LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 5 Disappointed



Usai makan malam itu, Prasta berniat akan segera pulang. Namun, Renata mencegahnya. Renata ingin berbicara berdua dengan Prasta mengenai serangan pertanyaan dari kedua orang tuanya, terutama Papanya, yang tidak ia duga.


Di teras rumah, mereka duduk berdampingan di bangku teras yang panjang. Cukup lama mereka saling diam. Entah apa yang ada di dalam hati dan pikiran keduanya. Renata melirik Prasta sekilas. Laki-laki itu hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Sesekali ia hela napasnya dalam.


Perlahan, Renata memegang dan menggenggam tangan Prasta. Membuat laki-laki itu seketika menatap tangan kekasihnya yang sudah menggenggam sebelah tangannya.


" Maaf, " singkat Renata berkata memecah keheningan mereka.


Prasta masih terdiam. Tidak ada reaksi.


" Aku.... "


" Udahlah ga usah dibahas. Aku paham kok ! Keknya aku harus pulang sekarang, " ujar Prasta yang tiba-tiba berdiri.


Ia berjalan masuk ke dalam rumah Renata untuk mengambil tas dan berpamitan kepada kedua orang tua kekasihnya.


Renata mengikuti pergerakan Prasta masuk ke dalam rumah.


" Ay, please.... "


" Udah malam, aku harus pulang. Besok aku ada kuliah pagi. Tolong panggilkan Papa dan Mama, " ucap Prasta lembut tetapi dengan wajah datar.


Hati Renata mencelos, terasa perih dengan sikap kekasihnya. Namun, ia juga tak membantah keinginan kekasihnya. Sebelum Renata memanggil kedua orang tuanya, pria dan wanita paruh baya itu keluar menghampiri mereka. Sebelum Renata masuk tadi, Prasta sudah meminta Rakha untuk memanggilkan kedua orang tuanya.


" Om, Tante. Prasta pulang dulu. Terima kasih banyak makan malamnya. Maafkan Prasta, jika ada yang tidak berkenan karena sikap Prasta, " pamit Prasta sopan.


Seketika Renata menatap Prasta mendengar laki-laki yang dicintainya berbicara seperti itu.


Pak Denny dan Bu Nia pun sekilas melihat ke arah Renata. Bu Nia menggelengkan kepalanya, paham apa yang terjadi sesungguhnya diantara mereka berdua.


" Iya, Pras. Santai aja ya... Jangan terlalu dipikirkan. Kami harap semua yang sudah kita bicarakan tidak membuatmu terbebani. Jangan bosan dengan orang tua seperti kami ya.... " tutur Pak Denny ramah.


Prasta tersenyum tipis dan mengangguk.


" Baik, Om, Tante. Prasta permisi, assalaamualaikum.... " ucap Prasta mencium punggung tangan kedua orang tua Renata.


" Waalaikumsalam.... "


" Hati-hati di jalan ya, Pras. Salam kami untuk kedua orang tuamu, " lanjut Bu Nia.


" Baik, Tan. Insya Allah disampaikan, " sahut Prasta. Ia pun segera beranjak pergi, tetapi sebelum ia benar-benar keluar dari rumah itu, ia menatap Renata.


" Ga mau antar aku keluar ? " tanya Prasta.


Bu Nia memberi isyarat pada putrinya agar dia mengantar Prasta keluar untuk pulang.


Renata pun beranjak dan berjalan di belakang Prasta.


" Aku pulang ya. Mungkin besok dan lusa aku ga bisa antar dan jemput kamu. Schedule ku full di kampus dan kantor Kak Mitha. Maafin aku, assalamualaikum.... " Prasta pun melajukan motornya tanpa menunggu Renata menjawab salamnya.


Renata tak sanggup lagi menahan air matanya agar tidak luruh. Dadanya sesak dengan sikap Prasta seperti itu. Dingin dan datar. Ia pun berlari masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan kedua orang tua dan adiknya yang berada di ruang keluarga. Ia langsung masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua. Ia hempaskan tubuhnya di ranjang. Gadis itu menangis. Menelungkupkan wajahnya di atas bantal, ia terisak menumpahkan segala rasa sesak di dadanya.


******


Prasta melajukan motornya perlahan. Selama perjalanan pikirannya melayang pada kejadian makan malam itu. Ia kecewa dengan Renata. Kecewa karena Renata seolah menolak keinginannya, mengajak gadis itu melanjutkan hubungan yang lebih serius. Seolah Renata meragukannya. Meskipun kedua orang tua kekasihnya itu sangat mendukungnya.


Pukul 22.00 ketika Prasta tiba di rumahnya. Sepi. Dibukanya pintu rumah dengan mengucapkan salam setelah sebelumnya ia mengunci pintu pagar.


Terdengar sahutan dari dalam rumah. Bapak dan Ibunya masih terjaga, menonton tayangan berita di sebuah televisi.


" Dari mana aja Pras ? " tanya Bu Ranti.


" Dari rumah sakit dan rumah Renata, Bu. Maaf Prasta pulang malam tidak mengabari, " jawab Prasta mencium punggung tangan sang Ibu dan Bapak.


" Siapa yang sakit ? " tanya Pak Yusuf, sang Bapak.


" Danisha pingsan di kampus tadi siang, " ujar Prasta duduk di sebelah sang Ibu, menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang melahirkannya.


" Lho, Danish pingsan lagi ? Trus gimana sekarang keadaannya ? " tanya Bu Ranti dengan raut wajah serius.


" Udah siuman kok, Bu. Udah di kamar inap, " jawab Prasta masih bersandar di bahu sang Ibu.


" Syukurlah. Sakit apa kata dokter, Pras ? " tanya Bu Ranti kembali.


" Masih belum tau, Bu. Masih harus dilakukan pemeriksaan katanya, " Prasta berdiri hendak beranjak ke kamarnya.


" Papa dan Mama Renata titip salam buat Ibu dan Bapak. Prasta ke kamar, Pak, Bu, " ujarnya kemudian.


" Waalaikumsalam, " jawab kedua orang tua Prasta.


" Ada apa dengan anak itu. Bawaannya kok sedih begitu ya, Pak, " Heran Bu Ranti melihat sikap Prasta yang tak seperti biasanya.


" Capek mungkin, Bu, " jawab Pak Yusuf.


" Prasta mana ada capek, Pak. Seharian keliling entah kemana ga ada capeknya. Ya udah, istirahat dulu Pak, " kata Bu Ranti yang kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Setelah membersihkan diri, Prasta pun berbaring di ranjangnya. Ia masih memikirkan sikap Renata.


Walaupun Prasta mendapat dukungan penuh dari kedua orang tua Renata, ia tak akan mengambil kesempatan memaksa Renata untuk menerimanya jika memang gadis itu tidak mau melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.


Prasta berpikir, mungkin lebih baik jika mereka tidak saling bertemu lebih dulu untuk beberapa waktu. Ia ingin membiarkan Renata berpikir sendiri mengenai hubungan mereka.


Rasa kantuk mulai menyerang Prasta. Lambat laun ia pun tertidur dengan ponsel di tangannya, yang menampilkan foto Renata bersamanya.


Sementara itu, Renata masih belum bisa memejamkan matanya yang sembab akibat menangis. Hingga saat itu, ia masih terisak mengingat sikap Prasta yang tak lagi hangat.


" Ay, aku sayang kamu. Aku sakit melihat sikap kamu seperti itu. Aku ga mau kita pisah, Ay.... " Renata berbicara lirih di tengah isak tangisnya.


" Aku bukan ga mau untuk lebih serius sama kamu. Kita masih kuliah. Aku ingin kita selesaikan kuliah kita dulu, Ay. Kenapa kamu ga mau denger penjelasanku dulu, " lanjutnya masih terisak. Bantal dan gulingnya basah oleh air matanya.


Perlahan mata sembab itu pun terpejam karena rasa kantuk dan lelah menangis.


*******


Prasta berlari mengejar Distha yang terlihat sedang menuju ke perpustakaan.


" Distha ! " panggilnya sambil terus berlari.


Distha pun sontak menoleh ke belakang mencari asal suara yang memanggil namanya.


Ia menghentikan langkahnya saat tahu siapa yang memanggilnya.


" Ngapain kamu lari-lari begitu, Pras ? " tanya Distha setelah keduanya berdiri berhadapan.


" Eh ! ya ngejar kamu lah... kamu mau ke perpustakaan ? " Prasta bertanya sambil membetulkan letak tas nya.


" Iya, " jawab Distha sambil melanjutkan jalannya.


" Ga ke rumah sakit ? " tanya Prasta lagi.


" Mungkin nanti sore atau malam. Kamu ke sana juga kan ? "


" Mungkin malam, Dis. "


Distha mengernyitkan dahinya. Ia heran melihat sikap sahabatnya yang tidak bersemangat seperti biasanya.


" Bro, are you ok ? " tanya Distha selanjutnya.


" Sure, I'm ok ! " Sahut Prasta, tersungging senyum simpul di bibirnya. Ia berjalan mendahului Distha.


Distha hanya mencebikkan bibir dan mengedikkan bahunya. Lalu berjalan menyusul Prasta.


Di perpustakaan, keduanya duduk berhadapan. Distha masih heran dengan sikap Prasta. Sesekali ia melirik sahabatnya itu.


" Pras, kamu ada masalah ? " tanya Distha yang penasaran.


" Masalah apa ? " balas Prasta.


"' Aku bertanya sama kamu, Bro. Ada apa ? Kamu ga bisa berbohong denganku, " ucap Distha.


Prasta menatap Distha.


" Ga ada apa-apa kok, " Prasta tersenyum lebar pada sahabatnya.


" Ok ! kalo kamu butuh seseorang untuk bercerita, aku siap mendengarkan, " kata Distha meyakinkan.


Keduanya pun kembali larut dengan buku dan laptop masing-masing.


Sementara itu, Renata baru saja selesai tugas siaran. Ia duduk di pantry menikmati kopi hitam buatannya. Ia terngiang dengan ucapan Mamanya saat berangkat bersama pagi tadi.


Flash back on


" Mama sama Papa tidak membenarkan sikap dan reaksi kamu semalam, Ata. Kamu udah buat Prasta kecewa. Kamu tau, Mama bisa melihat kekecewaan di wajahnya ketika kita semua mendengar jawaban kamu, " tutur Bu Nia, yang duduk disamping Pak Denny yang sedang mengemudi.


Renata hanya diam. Ia memandang keluar jendela, bergulat dengan pikirannya.


" Ata, kamu denger Mama ga sih ? " tanya Mama sambil mengalihkan pandangannya ke belakang, menengok putrinya yang duduk di bangku mobil bagian belakang.


" Iya, Ata denger, Ma.... " sahut Renata lirih.


" Papa ga nyangka kamu bisa berkata seperti itu. Papa tau kesungguhan Prasta, Ata. Makanya Papa ingin menegaskan padanya dan memberikan dukungan padanya. Bukan membebaninya seperti yang kamu tuduhkan. Melihat pacar kamu itu, Papa seperti bercermin. Papa seperti melihat diri Papa waktu muda. Saat Papa bertemu dengan Mama kamu. Tapi kenapa kamu bicara seperti itu, seolah meremehkan dan menolak niat baiknya. Papa kecewa sama kamu, " timpal Pak Denny, panjang kali lebar laki-laki paruh baya itu memberikan penjelasan dan wejangan pada sang putri.


Flash back off


Renata menghela napasnya berat. Ia sesap kopi nya, lalu menatap benda pipih merah metalik yang ada di atas meja makan pantry.


Tak ada pesan atau panggilan dari laki-laki cintanya. Ia ingin menghubungi kekasihnya, tapi ia urungkan. Ia ingat semalam Prasta mengatakan dia sibuk, banyak yang harus dikerjakannya.


" Ren ! Kita jalan yuk, ke mall atau kemana gitu, " tiba-tiba Mala dan Dian sudah berada di hadapannya, mengajaknya jalan.


Renata menghela napasnya singkat, tersenyum pada kedua temannya.


" Ngapain ? " tanya Renata.


" Kok ngapain ? Ya jalan-jalan, Ren. Sapa tau ketemu yang diskonan, gitu. Hehehe.... " kelakar Mala.


Sejenak Renata terdiam. Daripada tak ada yang ia kerjakan di rumah, ia pun mengiyakan ajakan dua temannya itu.


" Ajak Kak Ella coba, kali aja mau, " usul Dian.


" Kamu aja yang ajak, Di, " ujar Mala.


Mereka ke ruangan penyiar menjumpai Kak Ella.


" Kak, mau join ga ? Kita mau jalan ke mall, " ajak Dian pada Kak Ella yang sedang sibuk merapikan mejanya setelah berkutat dengan kertas-kertas laporan bulanannya.


" Naik apa ? " tanya Kak Ella.


" Biasalah, Kak. Taksi online andalan kita para ciwi-ciwi.... " kelakar Mala.


Kak Ella tertawa, " Mala, kamu ih ! "


" Gimana, ikut ga nih ? " tanya Dian.


" Bolehlah ya... sekali-sekali aku jadi bujangan.... " Kak Ella terkekeh.


" Asiiik... rame-rame nih kita ! " seru Mala senang.


Mereka berempat pun berangkat setelah taksi online yang dipesan Mala datang.


******


Prasta berjalan ke tempat parkir kampusnya ketika ia merasakan getaran ponselnya di saku celananya. Tak ada nama di layar ponselnya.


" Ya, hallo ! "


" Hai, Pras ! "


Prasta berjengit kaget mendengar suara di ujung sana, spontan ia menjauhkan ponsel dari telinganya.


" Prastaaaa ! "


" Woooiii...! Aku ga budeg ya... ga usah pake toa juga kali ! Kenceng banget, Olly ! " sungut Prasta.


" Ish ! kok gitu sih, Pras ! Kamu dimana ? "


Ternyata Olly yang menelpon Prasta.


" Di kampus lah ! Ada apa ? " tanya Prasta.


" Aku di rumah kamu sekarang. Pulang, gih ! " jawab Olly terkekeh.


" Enak aja nyuruh-nyuruh orang pulang ! Ogah ! " seru Prasta kesal. Ni anak seenaknya aja deh ! batin Prasta.


" Eh ! Terus giman dong, aku udah di rumah kamu lho ! "


" Sapa juga yang suruh, huh ? Aku masih ada kerjaan, Ly ! Udah dulu, bye Olly.... " sungut Prasta yang sengaja mematikan ponselnya sebelum Olly berkata-kata lagi.


Tak berapa lama, Prasta sudah melajukan motornya meninggalkan kampus menuju kantor Kak Mitha.


Di lain tempat, Renata dan ketiga teman kerjanya sudah tiba di salah satu mall terbesar di Surabaya.


" Kita makan dulu atau gimana ? " tanya Dian.


" Keknya mending kita makan dulu ya... " sahut Mala.


" Ren, kita makan dulu ga apa-apa, kan ? " tanya Mala pada Renata yang sedari tadi diam, tak banyak bicara.


Renata mengangguk, " Ok, ga masalah. Aku juga udah lapar. Hehehe.... "


" Kemana nih, food court ? tanya Dian.


" Aku pengen Japanese nih ! " kata Kak Ella.


" Hu um, enak kali ya ! " sahut Renata.


" Fix, Japanese ! " Mala pun menimpali usulan teman-temannya.


Mereka berempat pun menuju ke salah satu restoran Jepang yang ada di mall tersebut.


Setelah mendapat tempat duduk dan memesan makanan, mereka pun mengobrol.


" Ren, udah nengok Danisha ? " tanya Kak Ella.


" Belum, Kak. Kita nengok sama-sama, yuk ! " ajak Renata.


" Iya. Besok, gimana ? " tanya Mala.


" Sore, ya.... " ujar Kak Ella.


" Iya lah, Kak. Ga mungkin pagi atau siang juga, " sahut Dian.


Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba ada yang memanggil Renata.


" Ata.... "


Seketika Renata memalingkan wajahnya, menatap laki-laki yang sudah berdiri di samping tempat duduknya.


Renata terkesiap dan terpaku menatap laki-laki itu. Laki-laki yang pernah mengisi hidupnya 2 tahun yang lalu.


Mala yang duduk di sebelah Renata mencolek lengan temannya yang diam terpaku.


Renata tersentak, tersadar dari lamunannya.


" Bian, " ucap Renata, ia berdiri dengan sedikit canggung.


" Hai.... " sapa laki-laki yang dipanggil Bian oleh Renata. Ia tersenyum manis pada Renata, mengacak rambut gadis itu. Membuat Renata terkejut dengan perlakuan laki-laki itu.


Tbc



**Hai Cintaaaa 💗💗... bahagia banget ketemu kalian lagi, dah weekend lagi... time flies so fast yaa... 🤗😘


Prasta jan galau dong... lagi galau tetap waooowww yaa... 😍


Like n comment pls... rate n vote, thank you so much 😘😘


Love you all as always 😘💞💞**