LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 44 Deep Talks



HAPPY READING ☺️


❤️


❤️


Dokter yang memeriksa Prasta mengatakan jika kondisi tulang kakinya yang patah semakin membaik. Fisioterapi yang dilakukan laki-laki itu juga menunjukkan perkembangan yang baik.


"Pras, Ibu buru-buru ini. Ata, maaf ya, merepotkan lagi. Ibu ada rapat guru di sekolah, harus hadir. Jadi ...."


"Ibu kok nggak bilang kalau ada rapat? Kan, Pras udah bilang, kalau Ibu repot nggak usah antar. Pras bisa sendiri, cuman kontrol ke rumah sakit aja," potong Prasta menatap ibunya dengan perasaan bersalah. Lelaki itu tidak mau ibunya kecapekan karena harus mondar-mandir mengantarnya lalu pergi mengajar.


Bu Ranti menghela napas panjang. Keras kepala putra sulungnya kembali datang. Wanita dengan seragam gurunya itu menggeleng keras.


"Kamu kalau nggak keras kepala kenapa? Nggak usah gengsi juga sama Ibu! Lihat kondisi kamu sekarang. Nggak usah gengsi nggak butuh bantuan!" omel Bu Ranti, tangannya mengacak rambut pendek putranya.


"Ata, Ibu minta maaf. Kamu yang sabar ya, sama dia," ucap Bu Ranti pada Renata yang sedari tadi diam di samping Prasta, usai keluar dari ruang pemeriksaan dokter.


"Ibu!" seru Prasta dengan kedua netra membulat.


"Udah! Ibu berangkat, taksinya udah di depan," pamit Bu Ranti.


Renata mengangguk dan mencium punggung tangan wanita berusia pertengahan lima puluh tahun itu dengan takzim.


"Titip anak Ibu yang keras kepala ini, ya, Ata. Yang sabar. Tapi kalau dia benar-benar susah dibilangin, tinggal aja!" lanjut Bu Ranti sembari mencium pipi gadis itu.


Renata tersenyum geli mendengar pesan Bu Ranti.


Sementara Prasta yang juga mendengar pesan ibunya merasa dongkol. Bibirnya mengerucut dan kedua pipinya menggembung. Namun, ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Diciumnya punggung tangan dan kedua pipi wanita yang telah melahirkan dan merawatnya itu dengan sayang.


"Ibu hati-hati. Kalau udah sampai di sekolah, jangan lupa kabarin. Pulangnya nanti biar aku suruh Arga jemput, ya," ucapnya penuh perhatian.


"Arga udah tahu. Kamu nggak usah khawatir soal itu. Udah, baik-baik sama anak gadis orang! Jangan nakal!" Sekali lagi Bu Ranti memberi pesan yang penuh dengan sindiran.


"Ck!" decak Prasta, yang langsung dibalas dengan delikan sang Ibu.


"Iya-iya!" sahutnya dengan senyuman yang dipaksakan.


Bu Ranti mengacungkan ibu jarinya. "Anak pinter. Assalamu'alaikum!" ucap Bu Ranti, lalu melenggang pergi meninggalkan kedua muda-mudi itu yang membalas salamnya hampir bersamaan.


"Wa'alaikumsalam ...."


"Ibu ...." lirih Renata berkata sembari menggelengkan kepalanya dan bibir melengkung.


"Kenapa? Seneng ya, lihat Ibu ngomelin aku?" gerutu Prasta.


Renata melipat keningnya dalam hingga kedua netranya menyipit.


"Ish! Kok sewot? Inget pesan Ibu barusan, lho!" Renata mengingatkan dan seketika membuat Prasta memajukan bibir bawahnya disertai dengusan pelan.


Renata terkekeh geli melihat raut wajah laki-laki yang memegang kruk di kanan dan kiri tangannya sebagai penyangga tubuhnya.


"Kok malah ketawa!" sungut Prasta. Ia berjalan perlahan menggunakan kruknya, meninggalkan Renata yang masih terkekeh melihat sikap lelaki itu.


"Hey, wait!" seru Renata. Gadis itu mempercepat langkahnya menyusul Prasta.


Prasta berhenti melangkah, membalikkan tubuhnya dan menatap Renata yang juga ikut menghentikan langkahnya. Prasta mengernyit. "Hey?"


Renata memegang pelipisnya. "Eh! Maaf, maksudku ... Itu ...." Renata tergagap, sesekali mengalihkan pandangan ke tempat lain saat mendapati Prasta menatapnya lekat.


"Oh ya, it's ok. Fine, aku paham! Sorry!" Prasta ikut gugup saat menyadari sikapnya. Lantas ia terkekeh.


Renata menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil. Situasi menjadi canggung di antara kedua insan yang lama tak berinteraksi.


"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Prasta akhirnya.


"Yup! Tentu ... Pras!" sahut Renata kembali gugup. Jujur, gadis itu bingung bagaimana seharusnya ia memanggil Prasta. Ia tak terbiasa memanggil dengan nama lelaki itu.


Prasta menoleh pada gadis yang tersenyum padanya. Sangat manis dengan bibir yang dipoles tipis lip tint berwarna senada dengan kulit bibirnya. Sesaat tubuh Prasta membeku. Kedua netranya menatap lekat manik bening milik Renata, jantungnya berdetak dua kali lebih kencang. Lantas pandangannya beralih pada bibir tipis yang melengkung milik gadis itu. Hatinya berdesir hangat.


Ya, Tuhan! Ingin sekali aku memeluknya. Mendekapnya seerat mungkin dan mencium bibir manisnya.


"Pras?"


Prasta mengerjap kaget. Huh! Gila! Entah bagaimana tiba-tiba pikiran kotor itu datang menghampirinya. Susah payah lelaki itu menelan salivanya. Sepertinya aku nggak bisa lagi menundanya. Aku harus bicara dengannya sekarang. Ya, sekarang! Batin Prasta.


"Eh! Ya, kita pergi sekarang?" jawab Prasta tergagap, tangannya memegang erat kruk dan mulai menggerakkannya diikuti kaki kanannya yang melangkah.


Renata menggeleng pelan. Dia ... Masih sama, seperti dulu. Dia, ah entahlah! Renata bergumam dalam hatinya. Gadis itu lantas mempercepat langkahnya agar bisa menyusul langkah Prasta, laki-laki keras kepala tetapi sangat perhatian dan seringkali bersikap konyol serta absurd. Namun, sifat dan sikap itulah yang selalu membuatnya luluh dan merindu pada lelaki itu.


***


Renata mematikan mesin mobilnya di pelataran parkir sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.


"Hari ini kamu benar-benar free?" tanya Prasta sembari melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya. Ia menelengkan kepalanya menatap Renata yang sedang melakukan hal yang sama dengannya.


Renata tersenyum dan mengangguk. "Ya!" jawab gadis itu. Lalu tangan kirinya meraih tas tangan yang diletakkannya di sebelah kiri tempat duduknya. Lantas ia membuka pintu mobil dan hendak keluar, tetapi tangan kokoh Prasta menahan lengan kirinya.


Renata tertegun. Perlahan kepalanya bergerak ke kiri menatap Prasta. Ada gelenyar indah dirasakannya ketika tangan kokoh lelaki di sampingnya itu menyentuh kulit lengannya. Jantungnya berdebar-debar tak karuan.


"Sorry!" ucap Prasta, menjauhkan tangannya dari lengan gadis itu. Senyum canggung terukir di bibir lelaki itu. Sementara Renata melengkungkan bibirnya, seulas senyum terbit di bibir manis gadis itu


"Never mind," sahut Renata. "Kita turun, yuk!" lanjutnya mengajak Prasta turun dari mobil.


Prasta mengangguk. Tubuhnya bergerak memutar ke belakang hendak mengambil kruknya. Namun, Renata menahannya.


"Eh, jangan bergerak! Biar aku aja," tukas Renata melarang.


"Ta, aku bisa, kok!" sahut Prasta, lantas tangannya meraih kruk yang diletakkan di jok belakang.


"See! Bisa, kan?" Senyum semringah tersungging di bibir lelaki bertubuh tinggi itu ketika ia berhasil mengambil kruknya.


"Ya-ya! Keras kepala!" Renata memutar kedua bola matanya, lalu gadis itu keluar dari mobil dan bergegas berjalan memutar untuk membantu Prasta turun dari mobil.


Pintu mobil sisi kiri dibuka oleh Prasta dari dalam. Kemudian Renata membungkukkan badannya memegang lengan Prasta, membantunya keluar dari mobil.


"Thank you!" ucap Prasta dengan seulas senyum dan helaan napas lega.


"My pleasure!" sahut Renata. Tangannya masih memegang lengan Prasta, meskipun lelaki itu telah menyangga tubuhnya dengan kruk di kedua sisi tubuh tingginya.


"Kita ... Masuk?" Prasta bertanya sedikit gugup.


"Oh, ya! Tentu! Ayo!" gugup Renata. Ia menuntun Prasta berjalan perlahan memasuki kafe.


Degup jantung Prasta semakin menggila merasakan pegangan tangan Renata yang lembut. Perhatian yang diberikan gadis itu sungguh membuatnya semakin merindukan kebersamaan mereka seperti dulu.


Setelah mendapatkan tempat duduk dan memesan makanan serta minuman, Prasta menatap Renata yang duduk di hadapannya dengan senyum yang selalu terukir di bibirnya. Membuatnya semakin menginginkan gadis itu kembali mengisi hari-harinya. Sesaat keheningan di antara kedua insan itu tercipta. Suasana canggung tampak di antara keduanya.


"Hah?" Prasta tergagap, lalu terkekeh. "Kenapa kita jadi aneh begini, ya?" lontar Prasta.


Renata tertawa kecil memperlihatkan gigi gingsulnya yang membuat tawanya semakin manis. Prasta menatap gadis manis di hadapannya intens, tak ingin berpaling sedetik pun.


"So, gimana cerita sebenarnya?" tanya Prasta tiba-tiba.


"Cerita apa?" Renata balik bertanya.


"Kamu dan pacar kamu," jawab Prasta diakhiri sebuah dehaman.


Ekspresi Renata berubah masam. Senyum di bibirnya menghilang. Lalu terdengar helaan napas berat keluar dari bibir gadis itu.


"Kita bicara yang lain, bisa?" pinta Renata.


Prasta menautkan jemari kedua tangannya di atas meja. Netranya masih intens menatap Renata yang memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tentu! Kita emang harus bicara. Tentang kita. Tapi sebelumnya, aku ingin tahu cerita tentang kamu dan pacar kamu," tutur Prasta.


"Dia bukan pacar aku! Aku dan dia udah selesai!" sahut Renata tegas.


"Sejak kapan?" cecar Prasta.


Renata mendengus pelan setelah menghela napasnya kasar. Lalu ia menatap Prasta dengan raut menegang dan mulut terkatup rapat.


"Please, kita bicara yang lain. Nggak penting sejak kapan aku sama dia selesai," ujar Renata dengan suara bergetar.


Dadanya sesak jika mengingat hubungannya dengan Bian dan segala yang telah dilakukan lelaki brengsek itu padanya.


"Kalau buat aku penting?" Prasta membeo.


"Buat apa?" geram Renata. "Aku bilang sejujurnya, aku dan dia udah nggak ada hubungan apa pun. Udah selesai semua dan aku nggak peduli soal dia!" ungkap Renata dengan emosi yang tertahan. Raut wajahnya menegang, netranya menatap tajam menembus netra Prasta yang teduh.


Tiba-tiba tangan kanan Prasta meraih tangan kiri Renata, lalu digenggamnya lembut jemari gadis itu.


"Biar aku yakin dan tenang. Bahwa kamu benar-benar selesai dan lepas dari dia selamanya," lontar Prasta tenang. Lelaki itu mengeratkan genggaman tangannya sembari mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya.


Renata terkesiap menatap Prasta.


"Maaf! Aku telah membuat kamu terluka oleh dia. Maafkan aku karena aku terlambat melindungi kamu," ucap Prasta penuh penyesalan dengan kedua netra menatap sendu gadis di hadapannya. Mengingat dirinya yang pernah memergoki Bian dan perempuan itu sedang bermesraan.


Hati Renata berdesir hangat. Ia membeku menatap kedua netra sendu lelaki di hadapannya. Perlahan kepalanya menggeleng.


"Bukan salah kamu. Memang salah aku yang bodoh. Salahku yang terlalu percaya sama dia. Semua salahku, sampai kamu jadi begini juga. Maaf!" sesal Renata, kedua netranya mulai berkaca-kaca.


"It was not your faults! Please, don't blame yourself!" sangkal Prasta. Kedua tangannya spontan menggenggam kedua tangan Renata.


Kedua netra Renata mengerjap, bulir bening di pelupuk netranya seketika luruh dalam sekali kerjap.


Prasta mendesah pelan melihat Renata menangis. Gadis yang selalu dicintainya terlihat terluka.


"Maaf! Aku nggak bermaksud membuatmu menangis. Tolong jangan nangis, Ta," ucap Prasta memohon. Tangannya menyentuh paras manis Renata, lalu ibu jarinya menghapus air mata gadis itu yang membasahi pipinya.


Kedua netra Renata menatap nanar lelaki yang dirindukannya. Telapak tangannya menyentuh tangan Prasta yang masih menempel di wajahnya. Keduanya saling mengunci tatapan. Debaran jantung keduanya semakin meningkat. Hati keduanya menghangat. Hingga tanpa sadar, Renata memejamkan kedua netranya menikmati sentuhan tangan Prasta.


Aku nggak mau ini berlalu. Lirih Renata dalam hati.


Aku nggak akan pernah lagi membiarkanmu pergi dan melihatmu terluka, Sayang. Please, just stay with me! Gumam Prasta dalam hati bersungguh-sungguh.


***


Suasana kafe pada siang hari itu tidak terlalu ramai pengunjung. Prasta dan Renata baru saja menyelesaikan makan siang mereka ketika ponsel milik Renata berbunyi. Renata terburu-buru mengambil benda pipih elektronik itu dari dalam tasnya.


Ada pesan baru yang masuk dari atasannya yang memberitahu bahwa dua hari lagi dirinya diminta ke Jakarta untuk mengikuti pertemuan seluruh kontributor daerah dan pusat, semacam pelatihan. Renata menghela napas pelan sambil mengetik pesan balasan untuk atasannya. Prasta mengernyit menyaksikan Renata yang tampak gelisah dan raut wajah yang serius menatap ponselnya.


"Ada masalah?" tanya Prasta akhirnya. Ia tak bisa menahan pertanyaan yang ingin dilontarkannya pada gadis di hadapannya.


Renata mendongak. "Oh, nggak, kok! Hanya masalah pekerjaan. Bukan hal yang besar," jawab Renata sembari melayangkan seulas senyuman untuk lelaki rupawan di hadapannya. Lalu ia kembali menatap ponselnya, melanjutkan berkirim pesan pada atasannya.


Prasta manggut-manggut menanggapi jawaban Renata, sebelum akhirnya menyesap minumannya. Sesekali ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Pengunjung sudah mulai berkurang. Satu per satu sudah meninggalkan tempat setelah selesai menyantap makan siangnya. Lalu pandangannya beralih kembali pada Renata yang baru saja memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan yang diletakkannya di kursi kosong di sebelahnya.


"Kita jalan sekarang aja, kalau kamu memang ada yang harus dikerjakan. Kita masih bisa ngobrol lagi lain kali, kalau kamu senggang," ujar Prasta. Namun, di dalam hati lelaki itu sebenarnya tak rela bila harus segera mengakhiri kebersamaan mereka saat ini.


Renata menghela napas singkat dan menatap Prasta. "I've told you, I'm free today. Udah beberapa kali lho, aku bilang. Sejak pagi tadi sebelum berangkat, waktu di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit. Lalu, saat kita menuju ke sini," tukas Renata, raut dan nada bicaranya terdengar sedikit jengkel.


"Ya ... Siapa tahu tiba-tiba ada keperluan urgensi, begitu. Kan, aku cuma memastikan. Aku juga nggak mau ngerepotin kamu," terang Prasta sembari mengangkat bahu dan alis hitam tebalnya.


"Ya, udah! Sekarang udah kupastikan sekali lagi, hari ini aku nggak ada urusan apa pun selain sama kamu. Got it?" Renata berkata untuk meyakinkan Prasta dengan sedikit mencondongkan wajahnya ke arah lelaki di hadapannya. Ia menarik kedua sudut bibirnya hingga terbitlah sebuah senyuman yang manis. Sangat manis menurut Prasta. Hingga lelaki itu membeku menatap gadis yang selalu membuatnya terpesona bila berdekatan dengannya.


Dipandangnya lekat gadis itu. Tangannya terulur menyentuh punggung tangan lembut milik gadis itu, lantas ia mengulas senyuman.


"Thank you. Udah meluangkan waktu berhargamu untuk aku. Makasih banget karena kamu udah ngasih waktu untuk kita berbicara berdua. Ini yang udah lama aku tunggu, Ta." Prasta menarik napas pelan, menjeda perkataannya. Tangannya mengusap lembut punggung tangan Renata, sementara kedua netranya tak lepas menatap kedua manik bening gadis itu, yang juga menatapnya penuh perhatian menyimak perkataannya.


"Kamu tahu ... Saat kamu wisuda, dulu ...." Prasta kembali menjeda, ia menelan salivanya sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku udah berencana datang ke acara wisuda kamu. Tapi, sepertinya Allah belum ingin kita bertemu. Tiba-tiba aja, aku dapat tugas dari kantor, mendadak. Maaf!" tutur Prasta, kedua netranya sendu menatap Renata bersamaan tangannya yang semakin mengerat menggenggam jemari gadis itu.


"Pada akhirnya, aku datang ke rumah kamu setelah beberapa hari. Tetapi, lagi-lagi Allah belum ingin mempertemukan kita. Aku tak menjumpai kamu karena kamu tiba-tiba pergi. Aku merasa semesta benar-benar telah mengolokku karena membiarkanmu pergi dengan laki-laki yang lebih dari segalanya dibanding aku," ungkap Prasta tersenyum getir.


Seketika Renata bergeming dengan kedua netra yang intens menatap Prasta. Bibirnya berkedut ingin mengatakan sesuatu tetapi lidahnya kelu, suaranya tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menelan salivanya dengan kelat. Hatinya mencelus mendengar penuturan laki-laki di hadapannya. Tanpa sadar, ia mengeratkan genggaman tangannya di dalam tangan laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.


"Maafkan aku!" ucap Renata lirih penuh penyesalan. Bagaimana tidak, saat itu dirinya benar-benar bodoh. Beberapa hari setelah wisuda, ia malah nekat pergi dari rumah tanpa pamit. Bodohnya lagi, ia pergi dengan lelaki brengsek itu.


"Jangan pernah bandingin kamu dengan dia. Kamu jauh lebih baik dari dia," imbuh Renata tegas.


Prasta menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Renata, lalu mengeratkan genggamannya.


"Don't, please! Jangan meminta maaf, bukan salahmu. Itu udah berlalu. Aku nggak ingin membahas masa lalu. Walaupun masa laluku masih tetaplah sama sejak dulu sampai sekarang, tak ada yang berubah. Tak pernah akan berubah bahkan tak kan pernah hilang. Karena semua masa laluku hingga saat ini, detik ini, berhenti di kamu, Ata. Masih kamu. Nggak pernah berubah. Aku tak mampu menghapus dan menghilangkan diri kamu dari dalam diriku. Kamu tak pernah pergi dari hati dan hidupku. Tak pernah, Ta. Karena sesungguhnya aku tidak ingin kamu pergi. Please, stay ... Jangan pernah pergi lagi. Hari ini, aku ingin melengkapi masa depanku, dengan kamu. Would you?" ungkap Prasta bersungguh-sungguh.


Renata semakin kehilangan kata-kata. Lidahnya benar-benar kelu dan tenggorokannya tercekat, sulit untuk bersuara. Namun, hatinya berbunga-bunga. Jantungnya berdebar indah merasakan ungkapan hati seorang Prasta.


"Renata Eka Andara, would you mind to be my destiny?"


TBC


**Duh, Prasta bikin speechless, deh 🤧


Drop komen, donk & jgn lupa LIKE nya ya, Cinta ❤️❤️


Satu eps lagi END ya ☺️


Thank you for supporting & love you as always🤗😘💕💕**