LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 16 Kelakuan Bian



Prasta duduk terdiam di ranjangnya. Ia tertegun, baru menyadarinya segala perkataannya pada Renata. Terlintas di benaknya wajah gadis itu setelah mendengar perkataan sarkasnya. Ia hela napasnya dalam, tertunduk menatap foto gadis yang dicintainya dalam gallery ponselnya.


Ibunya tadi marah padanya setelah mengetahui Renata pergi begitu saja karena sikap dan perkataannya yang kasar pada gadis itu.


" Maafkan aku. Tak seharusnya aku bersikap dan berkata kasar padamu. Aku tak ada bedanya dengan Bian. Maaf ! " Gumam Prasta.


Dipandangnya wajah dengan senyuman indah dalam foto itu.


" Ay, aku rindu, " ucapnya kemudian.


Dadanya terasa sesak dan kepalanya pusing.


Tadi ia pulang lebih awal dari biasanya karena merasa tidak enak badan. Ia pun meminta ijin kepada atasannya untuk pulang lebih awal.


Perlahan Prasta merebahkan badannya di ranjang tidurnya. Masih menggenggam ponsel dan menatap wajah Renata di sana, ia memejamkan matanya. Kenangan kebersamaan dirinya dan Renata terlintas jelas di benaknya. Ia merindukan saat-saat itu. Karena terlalu lelah dan menahan sakit kepalanya, Prasta pun tertidur.


********


Di sebuah restoran, tampak seorang wanita sedang gelisah di tempat duduknya menanti seseorang. Berulangkali ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sesekali ia menghela napasnya, terlihat kesal.


Sementara itu, tampak seorang lelaki berjalan terburu-buru setelah turun dari mobilnya. Ia memasuki sebuah restoran. Pandangannya menyusuri seluruh ruangan. Lalu dilihatnya seorang wanita tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman, diikuti dengan langkah kaki lebar menghampiri sang wanita yang sudah menunggunya.


" Sayang, lama banget sih ! " ujar wanita cantik dengan balutan dress hitam model sabrina yang langsung bergelayut manja pada si lelaki.


" Sorry, jalanan macet, " ucap lelaki itu sembari mengecup pipi wanitanya.


Keduanya pun duduk berdampingan di sofa restoran itu. Si wanita masih bergelayut manja, melingkarkan tangannya pada lengan si lelaki. Sementara si lelaki tersenyum tipis, sebelah tangannya yang bebas mengusap pipi wanitanya.


" Aku kangen, Bi. Sorry ya, aku terbang ke sini tanpa ngasih tau kamu dulu, " kata wanita itu.


" It's ok, Sayang. Kamu tinggal dimana ? Di rumah orang tua kamu atau di apartemen ? " tanya si lelaki.


" Selama di sini, aku tinggal di apartemen kamu ya ? " rayu si wanita dengan manjanya.


Si lelaki terdiam sejenak diikuti dengan helaan napas pelan. Lalu tersenyum pada wanitanya.


" Barang-barang kamu dimana ? " tanya lelaki itu.


" Di rumah orang tuaku dong, Bi. Nanti antar aku mengambilnya ya, sebelum ke apartemen kamu, " ujar wanita cantik itu, tangannya masih tak lepas dari lengan lelaki bermata sipit itu.


" Baiklah. Kamu belum pesan makanan ? "


" Belum. Aku nunggu kamu, Bian. "


" Ok, sekarang aku udah datang. Kamu mau makan apa ? "


" Samain aja dengan kamu, Sayang. "


" Baiklah, Windy sayang. Apapun buat kamu. "


Lelaki itu tak lain adalah Bian dan wanita yang bersamanya adalah Windy.


Mereka terlihat sangat mesra. Tanpa malu keduanya memperlihatkan kemesraan mereka di restoran tersebut.


Sementara itu, Renata baru saja keluar dari ruang dosen pembimbingnya. Ia tersenyum senang, pengajuan judul skripsinya akhirnya disetujui. Ketika berjalan menuju tempat parkir motornya, ia dikejutkan dengan suara yang memanggil namanya.


" Renata ! "


" Hai, Olly ! " balas Renata, tersenyum pada orang yang menyapanya, yang ternyata adalah Olly.


" Mau pulang ? " tanya Olly.


Renata mengangguk dan tersenyum.


" Iya. Mau siaran dulu. Kamu baru datang atau udah mau pulang juga ? " Renata balik bertanya.


" Baru selesai kuliah juga, " jawab Olly.


" By the way, Prasta udah jemput ? " tanya Olly kemudian.


" Aku bawa motor sendiri, " sahut Renata, kembali tersenyum.


" Aku duluan ya, Ly. Takut telat sampai studio, " pamit Renata.


" Ok, Ren. Hati-hati, ya... Salam buat Prasta, " sahut Olly sambil melambaikan tangannya.


Renata tersenyum dan membalas dengan lambaian tangan pula. Kemudian ia bergegas menuju tempat parkir motornya.


Olly tertegun memperhatikan kepergian Renata. Ia sedikit heran, beberapa kali menjumpai Renata yang datang ke kampus dan pulang sendiri, tidak di antar maupun dijemput Prasta.


Olly sendiri belum bertemu Prasta kembali setelah acara pameran wedding beberapa waktu yang lalu. Olly mengedikkan bahu dan menghela napas pelan, lalu beranjak dari tempat itu.


********


Mobil Bian berhenti di traffic light setelah dari rumah orang tua Windy untuk mengambil barang-barang milik gadis itu. Bian menatap sekilas gadis di sampingnya yang sudah beberapa bulan tidak ditemuinya. Ia menghela napasnya pelan. Terlintas bayangan Renata, gadis yang sudah beberapa bulan menjadi kekasihnya sejak ia kembali lagi ke Surabaya.


" Bi.... " Windy memanggil Bian dengan suara manjanya.


" Hmm.... " jawab Bian.


Windy bergelayut di lengan Bian, sebelah tangannya mengusap pipi Bian lembut. Tiba-tiba Windy mengecup pipi lelaki itu, yang sontak membuat Bian menatap wajah gadis itu.


Windy tersenyum menggoda, mendekatkan wajahnya ke wajah Bian. Sedetik kemudian, bibir mereka telah bertemu dan saling mengecap.


Seseorang dengan motor sport yang berhenti di samping mobil itu terhenyak saat tanpa sengaja melihat kedua penumpang di dalamnya sedang bercumbu.


" Gila nih orang ! Kek ga ada tempat lain aja ! " umpatnya dalam hati sembari menggelengkan kepalanya.


Pengendara motor sport itu lebih kaget saat mereka melepaskan ciuman mereka. Dengan rasa penasaran, ia melebarkan matanya mengamati lebih detil siapa yang berada di dalam mobil itu. Ia ingin memastikan orang yang berada dalam mobil itu benar orang yang dikenalnya ataukah ia salah lihat.


Lampu hijau telah menyala. Mobil Expander hitam milik Bian pun melaju. Pengendara motor sport yang tak lain adalah Prasta segera membuntuti laju mobil itu.


Mobil Expander hitam itu memasuki sebuah gedung apartemen dan berhenti di basement. Prasta telah masuk ke area gedung apartemen tersebut dan memarkirkan motornya di tempat parkir khusus motor. Ia mengamati kedua orang lelaki dan wanita itu yang baru saja keluar dari mobil dari jarak yang tidak terlalu jauh karena ia ingin memastikan jika apa yang dilihatnya memang benar. Ia juga memotret kedua orang itu dengan menggunakan ponselnya.


" Brengsek tuh cowok ! Bisa-bisanya dia begitu di belakang Renata ! " umpatnya dalam hati, rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal keras menahan amarah. Matanya tajam mengawasi aktivitas kedua orang berlainan jenis yang menurutnya sungguh memuakkan itu.


*******


Prasta baru saja memasuki gedung tempat ia bekerja ketika Saka menelponnya.


" Ya, Ka. "


" Kamu di mana, Pras ? "


" Baru sampai kantor. Mau naik. Ada apa ? " tanya Prasta.


" Sibuk ga ? "


" Kenapa emang ? " tanya Prasta.


" Ditanya malah balik nanya, sih ! Kebiasaan nih anak ! "


" Lah kan bener, Bro ! Aku nanya kenapa emangnya kalau aku sibuk dan aku ga sibuk ? Kamu yang kebiasaan ambigu ! " protes Prasta sedikit kesal.


" Bro, kamu kenapa ? Keknya kesel gitu. Ga suka aku telpon ? "


" Ck ! Kamu suka banget main teka-teki. "


" Wooiii ! Teka-teki apaan ? Jam 4 aku tunggu di coffee shop tempatmu. Jangan telat ! "


" Ok ! Eh, tunggu ! Siapa yang bayar nih ? " tanya Prasta kemudian sembari terkekeh.


Prasta mendengar helaan napas Saka di seberang sana.


" Terserah ! "


Panggilan terputus.


" Hlah ! Dimatiin. Semprul nih anak ! " umpat Prasta sembari menatap layar ponselnya.


Setelah memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya, Prasta pun segera berjalan menuju lift untuk naik ke lantai 4 tempat dimana kantornya berada.


Saat di dalam lift, kembali ia teringat kejadian yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Cowok itu benar-benar brengsek. Sudah berbuat kasar pada Renata, di belakang Renata ia main dengan wanita lain. Sungguh ia tidak rela gadis yang dicintainya diperlakukan seperti itu. Lalu apa yang harus ia lakukan ? Menghela napasnya kasar, ia mengusap wajahnya dengan kasar pula.


Lift berhenti di lantai 4. Prasta bergegas keluar dan menuju ke kantornya. Di depan pintu masuk kantornya, dilihatnya Lana yang sedang berbincang dengan seseorang.


" Nah, ini dia ! " seru Lana, jari telunjuknya mengarah kepada Prasta.


Seseorang yang bersamanya pun menoleh ke belakang.


" Olly ? " ucap Prasta dengan melebarkan kedua matanya.


" Hai, Pras ! " sapa Olly sumringah.


" Ngapain kamu ? " tanya Prasta heran.


" Nyariin kamu ! " jawab Olly terkekeh.


Lana yang berdiri bersama mereka tersenyum tipis.


" Ok, karena udah ketemu Prasta, aku tinggal dulu, ya, " ujar Lana berpamitan.


Seketika Prasta mengalihkan pandangannya pada Lana.


" Thanks, Kak ! Nih anak ga ngerepotin, kan ? " celoteh Prasta menunjuk Olly yang cengar-cengir di hadapan mereka.


Lana terkekeh dengan celotehan Prasta.


" Kamu ini ! Udah ah, aku masuk dulu, ya. Kamu absen dulu, Pras, " ujar Lana mengingatkan Prasta sebelum kemudian berjalan masuk ke dalam kantor.


Prasta menepuk dahinya.


" Nah, kan. Aku jadi lupa belum absen. Tunggu bentar, Ly. Eh ! Yuk tunggu di dalam aja, Ly. Di ruang tunggu, " ujar Prasta mengajak Olly masuk.


Olly pun mengangguk dan berjalan mengikuti Prasta.


" Duduk sini dulu ya, Ly. Aku masuk dulu, " ucap Prasta sesampainya mereka di ruang tunggu kantor.


Tbc




Windy



**Hai Cinta 💗💗


Sorry for late up yaa... semoga tetap setia di sini mengikuti kisah Prasta dan Renata 🤗😘


Thank you yg udah rate, like, komen n vote.


Jan lupa slalu tinggalkan jejak kalian 😘


Stay safe n healthy with 3M 🤗😘💗💗**