
HAPPY READING ☺️🙏
Prasta memperhatikan rumah berlantai dua di hadapannya. Sepi. Pintu pagar besi bercat putih rumah itu juga tidak bergembok. Prasta memicingkan kedua netranya. Tidak biasanya pemilik rumah itu tidak menggembok pintu pagarnya pada hari yang sudah gelap.
Perlahan Prasta membuka pintu pagar itu dan berjalan memasuki halaman rumah yang banyak memberikan kenangan padanya.
Langkahnya terhenti ketika hendak memasuki teras rumah yang terlihat benar-benar sepi selepas Maghrib. Ia melihat pintu garasi dibuka dan seorang wanita yang keluar dari sana dengan plastik sampah di tangannya.
"Lho, Mas Prasta!" celetuk Bibi kala melihat Prasta yang berdiri tak jauh darinya.
"Iya, Bi. Kok sepi, Bi? Pada pergi?" tanya Prasta heran. "Itu pagar kok tumben nggak digembok, jadi saya nyelonong masuk aja," imbuhnya sembari tersenyum.
"Oh, nggak, kok. Bapak baru saja datang, trus ini saya mau buang sampah. Jadi sekalian gitu nggak saya gembok dulu. Hehehe ...." terang si Bibi sembari tersenyum-senyum kecil.
"Ooh, gitu. Berarti Ata-nya ada ya, Bi?"
Si Bibi mengerjap, bingung dengan pertanyaan dari lelaki muda mantan kekasih anak gadis majikannya itu.
"Ng ... Mbak Ata, ya? Anu, Mas ...." Wanita yang masih memegang plastik sampah itu tergagap.
Namun, suara pintu yang dibuka dan kemunculan Rakha membuat wanita itu bernapas lega.
"Kak Prasta!"
"Hai, Kha!" sapa Prasta dengan senyum semringah.
"Udah dari tadi? Bibi, kenapa nggak disuruh masuk, malah ngajak ngobrol?" tegur Rakha pada asisten rumah tangga keluarganya itu.
"Eh, aku yang tadi ngajak ngobrol, bukan Bibi, kok," jelas Prasta dengan senyum tipisnya.
"Iya, maaf, Mas. Monggo, Mas, silakan masuk," ujar Bibi dengan senyum kecilnya, mempersilakan Prasta untuk masuk. "Saya permisi dulu mau buang sampah," imbuhnya.
"Iya, Bi. Makasih, ya," sahut Prasta. Bibir lelaki itu melengkung membentuk seulas senyuman.
***
Rakha memperhatikan mantan kekasih kakaknya yang berdiri tak jauh darinya. Tangan lelaki itu menggenggam sebuket kecil bunga mawar putih. Ia menghela napas panjang. Ia sudah tahu apa tujuan lelaki itu berkunjung.
"Apa kabar, Kha?" tanya Prasta dengan senyum semringahnya menghampiri adik Renata.
"Aku ... Baik. Uummm ... Sedikit kurang baik!" balas Rakha gugup.
"Kok? Kurang baik kenapa? Lagi nggak enak badan?" berondong Prasta dengan kening yang terlipat dan kedua alis yang bertautan.
Rakha mengangkat kedua bahunya dan menaikkan kedua alisnya, lalu tersenyum samar. "Duduk, Kak!" ucapnya pada Prasta, yang kemudian diikuti oleh Prasta duduk di kursi teras rumah itu.
Rakha terdiam di kursinya dengan kepala tertunduk. Entah ia harus mengatakannya pada Prasta atau tidak tentang kepergian Renata sore tadi.
"Sorry, baru bisa ke sini. Mestinya aku ke sini pas hari wisuda kakak kamu, tapi aku ada tugas kantor bertepatan hari itu," tutur Prasta sembari menatap Rakha yang duduk di seberang kirinya. Prasta memicingkan kedua netranya melihat adik Renata yang bersikap tidak seperti biasanya yang selalu penuh semangat dan banyak bicara bila bertemu dengan Prasta. Anak lelaki Pak Danny itu terlihat pendiam saat ini. Prasta sangat mengenal adik lelaki Renata itu. Rakha akan menjadi pendiam jika dirinya sedang menghadapi suatu masalah atau orang terdekat tepatnya keluarganya sedang dalam masalah.
Prasta mencondongkan tubuhnya ke arah Rakha. Ia menarik napas dalam sebelum berbicara.
"Kha!" panggil Prasta sedikit kencang.
Si Pemilik Nama sedikit tersentak, lalu menatap Prasta yang memanggil namanya. Lelaki itu tersenyum tipis.
"Sorry, Kak! Eh, bunga ini buat siapa?" tanya Rakha akhirnya, pandangannya beralih pada buket bunga mawar putih di atas meja.
Prasta terkekeh sembari memainkan jemarinya dan sesekali menundukkan kepalanya, malu.
"Uummm ... Nggak seharusnya ya, aku kasih bunga ini buat kakak kamu." Prasta menelan salivanya sebelum melanjutkan perkataannya. Ia baru sadar jika dirinya bukan siapa-siapa lagi dalam hidup Renata dan keluarganya.
"Ya ampun, Kak! Bukan begitu maksudku, Kak! Sorry ...." potong Rakha.
"Nggak ... Nggak!" Sekali lagi Prasta terkekeh. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.
"Nggak, Kha! Emang bener, aku nggak seharusnya kasih bunga atau apa pun pada kakak kamu. Ya Allah, ini salah!" tukas Prasta. Lalu ia berdiri dari duduknya dan meraih buket bunga mawar itu dari atas meja.
"Kak! Aku nggak ada maksud apa-apa. Aku cuma tanya bunga itu buat siapa? Sorry, kalau pertanyaanku membuat Kakak salah paham," jelas Rakha serius.
Prasta menunduk sembari menatap buket bunga mawar putih dalam genggamannya. Lalu ia menegakkan kepalanya dan mengangguk disertai sebuah senyuman terbit di bibirnya.
"Sorry! Aku terlalu sensi sepertinya, ya!" Lelaki dengan rambut sebahunya itu tergelak. Sedangkan Rakha hanya membalas dengan tawa kecilnya.
"Tapi sayang, Kak Prasta terlambat!" cetus Rakha akhirnya.
Prasta menoleh dan menghadapkan tubuhnya ke arah Rakha dengan tatapan serius.
"Maksudnya?" Perlahan Prasta berjalan mendekati Rakha.
Rakha menatap lekat wajah Prasta yang kini tepat satu langkah di hadapannya. Ia berdeham dan melipat bibirnya ke dalam.
"Ata pergi dari rumah!" Sebuah suara menyela pembicaraan kedua lelaki muda berbeda usia itu.
Kedua lelaki muda itu mengalihkan pandangan dan berseru bersamaan ke arah sumber suara.
"Om!"
Pak Danny menghampiri keduanya. Tatapan kedua netranya sayu dan lesu. Raut wajahnya muram. Tak ada senyum semringah yang biasanya selalu terpancar di wajahnya yang mulai senja.
Prasta menautkan kedua alis hitamnya, membuat kedua netranya menyipit. Ia melempar pandangan bergantian pada Pak Danny dan Rakha, mencari tahu apa yang mereka bicarakan.
Pak Danny duduk di kursi yang kemudian diikuti oleh kedua lelaki muda berbeda usia itu.
"Pa, Mama gimana?" tanya Rakha, raut wajahnya tampak khawatir.
Hal itu membuat Prasta semakin yakin jika telah terjadi sesuatu pada keluarga itu.
"Tante kenapa?" tanya Prasta pada akhirnya. Ia tidak bisa menahan keingintahuannya.
Pak Danny menghela napas panjang sembari menautkan jemari kedua tangannya.
"Rakha mau lihat Mama dulu," cetus Rakha, bangkit dari duduknya. Namun, Pak Danny menahan putra bungsunya untuk tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Mama baik-baik aja. Barusan tidur, makanya Papa tinggal turun," papar pria paruh baya itu, masih dengan suara dan raut yang lesu.
"Maaf! Kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa, Om? Ata-nya ke mana?" tanya Prasta hati-hati.
Pak Danny menatap lekat Prasta dan buket bunga mawar putih di atas meja di hadapannya.
"Ini bunga buat Ata?" tanya Pak Danny yang meraih buket bunga itu dari atas meja. Tatapan kedua netranya semakin sayu. Ada kesedihan pada tatapan netranya.
Prasta menelan salivanya sembari menatap buket bunga yang kini berada dalam genggaman pria yang tak beda jauh usianya dengan ayahnya.
"I-iya, Om!" jawab Prasta sedikit gugup.
Ayah dua orang anak itu memandang lekat buket bunga mawar putih di genggaman tangannya yang masih terlihat kokoh meskipun usianya sudah paruh baya. Perlahan sebuah senyuman terukir di bibirnya. Beberapa saat kemudian, pria itu menghela napasnya cukup dalam dan mengangkat wajahnya untuk menatap lelaki muda yang pernah menjadi kekasih putrinya itu.
"Terima kasih bunga dan perhatiannya. Terima kasih karena masih bersedia peduli sama Renata. Om yakin kamu masih menyayangi putri Om." Pak Danny berkata lirih, kali ini senyum tipis yang terbit di bibirnya dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.
Prasta melirik Rakha dengan ekor matanya. Sementara Rakha melipat bibirnya ke dalam dengan sesekali menunduk seraya mengetuk-ketukkan ujung kukunya di atas pahanya.
Situasi macam apa ini? Batin Prasta. Prasta sama sekali tidak paham semua itu. Di detik berikutnya, Pak Danny kembali menghela panjang napasnya. Dan tiba-tiba, pria itu menggenggam erat tangan kanan Prasta dengan kedua netra menatapnya dengan sorot yang tajam.
*Maafkan Om, ya, Pras. Maaf! Mungkin kalau waktu itu Om tidak menanyakan keseriusan hubungan kalian, hal ini tidak terjadi. Kalau saja ... Hubungan kalian berubah sejak malam itu. Om minta maaf!" Suara Pak Danny terdengar tegas. Namun, ada gurat penyesalan di wajahnya.
Prasta tersenyum dan menggeleng. "Nggak perlu minta maaf, Om. Bukan salah Om atau siapa pun. Hubungan kami berakhir karena memang harus berakhir. Mungkin memang kami tak berjodoh," jelas Prasta.
Senyum tipis terbit di bibir Pak Danny mendengar perkataan Prasta. Lalu pria itu mengalihkan pandangannya pada Rakha.
"Kha, ambil surat itu dan bawa ke sini!" titah Pak Danny pada putra bungsunya.
***
Sudah tiga batang rokok yang diisap lelaki bertubuh tinggi dengan rambut yang diikat ke atas membentuk cepol itu dalam waktu tidak kurang dari 2 jam sembari duduk di kursi teras rumahnya pada lewat tengah malam. Sekarang batang ke-4 yang masih diisapnya. Pandangan Prasta menerawang jauh ke langit yang gelap. Sisa-sisa hujan yang mengguyur kawasan tempat tinggalnya telah meninggalkan udara dingin dengan wangi tanah yang khas serta ranting-ranting pohon yang basah dan genangan air di jalan.
Selang satu jam sepulangnya Prasta dari rumah Renata, tepatnya pukul 10 malam, hujan turun cukup deras mengguyur kawasan tempat tinggalnya. Beruntung ia telah sampai di rumah, sehingga tidak berbasah-basah karena air hujan.
Setelah membersihkan diri, maksud hati ingin segera beristirahat tidur. Namun, peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu sungguh membuatnya tidak bisa memejamkan netranya. Kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas atas nama Ata serta cerita dari Rakha dan Pak Danny tentang kepergian mantan kekasihnya itu telah mengganggu pikirannya.
Gadis itu nekat pergi setelah kedua orang tuanya tidak mengizinkannya meninggalkan rumah itu untuk pergi merantau mengejar mimpi dan keinginannya ke ibu kota.
Mengejar mimpi dan keinginan. Batin Prasta.
Prasta mengisap dalam-dalam benda ber-nikotin di mulutnya. Lalu mengembuskannya sedikit kasar ke udara. Batinnya bermonolog.
Akhirnya dia bisa. Mengejar mimpi dan keinginan terbesarnya. Kesempatan emas itu datang padanya.
Namun, apa harus dengan seperti ini caranya, Ata? Tanpa berpikir panjang, tanpa izin dari orang tuamu? For God's sake, Ata!
Prasta membuang puntung rokok ke-empatnya ke dalam asbak di atas meja di depannya setelah mematikan bara-nya terlebih dulu. Lalu ia meraup wajahnya gusar.
Kamu tahu, Ata? Aku baru akan memulai memperbaiki hubungan kita. Aku tak peduli dengan kehadiran Bian, laki-laki brengs*k itu. Aku ingin meminta maaf atas sikapku yang acuh padamu. Aku hanya ingin hubungan kita kembali seperti dulu. Tak ada kebencian di antara kita. Tak ada yang saling menghindar dan tak ada yang tersakiti. Dan entah kenapa, aku merasa kepergianmu adalah karena diriku. Karena sikapku yang acuh dan kasar padamu. Karena diriku, kamu menyakiti kedua orang tuamu. Mengecewakan mereka dengan cara pergi tanpa seizin mereka.
Hampir pukul 2 dini hari. Prasta beranjak dari duduknya dan melangkah gontai memasuki rumah, ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Tiba di kamar setelah sebelumnya menyikat gigi dan membasuh wajah, ia merebahkan tubuh di ranjang miliknya. Tiba-tiba terlintas jelas di kepalanya, bagaimana raut sedih dan kecewanya Pak Danny, pria paruh baya itu, yang mendapati anak gadisnya pergi dari rumah tanpa seizinnya. Lalu, bagaimana dengan Bu Nia? Menurut Rakha, Mama-nya sangat syok dan tak henti menangis menyebut nama anak gadisnya itu. Demi Tuhan, Ata! Setega itu kamu berbuat ini kepada kedua orang tua kamu. Setelah semua yang mereka lakukan untukmu dengan penuh cinta dan sayang seumur hidup kamu.
Prasta meraih ponsel yang diletakkan di samping ia berbaring. Kemudian jemarinya membuka gallery ponselnya, menggulirnya hingga menemukan foto Renata. Rupanya ia tidak benar-benar menghapus seluruh kenangannya bersama gadis itu. Dengan tatapan sendunya, ia menatap tak berkedip foto di gallery ponselnya. Foto saat gadis itu sedang berlibur bersama keluarganya.
"Ta, maaf-in aku. Maaf, jika sikapku membuatmu terluka. Kamu tahu, Ta? Malam itu aku sangat terkejut dan kecewa atas reaksi kamu mengenai niat baikku yang ingin mengajak kamu ke jenjang yang lebih serius. Kamu menolak. Sakit banget, Ta. Aku kira kamu akan senang mendengar pengakuan dan keseriusanku dengan hubungan kita. Nyatanya tidak sama sekali. Aku tahu kamu ingin mengejar impian kamu. Ingin meraih masa depan yang terbaik versi kamu untuk membahagiakan orang tua kamu. Tapi tidak dengan reaksimu malam itu yang seolah tidak benar-benar serius denganku dan terkesan meremehkan aku. Sampai detik ini, di dalam hatiku hanya ada kamu, Ta. Aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu. Tapi mungkin memang kita tidak berjodoh, Ta. Aku cuma berharap kamu mendapatkan seorang lelaki yang benar-benar bisa membuatmu bahagia. Lelaki yg mencintai kamu melebihi cinta yang kumiliki untukmu. Forgive me ya, Ta. I love you."
TBC
Meet Rakha