
Bu Ranti memperhatikan putra sulungnya yang sedang mengunyah sarapan paginya. Sesekali ia menghembuskan napasnya. Putra sulungnya itu banyak berubah. Lebih pendiam, jarang berbicara dan badannya lebih kurus. Mungkin karena terlalu sering begadang karena pekerjaan.
" Kuliah kamu bagaimana, Pras ? Udah sampai mana skripsimu ? " tanya Bu Ranti akhirnya.
" Baik dong, Bu. Skripsi udah Bab 2, besok Pras ketemu dosen buat acc. Doa in Pras ya, Bu, " jawab Prasta tersenyum menatap Ibunya.
" Kamu jangan telat makan, Pras. Jaga kondisi kesehatan kamu. Kuliah sambil bekerja tidak mudah, Nak. Harus pandai atur waktu dan jaga kesehatan. Ibu minta tolong, berhentilah merokok, " tutur Bu Ranti sembari membereskan meja makan.
Prasta terdiam. Ia pandangi punggung sang Ibu yang berjalan menuju dapur. Lalu ia hela napasnya panjang. Ibunya tahu jika dirinya merokok, padahal ia sudah sembunyi-sembunyi jika merokok di rumah.
Entahlah, ada kenyamanan yang dirasakan Prasta ketika menghisap benda bernikotin itu. Seolah bisa membuat dirinya melupakan rasa kesal dan beban yang ada dalam dirinya.
Selesai dengan sarapan paginya, Prasta segera beranjak menuju dapur untuk berpamitan dengan ibunya. Sementara Ayahnya sudah berangkat bekerja terlebih dulu.
" Pras berangkat ya, Bu, " pamitnya pada sang Ibu yang sedang mencuci piring dan peralatan makan lainnya.
Bu Ranti menghentikan aktivitasnya setelah mencuci tangannya, lalu berbalik menghadap Prasta yang berdiri tak jauh dari kitchen sink.
" Sudah mau berangkat ? Ingat pesan ibu tadi ya, Pras. Tolong berhentilah merokok. Ga akan ada bagusnya. Itu yang dulu pernah kamu bilang pada Om kamu, " jelas Bu Ranti sekali lagi mengingatkan Prasta.
Prasta tersenyum menatap sang Ibu. Ia paham dengan kekhawatiran ibunya. Adik kandung ibunya, meninggal 2 tahun lalu karena kanker paru-paru. Om nya itu termasuk perokok berat. Menjadi perokok sejak masih sekolah di SMA.
" Iya, Bu. Maafkan, Prasta. Prasta berangkat ya, Bu, " ujarnya kemudian. Ia raih punggung tangan ibunya untuk dicium.
Bu Ranti mengusap kepala sang putra dengan lembut. Paham akan kegundahan putranya.
" Semua akan baik-baik saja, Pras. Jika kalian berjodoh, suatu saat pasti dipertemukan di jalan yang sama. Kamu hanya perlu selalu menyebutnya dalam setiap doamu, " ujar Bu Ranti bijak.
Sekali lagi Prasta tersenyum dan berucap, " Insya Allah. "
********
" Ata ! "
Renata yang sedang asyik memilih aksesoris pun sontak menengok ke asal suara yang memanggil namanya.
" Ibu ! " Renata pun segera menghampiri seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan kasir toko aksesoris tersebut.
Diciumnya punggung tangan wanita paruh baya itu.
" Ibu sendiri ? " tanya Renata sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar toko itu.
Wanita paruh baya itu pun tersenyum memperhatikan Renata yang celingukan mencari seseorang.
" Ibu bersama Tantenya Pras, " jawab Bu Ranti sambil menunjuk ke arah wanita dan seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang sedang memilih beberapa aksesoris rambut.
Renata tersenyum manis melihat gadis kecil tersebut.
" Ooh sama Tante Reni dan Shafa rupanya. Ibu apa kabar ? "
" Alhamdulillah, Ibu sehat. Ata apa kabar ? " tanya balik Bu Ranti mengusap lembut lengan gadis yang dicintai putranya.
" Alhamdulillah baik, Bu. "
Renata tersenyum tipis menatap Bu Ranti. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Tante Reni dan Shafa yang berjalan menghampiri mereka berdua.
" Hai, Ta ! Apa kabar ? " tanya Tante Reni.
" Baik, Tante, " ucap Renata memberikan pelukan dan senyuman pada Tante dari Prasta.
" Hai, Cantik ! Shafa makin cantik, ih ! " Renata mencubit gemas pipi gembul Shafa, putri dari Tante Reni.
" Kak Ata juga cantik, " sahut Shafa dengan senyuman lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Renata tertawa melihat gadis kecil yang menggemaskan itu. Bu Ranti dan Tante Reni pun tersenyum melihat kedua gadis berbeda usia itu saling memuji.
" Ata ga siaran ? " suara Tante Reni membuat Renata mengalihkan pandangannya dari gadis kecil itu.
" Kebetulan lagi off, Tante, " jawab Renata masih dengan sedikit tawa memandang ke arah Tante Reni.
" Bunda, Shafa lapar. Shafa mau makan ayam goreng, " seru Shafa tiba-tiba sambil menarik tangan Bundanya.
" Tunggu dulu, Shafa. Ini jepit dan karet rambutnya dibayar dulu, " tutur Tante Reni.
Renata dan Bu Ranti tersenyum melihat Shafa yang memegangi perutnya dengan wajah masam.
" Sini biar Kak Ata yang bayar jepit dan karet rambutnya, ya. Setelah ini, kita makan ayam goreng, " ujar Renata mengulum senyuman dan menatap gadis kecil keponakan Prasta.
Tante Reni yang sudah menyerahkan jepit dan karet rambut yang diambil Shafa kepada kasir toko pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
" Ini mbak, " Renata menyerahkan uang kepada kasir toko.
" Ata, jangan. Ini Tante udah siapin uangnya, kok, " sela Tante Reni.
" Ga apa-apa, Tante. Ini sekalian sama punya Ata kok, " Renata tersenyum simpul pada Tante Reni.
" Tuh, Shafa. Jadi merepotkan Kak Ata, " sela Bu Ranti kemudian.
" Ga tiap hari juga, Bu. Lagian, Kak Ata nya kemarin habis gajian ya, Shafa. Jadi rejekinya Shafa anak shalihah, " ujar Renata, tangannya mengusap puncak kepala gadis kecil itu sembari tertawa kecil.
Bu Ranti dan Tante Reni pun tertawa dengan candaan Renata. Wanita paruh baya berhijab itu mengusap lembut lengan Renata, teringat pada putranya.
Renata merasakan usapan lembut Bu Ranti. Sudah lama ia tidak merasakan usapan dan pelukan Bu Ranti, Ibu dari laki-laki yang masih dicintainya. Ia teringat Prasta.
Renata tertunduk sedih. Lamunannya buyar saat kasir toko memberinya uang kembalian dan paper bag kecil berisi barang yang mereka beli.
Setelah mengucapkan terima kasih pada kasir, mereka pun beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju rumah makan cepat saji yang diinginkan Shafa.
" Eh, Ta. Ga ganggu acara kamu, kan ? " tanya Tante Reni saat mereka sudah duduk di dalam restoran cepat saji.
" Iya, Ata kok jadi ikut bersama kita ini. Ata ga ada acara lain ? " tanya Bu Ranti.
" Ga kok, Bu. Ata ga punya acara hari ini. Lagi boring tadi, jadinya jalan ke sini, " tutur Renata dengan senyum lebarnya.
" Jadi... Shafa mau makan ayam goreng ya. Tunggu Kak Ata yang pesan ke sana, ya, " ujar Renata kemudian. Ia permisi pada Bu Ranti dan Tante Reni untuk memesan makanan yang diinginkan di kasir pemesanan.
********
Di dalam mobil, gadis kecil bernama Shafa itu akhirnya tertidur setelah berceloteh sambil bernyanyi dengan riangnya. Renata tersenyum melihat dari kaca spion mobil.
Pada akhirnya, Renata mengantarkan Bu Ranti dan Tante Reni pulang setelah makan dan membeli beberapa keperluan. Kebetulan saat itu, Renata membawa mobil milik Papanya yang sedang dinas ke luar kota.
Renata menepikan mobilnya di depan rumah Prasta. Ia melihat motor Prasta terparkir di carport rumah itu. Pelan ia hela napasnya, lalu senyuman tipis tersungging di bibirnya.
" Uumm... lain kali saja ya, Bu. Maaf, udah sore takut Mama nanti bingung nyariin Ata, " sahut Renata dengan senyum tipisnya. Sebenarnya bukan itu alasannya. Ia ingin menghindar dari Prasta.
" Sebentar aja, Ata. Yuk ! " Bu Ranti sedikit memaksa Renata, sengaja ingin mempertemukan gadis itu dengan putranya.
Renata tidak kuasa menolak ajakan Bu Ranti yang memintanya dengan tatapan penuh harap. Ia pun mengangguk dan tersenyum pada Bu Ranti.
Mereka keluar dari mobil. Tante Reni agak kesulitan menggendong Shafa yang masih juga tertidur dengan pulasnya.
Saat Renata hendak membantu Tante Reni, saat itu juga Prasta muncul dari dalam rumah.
" Reni, itu Prasta. Biar dia yang angkat Shafa. Pras, ayo tolong ini angkat Shafa ! " Bu Ranti memanggil Prasta, memintanya mengangkat Shafa yang tidur di jok belakang mobil.
Prasta berjalan menghampiri mereka. Tanpa berbicara dan melihat Renata, ia segera mengangkat Shafa dan membawanya masuk ke dalam rumah diikuti ketiga wanita di belakangnya.
Renata menghela napasnya singkat. Perasannya sedikit kacau, ia belum siap bertemu dengan Prasta kembali.
Di dalam rumah, Renata duduk di kursi tamu dari kayu jati yang berukir. Sudah lama ia tidak ke rumah ini, penataan ruang tamu masih sama dan tidak berubah. Sekali lagi ia hela napasnya. Teringat saat dulu ia sering duduk di kursi ini bersama Prasta. Bercanda dan bercerita tentang apa saja.
" Maaf ya, Ta. Hanya ada teh hangat. Ayo diminum dulu, " Bu Ranti tiba-tiba datang membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan potongan kue brownies panggang di atas piring.
" Ibu kok repot. Ata cuma sebentar aja, " ucap Renata canggung.
Bu Ranti tersenyum, kemudian duduk di samping Renata setelah meletakkan secangkir teh dan sepiring kue brownies di meja.
" Repot apa ? Yang ada Ibu yang merepotkan kamu. Seharian menemani kami tadi, masih mengantar pulang pula, " sahut Bu Ranti tersenyum menatap gadis yang dicintai putranya.
" Ga sama sekali, Bu. Ata libur hari ini, bebas mau ngapain, " ucap Renata tersenyum manis.
" Ehemm... ! "
Bu Ranti tersenyum mendapati putranya yang sudah berdiri di ujung ruang tamu. Lalu beranjak menghampiri putranya.
Berbisik di telinga putranya, Bu Ranti lalu mengangguk dan tersenyum.
" Ibu tinggal dulu ya, biar kalian bisa ngobrol, " ucap Bu Ranti kemudian sembari tersenyum pada Renata.
Sementara gadis itu menyunggingkan senyuman tipis dan menganggukkan kepalanya perlahan pada Bu Ranti. Setelahnya ia menatap lelaki dengan rambutnya yang terurai hampir sebahu yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sekali lagi Bu Ranti tersenyum dan menepuk bahu putranya sebelum kemudian meninggalkan mereka berdua.
Prasta berjalan dan duduk di kursi di hadapan Renata. Keduanya terlihat canggung, sangat canggung. Sesekali Renata menunduk sembari menghela napas perlahan, berusaha mengusir resah di hatinya.
" Hai ! "
" Hai ! "
Keduanya saling menyapa dengan canggung.
" Makasih udah mengantar Ibu dan Tante Reni pulang. Shafa pasti banyak ngerepotin kamu tadi, " ucap Prasta sambil menatap gadis di hadapannya yang sesekali menunduk sembari memainkan tali tasnya.
" Ga, ga repot... " Renata menegakkan kepalanya. Kedua matanya bertemu dengan kedua mata lelaki di hadapannya. Seketika ia terdiam, kedua matanya terkunci dengan tatapan mata yang selalu dirindukannya. Ya Tuhan, aku masih merindukannya. Aku ga bisa berhenti merindukannya, apalagi berhenti mencintainya. Renata bermonolog di hatinya. Sesak dadanya karena masih mencintai lelaki di hadapannya.
Prasta merasakan hal yang sama. Kedua mata bening Renata telah menghipnotisnya untuk terus menatap lekat gadis itu. Ingin merengkuh tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Ya Tuhan, aku masih sangat mencintainya. Ingin melindunginya dan membuatnya bahagia. Gumam Prasta dalam hatinya.
" Kamu ga siaran ? " tanya Prasta kemudian memecah keheningan di antara mereka.
Renata yang sibuk dengan lamunannya sontak tersadar oleh pertanyaan Prasta.
" Lagi off hari ini. Kamu... Kata Rakha sekarang kerja jadi wartawan foto di Media Group ? " Dengan gugup, Renata balik bertanya.
" Uummm... begitulah. Hanya karyawan biasa dan ga penting, " sahut Prasta asal.
" Selamat ya, akhirnya keinginan kamu terwujud, " ucap Renata tersenyum tipis.
Prasta tersenyum miring. Sudah tak ada artinya tanpa kamu, Ta. Ucapnya dalam hati.
" Makasih, " sahut Prasta singkat.
" Kamu kurus sekarang. "
" Masa sih ? "
" Iya. Jangan telat makan dan jangan sering begadang. Ga baik buat kesehatan kamu, " saran Renata.
Prasta menatap lekat Renata. Gadis itu masih memberikan perhatian padanya. Namun, baginya hal itu sudah tidak penting lagi. Toh, mereka sudah tidak memiliki hubungan khusus lagi
" Ga penting juga buat kamu, " cetus Prasta tersenyum miring.
Renata terhenyak mendengar ucapan Prasta. Ditatapnya wajah rupawan yang masih selalu ada di hatinya. Ucapan yang terlontar dari bibir Prasta sungguh membuat hatinya nyeri, serasa teriris sembilu.
Sesaat Renata terdiam dan tersenyum getir.
" Penting buat diri kamu dan keluargamu, terutama buat Ibu yang menyayangi kamu. "
Renata menghela dalam napasnya sebelum kemudian bangkit dari duduknya.
" Maaf ! Aku lupa jika aku bukan siapa-siapa. Ok, aku pamit. Tolong sampaikan pada Ibu aku pulang. Maaf udah mengganggu. Assalamualaikum ! " pamit Renata dengan suara sedikit bergetar.
Setelah berpamitan, ia segera berjalan keluar rumah menuju mobilnya. Dadanya terasa sesak sekali. Sangat sakit. Ia ingin menangis, tetapi ditahannya air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Buru-buru ia masuk ke mobil dan menyalakannya. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah Prasta, ia menengok ke arah pintu rumah itu. Tidak didapatinya lelaki yang dulu mencintainya itu mengikutinya ke luar sekedar untuk mengantarkannya sampai di mobilnya. Bahkan salamnya pun tidak dibalasnya.
Renata menghapus air mata yang sudah mulai membasahi pipinya dengan kasar.
Kenapa selalu begini ? Tidak bisakah ia memperbaiki hubungan mereka ? Walaupun hanya sekedar hubungan baik sesama teman biasa ?
Tbc
**Hellooww Cinta 💗💗💗
Prasta masih sarkas sama Renata 🤔
Kapan ya mereka akur, ikuti terus kisah mereka ya...
Jan lupa rate, like n komen ya.. Alhamdulillah jika ada yg vote 😘
See ya, always stay safe with 3M yaa..
Love you as always 🤗😘💞💞💗💗💗**