bian. Lelaki itu keluar dari mobil, berjalan memutar dan meraih tangan serta mengecup pipi perempuan itu dengan senyum yang menghias wajah tampannya. Lantas membuka pintu penumpang dan mempersilakan perempuan itu masuk ke dalam mobilnya.


Renata yang sempat terpaku dengan apa yang baru saja dilihatnya, tanpa sadar meremat tali tas selempangnya. Merasakan nyeri di bagian dadanya. Pada saat yang bersamaan, sebuah taksi berhenti dan ia tersentak saat suara Sang Bell Boy hotel mempersilakannya masuk ke dalam taksi yang dipesannya tadi. Setelah mengucapkan terima kasih, Renata masuk ke dalam taksi.


"Tolong ikuti mobil Expander hitam itu, Pak," titah Renata dengan suara yang sedikit bergetar pada sopir taksi sembari menunjuk mobil yang dimaksud, yang sudah melaju menuju pintu keluar area hotel.


Dadanya berdentum keras hingga terasa sakit, pandangannya mulai nanar menatap mobil Expander hitam yang melaju persis di depan taksi yang ditumpanginya. Ia dibohongi lagi. Dikhianati lagi. Dengan orang yang sama. Renata mengusap sudut netranya yang basah. Ia tak boleh lemah seperti dulu. Renata yang sekarang telah berubah. Kali ini ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi lemah dan jatuh seperti dulu.


TBC


**Like & komen ya, Cinta ❤️❤️


Sehat-sehat selalu kalian, tetap jaga prokes ya


Thank you & love you 🤗😘💕💕**