LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 43 Memperbaiki Sikap



HAPPY READING ☺️


❤️


❤️


Tak lama setelah Joanna pamit, Bu Ranti dan Arga kembali dari mengurus administrasi rawat inap putra sulungnya. Memasuki kamar rawat putranya, wanita yang berprofesi sebagai tenaga pengajar itu tersenyum semringah mendapati pasangan suami istri sahabat putranya tersebut.


"Ibu minta maaf ya, Saka dan Danisha. Udah ngerepotin kalian," ujar Bu Ranti pada pasangan suami istri yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu.


"Ibu apaan, sih! Nggak repot sama sekali, kok! Kayak sama siapa aja, Bu," sahut Danisha cepat.


"Oh iya, Bu. Tadi Danish ketemu Renata di depan. Dia minta maaf nggak bisa ikut mengantar pulang. Ada kerjaan yang harus dia kerjakan segera. Dia tadi titip ini buat Ibu dan Prasta. Dia janji akan datang ke rumah kalau kerjaannya selesai," tutur Danisha dengan tangan menunjuk ke arah paper bag yang Renata titipkan padanya.


Bu Ranti tersenyum, sudut netranya melirik Prasta yang terlihat salah tingkah, sebelum akhirnya pandangannya kembali pada Danisha.


"Iya, Danish. Tadi dia menelepon Ibu. Udah Ibu bilang, nggak perlu memaksa datang kalau memang sedang sibuk. Pakai repot bawa-bawa segala," ucap Bu Ranti.


Bibir Danisha mengulum senyuman sembari melirik sahabatnya yang duduk di kursi roda di dekat ranjang dan sedang menatap ponselnya.


"Dia lakukan itu kan, demi anak Ibu yang udah rela terluka demi dirinya," cetus Danisha.


Sontak Prasta menegakkan kepalanya, melepas pandangan dari ponselnya.


"Tapi anak Ibu yang satu ini tuh, gengsinya gede ya, Bu. Terlalu banyak berpikir. Giliran keduluan orang, kalang kabut sendiri!" timpal Saka mencibir.


"Ck! Apa, sih! Kampret banget sih, Bro!" decak Prasta kesal, netranya menatap tajam Saka yang duduk di pinggiran ranjang.


"Aku setuju deh, sama Mas Saka!" sahut Arga.


"Ini lagi! Anak kecil tahu apa!" Prasta mendelik sebal menatap adik satu-satunya.


"Emang iya, kan?" Bu Ranti menimpali.


"Ibu, ih!" protes Prasta. "Udah, ah! Kalau udah beres semua, ayo pulang!" serunya kemudian.


Bu Ranti menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil. Putra sulungnya ini memang sedikit sensitif bila merasa harga dirinya terusik. Sedikit keras kepala mempertahankan ego dan gengsinya. Namun, dibalik itu semua, putranya adalah pendengar yang baik, penuh perhatian dan jika sudah menyukai sesuatu atau mencintai seseorang, sangat susah untuk berpaling. Satu lagi, putranya pandai menghibur orang dan mampu menciptakan keceriaan di segala situasi.


***


"Maaf, aku nggak bisa antar kamu pulang. Ada panggilan tugas yang nggak bisa ditunda. Sebelum ke rumah sakit tadi, aku mampir di bakery langganan mama. Aku beli almond cake kesukaan kamu. Masih suka almond cake, kan? Nanti aku akan datang begitu tugasku selesai. Maaf, ya! Take your time, banyak istirahat, tapi jangan lupa untuk berlatih menggerakkan kaki kamu perlahan seperti saat fisioterapi di rumah sakit. Cepat pulih, Pras. See you!"


Pesan dari Renata yang Prasta terima sore tadi, sesaat setelah tiba di rumah, kembali dibaca lelaki itu yang kini tengah duduk bersandar di kepala ranjang tidurnya. Ia melihat penunjuk waktu di bagian atas ponselnya, hampir pukul 9 malam.


Sebenarnya, apa yang dikerjakan Ata? Dia bekerja di mana?


Monolog laki-laki itu. Pandangannya beralih pada meja kecil di sebelah ranjang yang di atasnya terdapat sepotong almond cake dalam sebuah piring kecil. Setelah makan malam tadi, ia membawa sepotong kue kesukaannya itu ke dalam kamar. Ia tersenyum.


Namun, tiba-tiba terlintas perkataan kedua sahabatnya, Danisha dan Saka, sore tadi sebelum mereka pulang.


"Hilangkan gengsi kamu. Kalian tuh, udah sekian lama memelihara ego yang tak jelas. Terutama kamu, Pras. Suka menyimpulkan sendiri sikap seseorang," tutur Danisha.


"Mana asas praduga tak bersalah kamu sebagai seorang jurnalis? Kamu mengesampingkan itu. Kamu tersinggung dan marah, merasa harga diri kamu sebagai laki-laki telah diremehkan hanya karena Renata tidak ingin kamu terburu-buru melamarnya. Tanpa tahu alasan dan penjelasannya. Kamu egois, Bro! Nggak salah Renata, kalau dia kabur sama cowok lain," papar Saka panjang lebar.


"Mas!" sela Danisha, menatap suaminya dengan kedua netra mendelik.


"Apa, sih? Kan aku bener! Dia keras kepala. Idealis boleh, tapi logika harus tetap jalan. Jangan lupakan realita yang ada di depan mata juga. Kita jangan sampai kalah sama ego dalam diri kita. Ngikutin ego bakalan makan hati terus hidup kita!" tutur Saka gemas.


Prasta memejamkan kedua netranya, lalu menghela napasnya panjang.


Mungkin yang dikatakan mereka berdua memang benar. Aku egois dan keras kepala. Memelihara ego yang tak jelas untuk apa. Padahal aku sangat mencintainya. Sekeras apa pun aku berusaha untuk menghilangkan perasaanku padanya, sekeras itu pula hatiku menahannya agar dia menetap dan tidak pergi. Semakin aku berusaha membencinya, semakin aku tak bisa berpaling darinya. Dan itu menyiksaku. Ya, itu realitanya. Kamu benar, Ka. Kamu benar!


"Pras ...."


Prasta tersentak. Suara sang Ibu memanggilnya diikuti ketukan pintu kamar menghentikan dirinya yang sedang bermonolog dengan hatinya.


"Ya, Bu. Masuk aja, nggak dikunci!" sahut Prasta sembari menggeser posisinya yang duduk bersandar di kepala ranjang sedikit ke tepi.


Pintu kamar Prasta terbuka dan Bu Ranti muncul di balik pintu, tersenyum pada putra sulungnya yang langsung dibalas dengan senyuman juga oleh putranya.


"Belum tidur?" tanya Bu Ranti seraya berjalan menghampiri putranya.


Prasta menggeleng. "Ada apa, Bu?" tanyanya kemudian.


Bu Ranti duduk di pinggiran ranjang menghadap putranya. Netranya melirik almond cake yang masih tampak utuh di atas meja kecil di samping ranjang.


"Kuenya nggak jadi dimakan?" tanya Bu Ranti mengusap punggung putranya lembut.


"Nanti pasti Pras makan, Bu," jawab Prasta, senyum kecil terbit di bibirnya.


"Maafin Pras ya, Bu. Udah bikin Ibu dan Bapak repot. Pras janji ...."


"Ssssstttt ... Itu udah tugas Ibu dan Bapak. Udah tanggung jawab orang tua," tutur Bu Ranti memotong perkataan putranya.


"Iya ... Tapi tetap aja bikin susah Ibu dan Bapak," ucap Prasta, netranya sayu menatap sang Ibu.


Bu Ranti menggeleng dengan bibir melengkung. "Susah apanya? Kalau soal biaya, kamu lupa? Kan, pakai asuransi kamu sendiri yang dari kantor, hm?"


"Bu, Pras tahu, lah ... Nggak semua tertutupi kalau pakai asuransi punya Pras. Nanti Pras ganti kekurangannya," lontar Prasta.


Bu Ranti menarik dan mengembuskan napasnya pelan, lalu kembali mengusap punggung putranya penuh sayang.


"Buat isi tabungan kamu aja. Udah saatnya kamu mikirin masa depan kamu. Udah, nggak usah ngeyel! Jangan keras kepala dan nggak perlu gengsi sama Ibu," cetus Bu Ranti menatap lekat putra sulungnya yang memang keras kepala.


"Ck! Ibu nyindir, nih? Pasti tadi dengerin Saka ngomelin Pras, ya!" decak Prasta, ada nada kesal dalam kalimatnya.


Bu Ranti terkekeh. Tangan wanita paruh baya itu menggenggam tangan putranya, mengusapnya perlahan.


"Maaf ... Habisnya Ibu kepo!" sahutnya diiringi kekehan kecil.


"Pasti sekongkol sama Saka, ya!" Bibir Prasta mengerucut, sebal sekali mendapati ibunya malah menyindir dan menertawakannya saat ini setelah sore tadi Saka mengomelinya.


"Lho! Ibu nggak sekongkol sama Saka. Tapi Ibu setuju dengan apa yang dikatakan sahabatmu itu. Setuju, pakai banget!" tukas Bu Ranti.


"Ish!" sungut Prasta dengan raut merengut.


Tawa lebar Bu Ranti seketika keluar mengurai suasana yang cukup hening di dalam kamar Prasta.


"Anak Ibu makin dewasa kok makin lucu, ya!" ledek Bu Ranti, tangannya mencubit pipi putranya gemas.


"Aduh! Sakit, Bu!!" Prasta mengaduh dan meringis kesakitan sembari mengusap-usap pipi bekas cubitan ibunya.


Bu Ranti kembali tertawa, lantas tangan wanita paruh baya itu mengacak rambut putranya penuh sayang.


"Selesaikan masalahmu yang berlarut-larut itu dengan Renata. Bicarakan baik-baik. Nggak usah gengsi dan keras kepala. Biar kamu bisa melanjutkan tujuan hidup kamu, meraih masa depan yang kamu inginkan. Hati kamu juga tenang. Perkara nanti si Ata mau kembali sama kamu atau tidak, itu urusan nanti. Tapi ...." Bu Ranti terdiam sembari menatap putranya.


Bu Ranti menghela napas berat, lalu bangkit dari duduknya. Membuat kedua netra Prasta mengikuti gerak tubuh ibunya, kepalanya mendongak menatap wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya.


"Ibu nggak yakin juga sih, Ata mau balikan sama kamu," ujar Bu Ranti santai dan tersenyum jail. Sebelum akhirnya wanita paruh baya itu melenggang pergi.


Seketika kedua netra Prasta mendelik.


"Ibu kok gitu, sih!" seru Prasta tepat ketika Bu Ranti sampai di ambang pintu kamarnya.


Tubuh Bu Ranti berbalik, lalu tersenyum lebar pada putranya yang menatapnya dengan tajam dan wajah masam.


"Semangat, Sayang!" ujar Bu Ranti dengan senyum lebarnya sembari mengangkat dan mengepalkan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang handel pintu bersiap untuk menutup pintu kamar putranya.


Prasta berdecak sebal dengan sikap ibunya. Namun, sesaat kemudian, lelaki itu tersenyum getir mengingat perkataan terakhir ibunya. Bisa jadi perkataan ibunya benar. Belum tentu Ata mau kembali kepadanya, menjalin hubungan lagi dengannya, setelah selama ini dirinya bersikap cuek dan tak mau mendengar penjelasan gadis itu. Ia memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


***


Pagi ini, Prasta harus ke rumah sakit untuk kontrol kakinya sekaligus fisioterapi, setelah tiga hari keluar dari rumah sakit.


Lelaki yang kini tak lagi tampil dengan rambut sebahunya itu, tengah bersiap di kamarnya. Menggunakan kruk sebagai penyangga tubuhnya ketika berjalan, ia mengambil tas ranselnya yang berisi kartu pasien dan berkas-berkas rumah sakit hasil pemeriksaan dokter. Dompet yang berisi kartu identitas diri dan kartu ATM sebuah bank juga sudah dikantonginya. Lantas ia berjalan perlahan dan tertatih keluar kamar.


"Yakin kamu pakai kruk? Nggak pakai kursi roda?" berondong Bu Ranti begitu melihat putranya keluar kamar berjalan tertatih menggunakan kruk.


Prasta tersenyum dan mengangguk. "Kakiku yang satu kan, nggak apa-apa. Insya Allah masih bisa jalan pakai ini," ungkap Prasta, netranya mengarah pada sepasang benda di kanan kirinya sebagai alat bantu berjalannya.


"Ibu kok takut sendiri ngeliatnya, Pras!" tukas Bu Ranti sedikit meringis melihat putranya dengan kaki masih terbalut gips berjalan tertatih menggunakan kruk.


"Nggak apa-apa, Bu. Nggak usah khawatir. Pras malah susah kalau pakai kursi roda. Nggak bisa bergerak bebas. Hitung-hitung latihan juga, Bu. Biar kaki nggak kaku dan bisa segera berjalan normal," terang Prasta sembari berjalan menuju ruang tamu. Ibu dan anak itu berjalan perlahan dan beriringan.


"Ibu udah order taksi ...."


Prasta tertegun ketika sampai di ambang pintu rumahnya. Keningnya terlipat mendapati gadis yang dinanti-nanti kedatangannya sejak tiga hari yang lalu telah berdiri beberapa langkah di hadapannya.


"Assalamu'alaikum," salam Renata.


"Wa'alaikumsalam," balas Prasta dan Bu Ranti bersamaan.


"Lho! Nggak pakai kursi roda?" tanya Renata menghampiri ibu dan anak yang berdiri persis di depan pintu.


"Ka-mu ngapain?" tanya Prasta heran, netranya lekat menatap Renata penuh tanya.


"Mau antar kamu ke rumah sakit. Ibu belum bilang?" jawab Renata. Gadis itu menatap ibu dan anak di hadapannya bergantian. Membuat Prasta melayangkan pandangan pada sang Ibu yang mengembangkan senyumnya.


"Maaf, Ibu belum bilang. Tadi pagi-pagi sekali Ata menelepon Ibu. Ibu belum sempat bilang sama kamu," terang Bu Ranti pada putra sulungnya.


"Nggak usah repot-repot antar kalau kamu memang sedang sibuk. Katanya kamu sedang sibuk kerja, kan?" ujar Prasta, nada suaranya terdengar datar meskipun bibirnya melengkung tipis.


"Pras ...." Bu Ranti memegang bahu putranya bermaksud mengingatkannya agar berkata lembut pada Renata dan tidak melontarkan kata-kata yang bisa menyakiti perasaan gadis itu.


"Nggak! Aku nggak repot! Hari ini aku free. Maaf, harusnya aku nggak mendadak datang," tutur Renata lirih. Kedua sudut bibir gadis itu berkedut, menampilkan sebuah senyuman samar. Tiba-tiba hatinya meringis, merasa kedatangannya tidak diinginkan. Namun, ia sudah berjanji untuk bertahan apa pun dan bagaimanapun sikap Prasta kepadanya. Meskipun ia sendiri tidak yakin.


"Ibu udah order taksinya belum?" tanya Prasta, tangannya merogoh saku celana kargo di bawah lutut yang dikenakannya.


"Pras ...." Bu Ranti memegang tangan putranya, mencegahnya untuk tidak memesan taksi online.


Wanita paruh baya yang berpakaian seragam mengajarnya itu menatap putranya dengan tatapan lembut seorang ibu.


Prasta yang juga menatap ibunya, tiba-tiba menyadari maksud dari sang Ibu. Lantas ia menghela napasnya pelan. Hampir saja ego kembali menguasai dirinya.


"Ayo, kita berangkat! Nanti kesiangan sampai rumah sakit," ajak Bu Ranti. Sebelah tangan wanita paruh baya itu memegang lengan putranya untuk membantunya berjalan agar tidak terjatuh.


"Biar Ata saja, Bu." Renata menawarkan diri untuk membantu menuntun Prasta.


"Aku nggak apa-apa, Ata. Aku bisa, kok!" cetus Prasta dengan bibir melengkung sambil terus berjalan menuju mobil Renata yang terparkir di depan pagar rumahnya.


Renata membuka pintu mobil sisi kiri untuk Prasta. Sebelum sampai di rumah Prasta, gadis itu juga sudah menata tempat duduk untuk lelaki itu sedemikian rupa agar selama dalam perjalanan ia merasa nyaman.


Untuk sesaat, Prasta terpaku saat pintu mobil dibuka Renata. Sudut hatinya berdesir hangat merasakan perhatian yang sudah lama sangat ia rindukan dari gadis yang berdiri memegang pintu mobilnya yang terbuka. Tanpa sadar, Prasta menarik kedua sudut bibirnya.


"Kenapa?" tanya Renata. "Kamu mau duduk di belakang sama Ibu?" lanjutnya.


"Eh, jangan! Kalau Prasta mau duduk di belakang biar Ibu yang di depan," sela Bu Ranti, urung masuk ke kursi penumpang di belakang.


Prasta mengerjap, tersadar dari keterpakuannya. "Nggak, kok! It's ok di depan," sahutnya menatap Renata dengan senyum semringah.


"Ok, good! Ayo, aku bantu!" ujar Renata, senyum mengembang di bibirnya.


Bu Ranti memperhatikan kedua muda-mudi itu dengan perasaan bahagia. Bibirnya mengembangkan senyuman bahagia.


Prasta sudah duduk di kursi penumpang di depan, sementara kruknya dibawa Bu Ranti untuk ditempatkan di bagian belakang tempat wanita itu duduk.


"Gimana? Udah nyaman?" Renata bertanya untuk memastikan Prasta benar-benar duduk dengan nyaman mengingat kondisi kakinya yang masih terbalut gips.


"Uummm ... Udah," jawab Prasta, melemparkan senyuman pada gadis yang masih berdiri di sisi kirinya.


"Yakin, ya? Jok nya nggak perlu digeser ke belakang lagi?" tanya Renata lagi.


Prasta menghela napasnya pelan. "Udah cukup, Sayang," jawab Prasta lembut dengan bibir mengulum senyum. Membuat Renata tersipu dengan wajah merona mendengar Prasta memanggilnya "Sayang". Keduanya saling pandang, menatap manik netra masing-masing.


Bu Ranti berdeham. "Udah, ah! Nanti dilanjut kalau mau kangen-kangenan. Udah siang, lho!" Bu Ranti yang sudah duduk di kursi penumpang belakang menyela kembali.


Keduanya mengerjap dan tersadar bahwa mereka harus segera berangkat ke rumah sakit.


"I-iya, Bu!" Renata menutup pintu mobil dan berjalan memutar masuk ke dalam mobil duduk di kursi kemudi. Ia melihat sekilas pada Prasta untuk memastikan laki-laki itu sudah memasang sabuk pengaman dengan benar.


"I'm ready to go," ucap Prasta pada gadis itu, tersenyum lebar. "And thank you," imbuhnya sambil mengerlingkan sebelah netranya. Senyum rupawannya masih setia ia layangkan untuk gadis yang siap melajukan kereta besinya.


Renata balas tersenyum dan mengangguk, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya membelah jalanan padat kota Surabaya pagi itu.


TBC


**Hollaaa ❤️❤️❤️


Masih semangat ya puasanya ☺️🤗


Jangan lupa klik jempol dan drop komen ya, biar semangat up nya. Menuju end sebentar lagi, nih 😁😁


Thank you for supporting & lope lope banyak banyak buat kalian semua 🤗😘💕💕💕**