LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 4 Lamaran ?



Renata keluar dari ruang perpustakaan kampus saat ponselnya berbunyi. Dan ia tahu siapa yang menelponnya karena nada deringnya sudah ia reset sebelumnya


" Hallo, Ay. '


" Aku udah di depan. Kamu udah selesai belum, Ay ? "


" Udah, tunggu sebentar aku lagi jalan keluar. "


Renata mengakhiri panggilan teleponnya. Segera ia berjalan menuju pintu gerbang kampus dimana Prasta menunggunya.


Sesampainya di pintu gerbang kampus, Renata melihat Prasta duduk di atas motornya. Sangat gagah dan tampan, batin Renata. Ia menghampiri laki-laki pujaannya dengan senyum simpulnya.


" Ay ! " panggil Renata dengan suara yang manja.


Prasta pun menoleh dan melihat Renata yang tersenyum simpul sungguh menggoda. Cantik sekali dia, pikir Prasta. Entah kenapa akhir-akhir ini ia semakin mencintai gadis bernama lengkap Renata Eka Andara. Hingga terkadang ia tak bisa mengontrol dirinya bila berdekatan dengan gadis itu.


Renata sudah berdiri di depan laki-laki bertubuh gagah dengan rambut terurai sebatas leher, terlihat sungguh macho. Senyuman termanis ia ukir di bibir merahnya.


Prasta pun membalas senyuman gadis cantik berbibir merah itu. Memberikan helm pada gadisnya untuk dipakai dan segera pergi dari tempat itu.


" Kita kemana, Ay ? " tanya Renata, tangannya memeluk erat pinggang sang kekasih.


" Ke rumah aku. Tadi Ibu menelpon, ada Olly di rumah, " jawab Prasta.


" Olly ? Dia ke rumah kamu ? " tanya Renata.


" Hu um, " Prasta mengangguk, ia pun melajukan motornya dengan sedikit cepat.


Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, sampailah mereka di rumah Prasta. Renata turun dari motor sport kekasihnya dan berjalan masuk ke rumah kekasihnya setelah sebelumnya melepas helm dan meletakkannya di atas meja kecil di teras rumah itu. Prasta pun mengikuti Renata setelah memarkirkan motornya di teras rumahnya.


" Assalamualaikum.... " salam Renata dan Prasta bersamaan. Mereka pun masuk ke dalam rumah.


" Waalaikumsalam.... " suara Ibu Ranti membalas salam keduanya.


Renata segera menghampiri Bu Ranti dan mencium punggung tangan wanita yang melahirkan kekasihnya itu.


" Ibu apa kabar ? " tanya Renata dengan senyum sumringah.


" Alhamdulillah... Ibu baik, sayang.... " jawab Bu Ranti tersenyum sembari mengusap lembut bahu Renata.


" Lho Olly nya mana, Bu ? " tanya Prasta.


" Masih di kamar mandi. Kalian udah makan ? Makan dulu, gih. Ata, Ibu masak udang goreng tepung sama sayur sop merah lho. Ayo makan dulu, " ujar Bu Ranti senang.


" Iya, Bu. Nanti saja Ata makan, " jawab Renata dengan senyum simpulnya.


Prasta mendekati Renata dan berbisik di telinga gadis itu.


" Ay, tolong kondisikan senyumanmu ya... bikin aku tergoda. "


Seketika tangan Renata mencubit lengan Prasta saat mendengar bisikan kekasihnya.


" Aauuww...! Sakit, Ay ! " Prasta meringis kesakitan menerima cubitan gadis pujaannya.


" Hai, Pras ! " suara nyaring Olly mengagetkan keduanya yang sedang asyik bercanda.


Prasta pun menoleh ke arah suara itu, begitu pula dengan Renata.


" Hai, Renata, " pelan suara Olly menyapa Renata seolah tidak suka akan kehadiran kekasih Prasta itu.


" Hai ! " jawab Prasta dan Renata dengan tersenyum lebar.


" Sama siapa ke sini, Ly ? Masih ingat jalan ke sini ya ? " tanya Prasta sedikit menggoda teman kecilnya.


Olly memasang tampang cemberut.


" Ibu... tuh Prasta mulai Bu. Mulai jahilnya ! " Adu Olly pada Bu Ranti, ia bergelayut manja pada wanita paruh baya itu.


Renata terdiam melihat tingkah Olly yang manja dengan Bu Ranti. Ada rasa tidak rela di hatinya.


" Udah Pras ! Dari dulu kamu suka banget jahil sama Olly, " ujar Bu Ranti menengahi.


" Hilih ! Dianya aja yang cengeng dan manja. Dibilang gitu aja langsung mengadu... wek ! " Lagi-lagi Prasta menggoda Olly dengan menjulurkan lidahnya tanda mengejek.


" Prasta jelek ! Nyebelin ! Iiihhhh... rasain deh ! " Olly mencubit kedua pipi Prasta membuat Prasta meringis kesakitan dan memegang kedua tangan Olly supaya melepaskan cubitannya.


" Olly ! Sakit tau ! " Prasta berhasil melepaskan tangan Olly dari kedua pipinya. Tangan Prasta masih memegang kedua tangan Olly.


" Eheemm.... " Renata berdehem.


Seketika Prasta tersadar dan melepaskan pegangan tangannya dari tangan Olly.


Sekilas Prasta melihat Renata yang meneguk air mineral yang disediakan Ibu di atas meja ruang keluarga.


" Jelek ! Awas kamu ya ! " Olok Prasta pada Olly setengah berbisik.


Bu Ranti menggelengkan kepalanya melihat anak lelakinya yang jahil pada Olly, teman kecilnya.


" Ay, ayo makan, " ajak Prasta pada Renata. Ia menggenggam tangan gadis itu, menariknya perlahan mengajak ke meja makan.


" Aku ga lapar, " jawab Renata datar. Ia asyik memainkan ponselnya.


" Kamu makan aja sama Olly, aku di sini aja mau nonton TV, " lanjut Renata.


Sementara saat itu, Olly dan Bu Ranti sudah beranjak ke ruang makan.


Prasta mendekati Renata, duduk di sebelahnya.


" Maaf ! " ucap Prasta lirih. Kemudian mengecup pipi gadis itu.


" Ay, apaan sih ! " sahut Renata sambil celingukan, takut aksi kekasihnya ada yang melihat.


" Makanya, jangan mulai dong, Ay ! "


" Kamu duluan yang mulai ! Kok jadi aku ? " sungut Renata.


" Iya iya... Ok ! Maafkan aku. "


Prasta meraih tangan Renata, mengecupnya sekilas.


"Jangan marah dong... Ay, aku paling tidak tahan melihatmu marah. Bikin aku gemas, Ay ! Ayolah, jangan begini ya...! " bujuk Prasta.


Entah kenapa, Prasta selalu saja gemas bila melihat Renata merajuk. Dan itu membuatnya semakin ingin memiliki gadis itu.


Renata menatap Prasta, ia hela dalam napasnya.


" Jangan begitu lagi, aku ga suka, Ay. Kamu adalah milikku. Maafkan aku ya bila aku pelit soal dirimu. Karena aku ga mau berbagi apalagi terbagi, " jelas Renata, matanya lekat menatap Prasta. Tangannya mengusap pipi Prasta yang memerah karena cubitan Olly.


Prasta mengambil tangan gadisnya kemudian mengecupnya sekilas.


" Aku mencintaimu, sayang. Cintaku hanya untuk kamu, tak akan kubagi, " ujar Prasta. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Renata. Prasta tak bisa menahannya, ia mengecup bibir merah kekasihnya dengan lembut. Membuat Renata memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Prasta, laki-laki pemilik hatinya.


" Maaf ! Aku ga bisa menahannya, Ay ! " Lirih Prasta berkata.


Renata mengusap bibir Prasta yang sedikit terkena lipstiknya.


" Aku mau segera halalin kamu, Ay, " kata Prasta menatap Renata serius.


" Ga usah bercanda gitu deh ! " sahut Renata.


" Aku serius, Ay ! Aku juga udah ngomong sama Papa dan Mama kamu, " Prasta meyakinkan Renata.


" Udah ah ! " Renata berdiri dari duduknya.


" Mau kemana, Ay ? "


" Katanya tadi mau makan ? "


Prasta tersenyum, menarik tangan gadisnya dan berjalan ke ruang makan dengan tangan saling bertautan.


*******


Prasta terburu-buru menuju tempat parkir kampus. Ia menekan nama kekasihnya di ponsel, sambungan telepon terhubung. Nada panggilan terdengar dan langsung diangkat.


" Ay, sorry aku ga bisa jemput dan antar kamu ya... aku harus ke rumah sakit. Danisha pingsan di depan perpustakaan kampus. Pulang siaran jam 4 sore kan ? " Prasta berkata pada Renata di telepon mengabarkan kalo ia tak bisa menjemput Renata di kampus dan mengantarkannya ke radio DG FM untuk siaran karena harus mengantar Danisha yang pingsan ke rumah sakit.


" Astaghfirullah...! Danish pingsan, Ay ? Trus gimana sekarang kondisinya ? " tanya Renata cemas.


" Saka dan Distha membawanya ke rumah sakit. Ini aku mau menyusul mereka. Ga apa-apa kan, kalo kamu naik ojol ke studio ? "


" Iya, Ay. Aku naik ojol aja, kamu hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari kondisi Danish ya ? Biar aku bisa info ke Kak Ella. "


" Iya, Ay. Ya udah aku pergi dulu. Doakan Danisha baik-baik aja. See you, Ay ! "


" Iya, hati-hati, Ay ! "


Prasta mengakhiri panggilan teleponnya dan segera memacu kendaraannya menuju rumah sakit, menyusul Saka dan Distha yang membawa Danisha.


Sesampainya di rumah sakit, Prasta setengah berlari masuk ke dalam ruang UGD. Dilihatnya Saka dan Distha sedang duduk di ruang tunggu.


" Gimana ? Udah ditangani Dokter ? " tanya Prasta dengan napas tersengal.


" Iya, lagi ditangani, " jawab Distha. Sekilas Prasta melihat Saka duduk dengan memijat pangkal hidungnya, terlihat sangat cemas.


Prasta menghampiri Saka, duduk di sebelah sahabatnya.


" Semoga Danish baik-baik aja, dia gadis kuat, " ujar Prasta sambil menepuk bahu sahabatnya.


Saka mengangguk pelan. " Ya, dia pasti baik-baik aja, " ucapnya.


" Bunda susah sekali dihubungi, tapi aku udah kirim pesan mengabarkan kalo Danish ada di rumah sakit ini karena pingsan, " cetus Prasta kemudian.


*******


Danisha sudah dipindahkan ke kamar perawatan dan Bunda pun sudah datang untuk menemani putrinya.


Distha sudah pulang terlebih dulu karena harus mengantar sang Mama pergi ke rumah saudaranya. Prasta dan Saka juga berpamitan untuk pulang. Saka akan pulang sebentar dan akan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Danisha. Sementara Prasta, ia harus menjemput Renata di studio DG FM.


Prasta dan Saka berpisah di halaman rumah sakit karena tempat parkir kendaraan mereka berbeda tempat.


Prasta berjalan menuju tempat parkir motornya ketika ponselnya berbunyi, Renata memanggil.


" Ya, sayang. "


" Ay, masih di rumah sakit ? "


" Iya, di parkiran motor. Mau on the way jemput kamu, " jawab Prasta.


" Owh ya udah, aku tunggu ya... kamu hati-hati. "


" Iya, Ay. "


Panggilan berakhir. Prasta memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, lalu menyalakan motornya dan melajukannya dengan kecepatan sedikit tinggi karena ia ingin segera sampai di studio DG FM.


Jarak antara rumah sakit dan studio DG FM tidak terlalu jauh. Saat ini Prasta telah sampai di studio radio DG FM. Terlihat sepi di halaman studio. Prasta pun langsung memasuki bangunan radio itu. Begitu memasuki studio, di ruang tamu sudah duduk kekasihnya bersama dengan Kak Ella dan Bang Hendra.


" Ay ! Gimana keadaan Danisha ? " tanya Renata yang langsung menghampiri Prasta.


" Udah siuman dan udah dipindahkan ke kamar rawat juga, " jawab Prasta.


" Keknya dia kelelahan. Anak itu keras kepala sekali. Udah tau kondisinya lemah, tetap aja sibuk dengan macam-macam, " celetuk Kak Ella.


" Dia bukan sibuk tapi menyibukkan diri, Kak, " sahut Bang Hendra.


" Itu dia maksudku, Hen. Mana Mas Rendra jarang sekali menghubungi dia, kan. Urusan ini kantor aja, dah pasrah ke kita. " tukas Kak Ella.


" Kak Ella tumben nih belum pulang dah jam segini, " kata Prasta heran.


" Ya gara-gara Mas Rendra nih, aku jadi ribet ngurusin laporan, " gerutu Kak Ella.


Bang Hendra dan Renata terkekeh. Sementara Prasta tersenyum tipis mendengar gerutuan Kak Ella.


" Ok, kita pamit dulu ya... Mau ada acara soalnya. Pulang dulu ya, Kak, Bang ! " pamit Prasta dan Renata.


Kak Ella dan Bang Hendra mengangguk dan berpesan kepada mereka untuk berhati-hati.


Dalam perjalanan, Renata menanyakan pada Prasta bagaimana bisa Danisha pingsan di kampus. Prasta pun menceritakan yang ia ketahui.


" Semoga Danish baik-baik aja ya, Ay. Sedari tadi di studio aku ga bisa fokus siaran. Kepikiran Danish. Jadi masih belum tau ya Ay, dia sakit apa ? "


" Belum jelas juga. Katanya malam ini Dokter Aldi yang menangani Danisha sebelumnya akan visit dan memeriksanya. Semoga tidak ada sakit yang serius, " tutur Prasta.


Renata pun mengangguk mengiyakan.


Tiba di rumah Renata, mereka disambut oleh Bu Nia di teras rumah. Bu Nia tersenyum melihat putri dan kekasihnya. Ia bahagia melihat anak gadisnya terlihat sangat bahagia bersama kekasihnya, Prasta. Terlebih lagi, anak laki-laki itu menyatakan bahwa dia tidak pernah main-main dengan hubungan mereka. Ia serius ingin membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan dan membahagiakan putrinya satu-satunya.


" Assalaamualaikum... Papa udah datang, Ma ? " tanya Renata sembari mencium punggung tangan sang Mama. Prasta pun melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan Bu Nia dan mengulas senyuman ramah di bibirnya.


" Waalaikumsalam... Sebentar lagi mungkin, katanya tadi udah dekat, " jawab Bu Nia.


" Ayo masuk dulu, udah mau adzan Maghrib, " kata Bu Nia mengajak mereka masuk ke dalam rumah.


" Ay, mandi dulu gih. Kan dari rumah sakit tadi. Aku ambilkan handuk dulu ya.... " kata Renata setelah Prasta duduk di sofa ruang tamu.


" Emang siapa yang sakit, Pras ? " tanya Bu Nia pada Prasta.


" Teman Prasta, Tan. Pingsan di kampus tadi, tapi udah siuman di rumah sakit, " jawab Prasta.


" Itu lho, Ma... Danisha, teman Ata siaran, " timpal Renata yang baru saja datang dengan membawa handuk bersih.


" Ooh yang kamu cerita pingsan di studio itu ? " tanya Bu Nia memastikan yang dibicarakan adalah orang yang sama.


" Iya, Ma. Dia sahabat Prasta, satu kampus dan juga satu jurusan dengan Prasta, " jelas Renata.


Bu Nia mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Sakit apa, Pras, kok sering pingsan ?" tanya Bu Nia kemudian.


" Belum tau, Tan. Dokter masih melakukan pemeriksaan, " jawab Prasta.


" Ini handuknya, Ay. Bawa pakaian ganti, kan ? " tanya Renata sembari memberikan handuk bersih di tangannya pada Prasta.


Prasta mengangguk dengan senyum simpul tersungging di bibirnya. Prasta memang selalu membawa pakaian ganti 1 - 2 pakaian di tas ranselnya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kuliah. Karena selain kuliah ia juga bekerja paruh waktu dimana sewaktu-waktu tugasnya memanggil. Selain pakaian, Prasta juga selalu membawa perlengkapan alat mandinya. Itu salah satu hal yang disukai Renata, kekasih hatinya adalah laki-laki yang prepare, selalu penuh persiapan.


*******


Prasta baru saja selesai menelpon ibunya, mengabarkan jika ia masih di rumah Renata. Prasta tidak pernah lupa mengabarkan keberadaanya pada ibunya di luar jam kuliah. Ia tidak mau membuat ibunya khawatir.


" Ay, ayo udah ditunggu Papa sama Mama ! " ajak Renata yang sedari tadi sibuk membantu sang Mama menyiapkan makan malam.


Prasta tersenyum melihat kekasih hatinya, yang semakin hari membuatnya semakin ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Ia benar-benar mencintai gadis manis di hadapannya.


" Kok senyum-senyum sih, Ay ! Ayo, Ay.... " manja Renata mengajak Prasta ke ruang makan. Tangannya bergelayut manja di lengan laki-laki gagah kekasihnya.


" Ih, manja ! " Prasta mencubit kecil hidung mancung kekasihnya.


" Ga suka ya ? " tanya Renata


" Suka banget ! Makanya ingin segera halalin kamu, " sahut Prasta mengecup pipi Renata. Seketika wajah Renata bersemu merah, merona.


Prasta tertawa lebar melihat wajah merona kekasihnya, membuatnya semakin gemas dan ingin memeluk erat gadisnya.


" Udah kenapa mesra-mesraannya ! Udah ditungguin, semuanya udah kelaparan juga ! " celetuk Rakha yang tiba-tiba muncul karena diminta sang Mama untuk memanggil kedua orang yang sedang kasmaran itu.


Renata dan Prasta berjengit kaget, dengan kemunculan Rakha yang tiba-tiba. Untung, Prasta tidak sedang menciumnya.


" Ish ! Iya iya... ini juga lagi jalan ! " tukas Renata sedikit malu.


" Maaf, menunggu, Pa, Ma, " ucap Renata mengambil tempat duduk di hadapan kedua orang tuanya.


Prasta pun meminta maaf kepada kedua orang tua Renata dan mengambil tempat duduk di sebelah Renata.


Sementara Rakha duduk di sebelah sang Mama.


Tanpa banyak bicara lagi, mereka pun memulai acara makan malamnya.


Selesai menyantap hidangan makan malam, mereka tidak langsung beranjak dari ruangan itu.


" Jadi bagaimana, Prastawan Nugroho ? Kamu serius dengan Renata ? " Pak Denny membuka suaranya memulai pembicaraan, dan terlihat serius.


Renata seketika menatap Papanya dengan sedikit gugup.


" Pa.... "


Belum lagi Renata menyelesaikan kalimatnya, Pak Denny sudah memotongnya.


" Papa tidak bertanya sama kamu, Ata. Papa bertanya pada Prasta, laki-laki yang mengaku kekasihmu, " tukas Pak Denny menatap Renata dan Prasta bergantian.


Renata pun menutup mulutnya, terdiam. Tangannya menggenggam tangan Prasta di bawah meja makan.


Prasta tersenyum. Ia mengangkat genggaman tangannya dan tangan Renata ke atas meja makan. Dengan yakin dan percaya diri, Prasta ingin menunjukkan keseriusannya menjalin hubungan dengan gadis di sebelahnya.


" Sangat serius, Om. Saya siap seratus persen melamar Renata, " ucap Prasta yakin.


Renata membeliakkan kedua matanya mendengar ucapan Prasta yang terdengar tegas dan yakin. Pandangannya ia tujukan pada laki-laki yang duduk tepat di sebelahnya.


Prasta yang mendapat sorotan tajam dari Renata tersenyum yakin.


" Dan kamu, Renata Eka Andara. Kamu siap dan bersedia dilamar laki-laki yang kamu akui sebagai kekasih ? " tanya Pak Denny pada Renata. Dan pertanyaan dari sang Papa sukses membuat Renata terhenyak dan mengalihkan pandangannya pada lelaki paruh baya cinta pertamanya itu.


" Pa.... "


Renata menelan ludahnya sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya.


" Please... ini pertanyaan candaan kan ? "


" Apa kamu lihat Papa bercanda ? " tanya Pak Denny dengan wajah dan nada suara yang serius.


" Come on, Pa... lamaran ? Kita masih kuliah lho ! Apa ga terlalu cepat membicarakan lamaran ? Please deh, Pa ! Jangan buat Prasta terbebani dengan ucapan dan pertanyaan Papa ini, " ujar Renata. Ia merasa orang tuanya menekan Prasta untuk segera melamarnya.


" Ay ! " seru Prasta.


" Apa ? " jawab Renata sedikit kesal.


Prasta menggeleng.


Renata berdecak kesal. Sebenarnya ia ingin marah tetapi laki-laki di sebelahnya mencoba meredakan amarahnya.


Tbc


Ada yang kangen sama dia ?? Jaga jarak aman anda yaa... 🤭



***Haaiiii... Cintaaaa 💗💗💗


Author up lagi kesayangan kalian, mau dibungkus ?? sayang laahhh... tapi it's ok sih kalo bungkusnya pake hati, hahaaayyyy... 😍


Please tinggalin jempol n komen kalian yaa... Jan lupa rate *5 ya Cintaaaa... vote n tips, thank you pake bangeeettt 🤗😘


Love you as always 😘💞***