
HAPPY READING!
Prasta masih menempelkan ponsel yang digenggamnya pada telinga kanannya. Menanti Joanna bersuara dari seberang sana. Kekhawatiran terlihat pada raut bersih dan tampan lelaki itu.
"Jo, please say something. Jangan diem gini, dong! Ada apa?" cerocos Prasta berusaha untuk bersuara pelan dan lembut. Ia menduga telah terjadi sesuatu pada gadis teman kerjanya itu.
"Sorry!" Suara gadis itu semakin terdengar tidak baik-baik saja.
"Kenapa? Kok tiba-tiba bilang sorry?" Prasta terus saja bertanya, menyelidik apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.
"Jo?" panggil Prasta lagi.
Pembicaraan via ponsel itu hening sesaat, hingga suara Jo terdengar lagi tetapi kali ini Prasta mendengar suara isakan yang tertahan.
"Pras, aku harus apa? Aku harus gimana?" lirih gadis itu berucap disertai isak tangis yang semakin jelas terdengar.
Prasta mengusap wajah tampannya perlahan dan melipat bibirnya ke dalam.
"Jo, ada apa? Say something and tell me, please?" desak Prasta, rasa khawatir dan ingin tahunya semakin terlihat. Suara isakan Joanna masih terdengar di ponselnya.
"Ok, sekarang kamu tenang dulu. It's ok kalau kamu nggak ingin cerita. Kamu tenang dulu, ya ... rileks, Jo. Tarik napas dalam-dalam," saran Prasta akhirnya. Indera pendengaran lelaki itu sesaat kemudian menangkap suara tarikan napas Joanna di seberang telepon untuk beberapa kali.
"Thanks, Pras. Sorry, ya ...."
"It's ok! Santai, Jo. Kalau kamu butuh teman untuk ngobrol, aku selalu siap mendengarkan," lontar Prasta lembut tanpa ragu-ragu. Sejenak keheningan kembali datang. Namun, beberapa saat kemudian terdengar tawa kecil dari gadis itu yang diikuti sebuah helaan panjang napasnya.
"Sorry, ya. Aku ganggu waktu break kamu. Makasih ya, Pras."
"Hei! Kenapa minta maaf terus, sih? Nggak ada yang salah, kan?" Prasta menghela napas singkat sebelum melanjutkan perkataannya.
"Everything will gonna be ok, Jo. It's ok to cry, if it makes you better. Udah, ya. Kamu tenang, rileks. Nikmati cuti kamu, bersenang-senanglah!" lanjut Prasta, lalu tawanya lepas begitu saja. Kemudian ia mendengar tawa kecil dari gadis yang baru saja menangis itu. Kedua sudut bibir Prasta tertarik ke atas, lelaki itu tersenyum lebar. Lalu ia mengembuskan napas pelan, merasa lega karena berhasil membuat Joanna tertawa.
"Thank you!" Joanna kembali mengucapkan terima kasih, membuat Prasta berdecak.
"Ck! Sekali lagi kamu bilang thank you, makasih atau sorry, dan semacamnya ... Aku kasih hadiah payung atau handuk sebagai doorprize!" gurau Prasta yang sontak membuat Joanna di seberang sana tergelak kencang.
"Apaan coba, Prasta! Eh, by the way ... bisa request nggak, hadiahnya? Apa gitu, jangan payung atau handuk!"
"Eh? Namanya doorprize nggak bisa request, dong! Enak aja!"
Gurauan Prasta membuat Joanna semakin tergelak.
"Ok, deh! Terserah bapak pemberi doorprize aja, ya!"
Prasta tertawa mendengar perkataan gadis itu.
"Gitu, dong! Ini baru Jo, fotografer andal kesayangan Mas Bekti!" seru Prasta sembari terkekeh.
"Apa lagi, sih! Udah, deh ... Stop berkata kayak gitu, Pras!"
"Tuh, kan! Kamu selalu merendah. That's real, Jo! Semua orang mengakui itu!" tukas Prasta.
Terdengar decakan dari gadis di seberang telepon.
"Udah, ah! Nanti kita sambung lagi, ya! Udah lewat 15 menit waktu istirahat, buruan kerja lagi sebelum Mas Bekti ngomel!"
Prasta tergelak mendengar perkataan Joanna.
"Gampang kalau Mas Bekti ngomel. Tinggal bilang, telat karena anak kesayangan Mas Bekti yang ngajak ngobrol! Beres, kan?" Prasta berujar dengan santainya.
"Eh? Dasar, ya!"
Prasta kembali tergelak. "Kan, emang bener begitu?"
"Iya, deh!"
Gadis di seberang telepon terdengar mendengus pelan. Prasta tersenyum tipis.
"Ya, udah! Aku tutup ya, teleponnya. Bye, Pras. Sekali lagi ...."
"Iya ... Iya! Besok kalau masuk aku bawain doorprize-nya! Bye, Jo!" Prasta mengakhiri percakapan mereka di telepon sembari terkekeh, tidak menghiraukan lagi Joanna yang membalas perkataannya.
*****
"Selamat, Sayang. Mama senang kamu lulus dengan nilai yang memuaskan. Usaha dan kerja keras kamu selama ini nggak sia-sia." Bu Nia memeluk erat putri sulungnya, kedua netranya sudah dipenuhi cairan bening yang siap luruh karena terharu bahagia.
"Terima kasih banyak, Ma. Pencapaian Ata tidak akan bisa seperti ini tanpa Mama dan Papa. Maafkan Ata ya, Ma, Pa. Hanya ini yang bisa Ata berikan untuk saat ini. Minta doa dan restunya untuk Ata melangkah selanjutnya, mencapai apa yang Ata inginkan untuk masa depan Ata. Yang terpenting, membuat Mama dan Papa bangga dan bahagia," tutur Renata, bulir bening di kedua pelupuk netranya tiba-tiba luruh tanpa permisi. Kedua bahu gadis itu naik turun, isak tangis pun pecah tak bisa ditahan lagi.
Pak Danny merengkuh tubuh putrinya yang berbalut pakaian toga, memeluknya lembut penuh sayang sembari mengusap punggung putri sulungnya.
"Ssshhh ... Papa dan Mama sangat bangga sama kamu. Kami selalu bahagia, Sayang. Udah, jangan nangis! Nanti cantiknya hilang!" lontar Pak Danny dengan bibir melengkung.
Bu Nia turut mengusap lembut punggung putrinya dengan seulas senyuman menghias raut wajahnya yang hampir senja.
Renata mengurai pelukan sang Papa sembari tertawa kecil.
"Makasih banyak, Pa. Makasih buat semuanya. Makasih karena selalu ada untuk Ata," ucap gadis itu dengan sisa isak tangisnya.
Pak Danny mengangguk dan tersenyum dengan kedua netra yang berbinar bahagia. Betapa pria paruh baya itu bahagia, putrinya telah berhasil lulus kuliah tepat waktu dengan nilai yang sangat memuaskan.
Sementara Renata menyeka air matanya perlahan dengan tisu yang diberikan oleh sang Mama agar tidak merusak make up flawless-nya. Lalu gadis itu mengulum senyuman di bibirnya usai menyeka air matanya.
"Makasih, Ma," lirih gadis itu berujar pada wanita yang telah melahirkannya.
"Sama-sama, Sayang," sahut Bu Nia, sebuah senyuman mengembang di bibirnya.
Setelah berfoto bersama kedua orang tuanya, Renata meminta izin pada orang tuanya untuk bergabung dengan teman-teman satu fakultasnya yang sudah menunggu untuk berfoto bersama.
Saat itu juga, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan gedung. Raut yang awalnya berbinar bahagia berubah menjadi sendu dan suram. Perlahan kedua bahunya melorot, menyadari orang yang diharapkan hadir di hari bahagianya tidak tampak di dalam gedung itu.
Renata menghela napas berat.
Kamu bilang akan selalu bersamaku dan ingin menjadi orang yang aku andalkan. Tapi apa? Di hari wisuda kelulusanku sekarang, kamu bahkan nggak datang.
"Renata!"
Kepala gadis itu sontak menoleh pada sumber suara yang memanggilnya.
"Bu Tari!" sahutnya dengan senyuman yang mengembang di bibir yang dipoles dengan lipstik berwarna coral.
"Selamat, ya! Setelah ini, apa planning kamu? S-2?" tanya Bu Tari, dosen pembimbing Renata sembari menjabat tangan gadis itu.
Seulas senyuman menghias paras manis Renata. "Terima kasih, Bu Tari. Terima kasih atas bimbingannya selama ini," ucap Renata tulus membalas jabat tangan dosen pembimbing yang berusia di penghujung 45 tahun itu.
"Mungkin nanti untuk S-2. Saya ... mungkin akan ambil kesempatan lain dulu. Bekerja," lanjut Renata.
"Ooh ... Jadi kamu udah dapat tawaran kerja? Wah, selamat, ya!" lontar Bu Tari senang, senyuman lebar terbit di bibirnya.
Renata tertawa pelan. "Bukan tawaran kerja yang sesungguhnya, sebenarnya. Hanya tawaran kecil, kerja magang selama 1 tahun," jelas Renata.
"Sounds good, Renata! Itu akan jadi batu loncatan kamu untuk melangkah maju ke masa depan kamu. Yaah, S-2 bisa menyusul," sahut Bu Tari, dosen wanita itu tertawa kecil pada akhir kalimatnya.
Renata ikut tertawa.
"Sekali lagi selamat, ya! Semoga sukses!" ucap Bu Tari selanjutnya.
"Terima kasih sekali lagi, Bu," sahut Renata dengan netra berbinar menghias paras manisnya.
"Baiklah! Saya permisi," pamit dosen wanita itu.
Renata mengangguk dan tersenyum. "Mari, silakan!"
"Ta, udah selesai? Kita pulang, yuk!" Bu Nia muncul dari arah belakang putrinya.
Renata memutar balik tubuhnya dan mendapati kedua orang tuanya yang berdiri di hadapannya dengan seulas senyuman.
"Kamu cari siapa?" tanya Pak Danny.
"Bian?" lanjut pria paruh baya itu.
Renata bergeming, tangannya sibuk memainkan sebuah tabung toga yang berisi ijazahnya.
"Udah yuk, Ta ... Kita pulang, ya. Kasihan Rakha udah nunggu dari tadi," timpal Bu Nia.
Kedua netra Renata kembali menyapu ruangan gedung, masih berharap lelaki yang mengaku kekasihnya itu hadir di sana. Namun, ia tidak menemukannya.
"Ayo!" ucapnya sembari berjalan meninggalkan ruangan itu mendahului kedua orang tuanya dengan senyum tipis yang dipaksakan terbit di bibirnya.
Sementara itu, Bian menatap tajam gadis di hadapannya dengan rahang yang mengeras di dalam unit apartemennya.
"Kamu kenapa, sih! Selalu bikin kacau hidupku! Dari dulu, tahu nggak? Please, stop messing up my life!" ujar lelaki bermata sipit itu gusar dengan kedua tangan mengepal.
"Hey! Easy, please! Nggak boleh ya, aku kangen sama kamu? Aku cuma ingin kita punya waktu bersama kayak dulu, Bi. Sejak kembali ke sini, kamu selalu sibuk!" kilah gadis itu yang tak lain adalah Windy.
"Hey! Who are you, huh? What are we? Inget kesepakatan yang udah kita bikin! Kamu lupa? We're just friend with benefits! Aku ingatkan sekali lagi, kalau kamu lupa!" seru Bian dengan menudingkan telunjuknya ke wajah Windy. Tulang rahangnya semakin tercetak jelas mengeras dengan sorot mata berkilat. Setelah itu dengan cepat ia berbalik meninggalkan Windy yang masih tertegun mendengar perkataan Bian yang terdengar sarkastis.
Ketika Bian hendak mencapai pintu apartemen, Windy berlari mengejarnya.
"Bi!" Windy memeluk tubuh Bian dari belakang, mendekapnya erat.
Bian memejamkan kedua netranya dengan melipat bibir ke dalam dan mengatupkan gigi, berusaha menahan emosinya. Sementara kedua tangannya kembali mengepal.
"Bi, please! Dengerin aku dulu. Sorry! Really sorry! I had no intention. Sungguh, aku nggak bermaksud apa-apa, Bi! A-aku hanya ...."
"Udah deh, Win!" sela Bian. Ia hendak melepaskan kedua tangan Windy yang memeluknya erat. Namun, Windy berusaha menahan kedua tangannya agar tetap melingkar di pinggang lelaki bertubuh atletis itu.
"Please, Windy! I have to go now! Kita bicara lagi nanti. Saat ini aku lagi nggak mau kita bahas ini. Ok?" Bian berusaha membujuk Windy dengan berkata selembut mungkin.
Sesaat keduanya bergeming. Lalu perlahan kedua tangan Windy mulai mengendur di pinggang Bian. Seketika membuat lelaki itu segera membuat jarak dengan Windy dan melanjutkan langkahnya ke arah pintu apartemen untuk keluar.
Gadis dengan rambut coklat panjangnya itu terpaku di tempatnya dengan raut kecewa. Ia hanya memandangi kepergian Bian, lelaki tampan teman dekatnya semenjak masih berseragam putih abu-abu. Gadis itu merasa Bian semakin menjauhinya dan bersikap tidak sehangat dulu. Memang, hubungannya dengan Bian tidak lebih sebatas friend with benefits. Hubungan pertemanan mutualisme, saling membutuhkan dan menguntungkan satu sama lain.
Namun, semenjak pulang ke Indonesia, Bian berubah. Karena itu, Windy menyusul pulang ke Indonesia. Entah apa sebenarnya yang terjadi, Windy belum tahu pasti. Kepulangannya ke Indonesia bertujuan untuk mencari tahu penyebab lelaki dengan tubuh tegap dan bermata sipit itu berubah sikap padanya.
*****
Saat ini, Renata beserta kedua orang tua dan adiknya, Rakha, sedang menikmati makan siang mereka di sebuah rumah makan khas Indonesia yang letaknya tidak jauh dari kampus gadis yang beberapa jam lalu mendapatkan gelar sarjananya itu. Makan siang kali ini merupakan bentuk perayaan atau syukuran untuk kelulusan gadis itu.
Sebenarnya Bu Nia berniat untuk mengadakan syukuran di rumah dengan memasak beberapa menu makanan untuk keluarga dan teman dekat putrinya. Namun, suaminya melarang karena telah memesan tempat untuk makan siang bersama di sebuah rumah makan yang kebetulan terletak di dekat kampus putrinya.
"Congrats ya, Kak!" ucap Rakha yang memeluk erat sang Kakak. Tangannya mengusap lembut punggung kakak satu-satunya itu sebelum mengurai pelukannya.
"Thank you!" Renata tersenyum menerima ucapan selamat dari sang Adik. "Segera nyusul Kakak, ya! Belajar yang rajin, jangan main basket terus. Prioritas utama adalah kuliah. Syukur-syukur bisa sejalan dua-duanya," imbuh Renata.
"Siap, Kakakku yang cantik!" sahut Rakha dengan tangan kanan diangkat tanda memberi hormat.
Pak Danny dan Bu Nia tersenyum lebar menyaksikan interaksi kedua anaknya. Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang dengan membawa beberapa menu makanan yang diletakkan di sebuah troli pengantar makanan bersusun tiga.
"Eh! Ini kok udah siap aja makanannya? Kamu yang pesan?" Renata mengarahkan pandangannya pada sang Adik.
Rakha menggeleng, lalu melayangkan pandangannya pada pria paruh baya yang duduk persis di hadapannya. Renata pun melakukan hal yang sama, mengikuti arah pandangan sang Adik.
"Papa?" Kening Renata berkerut menatap sang Papa yang terlihat santai dan tersenyum tipis.
"Kenapa? Aneh kalau Papa yang pesan?" Masih dengan senyum tipisnya, Pak Danny bertanya pada putrinya yang terlihat heran menatapnya.
"Uummm ... Kan biasanya urusan begini, Mama yang handle. Tumben ini Papa yang handle," tutur Renata, bibirnya mengulum senyuman.
"Nih! Menu kesukaan kamu kalau makan di sini, kan?" cetus Pak Danny saat sang Pelayan menyodorkan dua porsi tumis lorjuk.
Si Pelayan wanita meletakkan dua porsi menu favorit rumah makan tersebut di meja, tepat di hadapan Renata. Gadis itu melebarkan kedua netranya dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas. Raut semringah dengan binar bahagia di kedua netranya membuat kedua orang tua dan adiknya mengembangkan senyuman.
Tumis lorjuk adalah menu yang disajikan dari bahan olahan berupa kerang bambu sebagai bahan utama yang ditumis menggunakan campuran antara lain kecap, bawang merah, bawang putih dan cabai. Biasanya mengolahnya diberi campuran sayuran baby kailan. Hidangan laut dengan cita rasa yang lumayan eksotis ini, hanya bisa ditemukan di beberapa rumah makan atau restoran di Madura dan Surabaya.
"Sudah lengkap ya, Bapak, Ibu, untuk pesanannya," ucap si Pelayan dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Ok, terima kasih ya, Mbak," ucap Pak Danny, seulas senyuman terbit di bibirnya.
"Barangkali ada pesanan tambahan?" tanya Pelayan wanita itu, menawarkan bantuannya kalau-kalau ada lagi makanan atau minuman yang ingin dipesan.
"Cukup ini dulu, Mbak. Terima kasih, ya." Bu Nia menimbrung. Wanita paruh baya yang terlihat sangat menawan dengan pakaian kebaya tunik modern itu, mengembangkan senyuman pada pelayan wanita yang telah melayani mereka dengan sangat baik.
"Baik, kami permisi dan selamat menikmati," pungkas si Pelayan Wanita itu ramah sembari membungkukkan sedikit badannya, lalu beranjak pergi.
Renata ikut tersenyum dan mengangguk pada pelayan wanita itu. Kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya pada sang Papa dengan senyum tipis di bibirnya.
"Serius ini semua Papa yang pesan?" tanyanya masih dengan raut heran.
"Kenapa, sih? Nggak suka sama pilihan menunya?" tanya Pak Danny, menatap putrinya dengan raut bingung.
"Eh! Nggak kok, Pa! Ata suka! Suka banget malah!" sahut Renata. Gadis itu menjeda ucapannya, ia tersenyum semringah. Binar matanya memancarkan kebahagiaan.
"Terima kasih, Pa! Papa yang terbaik!" Gadis itu berdiri, lalu menghampiri sang Papa dan memeluknya erat. Cairan bening tampak di pelupuk netranya dan beberapa detik kemudian, tubuhnya bergetar. Renata terisak, masih dengan posisi memeluk sang Papa. Betapa beruntungnya dirinya, memiliki orang tua yang sangat mencintainya. Penuh perhatian dan pengertian. Lalu, sanggupkah dirinya menjauh dari mereka? Haruskah ia mengecewakan mereka demi mengejar mimpi dan meraih apa yang sangat diinginkannya?
TBC
**Hai, Cinta ❤️❤️❤️
Nulis part ini tuh, sedikit menguras energi dan otakku karena RL ku lg hectic bgt. Semoga nggak mengecewakan, ya ☺️
Ngomong-ngomong, ada yang tau Lorjuk?
Ada yang udah pernah makan belum? Lorjuk ini sejenis kerang laut yang langka dan hanya bisa ditemukan di pantai di Pulau Madura. Rasanya endulita sangat 😍 Recommended ya, buat kalian kalau singgah ke Surabaya atau Madura. Selain tumis lorjuk, ada juga keripik lorjuk, rasanya gurih dan endulita pokoknya! 😉
Btw, aku mau promo nih, teman-teman.
Buku antologi cerpen ke-2 ku udah bisa dipesan, ya.
Judul buku antologinya Busur Arah Kehidupan yang diterbitkan oleh Penerbit Loka Media Cab Riau. Buku ini berisi untaian kisah-kisah kehidupan yang bermakna dan menginspirasi.
Ada 22 cerpen yg ditulis oleh 20 Penulis Kontributor. Nah, cerpen aku ada di hal. 19 ya, berjudul "Cerita Indah di Bulan Purnama".
Yuk, ikutan PO segera. PC, DM via IG or chat aku langsung ke nomor WA di banner 0822 3276 8817 sesuai format pemesanan di bawah ini.
Thank you & Love you all as always 🤗😘💕💕**