LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 7 Meet You



Pada akhirnya Renata tak punya pilihan lain selain menerima tawaran Bian untuk pulang bersamanya. Mereka pun berjalan menuju tempat dimana mobil Bian diparkirkan.


Bian menekan tombol basement ketika mereka sudah berada di dalam lift. Bian menggamit tangan Renata menghindarkan gadis itu dari himpitan beberapa orang di dalam lift. Jantung gadis itu berdegup tak beraturan. Renata melirik tangan yang digenggam Bian. Perlahan ia menarik tangannya. Bian menarik salah satu sudut bibirnya ke atas sembari menatap Renata.


Ting !


Pintu lift terbuka, Bian menggandeng tangan Renata dan melangkah keluar lift menuju mobil Bian yang diparkir di lantai tersebut.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata memandang mereka lekat.


Bian menekan tombol remote untuk membuka pintu mobilnya. Lampu Mobil Expander hitam yang tak jauh dari tempat mereka berjalan pun menyala. Bian membuka pintu sebelah kiri mobilnya dan mempersilahkan Renata masuk. Bian menutup pintu mobil saat Renata sudah masuk dan duduk di bangku penumpang, lalu ia pun berjalan memutar ke sisi mobil sebelah kanan tempatnya mengemudi.


Tak lama, mobil Expander hitam itu pun melaju keluar dari basement mall tersebut.


Sepasang mata yang sejak tadi lekat memperhatikan mereka pun menghela napasnya kasar. Kemudian ia menyalakan mesin motor dan melajukannya keluar dari mall tersebut.


Di sepanjang perjalanan, Renata menatap keluar jendela mobil. Hatinya sedikit berkecamuk. Ia masih tak habis pikir bagaimana bisa bertemu dengan laki-laki yang mengemudi di sampingnya ini di saat hubungannya dengan Prasta sedang sedikit goyah.


" Kamu jadi kuliah jurusan HI, Ta ? " suara Bian memecah keheningan di antara mereka.


" Hu um, " jawab Renata singkat tanpa memandang lawan bicaranya.


" Tadi teman-teman kuliah kamu ? " tanya Bian lagi.


" Bukan, " kembali Renata menjawab singkat pertanyaan Bian.


" So ? "


Renata memalingkan wajahnya menatap Bian dengan dahi mengernyit.


" Maksudku, siapa mereka ? " ujar Bian juga menatap Renata dengan senyum simpul.


" Ga ada hubungannya dengan kamu juga. Untuk apa ingin tau siapa mereka ? " tukas Renata sedikit ketus.


" Just want to know, Ta. It's ok kalo kamu keberatan kasih tau siapa mereka, " sahut Bian.


Bian memperlambat laju mobilnya ketika mendekati rumah Renata. Mobil Bian berhenti tepat di depan rumah Renata.


" Ah, sampai juga. Kangen juga dengan rumah ini, " kata Bian, sembari memandang rumah asri Renata dari dalam mobilnya.


Renata turun begitu Bian membuka kunci mobilnya. Bian pun ikut turun dari mobilnya. Ia berjalan mengikuti Renata yang sudah masuk lebih dulu ke dalam halaman rumahnya.


Renata berbalik dan menatap Bian.


" Thank you tumpangannya, " ucapnya kemudian, berdiri menatap Bian yang ada di hadapannya.


" Ok, anytime. Boleh kan, aku masuk ? Setidaknya aku ingin memberi salam pada Tante Nia dan Rakha, " kata Bian meminta ijin untuk masuk menemui Mama dan adik Renata.


Renata terdiam sejenak.


" Ata ! "


Renata berjengit kaget. Ia menoleh ke belakang, ke asal suara.


" Lho, Bian ? Benar ini, Bian ? " Bu Nia menghampiri mereka berdua.


" Assalamualaikum, Tante. Apa kabar ? " salam Bian dengan sopan. Ia mencium punggung tangan Bu Nia.


" Waalaikumsalam. Tante baik, Bi. Kamu kok di sini ? " tanya Bu Nia.


Bian tersenyum lebar.


" Iya, Tan. Sedang ada keperluan di sini, " ucap Bian.


Bu Nia menatap putrinya.


Renata yang menyadari tatapan Mamanya yang ingin penjelasan, segera menimpali.


" Tadi ga sengaja ketemu di mall, Ma. "


" Iya, Tan. Bian yang memaksa untuk mengantar Ata, maaf, " imbuh Bian memberikan penjelasan pada Bu Nia.


Bu Nia tersenyum tipis.


" Udah mau Maghrib, ayo masuk dulu, " ajak Bu Nia kemudian.


" Maaf, Tan. Bian langsung permisi, masih ada yang harus Bian kerjakan. Lain kali Bian pasti ke sini lagi, " ucap Bian dengan senyum simpulnya.


" Baiklah. Hati-hati di jalan, Bian, " pesan Bu Nia.


" Makasih, Tante. Assalamualaikum, " pamit Bian sembari mencium punggung tangan Bu Nia.


" Waalaikumsalam, " jawab Bu Nia.


Renata hanya diam mengikuti langkah Bian yang keluar dari halaman rumahnya.


Sebelum memasuki mobilnya, Bian menatap Renata lekat. Renata menyadari tatapan Bian. Ia memalingkan wajahnya, memandang tempat lain. Ia benar-benar gugup dan salah tingkah dengan tatapan Bian.


Tiba-tiba Bian meraih kedua tangan Renata dan mengecupnya.


" Thank you, " ucapnya singkat, lalu mengacak puncak kepala Renata dan beranjak masuk ke mobil.


Jantung Renata seolah berhenti berdetak dengan apa yang dilakukan Bian.


Bian memundurkan mobilnya sedikit, membuka kaca jendela mobil dan berkata, " Jangan lupa Jumat depan, aku jemput kamu. "


Belum sempat Renata membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Bian, laki-laki itu sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah Renata. Meninggalkan Renata yang masih terpaku dengan sikap laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya.


*******


Selesai mandi dan sholat Maghrib, Renata rebahan di ranjang tidurnya. Dibukanya ponsel merah metalik yang sedari tadi diletakkan di meja belajarnya. Berharap ada pesan ataupun panggilan telpon dari Prasta. Namun, dirinya sangat kecewa tidak ada satu pun pesan ataupun panggilan telpon dari laki-laki yang diharapkannya. Hatinya kembali perih mengingat sikap Prasta kala itu.


Renata tersadar dari segala kecamuk hati dan pikirannya saat pintu kamarnya diketuk seseorang.


" Ya... sebentar, " ucapnya. Ia beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu kamarnya.


" Mama, " seru Renata lirih saat membuka pintu kamarnya.


" Ayo, makan. Papa udah nunggu tuh, " ajak Bu Nia pada anak gadisnya yang terlihat murung.


" Ata belum lapar, Ma. Mama sama Papa makan duluan aja, " ujar Renata sembari duduk di tepi ranjangnya.


Bu Nia menghela napas dalam.


" Kenapa ? Mikirin Bian ? " tanya Bu Nia mendekati putrinya duduk di tepi ranjang.


Renata menggeleng. Ia menatap sang Mama dan langsung memeluk tubuh wanita paruh baya di sampingnya. Tangisnya tumpah di pelukan sang Mama.


Bu Nia mengusap rambut panjang putrinya.


" Prasta, Ma.... " ucap Renata di sela isak tangisnya.


" Kenapa ? " tanya Bu Nia mengusap lembut punggung Renata.


" Prasta benar-benar marah sama Ata, " tangis Ata.


Bu Nia mengurai pelukannya. Dihapusnya air mata di pipi putrinya.


" Prasta marah kenapa ? Karena masalah yang kemarin ? " cecar Bu Nia.


Renata menganggukkan kepalanya, masih terisak.


" Ata emang salah, Ma. Tapi Ata juga punya alasan. Ata bukan menolak Prasta, Ata kaget aja. Ata masih ingin fokus kuliah, Ma, " tutur Renata masih terisak.


" Mama paham. Tapi sikap dan perkataanmu kemarin membuat Prasta salah paham. Jangankan Prasta, Mama dan Papa pun awalnya beranggapan kamu menolak niat baik Prasta, " ucap Bu Nia, tangannya merapikan rambut putrinya yang sedikit acak-acakan.


" Ata harus bagaimana, Ma ? Ata sayang sama Prasta, " tangisnya kembali pecah.


Bu Nia pun kembali merengkuh tubuh putrinya. Memeluk dan mengusap lembut punggung si putri sulung.


" Kita makan dulu. Kasihan Papa udah nunggu dari tadi, " ajak Bu Nia, berdiri dari duduknya.


" Ata masih kenyang. Ata makan nanti aja ya, " ujar Renata, menghapus air mata dengan punggung tangannya.


Bu Nia menghela napas panjang, lalu mengangguk.


" Ya udah. Mama turun dulu ya, " Bu Nia mengecup kening putrinya, lalu beranjak pergi.


Renata kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Diputarnya musik dari aplikasi musik di ponselnya sembari memeluk boneka Teddy bear besar berwarna light brown pemberian laki-laki yang dirindukannya saat ini.


🎢🎢


'Ku tak mengerti


Betapa bodoh diri


Membiarkanmu pergi


Jauh dari hati


Hm-mm ...


Kucoba mengobati


'Tuk punya kekasih lagi


Namun 'ku sadar diri


Hatiku di kamu


Wo-o-o-ho-o-o ...


Di mana kamu?


Apakah kau rindu?


Sungguh susah buat lupa


Hati tak bisa berdusta


Walau kutahu


Tapi tetap kau terindah


Cinta tak salah


Aku yang salah


🎢🎢


*******


Seminggu telah berlalu. Hubungan Renata dan Prasta masih sama setelah kejadian makan malam di rumah Renata. Tidak ada kabar berita dari Prasta. Pun Renata, tidak pula menghubungi Prasta. Ia enggan menghubungi lelaki berambut gondrong itu bukan lantaran gengsi, tetapi lebih kepada tak ingin mengganggunya. Ia tahu jika Prasta saat ini sedang sibuk di kampus dan pekerjaannya.


Sebenarnya Renata rindu, teramat rindu. Hampir tiap malam ia susah memejamkan matanya dan berusaha menahan tangis rindunya pada Prasta. Namun, ia juga tidak ingin kembali egois. Ia menyadari jika semua yang sudah terjadi, tak luput karena sikap egoisnya.


Renata baru keluar dari perpustakaan ketika tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.


" Renata ! "


" Olly ? "


" Hai, Ren. Mau pulang ? " tanya Olly.


Renata mengangguk, " Iya. "


" Dijemput Prasta ? " tanya Olly lagi.


Renata menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


" Tumben ? " Olly bertanya heran.


" Prasta lagi sibuk, " sahut Renata santai.


" Owh gitu.... " ucap Olly, kepalanya bergerak naik turun.


" Aku duluan ya, Ly. Maaf, ngobrolnya lain kali ya. Aku terburu-buru, masih ada urusan lain, " ujar Renata, melambaikan tangannya pada Olly sembari tersenyum.


Olly pun dengan raut wajah kecewa membalas lambaian tangan Renata.


Renata teringat akan ajakan Bian tempo hari. Jam 1 siang ini, Bian akan menjemputnya untuk datang di acara pembukaan cafe nya. Karenanya ia terburu-buru untuk pulang setelah kuliah dan meminjam buku di perpustakaan kampus.


Sementara itu, Prasta dan Kak Mitha serta beberapa kru EO lainnya sedang sibuk di sebuah cafe yang berada di tengah kota. Ya, cafe milik Bian. Dengan bangunan yang tidak terlalu besar, cafe yang diberi nama The RB's Cafe ini bertema minimalis modern.



Untuk acara pembukaan cafe ini, Bian sengaja menyerahkan kepada Event Organizer milik Kak Mitha yang merupakan teman sekolah kakaknya, Ryan.


Menu food and beverages pastinya tersedia di cafe ini dengan hidangan masakan ala Indonesia dan Eropa beserta aneka minuman.


Prasta sedang mempersiapkan peralatan kameranya mulai lampu flash, lensa hingga tripod. Ia harus bersikap profesional kali ini, meskipun hatinya masih terasa perih mengingat kejadian yang dilihatnya di mall kala itu. Dan ia sudah memutuskan, setelah semua ini selesai, maka ia akan segera menyelesaikan masalah hubungannya dengan Renata. Sesungguhnya ia masih sangat mencintai gadis itu. Gadis yang mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna, yang selalu membuatnya bersemangat menyusun masa depannya.


Prasta menatap sekeliling interior cafe milik Bian, laki-laki yang bersama Renata di mall kala itu. Ia tersenyum kecut, menyadari dirinya bukan siapa-siapa dibanding laki-laki pemilik cafe ini. Jadi wajar jika Renata enggan untuk dilamarnya.


Prasta berjengit kaget, saat Kak Mitha menepuk bahunya.


" Melamun lagi kamu, Pras. Akhir-akhir ini kakak lihat, kamu sering banget melamun. Mikirin apa sih ? " celetuk Kak Mitha.


Prasta tersenyum, " Mikirin caranya supaya bisa punya cafe kek gini. "


Kak Mitha berdecak.


" Ck ! Makanya semangat cepat selesaikan kuliah dan semangat kerja sama kakak atau kerja di tempat yang lebih bagus lagi. Kumpulin duit buat modal, " cetus Kak Mitha, tangannya meninju lengan Prasta pelan sambil terkekeh lalu beranjak meninggalkan Prasta yang masih mematung di salah satu sudut ruangan cafe.


Prasta pun ikut terkekeh. Sayangnya semangatku serasa lenyap ketika penyemangat ku tak lagi ingin bersamaku, gumamnya dalam hati.


Renata telah sampai di rumah dan saat ini sedang bersiap untuk pergi ke acara pembukaan cafe milik Bian.


Dipandanginya satu per satu deretan pakaian yang tergantung di lemari pakaiannya. Diambilnya dress sabrina dengan panjang asimetris di bawah lutut berwarna dusty brown. Segera ia memakainya dan memoles wajahnya dengan make up yang natural. Rambutnya dibiarkan tergerai sedikit curly. Sangat cantik dan anggun.


Renata membuka pintu kamarnya ketika terdengar suara Bu Nia memanggilnya.


Bu Nia tertegun menatap putrinya yang sudah berdandan sangat cantik di hadapannya.


" Wow ! Anak Mama cantik banget ! " seru Bu Nia yang baru saja datang dari aktivitas mengajarnya.


" Mama, ih ! Bian udah datang ya ? " tanya Renata tersipu.


Bu Nia mengernyitkan dahinya.


" Pergi sama Bian ? "


" Iya, Ma. Dia buka cafe baru di sini, " ujar Renata sembari memasang anting-anting di telinganya.


" Bian buka cafe ? " Bu Nia bertanya heran.


" Iya, Ma. Kaget ya ? " Renata terkekeh.


" Ata juga kaget waktu dia minta Ata datang ke acara pembukaan cafe nya, " lanjut Renata.


" Ya udah. Mama cuma pesan, hati-hati ya. Jaga hati dan diri kamu, " pesan Bu Nia mengusap lembut rambut putri sulungnya dan beranjak pergi.


Renata tersenyum tipis, " Makasih, Ma. "


Baru saja Bu Nia menuruni anak tangga, terlihat seseorang memasuki halaman rumahnya.


" Ata ! Tuh, Bian datang ! " seru Bu Nia memanggil Renata.


Renata pun terburu-buru mengambil heels nya dan memakainya, lalu beranjak turun.


Bian sudah duduk di sofa ruang tamu ketika Renata turun.


" Hai ! Langsung berangkat ? " sapa Renata sedikit gugup.


Bian terpaku menatap Renata dengan balutan dress sabrina dan rambut yang sedikit curly tergerai indah.


Renata menggoyangkan telapak tangannya di hadapan wajah Bian.


" Bi, Bian ! Hai ! " panggil Renata


" Eh ! Sorry ! Udah siap kan, langsung berangkat yuk ! " gugup, Bian pun tersadar akan kekagumannya pada penampilan Renata.


******


Di cafe milik Bian.


Dekorasi dan persiapan acara pembukaan cafe telah siap. Undangan dan pengunjung sudah banyak yang datang dan menempati tempat duduknya. Alunan musik beat terdengar membahana di dalam cafe tersebut.


Tampak Kak Mitha, Ryan dan istrinya sedang berbincang-bincang di salah satu meja. Sementara Prasta melaksanakan tugasnya, memotret.


" Nah itu si empunya cafe datang. Lho, itu kan Renata ! " seru Ryan, kakak Bian sembari berdiri dari tempat duduknya.


Kak Mitha yang duduk satu meja dengan Ryan sontak menoleh ke arah pintu masuk cafe. Tak terkecuali Prasta. Kedua matanya lekat menatap kedua orang yang disebut Ryan. Perih hatinya ia rasakan seolah tergores belati tajam. Kak Mitha pun tertegun. Pandangan matanya sebentar menatap Renata dan sebentar kemudian menatap Prasta. Ia pun tak bisa berkata-kata. Hanya batinnya yang bersuara, " Ya, Tuhan.... "


Renata yang awalnya berjalan di belakang Bian, kini berjalan di samping Bian karena Bian menggamit dan menggandeng tangan gadis itu. Renata merasa canggung dengan sikap Bian di depan banyak orang.


Mereka pun menuju meja paling depan yang ditempati Kak Mitha dan Ryan serta istrinya.


Renata terkesiap saat ia bertemu pandang dengan Kak Mitha yang menatapnya penuh tanya. Sedetik kemudian, Renata pun menyadari jika Prasta juga pasti ada di tempat yang sama. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Deg !


Spontan Renata menarik tangannya dari genggaman Bian. Ia benar-benar gugup. Matanya tak lepas dari mata tajam laki-laki yang dirindukannya selama ini. Jantungnya berdebar sangat kencang yang membuatnya sulit untuk bernapas.


Kak Mitha menyaksikan kedua sejoli yang sangat dikenalnya saling menatap.


" Ta, duduk dong ! Kok berdiri aja, bengong gitu, " ujar Ryan pada Renata, yang membuat Renata tersadar dan tersenyum pada Ryan.


" Kamu apa kabar, Ta ? Udah lama ya, ga ketemu, " imbuh Ryan.


" Baik, Kak. Kak Ryan sendiri apa kabar ? " tanya Renata balik.


" Kami baik, Ta. Kapan ketemu sama Bian ? " tanya Ryan lagi.


" Ga sengaja ketemu di mall waktu ke restoran kamu, " sahut Bian santai.


" Ternyata kamu pakai EO punya Kak Mitha ya, Bi, " cetus Renata tersenyum pada Kak Mitha.


" Eh, kamu kenal sama Mitha ? " tanya Bian dan Ryan hampir bersamaan.


" Hilih, kalian ! " celetuk Kak Mitha sedikit mendengus.


" Iya, kenal. Adek Kak Mitha teman aku, " tutur Renata, matanya mencuri pandangan mencari-cari keberadaan Prasta. Namun ia tak menemukannya.


" Kita mulai aja, Mith, " kata Ryan.


" Ok. Sorry, aku permisi sebentar ya, " ujar Kak Mitha sembari beranjak dari duduknya.


Kak Mitha mencari-cari keberadaan Prasta. Setelah bertanya pada salah satu kru nya, ia menemukan Prasta di belakang bangunan cafe. Laki-laki yang sudah ia anggap seperti adeknya sendiri itu sedang menyandarkan tubuhnya di tembok bangunan cafe dan menghisap rokok. Wait ! Prasta merokok ? Sejak kapan anak itu merokok ? batin Kak Mitha.


Tbc





**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Masih galau Renata n Prasta nya 🀧


Apa kabar kalian ?


Stay safe n healthy for you all πŸ€—πŸ˜˜


Jan lupa jejak jempol, komen n rate kalian aq tunggu slalu. Mau vote, dengan senang hati πŸ€—


Many thanks n love for you all LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž***