LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 36 Terkuak



HAPPY READING


❤️


❤️


Rasa ini ternyata masih bertahta


Sekeras apa pun kucoba melengserkannya


-Prasta-


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil Expander hitam itu melambat, lalu berbelok dan masuk ke area sebuah gedung apartemen kelas menengah ke atas. Kening Renata mengerut hingga kedua alis cantiknya hampir bertautan.


"Pak, tolong langsung masuk aja dan tetap ikuti mobil itu," ujar Renata memberi perintah kepada sopir taksi dengan jari telunjuk mengarah ke mobil yang melaju pelan di depannya.


Dada gadis itu berdebar kencang hingga ia merasakan sesak yang membuatnya sulit untuk bernapas, ketika ia melihat dua orang yang sangat dikenalnya keluar dari mobil yang diikutinya setelah menempati salah satu tempat parkir di basement gedung apartemen itu. Keduanya berjalan beriringan dengan senyuman lebar dan raut yang semringah. Sesekali perempuan yang berpenampilan seksi itu bergelayut manja pada lelaki di sampingnya yang tak lain adalah Bian.


Renata menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan kepada sopir taksi setelah mengambilnya dari dalam tas selempangnya. Lantas ia bergegas turun dari taksi setelah mengucapkan terima kasih.


"Kembaliannya, Mbak!" seru si Sopir taksi itu.


Namun, Renata tak menggubrisnya. Ia setengah berlari mengejar lelaki dan perempuan itu dengan hati-hati agar tidak diketahui keduanya.


Renata terus mengikuti dua orang itu dengan jarak beberapa meter di belakang mereka. Hingga kedua orang itu memasuki lift. Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Selanjutnya ia berjalan menuju lift berniat untuk naik ke lobby apartemen yang terletak satu lantai di atas basement.


Sesampainya di lobby, gadis itu menuju ke meja resepsionis, memasang senyum manis untuk menyapa sang Resepsionis.


"Sore, Mbak," ucapnya, kedua sudut bibirnya tertarik lebar menatap resepsionis yang juga sedang tersenyum padanya.


"Sore, ada yang bisa saya bantu?" sapa sang Resepsionis dengan ramah. Senyuman lebar mengembang dari bibirnya.


"Maaf sebelumnya. Unit atas nama Bapak Bian dan Ibu Windy ada di lantai berapa ya, Mbak? Saya tadi terburu-buru sampai lupa soal info unitnya. Saya telepon tidak tersambung dari tadi," tanya Renata, berusaha bersikap sewajarnya. Meskipun debaran jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya karena berbohong dan menahan emosi yang mulai menguasainya.


"Maaf, dengan Ibu siapa, ya?" tanya balik sang Resepsionis bername tag Sissy.


"Oh ya, saya Andara, teman sekolah Pak Bian dan Ibu Windy," sahut Renata, dengan senyum tipis yang ia paksakan.


Resepsionis bernama Sissy itu tersenyum dan mengangguk lantas menunduk. Sesaat kemudian, ia kembali mengangkat kepalanya.


"Silakan ke lantai 8 unit nomor 1810. Keluar dari lift, langsung ke kiri ya, Bu," terang perempuan muda dengan tatanan rambut bergaya ponytail itu ramah.


Renata mengangguk. "Terima kasih, Mbak. Saya permisi," ucap Renata, seulas senyuman ia layangkan kepada perempuan muda di hadapannya, lantas ia berbalik badan melangkah pergi dari meja resepsionis.


***


Lift berdenting di angka 8. Pintu kotak baja itu terbuka. Renata menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan bersamaan dengan langkahnya keluar dari lift. Mengikuti petunjuk dari sang Resepsionis, ia mengambil arah ke kiri begitu keluar dari lift.


Unit 1810. Gadis dengan kedua tangan menggenggam erat tali tas selempangnya itu menatap pintu unit apartemen di hadapannya sembari menggigit bibir bawahnya. Ia hendak mengetuk pintu coklat itu, tetapi diurungkannya saat pendengarannya menangkap samar langkah kaki dan suara dua orang yang sedang berbicara. Secepat kilat ia beranjak dari tempat itu, mencari tempat persembunyian yang dirasanya aman. Ia bersembunyi di balik sebuah pilar tembok yang cukup lebar di ujung koridor.


Dari tempat persembunyiannya itu, Renata dapat melihat Bian dan Windy di depan pintu unit apartemen mereka. Dadanya sesak melihat kedua orang yang membuatnya sakit hati untuk kedua kalinya. Sungguh menyakitkan.


Kedua orang itu tampak saling melemparkan senyum dengan jemari yang saling bertaut. Perlahan, Renata mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya. Lantas ia memotret interaksi keduanya beberapa kali. Ia menghela napas berat dan pelan, berusaha menahan emosi dan sakit di dadanya. Kedua sudut netranya terasa basah. Namun, ia meyakinkan dirinya jika ia tidak akan lemah dan jatuh seperti dulu. Kemudian ia menajamkan pendengarannya agar dapat mengetahui apa yang mereka bicarakan.


"Thank you udah jemput dan antar aku. Sayang banget kamu harus pergi. Yakin nggak stay malam ini?" Windy berbicara dengan nada yang manja.


"I have to go now, Win. Maybe tomorrow?" Bian menanggapi ucapan perempuan itu.


"Ok, ok! See! Aku selalu ngertiin kamu, loh!"


Kembali perempuan itu berbicara dengan sedikit merajuk.


"Win ... Please! Jangan mulai, deh!" sahut Bian dengan nada memohon.


Oh, sungguh! Renata ingin melempar ponselnya ke wajah penuh muslihat itu. Tapi tidak! Buat apa? Sudah cukup baginya mengetahui semua pengkhianatan lelaki brengsek itu. Padahal ia begitu mempercayai lelaki itu bahwa dia benar-benar mencintainya dan tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi nyatanya tidak begitu. Bahkan lelaki itu benar-benar melakukan kesalahan yang sama. Mengkhianatinya dengan perempuan yang sama!


"Ok, Sayang!" Windy berucap, lalu keduanya berpelukan dan ....


Ya, Allah! Keduanya saling menempelkan bibir mereka! Renata menatap tajam pemandangan menjijikkan itu. Pandangannya nanar karena cairan bening di pelupuk netranya. Sekali berkedip, pasti cairan bening itu akan luruh seketika. Dan sebelum hal itu terjadi, ia mengusap pelan kedua netranya menggunakan jari-jarinya. Lantas menekan dadanya untuk menghalau emosi dan segala kecamuk rasa di hatinya.


Sesaat kemudian, Renata melihat Bian melangkah pergi meninggalkan Windy yang menatap punggung lelaki itu hingga di depan pintu lift. Samar ia mendengar denting lift, pertanda pintu lift terbuka dan membawa Bian pergi dari tempat itu.


Untuk beberapa saat, Renata diam di tempatnya bersembunyi. Terdengar pula olehnya, bunyi pintu unit apartemen ditutup. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia melakukannya beberapa kali sembari bersandar pada pilar tembok tempat dirinya bersembunyi. Perlahan, ia mengintip. Kosong. Tak ada seorang pun di sana. Suasana hening melingkupi koridor lantai 8 gedung apartemen itu. Ia menghela napas lega. Detik berikutnya, ia bergegas keluar dari persembunyiannya. Langkahnya terhenti di depan pintu unit 1810, menatap tajam pintu berwarna coklat di hadapannya dengan kedua tangan terkepal erat. Tidak! Ia tidak akan mengetuk pintu itu dan menemui perempuan yang sama brengs*knya dengan lelaki itu. Segera ia berlari menuju lift untuk meninggalkan tempat yang membuatnya terluka. Sudah cukup. Sudah berakhir. Ia cukup paham dengan semua kejadian yang baru saja dilihatnya di depan penglihatannya sendiri.


***


Pintu lift terbuka setelah terdengar dentingan dari kotak baja yang digerakkan dengan tenaga listrik itu. Seorang lelaki muda yang berdiri di depan pintu lift tertegun saat hendak memasuki kotak baja itu. Kedua netranya menyipit menatap sosok yang berdiri di sudut lift dengan wajah sembab dan sesekali mengusap pipinya yang basah. Gadis itu sepertinya tidak menyadari kehadiran orang lain yang akan masuk ke dalam lift bersamanya.


Lelaki muda itu mengerjap saat menyadari pintu lift akan tertutup kembali. Ia segera menahan pintu lift itu dan masuk ke dalamnya. Ia memundurkan tubuhnya di sisi lain gadis yang berdiri di sudut lift, hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu. Gadis yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Gadis yang terkadang masih dirindukannya. Namun, gadis itu sepertinya benar-benar tidak menyadari kehadirannya. Atau mungkin memang sengaja berpura-pura tidak melihat atau bahkan berpura-pura tidak mengenalnya. Bukan! Tatapan netra gadis itu terlihat kosong dengan wajah sembabnya. Dia benar-benar tak menyadari kehadiran orang lain yang bersamanya di dalam lift saat ini.


"Ha-hai! A-Ata?" tegurnya memberanikan diri. "Ta? Ata?" tegurnya sekali lagi.


Gadis itu perlahan menggerakkan kepalanya ke arah suara yang memanggil nama kecilnya. Ia terkesiap dan tubuhnya seketika membeku dengan netra membulat menatap lelaki jangkung dengan alis hitam tebal di hadapannya. Rambut hitam sebahu yang tergerai dan senyum tipis di bibirnya. Ia tak pernah lupa. Prastawan Nugroho.


"Ta? Are you ok?" tanya Prasta. Lelaki itu sedikit mencondongkan wajahnya, ingin memastikan gadis yang sudah 2 tahun lebih tidak pernah ditemuinya itu baik-baik saja.


Renata mengerjap dan tersadar dari kebekuan yang melandanya. Kedua sudut bibirnya tertarik sedikit membentuk senyuman tipis. Lantas ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara perlahan.


"Ha-hai! I'm fine!" ucapnya sembari melayangkan seulas senyuman dan melirik sekilas lelaki yang memiliki senyum termanis baginya.


Dan saat itu juga, sebuah senyuman terbit di bibir Prasta mendengar gadis bernama Renata itu bersuara, membalas sapaannya. Tak dapat dipungkiri, hati lelaki itu masih berdesir dan dadanya berdebar kencang menatap gadis yang belum benar-benar pergi dari hatinya.


Sementara Renata, tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa canggung menghadapi Prasta. Hatinya berdenyut mengingat kenangan bersama Prasta yang memang tak pernah ia lupakan. Lalu terlintas pula bayangan kejadian yang baru saja dialaminya. Dadanya berdebar menggila penuh kecamuk rasa. Ia tidak tahu, apakah ia harus bahagia atau sedih bertemu kembali dengan Prasta, mantan kekasihnya.


Denting lift berbunyi menampilkan lobby sebagai tempat pemberhentian. Renata segera melangkah keluar dari kotak baja itu begitu pintu lift terbuka, tanpa mempedulikan Prasta yang kemudian mengikutinya dan berusaha menyejajarkan langkah gadis itu.


"Ta ...." panggil Prasta lembut sembari terus melangkah mengikuti langkah Renata.


Namun, gadis itu bergeming dan terus melangkah. Hingga ia menghentikan langkahnya karena merasa ada yang menahan lengannya. Keduanya berhenti tepat setelah keluar dari pintu lobby gedung apartemen itu.


Gadis itu menghela napas dalam, berusaha menetralkan kondisi hatinya yang sedang berkecamuk.


"Maaf, aku harus pergi," ucap Renata akhirnya tanpa berpaling.


"Aku antar, Ta," sahut Prasta.


Renata menggeleng. "Makasih. Aku bisa naik taksi online. Aku ...."


"Kamu ke mana aja?" potong Prasta, menatap sendu gadis yang masih membuat hatinya berdebar. Lalu ia maju selangkah dan berdiri di hadapan Renata sehingga ia dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu.


"Kamu habis nangis?" lanjutnya.


Renata menatap Prasta dengan kedua bola mata yang bergerak ke sana kemari. Tangannya terkepal dan bergerak acak. Bibirnya terlipat ke dalam dan sesekali menggigitnya.


Prasta mengamati sikap Renata yang terlihat bingung.


"Kamu ada masalah?" tanya Prasta menyelidik sembari memegang kedua bahu gadis itu. Ia menatap lekat kedua netra Renata, menyelisik netra beningnya untuk mencari apa yang sedang dialami gadis itu.


Renata bergeming dan membalas tatapan teduh milik netra Prasta. Namun, tak berlangsung lama. Tiba-tiba kedua netranya terasa panas. Ia bisa merasakan sudut netranya mulai basah. Ia tak ingin menangis di hadapan Prasta. Ia tak ingin terlihat lemah. Maka, segera saja ia menepis kedua tangan Prasta yang masih memegang kedua bahunya dan berlari menjauh meninggalkan Prasta yang masih terpaku di tempatnya. Terbengong menatap tubuh bagian belakang Renata yang berlari menjauh dari gedung apartemen itu. Meskipun ia sudah berteriak memanggil namanya dan berusaha mengejarnya. Namun, gadis itu telah menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya, lalu taksi itu melaju dengan cepatnya.


***


Jemari Prasta bergerak di atas keyboard ponsel pintarnya, merangkai sebuah pesan untuk dikirimkannya pada seseorang. Sesaat setelah ia mengirimkan pesan itu, ponselnya berdenting dan dengan segera ia membuka pesan yang baru masuk di chat room-nya.


Rakha


Ya, Kak. Kak Ata pulang. Udah 4 bulanan lebih di Surabaya. Maaf Rakha tidak mengabari Kakak, permintaan Kak Ata. Maaf ya, Kak 🙏🙏


Prasta menghela napas singkat. Empat bulan di Surabaya? Kenapa baru kemarin ketemu?


Me


Rakha


Sangat baik, Kak. Dia kembali seperti dulu. Kami semua menjadi lebih baik setelah dia kembali ☺️


Kembali Prasta menghela napasnya. Namun, kali ini helaan napasnya terdengar berat. Dia nggak baik, Rakha. Kakak kamu sedang nggak baik. I know something is off with her. Ada yang nggak beres dengan kakak kamu, Kha.


Prasta kembali mengetikkan pesan balasan untuk Rakha, memilih untuk mengakhiri berbalas pesan.


Me


Syukurlah ☺️ Aku senang dengernya. Salam buat semua ya, Kha 🙏


Prasta mengusap wajahnya perlahan dengan kedua telapak tangan, lalu menyugar rambut lurusnya ke belakang sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya di sebuah warung makan sederhana pada hari menjelang siang itu, hari liburnya.


Ada sebuah keinginan untuk menemui Renata. Namun, diurungkannya karena hari ini ia memiliki janji dengan sahabatnya, Saka dan Danisha, yang menunggunya di sebuah pusat perbelanjaan. Sudah lama mereka tidak bertemu dan berbincang. Meskipun mereka tetap saling menghubungi melalui pesan dan telepon. Tetapi rasanya berbeda bila mereka bertemu secara langsung.


***


Dari dalam taksi, Renata menatap nanar interaksi dua orang yang berada beberapa meter di hadapannya, di basement sebuah gedung apartemen mewah. Kedua orang itu berciuman di samping mobil Expander hitam. Netra Renata memanas, apalagi hatinya. Namun, ia mampu menahan emosinya.


Jadi begini selama ini? Inikah yang dilakukan Bian di belakangnya?


Firasatnya pagi tadi terbukti. Selain bermaksud menemui Bian di apartemen milik lelaki itu untuk menyelesaikan hubungannya, ia ingin membuktikan firasatnya. Ternyata benar. Bian sedang bersama Windy.


-Flashback on-


Pukul 08.00


"Di mana, Hun?" Suara yang sangat familiar menyapa Renata dari seberang sana.


"Kenapa?" Renata balik bertanya dengan nada santai.


"Kamu di rumah aja, kan?"


"Ada apa, sih?" ketus Renata.


"We need to talk, Ata. Seperti yang kamu minta beberapa hari lalu, kamu butuh penjelasanku, kan?"


Renata tersenyum sinis dan menghela napas panjang. Apa penting sekarang?


"Sekarang aja, aku free," sahut Renata.


"Uummm ... Aku nggak bisa. Ada meeting di luar sama teman bisnis Papa. Kemungkinan sampai siang. Kita ketemu malam aja, ya?"


Renata memutar kedua bola matanya jengah. Alasan! Aku yakin kamu ada meeting dengan perempuan brengs*k itu!


"Emang sekarang kamu udah berangkat dari apartemen kamu?" selidik Renata.


"Oh! Belum sih, mungkin jam 9-10 nanti. Ok, kita ketemu nanti malam. Sampai nanti, I love you!"


Tanpa membalas ucapan Bian, Renata mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Gadis itu bukan Renata yang dulu. Dirinya yang sekarang telah berubah, bukan lagi gadis lemah yang mudah dibohongi.


Segera saja ia bersiap pergi ke apartemen Bian menjumpai lelaki itu dan mungkin saja, bersama perempuan bernama Windy.


-Flashback off-


Dan di sinilah dirinya sekarang, di tempat parkir basement gedung apartemen tempat tinggal Bian.


Melihat Bian dan Windy bermesraan di tempat parkir dari dalam taksi. Renata sengaja menunggu kedatangan Bian. Sebelumnya, gadis itu sudah menelepon resepsionis apartemen menanyakan keberadaan Bian. Tidak sulit bagi Renata untuk mendapatkan informasi itu karena ia sudah dikenal petugas gedung apartemen tempat Bian tinggal.


Beberapa kali Renata menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan cepat. Ia sedang meredam emosinya yang telah memuncak menyaksikan pertunjukan mesum di hadapannya. Dasar manusia-manusia mesum! Tak tahu tempat dan sungguh menjijikan! Makinya dalam hati dengan kedua tangan terkepal. Paras manisnya memerah menahan amarah.


Renata mengambil uang di dalam dompetnya dan memberikannya kepada sopir taksi saat kedua orang itu mulai berjalan memasuki gedung apartemen. Kali ini ia tidak terburu-buru mengikuti mereka karena ia sudah tahu unit mana yang mereka tuju.


Gadis itu berjalan santai memasuki gedung apartemen. Beberapa orang berseragam gedung apartemen yang lalu lalang bahkan tersenyum padanya. Ya, Renata sudah dikenal di gedung apartemen itu. Bian memperkenalkannya kepada staf gedung itu. Ia juga memiliki akses masuk di unit apartemen milik Bian.


Tiba di lantai yang dituju, ia berjalan pelan menuju unit milik Bian. Namun, saat hendak berbelok di koridor tempat unit Bian, ia melihat Windy berjalan ke arahnya. Renata segera bersembunyi di balik pilar tembok terdekat. Ia mengernyit. Dia mau ke mana? Lift? Batinnya.


Windy berjalan menuju lift dan masuk ke dalamnya setelah pintu lift terbuka.


Renata keluar dari persembunyiannya dan bergegas menuju unit apartemen Bian. Tiba di depan unit Bian, tiba-tiba pintunya terbuka dan muncullah Bian dari balik pintu itu.


"A-Ata?" serunya kaget.


Ata tersenyum sinis menatap Bian yang tampak salah tingkah. Kepalanya menengok ke kanan kiri dan sekitarnya, seperti mencari seseorang atau memastikan keadaan.


"Mencari siapa? Windy?" sindir Renata.


Bian terkesiap. Lalu ia tersenyum tipis, tampak canggung dan salah tingkah. Tangannya mengusap tengkuknya.


Tanpa berkata-kata, Renata menerobos masuk ke dalam unit apartemen itu. Bahunya menyenggol lengan kokoh Bian.


"Kamu nga-pain?" tanya Bian kikuk.


Kini Renata sudah duduk di sofa panjang di ruang tamu sembari mendekap tas selempangnya.


"Aku?" Jari Renata menunjuk dirinya sendiri sebelum menghela napasnya singkat. "Nemuin kamu, lah!" imbuhnya ketus.


"Udah kubilang aku mau ada meeting di luar sampai siang," kelit Bian.


"Dengan Windy?" cibir Renata.


"Apaan sih, Ta!" sentak lelaki itu.


"Masih berkelit, huh? Udahlah, Bi! Kita selesai! Aku udah nggak butuh penjelasan apa pun dari kamu!" tukas Renata. Ia bangkit dari duduknya seraya menatap tajam Bian.


"Apa lagi ini? Huh?!" sentak Bian. Netranya dengan nyalang balas menatap netra bening Renata.


"Kamu! Begini ya, kamu selama ini? Sama Windy? Masih dia?" cecar Renata sembari menunjukkan foto Bian dan Renata yang diambilnya kemarin saat di apartemen Windy. Nada suaranya mulai meninggi. Emosi yang berusaha keras ditahannya sejak kemarin kembali menguasainya.


Bian membeliak. Tangannya bergerak cepat hendak merebut ponsel Renata. Namun, dengan cepat pula Renata menarik ponselnya kembali dan dimasukkan ke dalam tasnya.


"Kita selesai! Permisi!" pungkas Renata. Gadis itu bergegas melangkah menuju pintu unit apartemen. Namun, Bian menahannya. Lelaki itu mencengkeram lengan Renata kuat hingga gadis itu meringis kesakitan. Renata berusaha melepaskan cengkeraman itu, tetapi tenaganya kalah kuat. Dengan sekali hentakan, tubuh Renata jatuh di atas sofa kembali.


"Mau kamu apa, sih? Kita nggak akan pernah selesai! You're mine, Ata!" geram Bian marah. Kedua netranya memerah dengan rahang yang mengeras.


"Lepas!" Renata memberontak. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Bian yang tentu saja lebih kuat.


Bian yang sudah diselubungi emosi tiba-tiba tersenyum menyeringai.


"Nggak akan sebelum kamu tenang dan nurut sama aku!" sentak Bian. Detik berikutnya, lelaki itu meraup bibir Renata dan me**matnya dengan kasar.


Renata terkesiap. Netranya membeliak dan tangannya mendorong dada bidang Bian dengan keras. Namun, tubuh Bian tak bergerak. Renata menjerit tertahan sembari menggerakkan kepalanya berusaha berontak dan melepaskan tautan bibir lelaki itu. Namun, tetap sia-sia. Ia terisak dan seketika itu juga, Bian menghentikan perbuatannya. Menjauhkan wajahnya dari wajah Renata. Sementara perlahan cengkeraman tangannya pun terlepas.


"Kenapa kamu lakuin ini? Nyakitin aku dengan cara yang sama seperti dulu? Kenapa?" cecar Renata terdengar pilu, air matanya tak bisa dibendungnya lagi. Pertahanannya bobol sudah. Ia kembali lemah.


TBC


**Fiuh! Panjang loh ini, 2800+ kata ☺️


Tegang nggak, sih?


Like n komennya ya Cinta ❤️❤️


Thank you & love you 😘💕💕**