
Setelah absen dan membereskan sedikit pekerjaannya, Prasta pun menemui Olly yang menunggunya di ruang tunggu.
Saat ia berjalan ke ruang tunggu, ia berpapasan dengan Lana.
" Cantik lho, Pras ! " ucap Lana setengah berbisik sembari tersenyum menggoda Prasta.
" Eh ? Siapa yang cantik, Kak ? " tanya Prasta bingung.
" Hmmmm... kamu yang cantik ! Ish, ya teman cewek kamu itu yang cantik. Masa iya kamu yang cantik ! " sungut Lana.
" Semua cewek cantik, Kak ! Kalau cowok ganteng ! Kalau sebaliknya berarti tanda-tanda dunia akan berakhir ! " jawab Prasta sambil terkekeh dan berlalu dari hadapan Lana.
Lana pun terkekeh ingin memukul Prasta dengan sebuah penggaris yang dibawanya, sayangnya laki-laki itu sudah berlalu dengan langkah cepat dan tawanya yang lebar.
Olly sedang duduk di ruang tunggu. Memandangi situasi kantor Prasta sambil sesekali menatap layar ponselnya.
" Jadi, ngapain kamu ke sini ? " tanya Prasta yang sudah berdiri di hadapan Olly yang duduk.
" Mampir aja, kebetulan lagi ada yang aku kerjain di gedung ini, " jawab Olly tersenyum.
Prasta mengernyitkan dahinya.
" Ngerjain apa emang ? Gedung ini banyak banget kantor, Ly, " ujar Prasta ingin tahu.
" Ada lah pokoknya ! Thanks ya fotonya, udah aku terima, " cetus Olly.
" Sama-sama. Jadi cuma mampir, kan ? Ya udah, kalau mampir berarti cuma bentar, kan. Aku masih punya banyak kerjaan, nih, " celetuk Prasta yang kemudian bangkit dari duduknya.
" Ish ! Aku tadi ketemu Renata di kampus, " kata Olly sembari menatap Prasta.
" Trus ? " Prasta pun menatap Olly dengan dahi mengernyit.
" Tumben kamu ga jemput dia. Beberapa kali sih, aku ketemu dia. Pulang pergi sendiri, " ujar Olly.
" Kenapa emangnya ? " tanya Prasta datar.
" Ya... ya ga apa-apa, sih. Cuma heran aja. Kamu emang sibuk banget ya, sampai ga bisa antar jemput dia, " ucap Olly, masih menatap Prasta.
Prasta terkekeh.
" Jadi kamu ke sini cuma buat ngomong itu doang ? Olly... Olly... Apa itu penting buat kamu ? Ga ada hubungannya juga sama kamu, Ly, " kata Prasta sedikit sebal. Dalam hatinya, buat apa coba, Olly ngomongin masalah Renata.
" Bukan gitu, Pras ! Aku pikir kalian sedang ada masalah atau bagaimana, " ujar Olly dengan wajah yang ingin tahu.
Prasta menatap Olly dengan wajah yang tidak suka dan menautkan kedua alis hitamnya.
" Sorry, Ly. Ini kantor. Aku ga suka ngomongin hal pribadi di tempat kerja. Dan lagi, kenapa kamu jadi ngurusi hubungan aku sama Renata ? " Prasta berbicara lirih, tidak enak bila didengar seluruh penghuni kantor.
" Sorry, aku harus kerja, " imbuh Prasta, kemudian beranjak meninggalkan Olly yang masih tertegun di tempatnya.
Prasta heran, untuk apa Olly begitu ingin tahu tentang hubungannya dengan Renata. Mengingat gadis itu, ia kembali teringat akan kejadian di depan matanya beberapa jam lalu. Bian, laki-laki itu brengsek ! Tanpa sengaja ia mengepalkan kedua tangannya sembari bersandar di kursi kerjanya.
" Pras ! Dicari Mas Bekti, tuh ! " suara seseorang membuyarkan lamunannya.
" Di ruangannya ? " tanyanya kemudian.
" Di kantin ! Ya pasti di ruangannya, Bro ! " sahut seorang teman kantornya sembari memukul lengannya.
Keduanya tertawa terbahak sebelum kemudian Prasta bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke ruangan sang Atasan.
*******
Saka melihat jam sport yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam 4 sore lebih, yang di tunggunya tak kunjung datang. Menyesap kopi espresso yang dipesannya sembari mencari sebuah nama di daftar kontak ponselnya sebelum kemudian melakukan panggilan telpon pada orang yang dituju.
Namun baru saja nada panggil pertama berbunyi, Saka melihat orang yang ditunggunya masuk ke dalam coffee shop tempatnya menunggu. Ia pun mematikan panggilan telponnya.
" Sorry, Bro. Tadi ada meeting sebentar dengan Boss. Ada apa, sih ? Keknya penting banget ngajak ketemu, " ujar Prasta sembari mendaratkan pantatnya di kursi di hadapan Saka.
" Penting ga penting, sih ! " ucap Saka, ia hela napasnya dalam. Tangannya melambai pada pelayan coffee shop.
" Kamu pesan apa ? " tanya Saka saat si pelayan sudah menghampiri mereka.
" Espresso less sugar ya, Mbak, " ujar Prasta.
" Tambah tuna puff, Mbak. Kamu juga mau ? " tanya Saka.
" Almond croissant aja, " sahut Prasta.
" Masing-masing satu ya, Mbak, " ucap Saka sembari tersenyum.
" Baik, Kak. Mohon ditunggu, " ucap si pelayan dengan sebuah senyuman dan berlalu untuk menyiapkan pesanan mereka.
" So, ada apa ? " tanya Prasta kemudian. Ia mengernyitkan dahinya hingga matanya menyipit menatap sahabatnya.
Saka menyesap espresso nya perlahan. Setelahnya ia menatap keluar jendela kaca di sampingnya dengan helaan napas yang sedikit berat.
" Danisha ? " tanya Prasta lagi, mencoba menebak.
" Kenapa ? Bukannya kamu udah melamarnya ? Tinggal beresin skripsi, lulus lalu nikah. What else ? " lanjut Prasta semakin bingung dan penasaran dengan sikap sahabatnya.
Kembali Saka menghela napasnya, kali ini lebih panjang. Ingin menghalau sesuatu yang mengganggu pikiran dan benaknya.
" Akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan Danisha. Entah karena pikiran aku atau emang ada sesuatu yang dia sembunyikan, " ujar Saka mencurahkan isi hati pada sahabatnya.
" Emang anehnya dimana ? " tanya Prasta semakin penasaran.
" Dia sering melamun. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Kalau aku ajak bicara soal rencana pernikahan kami, dia ga antusias. Kek ogah-ogahan gitu. Selalu bilang terserah dan gimana baiknya, " tutur Saka kembali dengan helaan panjang napasnya.
Prasta menyesap kopi espresso nya yang sudah tersaji di meja.
" Apa aku terlalu memaksanya ? " tanya Saka kemudian.
" Memaksa ? Dia menerima lamaran kamu, kan ? Aku rasa itu semua hanya pikiran kamu sendiri aja, " ujar Prasta berusaha meyakinkan sahabatnya.
Saka menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan kedua tangan bertautan bertumpu di atas meja.
Prasta menatap sahabatnya lekat sembari menyesap espresso nya lagi.
" Jangan bilang kamu sedang meragukan Danisha atau kamu mulai ragu dengan perasaanmu pada Danisha, " cetus Prasta.
Seketika Saka balas menatap Prasta yang sedang mengecap potongan almond croissant nya.
" Aku tak pernah meragukan apa pun terutama untuk hubunganku dengan Danisha. Kamu tahu benar itu, Pras. Aku hanya merasa... Entahlah ! " Saka menghembuskan napasnya kasar.
" Aku ingin mempercepat pernikahan kami, " lanjutnya.
Prasta terkekeh, menatap sahabatnya yang terlihat galau.
Saka mendengus kesal.
" Ada yang lucu ? " tanya Saka dengan wajah cemberut.
Prasta semakin terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya.
" Keknya sahabatku udah ga kuat nahan godaan, " kelakar Prasta.
" Banget ! " sahut Saka yang diikuti gelak tawanya.
" Whooaaah... bener nih ! Ya udah, buruan dihalalin ! " ujar Prasta tertawa lebar.
Kedua sahabat itu pun tergelak tawa bersama.
" Lalu gimana denganmu ? Masih perang dingin ? " tanya Saka pada sahabatnya sembari memasukkan potongan tuna puff ke dalam mulutnya.
" Kamu sering ketemu Renata ? Mungkin waktu mengantar atau menjemput Danisha ? " tanya Prasta.
Saka mengerutkan dahinya. Baru kali ini Prasta menanyakan Renata pada Saka sejak mereka memutuskan untuk berpisah.
" Tumben nanya, " celetuk Saka tersenyum tipis.
Prasta terdiam sesaat. Lalu ia meraih ponsel yang ia letakkan di meja. Tangannya membuka gallery ponselnya. Kemudian ia sodorkan ponselnya pada Saka.
" Apa ini ? " tanya Saka meraih ponsel milik Prasta.
" Lihatlah sendiri dan aku ingin tahu pendapatmu, " sahut Prasta.
Saka menatap layar ponsel Prasta. Terpampang di sana beberapa foto, menatapnya serius hingga memicingkan matanya. Tangannya sibuk memperbesar satu per satu foto-foto itu. Ingin memastikan siapa objek di foto itu. Matanya pun membulat sempurna ketika dengan jelas mengetahui siapa objek di foto itu.
" Ini... Ini bukannya cowoknya Renata ? Eh, sorry ! Maksudku si Bian, " seru Saka sembari menatap Prasta lalu beralih ke foto-foto itu lagi.
Prasta menghela napasnya berat. Wajahnya terlihat geram.
" Brengsek bener dia ! " geram Prasta.
" Aku melihat mereka berciuman di mobil saat berhenti di traffic light. Gila, kan ? " ujar Prasta kemudian, nada bicaranya meninggi.
" Really ? Di traffic light ? Astaga ! " seru Saka tak percaya.
" Sayang ga sempat aku foto in tadi, " sahut Prasta masih terlihat emosi.
" Foto-foto ini aja udah jelas membuktikan mereka ga punya akhlak ! " cetus Saka yang ikut geram dibuatnya.
" Lalu cewek itu siapa ? " tanyanya kemudian.
" Entah, aku juga ga tau ! Belum tau tepatnya ! Aku akan mencari tau, " ucap Prasta tegas.
" Kamu akan kasih tau Renata ? " tanya Saka menatap Prasta yang sedang menyesap sisa espresso nya.
" Ga sekarang. Aku harus cari tau dulu siapa cewek itu dan apa hubungan mereka. Aku ga mau kasih tau Renata tanpa bukti yang jelas, " tutur Prasta.
" Yes ! Sebaiknya memang begitu. Cari tau dulu apa hubungan mereka. Jangan sampai apa yang kamu lakukan malah menimbulkan fitnah, " saran Saka.
Prasta menganggukkan kepalanya. Keduanya pun terdiam saling menikmati sisa makanan dan espresso nya. Hingga adzan Maghrib terdengar, mereka pun menyudahi obrolan di coffee shop tersebut. Sebelum benar-benar pulang, Prasta mengajak Saka untuk sholat Maghrib di musholla gedung tempatnya bekerja.
*********
Renata baru saja memarkirkan motornya di garasi rumahnya, saat dilihatnya mobil Expander hitam berhenti di depan rumahnya. Ia memutar bola matanya diikuti decakan lirih dari bobirnya mengetahui siapa yang datang.
Dengan segera Renata masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang menghubungkan garasi dengan dapur.
Setengah berlari ia menaiki tangga menuju ke kamarnya. Baru saja ia akan membuka pintu kamarnya, terdengar suara Mamanya yang mempersilahkan si tamu untuk masuk.
Renata telah berada di dalam kamarnya. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Langkahnya terhenti saat akan memasuki kamar mandi. Ketukan di pintu kamarnya dan suara sang Mama yang memanggilnya, mengurungkan niatnya untuk mandi.
" Ya, Ma. Tunggu ! " sahut Renata, berjalan untuk membuka pintu kamarnya yang sengaja ia kunci.
Sebuah senyuman penuh kelembutan didapatinya saat pintu kamarnya terbuka. Renata pun tersenyum menatap sang Mama.
" Ada apa, Ma ? " tanya Renata pura-pura tidak tahu.
" Ada Bian di bawah, di ruang tamu, " jawab Bu Nia dengan lembut.
Renata mendesah pelan.
" Ata capek, Ma. Baru aja pulang dan baru juga mau mandi, ck ! " ucapnya malas.
" Ya udah, kamu mandi dulu. Bian pasti mau nunggu, " ujar Bu Nia menepuk pelan bahu sang putri.
" Ata capek ! Males juga ketemu dia. Bilang aja gitu sama dia, Ma, " kata Renata kesal.
" Ata... Kalau kalian ada masalah, cepat diselesaikan. Udah, kamu mandi trus temuin dia, " tutur Bu Nia sebelum kemudian beranjak meninggalkan putrinya yang masih terlihat kesal.
Renata menutup kembali pintu kamarnya dan bergegas mandi. Lima belas menit kemudian, ia telah selesai mandi dan berpakaian. Wajahnya telah terlihat segar dan cantik dengan bedak tipis dan lip gloss di bibirnya.
Dengan malas, ia keluar kamar untuk menemui Bian. Perlahan ia menuruni anak tangga saru per satu. Dilihatnya Bian sedang duduk di sofa ruang tamu ditemani sang Mama.
" Mau apa ke sini ? " suara Renata yang ketus membuat Bian dan Mamanya seketika memalingkan wajah mereka padanya.
" Ata... " Bu Nia berdiri dari duduknya dan menghampiri putri satu-satunya.
" Mama tinggal dulu biar kalian bisa lebih nyaman ngobrolnya, " ujar Bu Nia, tersenyum pada Renata sembari mengusap lembut kepala putrinya.
Sebelum benar-benar pergi, Bu Nia berbisik di telinga putrinya.
" Bersikaplah yang baik sebagai seorang wanita. Jaga emosimu, Sayang. "
Setelah itu, Bu Nia pun beranjak meninggalkan mereka berdua.
Renata masih berdiri di hadapan Bian, berseberangan.
" Ata, aku.... " Bian tak melanjutkan kalimatnya. Ia menatap sendu Renata yang juga menatapnya tajam.
" Apa ? "
" Aku minta maaf ! " kata Bian sendu sembari mendekati Renata.
" Stop ! Jangan mendekat ! " Renata sedikit berteriak dengan sebelah tangan terangkat ke arah Bian.
Seketika Bian menghentikan aksinya. Lelaki itu kembali terdiam di tempatnya. Keduanya saling menatap.
" Tolong jangan temui aku lagi ! " ujar Renata tegas.
" Tapi, Ta. Aku benar-benar minta maaf untuk kejadian beberapa waktu lalu. Please, maafin aku. Aku khilaf. Aku hanya merasa kau abaikan. Aku mencintaimu, Ata, " ucap Bian berusaha meyakinkan Renata.
Renata terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Dadanya bergemuruh menahan emosi. Ingin rasanya ia berteriak memaki lelaki yang saat ini ada di hadapannya. Namun ia teringat pesan Mamanya.
" Ta, please. Aku ingin kita seperti dulu. Aku ingin kamu seperti Renata yang dulu, yang selalu ceria penuh tawa, yang selalu manja padaku. Aku tidak melihat semua itu pada dirimu saat ini, " tutur Bian mengiba. Ia duduk bersimpuh dengan kedua tangan bertumpu pada meja di hadapannya.
Renata masih terdiam membisu. Ingatannya melayang pada masa lalunya. Dadanya sesak. Aku berubah karena kamu, Bian. Aku pun melihat kamu juga berubah. Bukan Bian yang dulu aku kenal. Batin Renata.
Tbc
**Hai Cinta πππ
Dududuuuuh... Olly koq jadi kepo sih βΊοΈ
Wow ! Prasta mo jadi detektif kek di film2 π€
Kira2 Renata baikan ga sih ma Bian π€
Ikuti terus kisah mereka ya Cinta π€
Jangan lupa tinggalin jejak kalian by like n komen, mo vote, Alhamdulillah π€
Rate π 5 ditunggu yaa...π€
Banyak terima kasih, cinta n sayang buat kalian semua π€ππππ**