LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 19 Berkunjung



Pak Denny memperhatikan anak gadisnya yang sedang menikmati sarapan pagi, duduk persis di hadapannya. Terlihat sangat menikmati sarapan paginya hingga terlihat acuh dengan keberadaan orang sekitarnya.


"Bagaimana skripsimu?" tanya pria paruh baya itu memecah keheningan di meja makan.


Gadis itu, Renata, mendongak. Lalu menatap pria paruh baya di hadapannya yang dipanggilnya Papa. Ia menelan makanannya, sebelum menjawab pertanyaan sang Papa. "Hari ini ketemu dosen pembimbing. Kalau tidak ada revisi, lanjut bab terakhir," jawab Renata. Ia menyesap kopi hitam yang dibuatnya sebelum sarapan.


"Jadi bisa maju sidang dan wisuda tahun ini, dong?" timbrung Bu Nia yang duduk di samping Pak Denny.


"Insya Allah, Ma," sahut Renata, tersenyum kecil. "Minta doa-nya ya, Ma, Pa," imbuhnya.


"Tentu saja, Sayang," ucap Bu Nia tersenyum simpul.


"Lalu apa rencana kamu setelah ini?" lanjut Pak Denny, menatap lekat putrinya yang menyesap kopi hitamnya.


Renata meletakkan gelas kopinya di meja. Sebelum menjawab pertanyaan Papanya, ia menghela napasnya dalam. "Aku mendapat tawaran ...." Renata menjeda kalimatnya.


"Tawaran apa?" sela Bu Nia. Wanita paruh baya itu pun menatap lekat putrinya dan memasang telinganya baik-baik agar tidak salah mendengar jawaban dari sang putri.


"Tawaran magang dan dilanjutkan bekerja jika memenuhi kriteria," jawab Renata, netra bulatnya menatap kedua orang tuanya bergantian.


Rakha yang mendengar obrolan mereka mulai jengah. Ia tahu kakaknya akan berbicara apa setelah ini. "Pa, Ma. Rakha berangkat dulu. Oh ya, nanti sore Rakha mengundang seseorang ke rumah. Boleh, ya?"


"Siapa?" tanya Pak Denny dan Bu Nia bersamaan.


"Kak Prasta. Mau belajar fotografi. Boleh, kan?" Rakha tersenyum dan melirik sang kakak yang duduk di sebelahnya, sebelum pandangannya beralih pada kedua orang tuanya.


Bu Nia dan Pak Denny pun spontan menatap Renata. Mereka juga ingin tahu reaksi dari putri sulungnya saat sang adik menyebut nama Prasta. Namun, tak ada reaksi apa pun dari Renata. Ia asyik memainkan ponselnya.


"Boleh, kenapa nggak?" tukas Bu Nia.


"Makasih, Ma. Rakha berangkat, ya. Assalamualaikum," pamit Rakha. Ia beranjak dari tempat itu, mengabaikan Renata yang sibuk dengan ponselnya.


"Waalaikumsalam."


"Ata, kamu nggak berangkat?" tanya Bu Nia sembari membereskan meja makan.


Renata menegakkan kepalanya. "Tunggu Bian," jawabnya singkat.


Pak Denny yang hari ini masih cuti karena baru saja pulang dari Semarang, masih duduk di kursinya saat mendengar jawaban Renata. Ia ingin menanyakan pada anak gadisnya mengenai hubungannya dengan Bian. Namun, saat akan membuka mulutnya, ponsel Renata berdering. Pria paruh baya itu pun mengurungkan niatnya.


"Ya, Bi. Aku udah siap, kok."


"...."


"Ok, aku tunggu di teras."


Renata meraih tas ranselnya, lalu berpamitan pada kedua orang tuanya karena Bian sebentar lagi datang untuk menjemputnya. Gadis itu mencium punggung tangan kedua orang tuanya. "Assalamualaikum," pamitnya.


"Waalaikumsalam." Pak Denny dan Bu Nia menjawab salam putrinya bersamaan. Terdengar bunyi klakson mobil di depan rumah, siapa lagi kalau bukan Bian yang menjemput sang putri.


*********


Prasta menghentikan motornya tepat di depan rumah Renata. Jika biasanya ia berkunjung untuk menemui Renata, kini tidak lagi. Kali ini, ia berkunjung ke rumah itu untuk menemui sang adik, Rakha. Baginya rumah yang berdiri kokoh di hadapannya itu memiliki banyak kenangan manis bersama anak gadis sang pemilik rumah. Ia tersenyum kecut.


Biasanya, ia akan langsung membuka pagar rumah itu bila berkunjung. Tapi tidak kali ini. Setelah motornya terparkir di depan pagar besi berwarna putih itu, ia mulai menekan bel yang terletak di tembok pagar. Saat ia menekan bel untuk ketiga kalinya, seseorang yang dikenalnya muncul dari pintu samping garasi.


"Assalamualaikum," ucap Prasta.


"Waalaikumsalam. Kakak kayak baru ke sini aja ... Kenapa nggak langsung masuk, sih?" sahut Rakha dengan gerutuannya.


Prasta tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, nggak enak aja," ucapnya sembari membuka pintu pagar, lalu mengambil motornya untuk dibawa masuk.


Setelah motornya terparkir di halaman, keduanya pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Kini keduanya sudah duduk di sofa ruang tamu. Prasta membuka tas ransel yang dibawanya, mengeluarkan kamera dan beberapa buku tentang fotografi.


"Eh, ada Prasta," sapa Bu Nia yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.


Seketika Prasta berdiri dan mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu dengan takzim.


"Sehat, Tan?" tanya Prasta setelah melepas tangannya.


"Alhamdulillah, sehat. Kamu apa kabar? Lama banget nggak ke sini," cetus Bu Nia dengan senyum kecilnya.


"Prasta sehat, Tan. Alhamdulillah. Om juga sehat, Tan?" tanya Prasta.


"Halo, Pras! Alhamdulillah, Om selalu sehat!" celetuk Pak Denny yang juga muncul secara tiba-tiba. Pria paruh baya itu menyunggingkan senyum simpulnya.


Prasta sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil. Ia menghampiri Pak Denny yang terlihat segar sore itu dan mencium punggung tangan pria paruh baya itu. "Tumben Om di rumah? Nggak ke kantor, ya?" tanya Prasta.


Pak Denny mengusap lengan Prasta dengan senyum yang semringah. "Baru datang dari Semarang sebelum subuh tadi. Badan masih pegal, usia memang nggak bisa bohong, ya," jawab Pak Denny yang diikuti kekehan kecil. Prasta pun ikut terkekeh, demikian pula dengan Bu Nia dan Rakha.


"Duduk, Pras!" Pak Denny duduk di sofa di hadapan Prasta dan Rakha.


"Iya, Om." Prasta pun duduk di samping Rakha.


"Maaf ya, Pras! Rakha ngerepotin kamu," ucap Bu Nia, melirik sekilas Rakha yang duduk di sofa dengan kameranya.


"Oh, sama sekali nggak kok, Tan. Udah free sejak siang tadi. Lagian udah janji juga dari kapan hari sama Rakha," tukas Prasta dengan senyum simpulnya.


"Ya, udah. Sekarang Prasta mau minum apa?" tawar Bu Nia.


"Santai aja, Tan. Malah saya yang bikin repot ini," lontar Prasta segan.


"Hanya minum, kok!" tukas Bu Nia.


"Sepertinya Mama udah lupa kebiasaan Kak Prasta. Udah, keluarin aja yang ada, Ma," sela Rakha santai.


"Eh! Nggak usah repot-repot, Tan. Rakha nih, ya!" Prasta meninju lengan adik dari mantan kekasihnya dengan spontan, yang diikuti ringisan dan tawa kecil anak muda itu sembari memegang lengan kirinya. Lalu keempat orang tersebut pun tergelak tawa karena interaksi kedua anak muda berbeda usia itu.


"Baiklah! Mama ke belakang dulu, mau siapin minum dan camilan buat kalian. Rakha, belajar yang bener, ya," ujar Bu Nia, mengedipkan sebelah matanya pada kedua anak muda di hadapannya.


Prasta dan Rakha tersenyum dan kompak mengangkat ibu jarinya. Pak Denny tersenyum menyaksikan anak lelakinya terlihat sangat akrab dengan Prasta. Pak Denny menghela napas dalam. Setiap melihat Prasta, pria paruh baya itu seolah sedang bercermin. Prasta mengingatkannya pada dirinya ketika muda dulu.


"Gimana kuliah dan kerjaan, Pras?" tanya Pak Denny.


"Baik, Om. Alhamdulillah lancar," jawab Prasta tersenyum simpul.


"Sudah menyusun skripsi?" tanya Pak Denny lagi.


Prasta mengangguk. ""Sudah, Om. Insya Allah dalam waktu dekat selesai. Minta doa-nya, Om," ucapnya.


"Tentu. Semoga lancar dan dimudahkan," sahut Pak Denny bersemangat sembari menepuk bahu Prasta.


"Kha, lebih enak kalau kita di teras aja deh, belajarnya. Sekalian praktek motretnya," tutur Prasta.


"Begitu ya, Kak? Ayolah kalau begitu, kita pindah ke teras aja," sahut Rakha sembari membereskan kameranya untuk dibawa ke teras depan rumah.


"Om, maaf. Permisi, kita pindah ke teras dulu, ya," ijin Prasta.


"Iya, silakan dilanjut. Anggap seperti rumah sendiri ya, Pras. Seperti biasa," ujar Pak Denny dengan bibir yang menyunggingkan sebuah senyuman.


Prasta mengangguk dan berjalan keluar ruang tamu menuju teras depan rumah. Selanjutnya kedua anak muda beda usia itu pun terlihat sibuk dengan aktivitas mereka.


*********


Hari sudah terlihat mulai gelap, sesaat lagi adzan Maghrib berkumandang. Prasta dan Rakha baru saja selesai dengan aktivitasnya di teras depan rumah Pak Denny. Kini keduanya sedang menikmati camilan dan minuman yang telah disediakan oleh Bu Nia. Sesekali terdengar gelak tawa keduanya.


Sebuah mobil Pajero hitam berhenti tepat di depan rumah itu. Seorang gadis turun dari mobil itu bersama seorang lelaki maskulin. Gadis itu tertegun kala memasuki halaman rumahnya, mendapati sebuah motor sport yang sangat dikenalnya. Sejurus kemudian, netranya tertuju pada sosok yang masih melekat di hatinya.


"Motor siapa?" tanya lelaki maskulin yang bersamanya, yang tak lain adalah Bian.


Renata bergeming. Ia berjalan menuju pintu samping garasi. Bian mengikutinya dengan raut bingung.


"Hun, tunggu!" seru Bian berjalan cepat menyusul Renata. Namun netra gelapnya menatap tajam pada Prasta.


Prasta dan Rakha yang mendengar seruan Bian pun seketika menghentikan obrolan mereka dan menengok ke arah sumber suara. Pandangan keduanya tertuju pada dua orang yang berbeda gender sedang berjalan masuk lewat pintu garasi. Prasta menatap datar keduanya.


"Kebiasaan mereka begitu. Kak Ata pulang ke rumah dengan wajah yang ditekuk dan laki-laki itu mengekorinya sambil memanggil-manggil Kak Ata. Bisa dihitung dengan jari, Kak Ata pulang bersama dia dengan senyuman riang," cetus Rakha, nadanya terdengar antara sedih dan mencemooh.


Prasta tersenyum tipis, lalu menghela napas singkat. "Ok, Kakak harus pulang sekarang. Udah mau Maghrib," tukas Prasta, bangkit dari duduk dan meraih tas ranselnya.


"Salat Maghrib dulu di sini, Kak. Tuh, udah adzan," ujar Rakha yang bersamaan dengan suara adzan Maghrib dari masjid di komplek perumahan itu.


"Makasih. Kakak salat di masjid dekat sini aja, nggak apa-apa," sahut Prasta.


"Tunggu, aku panggilkan Papa dan Mama," kata Rakha, yang langsung masuk ke dalam rumah untuk memanggil kedua orang tuanya.


Prasta menghela napasnya dalam, menatap langit senja yang perlahan mulai meredup berganti gelap. Samar ia mendengar suara dari garasi.


"Kamu kenapa sih, Hun? Dia ngapain di sini?"


"Aku nggak apa-apa. Udah Maghrib, sebaiknya kamu pulang."


"Jawab dulu pertanyaanku. Dia ngapain di sini? Sebenarnya dia itu siapa, sih? Kok kenal sama Rakha?"


Sekali lagi Prasta menghela napasnya, kali ini cukup panjang. Salah satu tangannya mencengkeram tali tas ranselnya. Tangan lainnya dimasukkan ke dalam saku jaketnya.


"Maghrib dulu di sini, Pras. Tanggung," ujar Pak Denny yang sedikit mengagetkan Prasta.


"Makasih, Om. Saya salat di masjid dekat sini aja. Saya pamit, Om, Tante. Makasih suguhannya," pamit Prasta dengan seulas senyum yang ia paksakan.


"Ya, udah. Jangan bosan ya, Pras. Main-mainlah ke sini kalau senggang," timpal Bu Nia, tersenyum simpul pada anak muda mantan kekasih putrinya.


"Insya Allah, Tante. Baiklah, saya pamit," ucap Prasta sembari mencium punggung tangan Pak Danny dan Bu Nia bergantian.


"Kakak pulang ya, Kha. Hubungi kakak bila kamu butuh sesuatu," ujar Prasta pada Rakha yang disambut dengan kedua ibu jarinya yang terangkat di depan wajahnya.


"Assalamualaikum." Prasta tersenyum dan berbalik menuju motornya. Menyalakan mesin dan segera melajukannya menuju arah pulang.


*******


"Ata!" panggil Pak Denny saat mereka baru saja selesai makan malam.


"Ya, Pa," jawab Ata yang hendak beranjak dari duduknya


"Duduklah! Papa ingin ngobrol sama kamu," titah Pak Denny pada putri sulungnya dengan serius.


Perlahan Renata kembali duduk di kursinya. Lalu menatap sang Papa sedikit heran. Tidak biasanya Papanya terlihat se-serius ini. "Ada apa, Pa?" tanyanya ragu.


Pak Denny menatap lekat putri sulungnya sesaat. "Kamu benar-benar menjalin hubungan sama Bian?" Akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari bibir Pak Denny setelah sekian lama ia ingin menanyakannya pada sang putri.


"Kok tiba-tiba Papa nanya hal ini? Ada apa?" tanya Renata penasaran.


"Lho, kenapa? Aneh ya, kalau Papa nanya anak gadisnya yang setiap hari pergi pulang dengan laki-laki yang bukan sanak saudaranya?" tanya balik Pak Denny.


"Ya ... Nggak, sih!" jawab Renata.


"Ya, udah! Tinggal dijawab, kan?" Pak Denny menanti jawaban Renata. Pria paruh baya itu menyesap kopi hitamnya sembari menatap Renata.


"Ya ... gitu, deh!" singkat Renata, mengedikkan bahunya santai.


"Ata, Papa serius, lho! Sejauh mana hubungan kalian?" tanyanya lagi, kembali menatap lekat putrinya.


"Kamu masih cinta sama dia, setelah apa yang diperbuatnya sama kamu dulu?" tanya Bu Nia yang tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Pak Denny.


"Dia kembali untuk Ata, Ma. Apa salahnya memberikan kesempatan buat dia," protes Renata, kali ini menatap wajah sang Mama yang tampak serius menanggapi.


"Lalu, Prasta?" tanya Pak Denny.


"Kok bawa-bawa dia?" sahut Renata cepat.


"Tentu saja! Masa kamu udah lupa begitu aja sama Prasta. Bian datang, lantas kamu melupakan Prasta. Begitu?" tukas Pak Denny.


"Papa kok gitu ngomongnya!" sahut Renata dengan nada sedikit meninggi.


"Kan memang begitu! Papa masih ingat betul, Ata. Kamu pernah bilang sama kami, kamu serius dengan Prasta. Dan Prasta pernah berkata di hadapan Papa, Mama dan juga Rakha bahwa dia serius dengan hubungan yang kalian jalani. Bahkan dia serius dan siap untuk melamar kamu. Kamu ingat?" ungkap Pak Denny, mengingatkan tentang hubungan anak gadisnya dengan Prasta.


Dada Renata terasa sesak seketika. Orang tuanya mengingatkannya pada kejadian malam itu yang membuat hubungannya dengan Prasta menjadi kacau dan berakhir. Renata menarik napasnya dalam, mencoba menghirup pasokan oksigen untuk rongga dadanya.


"Ata ingat! Cukup, Pa! Ata nggak mau bahas ini lagi. Maaf!" tangkas Renata, lalu ia berlari pergi meninggalkan ruang makan mengabaikan kedua orang tuanya yang tertegun dengan sikapnya.


"Pa ...." lirih Bu Nia, kedua bahunya merosot dan tubuhnya lemas terduduk di kursi.


Pak Denny menghela napas panjang. "Biarkan saja. Kenapa dia masih saja bersikap labil. Papa benar-benar nggak habis pikir. Pengalaman belum bisa membuatnya dewasa di usianya sekarang," gumam Pak Denny, kepalanya menggeleng pelan.


Tbc