
HAPPY READING βΊοΈ
Follow IG aq @imoet.enra supaya bisa check update karya2 aq, ya .... ππ
*****
"Jadi dia resign sehari setelah wisuda, Bang?"
"Aku sih, tahunya dia ke studio pamitan sama kita sehari setelah dia wisuda. Tapi Kak Ella bilang, sebelum acara wisudanya, si Renata udah pernah ngomong sama Kak Ella kalau mau resign dalam waktu dekat. Resminya kapan ke Mas Rendra, aku nggak tahu juga."
Percakapan siang itu antara Prasta dan Bang Hendra yang mengadakan janji bertemu di sebuah kafe tak jauh dari Studio Radio DG FM, setelah Prasta menyelesaikan administrasi terakhir kuliahnya di kampus.
Bang Hendra memperhatikan Prasta yang terdiam muram. Kedua netra lelaki yang duduk di seberangnya itu mengisyaratkan kegundahan hatinya.
"Kok bisa, sih, Renata kabur dari rumah begitu? Kok aku nggak habis pikir, ya! Ini Renata, lho!" Bang Hendra benar-benar heran dan tidak habis pikir dengan tindakan yang telah dilakukan oleh Renata.
Prasta tersenyum miring dengan bahu terangkat.
"Aku nggak percaya kalau Renata bisa melakukan tindakan seperti itu. Pasti ada seseorang yang mempengaruhinya," terka Bang Hendra.
"Dalam suratnya dia bilang, semua yang dia lakukan memang atas kemauannya sendiri. Murni keinginannya sendiri karena kesempatan emas itu yang sangat dia nantikan dan inginkan," terang Prasta.
"Tapi dia pergi sama itu cowok yang katanya pacar dia waktu SMA itu, kan?" tuding Bang Hendra. "Aku rasa cowok itu punya andil ikut mempengaruhi Renata hingga dia nekat pergi tanpa seizin orang tuanya. Kalau cowok bener, nih, ya! Dia pasti berbicara baik-baik pada orang tua Renata, membantu Renata mendapatkan izin orang tuanya untuk pergi mengejar cita-citanya. Bukannya ngajak kabur begitu!" tutur Bang Hendra dengan lantang.
"Udah lah, Bang! Mungkin memang begini skenario yang dibuat Allah untuk Renata dan aku. Sepertinya, kami memang tidak berjodoh," ucap Prasta pasrah, berusaha merelakan semua yang terjadi.
Bang Hendra mengangguk-angguk, lalu melipat bibirnya ke dalam. Ia menyesap habis jus alpukatnya dan kembali berbicara.
"Ya, lebih baik seperti itu, Pras. Berusaha merelakan sesuatu yang selama ini kita miliki, yang mana kita sudah berusaha untuk memperjuangkannya. Jalan di depan sana masih sangat panjang buat kita lewati. Kita fokus aja pada jalan yang terbentang di depan kita," pungkas Bang Hendra dengan sebuah senyuman lebar di bibirnya.
Prasta membalas senyuman Bang Hendra dengan anggukan yang tegas disertai helaan napas panjang dan senyuman lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
***
Setelah menemani Danisha mengerjakan skripsinya di perpustakaan kampus, Prasta mengajak sahabatnya yang telah kembali beraktivitas pasca operasi tumor di kepalanya itu menunggu kedatangan Distha di kantin kampus sambil makan siang.
Sepiring capcay kuah yang dipesan Danisha dan semangkuk nasi soto ayam yang Prasta pesan sudah terhidang di meja kantin. Keduanya menikmati makan siang dengan santai sembari menunggu Distha yang masih menyelesaikan administrasi terakhirnya sebelum wisuda kelulusan.
Pada kesempatan itu, Prasta juga menceritakan tentang peristiwa perginya Renata ke Jakarta yang membuatnya resign dari Radio DG FM secara mendadak. Danisha benar-benar terkejut dengan kabar tersebut karena sudah lama tidak pernah lagi bertemu atau saling berkirim pesan dengan Renata. Mereka terakhir kali bertemu kala keluarga Saka mengadakan syukuran untuk kepulangan Danisha dari rumah sakit dengan kondisi yang semakin membaik.
Danisha teringat dengan Bang Hendra. Ia teringat chat terakhirnya dengan lelaki yang sudah seperti abangnya sendiri itu. Saat itu, Bang Hendra mengatakan jika Renata resign karena ada kesempatan emas dari salah satu stasiun televisi di Jakarta yang menawarkan magang kerja.
"Jadi ... Benar yang dikatakan Bang Hendra ...." gumam Danisha. Ia menghela napasnya dalam, lalu menatap Prasta yang sibuk memainkan korek api dengan tangannya.
"Kamu ketemu Bang Hendra?" tanya Prasta balas menatap Danisha.
Danisha menggeleng. "Terakhir aku ketemu Bang Hendra juga teman-teman DG FM sewaktu baru keluar dari rumah sakit. Dah lama, lebih dari 6 bulan yang lalu. Renata juga tidak pernah menghubungi aku sejak itu. Bang Hendra kasih tahu soal Renata resign via chat." Sekali lagi Danisha menghela napasnya berat.
"Lalu rencana kamu apa?" tanya Danisha kemudian.
Prasta mengedikkan bahu. "Entah!" Prasta menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum getir.
"Maaf ya, Pras. Aku nggak bisa memenuhi janjiku," sesal Danisha.
"Hei! Santai, Sist. It's ok! Aku nggak apa-apa!" cetus Prasta meyakinkan Danisha. Ia tersenyum simpul.
Danisha balas tersenyum.
Ah, Renata! Kita belum sempat bertemu dan ngobrol di pantry studio. Tapi kamu udah pergi. Nggak ada kata-kata pamit pula. Batin Danisha.
Tiba-tiba ia merasa kangen dengan teman seprofesinya. Ia juga kangen dengan studio. Kangen ingin siaran lagi di sana.
"Kalian kenapa?"
Prasta dan Danisha terkejut dengan kemunculan Distha. Gadis itu duduk di bangku sebelah Danisha sambil memandangi kedua sahabatnya bergantian.
"Kamu kenapa nggak cerita soal Renata?" tanya Danisha pada Distha meminta penjelasan pada gadis yang baru saja duduk di sampingnya.
Distha mengerutkan dahinya. Menatap Danisha dan Prasta bergantian.
"Eh! Udah, Sist. Nggak usah dibahas lagi. Ok?" celetuk Prasta.
Distha menatap Prasta dengan tatapan horor. Sementara Prasta membalasnya dengan mengedikkan bahunya dan bibir mencebik. Lalu Distha beralih menatap Danisha dengan tersenyum samar.
"Sorry, Sist. Bukan nggak mau cerita, tapi waktu itu kondisi kamu sedang tidak memungkinkan buat dengar hal-hal seperti ini. Sorry, ya?" terang Distha, perasaan bersalah terdengar dalam kalimatnya.
Danisha menghela napasnya, lalu mengulum sebuah senyuman. "Iya, sih. Maaf, ya ... Semua jadi nggak sesuai harapan semenjak aku sakit. Maaf, udah banyak merepotkan kalian," sesal Danisha.
"Hei! Udah kubilang, nggak usah dibahas lagi! Udah nggak penting! Yang terpenting sekarang, semoga kita bertiga bisa diwisuda bareng, bisa lulus bareng! Ok, Ladies?" cetus Prasta penuh semangat. Meski di dalam hatinya ia merasakan sebaliknya.
Renata, gadis yang selalu dicintainya itu memilih pergi ke Jakarta untuk mengejar mimpinya. Meskipun sebenarnya di antara mereka memang sudah tidak memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih lagi, tetapi Prasta masih berharap pada gadis itu untuk bisa kembali bersamanya. Mewujudkan semua hal dan mimpi yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Namun, kenyataan berkata lain. Renata pergi meninggalkan Surabaya. Lebih menyakitkan, gadis itu pergi bersama Bian.
Danisha dan Distha mengembangkan senyumnya.
"Ya, semoga. Bismillah, doa-in aku, ya?" harap Danisha, lesung pipinya pun nampak sempurna begitu bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Pasti!" sahut Distha dan Prasta kompak.
"Tapi jangan terlalu memaksa, Sist. Jangan terlalu keras berpikir dan bekerja. Ingat kondisi kamu," tutur Prasta.
"Yup! Kali ini aku sepakat sama dia! Kalau butuh bantuan, call us," imbuh Distha, jari telunjuknya diangkat dan menunjuk ke arah Prasta.
Lalu terdengar tawa kecil mereka di dalam kantin yang sudah mulai sepi ditinggalkan pengunjungnya karena waktu makan siang telah usai.
***
Sementara itu di sebuah gedung apartemen di kawasan ibu kota bagian selatan, tampak sepasang muda mudi berjalan mesra memasuki lobby gedung apartemen itu. Seorang lelaki muda bertubuh atletis dengan wajah asia-nya menggandeng mesra seorang gadis cantik berbalut kemeja putih model slim fit yang kontras dengan kulit putihnya.
"How is your day?" tanya lelaki itu pada gadis di sampingnya. Kedua netranya tak pernah lepas dari paras manis gadisnya. Bibirnya terus mengembangkan senyum menawannya.
"Good! All is good!" jawab gadis itu.
"Did you enjoy?" tanyanya lagi saat mereka sudah sampai di depan lift yang akan membawa mereka ke atas, tempat unit mereka berada.
"Sure, I enjoyed my day." Gadis itu tersenyum dan sedikit mendongak menatap wajah tampan di hadapannya.
Lelaki muda itu tersenyum simpul dan mendaratkan bibirnya di puncak kepala gadis itu. Terdengar pintu lift terbuka dan beberapa orang keluar dari dalam kotak besi itu. Lalu keduanya masuk ke dalamnya setelah lift itu kosong. Tak ada pengguna lift lainnya bersama mereka.
Lelaki itu merapatkan tubuhnya pada tubuh gadis yang bersamanya. Memeluk tubuh gadis itu dari belakang dengan posesifnya. Mencium aroma tubuh sang Gadis sembari sesekali memberikan kecupan-kecupan ringan di pelipis dan pipi kirinya.
"Bi, please jangan kayak gini," ujar gadis itu lembut, berusaha melepaskan pelukan lelaki itu.
"I miss you, Hun," bisik lelaki itu tepat di telinga gadisnya dan mengecupnya perlahan.
"Bian, please!"
"Oh, come on, Ata! Don't you miss me? Tiga hari kita nggak ketemu. Aku kangen, Sayang," rengek lelaki itu yang tak lain adalah Bian. Dan gadis yang bersamanya adalah Renata.
Renata menghela napasnya panjang dan perlahan menjauhkan kedua tangan Bian dari pinggangnya.
"I know ... Tapi nggak begini juga, Bi," tolaknya lembut.
Denting lift menandakan mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. Begitu pintu lift terbuka, Renata bergegas keluar dari sana dan berjalan lebih dulu tanpa menunggu kekasihnya. Bian mengacak rambutnya gusar dan dengan langkah panjangnya bergegas mengejar Renata.
"Hun ... Sorry, please!" Bian meraih pergelangan tangan Renata saat mereka tinggal beberapa langkah lagi sampai di unit apartemen Renata.
Gadis itu menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuh idealnya hingga berhadapan dengan lelaki yang menjadi kekasihnya itu.
"Aku nggak marah, Bi. Hanya ... Ah, udahlah!" Renata tak melanjutkan bicaranya. Ia lelah hari ini, ingin segera masuk ke dalam apartemennya dan beristirahat.
"Ok ... Baiklah! Kita masuk," jawab Bian menggenggam tangan kekasihnya menuju unit milik Renata.
Renata melangkah masuk ke dalam unit apartemennya setelah Bian mengaksesnya menggunakan kombinasi angka yang mereka buat bersama.
"Kamu mau minum apa?" tanya Renata lesu.
Bian menghampiri Renata, memandangi wajah manis di hadapannya yang terlihat lelah dengan senyum yang menawan di bibirnya.
"Aku bisa ambil sendiri. Kamu mandi aja, ya," ucap lelaki itu, tangannya mengusap lembut wajah gadisnya.
Renata menghela napas pelan dan membalas tatapan Bian yang dalam sembari mengulas senyuman tipis dan mengangguk lemah. Sejak tiba di Jakarta, suasana hatinya sedang tidak baik. Pikirannya selalu tertuju pada keluarganya, terutama kedua orang tuanya. Terlebih sang Mama.
Bian mendaratkan bibirnya di pipi Renata, mengecupnya sekilas sebelum gadis itu beranjak menuju kamarnya. Lelaki itu memandangi tubuh Renata hingga gadis itu masuk ke dalam kamar dan pintu kamar tertutup kembali.
Sejenak Bian bergeming dan melipat bibirnya ke dalam. Lalu ia berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil minuman orange juice dalam kotak kemasan. Ia menuangkannya ke dalam dua buah gelas panjang yang diambilnya dari dalam lemari kitchen set. Lelaki itu tak lupa mengambil 2 buah apel dan buah melon yang sudah dipotong-potong di dalam mangkuk berbahan melamin. Kemudian ia membawa dua gelas orange juice, dua buah apel dan semangkuk potongan buah melon dalam sebuah nampan untuk diletakkan di meja ruang tamu.
Lelaki bermata sipit itu menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang di ruangan tamu. Namun sebelumnya, ia mengambil remote televisi yang tergeletak di atas meja dan menyalakan benda persegi panjang berukuran 32 inci itu. Tak lama, terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Dan spontan pandangannya beralih ke kamar Renata. Gadis itu muncul dengan wajah dan tubuh yang tampak segar.
Senyum semringah terbit di bibir Bian untuk gadis cantik dengan piyama tidur berbahan satin dan berwarna biru muda yang kini telah duduk di sampingnya. Meraih tangan kanan gadis yang dicintainya dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya, Bian kembali memberikan kecupan di pipi mulus gadis itu sembari memejamkan kedua netranya, menikmati wangi segar tubuh kekasihnya.
"Mau pesan makanan?" tanya Bian lembut.
Renata menggeleng dengan kedua sudut bibir tertarik sedikit.
"Kamu lapar?" Gadis itu balik bertanya dengan netra beningnya yang mengerjap pelan memandang lelaki di sampingnya.
Bian tersenyum dan mengecup tangan Renata yang masih dalam genggamannya. Lalu ia menyodorkan segelas orange juice pada kekasihnya yang langsung disambut gadis itu dengan seulas senyuman.
"Thanks," ucapnya, lalu meneguk pelan minuman itu.
"Kalau kamu lapar, pesan aja makanan buat kamu. Aku makan ini aja," cetus Renata sembari meletakkan gelas minumannya dan mengambil mangkuk yang berisi potongan buah melon, lalu melahapnya satu per satu.
Pagi tadi sebelum berangkat magang, ia memotong-motong buah melon yang kemarin dibelinya di supermarket yang tak jauh dari gedung apartemen tempatnya tinggal.
Bian berdecak kesal dengan bibir mencebik melihat perilaku kekasihnya yang dengan santai membawa mangkuk buah melon itu ke dalam pangkuannya dan melahapnya sendiri.
"Kenapa?" Renata menelengkan kepalanya menatap Bian yang memandangnya dengan raut kesal.
"Ck! Tega banget, ya! Pacarnya nggak ditawarin. Dimakan sendiri buahnya, gitu?" Lelaki itu kembali berdecak diikuti dengan gelengan kepala dan ia berusaha mengambil mangkuk berisi buah melon dari pangkuan Renata. Namun sayang, gadis itu dengan gesit menghindar dengan tangan yang memegang erat mangkuk berisi buah melon itu. Kini gadis itu telah berpindah duduk di single sofa.
"Oh, come on, Hun! Please ...." mohon Bian, ia menatap dengan raut memelas. Ia menggeser tubuhnya untuk duduk mendekati Renata yang duduk di single sofa di samping kiri sofa panjang tempat lelaki itu duduk.
Lelaki itu terus melirik mangkuk buah melon di tangan kekasihnya yang tersisa beberapa potong di sana.
Tanpa rasa bersalah, Renata terus melahap sisa potongan buah melon itu dengan sesekali melirik Bian disertai senyum smirk-nya.
"Sayang, kamu benar-benar, ya!" geram Bian dan tiba-tiba saja, dengan gerakan yang sangat cepat, lelaki itu telah berada di hadapan Renata dengan kedua tangan bertumpu pada kedua sisi pegangan sofa, mengungkung gadis itu. Bian tersenyum menyeringai menatap paras manis yang begitu dekat dengan wajahnya.
Sementara Renata terkesiap dengan kedua netra melebar disertai kedua bibir yang sedikit terbuka. Jantungnya berdetak kencang dengan napas yang tercekat ketika menemukan wajah Bian berada begitu dekat dengan wajahnya.
TBC
**Hai, Cinta β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Jaga kesehatan selalu, ya. Udah musim hujan, pandemi masih blm juga berlalu.
Pray for Semeru π semoga saudara2 kita yang berada di sana selalu diberikan kesabaran dan kesehatan atas musibah yang terjadi. Semoga Allah senantiasa memberikan perlindunganNya kepada kita semua, aamiin π
Oh ya, cerita ini mungkin aq buat nggak terlalu panjang. Semoga kalian tetap suka dan setia di sini menunggu update nya.
Satu lagi, insya Allah aq mau publish cerita baru selain up extra part nya DanSa.
Mohon sabar menunggu, ya.... Thank you & Love you as always π€πππ**