
**HAPPY READING**
Hai, Cinta ❤️❤️
Maafkan karena lama banget baru bisa up 🙏
Imoet masih dalam proses isolasi mandiri. Mohon doanya ya ☺️🙏
Kalian jaga kesehatan ya, selalu terapkan Prokes. Makan yang teratur dan bergizi, minum vitamin dan sempatkan waktu untuk berolahraga.
Semoga bumi segera membaik 🤗
########
Dua minggu berlalu begitu cepatnya. Setelah kunjungannya ke rumah Pak Denny waktu itu, Prasta tidak lagi bertemu dengan mereka. Hanya sesekali Rakha menghubunginya, bertanya masalah fotografi.
Distha baru saja keluar dari mobilnya yang ia parkir di dekat gedung Fakultas Ekonomi ketika tiba-tiba Prasta muncul di belakangnya sembari menepuk bahunya. Gadis itu berjengit kaget.
"Prasta! Selalu, deh! Aku sebentar lagi nikah, ya ... Jangan bikin jantungku berhenti berdetak sekarang, deh!" sungutnya sembari memukul dada sahabatnya hingga laki-laki itu meringis kesakitan.
"Gila, ya! Pukulan kamu keras banget! Jangan-jangan kamu berlatih mukul samsak tiap hari buat persiapan ngadepin si Abang dokter ya, Sist!" celetuk Prasta, tangannya mengusap-usap dada yang dipukul Distha.
"Sembarangan!" umpat Distha, wajahnya merengut. Prasta tergelak senang berhasil menggoda sahabatnya.
"Kamu udah bimbingannya?" tanya Distha.
"Udah!" jawab Prasta singkat.
"Lolos?" tanya Distha lagi.
"Iyes, dong!" sahut Prasta jemawa.
"Ish! Gaya banget, sih! Baiklah, aku ketemu dosen dulu, ya ... Kamu langsung cabut?" lontar Distha.
"Eh! Tunggu-in aku dulu, deh! Ya?" lanjutnya memohon.
Prasta nampak berpikir, sudut bibirnya membentuk seringaian. "Gimana, ya?"
"Ayolah! Kutraktir deh, di kantin," cetus gadis yang sebentar lagi melepas masa lajangnya itu.
"Pas! Baiklah, Sist. Demi sahabat yang sebentar lagi dipersunting dokter, aku bersedia menunggumu," ucap Prasta, kedua alis hitamnya naik turun.
Distha memutar bola matanya jengah. "Dasar!" gerutunya.
*******
Renata baru saja menyelesaikan tugas on air-nya ketika Kak Ella masuk untuk menggantikannya di jam siaran berikutnya.
"Hei! Mau langsung kuliah?" tanya Kak Ella sembari meletakkan tumbler berisi air mineral dan kotak makan di atas meja Compact Disc.
Renata tersenyum meletakkan on air list form setelah membubuhkan paraf di list namanya.
"Iya, Kak. Biar cepat selesai skripsinya, biar tenang," ucapnya.
Kak Ella tersenyum. "Semoga lancar, ya ...." Ditatapnya Renata dengan senyum simpulnya. Lalu duduk di kursi penyiar bersiap untuk memulai on air-nya.
"Thanks, Kak. Aku pergi dulu, ya," pamit Renata. Gadis itu pun keluar ruang siaran. Sebelum benar-benar pergi dari studio, ia pergi ke pantry untuk mengisi tumbler minumnya dengan air mineral dingin.
"Ren, udah dijemput, tuh!" seru Andhika yang baru saja datang.
Renata mengangkat ibu jarinya dengan senyum tipisnya. Andhika mengangguk dan berlalu menuju ruangan penyiar. Sementara Renata bergegas meninggalkan studio. Bian tidak senang bila harus menunggu terlalu lama. Berbeda dengan Prasta yang selalu sabar bila harus menunggu. Renata menghembuskan napasnya pelan.
"Maaf! Nunggu lama, ya," ucap Renata saat dirinya sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Bian.
Bian menghela napas dan tersenyum. "Langsung kampus?" tanyanya.
Renata mengangguk dengan senyum tipisnya. Tanpa diduga, Bian mendekat dan mengecup pipi Renata. Lalu ia mulai melajukan mobilnya. "Sore nanti aku harus ke Jakarta. Mungkin di sana 3 hari. Nggak apa-apa kan, kamu berangkat sendiri?" ujar Bian dengan tetap fokus pada kemudinya.
"Nggak apa-apa. Udah biasa berangkat sendiri juga," sahut Renata, tersenyum menanggapi ucapan Bian.
"Jangan pergi dengan cowok lain," cetus Bian datar.
Renata menoleh, menatap Bian dengan tatapan yang tak suka. "Kapan aku pergi dengan cowok lain selain kamu?" tanyanya.
"Yaa ... aku nggak suka, Ata. Apalagi sama cowok anak buah Mitha itu. Tolong jangan membantah!" ketus Bian tanpa menatap Renata. Pandangannya fokus ke depan, ke jalanan yang cukup padat.
Renata terdiam. Ia malas berdebat juga. "Ok!" singkatnya.
"Jadi gimana tawaran magang dari teman aku itu? Jadi kamu terima, kan?" tanya Bian setelah beberapa saat mereka terdiam.
Renata mengalihkan pandangannya pada Bian yang masih fokus dengan kemudinya. "Emang harus sekarang jawabannya?" tanya Renata.
"Lebih cepat lebih baik, Ata. Ini kesempatan bagus buat kamu. Mereka nggak banyak rekrutmen orang. So, siapa cepat dia dapat," papar Bian.
"Iya, sih! Tapi skripsi aku belum kelar. Gimana, dong?" ujar Renata, nada suaranya terlihat kecewa.
"Tapi tahun ini selesai dan wisuda, kan?" tanya Bian meyakinkan.
"Insya Allah, harapanku begitu. Harus selesai tahun ini," jawab Renata.
"Ya, udah! Nanti aku bilang ke teman aku buat nunggu kamu," sahut Bian menatap Renata dengan seulas senyuman terbaiknya.
"Makasih, Bi," ucap Renata dengan senyum manisnya. "Pesawat jam berapa? Kalau nanti sempat, aku antar ke bandara, ya?" tanya Renata.
"Nggak usah, Hun. Flight jam 3 sore, kamu nggak keburu sepertinya," jawab Bian.
"Mama dan Papa kamu emang sekarang udah menetap di Jakarta, gitu?" tanya Renata.
"Begitulah! Tapi tetap aja, sih, mereka juga bolak balik Jakarta-Surabaya-Jakarta. Tau sendiri, kan?" sahut Bian. Ia menepikan mobilnya saat sudah sampai di depan kampus Renata.
Renata tertawa kecil. "Pasti karena kangen sama cucu satu-satunya, ya," cetus Renata.
Bian pun terkekeh diikuti anggukan kepala. "Ok, selamat belajar, ya! Selesai kuliah langsung pulang ya, Hun. Ingat! Jangan pergi sama cowok lain!" titahnya.
Wajah Renata merengut dan berdecak pelan. "Aku nggak pernah pergi sama cowok lain selain kamu, Rakha dan Papa ...."
Cup!
Bian membungkam bibir Renata dengan sebuah kecupan, membuat sang pemilik terdiam seketika. Detik berikutnya, bibir Bian memagut bibir merah Renata yang sedikit terbuka. Renata bergeming dengan mata terpejam, membiarkan bibir Bian menyapu bibirnya. Beberapa saat kemudian, lelaki itu melepaskan ciumannya. Ibu jarinya mengusap bibir Renata lembut. "Aku pasti akan merindukanmu," ucapnya lirih.
Renata tersenyum dengan wajah yang merona. "Kamu hati-hati, ya. Salam buat Mama dan Papa," ucapnya sembari tersenyum dengan tangan kiri membuka pintu mobil, sementara tangan kanan memegang tas ransel-nya.
"See you, Hun. Ingat pesanku!" seru Bian dari dalam mobil.
Renata sedikit menunduk membalas dengan senyuman. "See you!"
Mobil Bian pun melaju meninggalkan kampus Renata. Gadis itu tertegun sesaat memandang mobil kekasihnya, lalu menghela napasnya panjang. Setelahnya ia berjalan memasuki kampus untuk menemui Dosen Pembimbingnya. Skripsinya harus segera ia selesaikan. Tawaran magang di Jakarta merupakan hal yang sangat diinginkannya. Kesempatan emas baginya untuk mewujudkan mimpi yang selama ini ia simpan dalam hidupnya.
Baru beberapa langkah ia memasuki kawasan kampus, ia melihat dua orang yang sangat dikenalnya sedang berjalan beriringan menuju tempat parkir motor kampus. Langkahnya terhenti seketika. Menatap lelaki dengan rambut sebahunya yang berjalan beriringan dengan seorang gadis blasteran. Mereka terlihat akrab, tertawa bersama di sela-sela obrolan mereka.
Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini. Aku dan kamu harus menempuh perjalanan masing-masing. Maafkan aku. Semoga Olly memang takdir dan bahagiamu.
********
Prasta berjengit kaget saat menyadari sebuah tangan menepuk bahunya. Ia pun menoleh dan seketika tergelak tawa mengetahui siapa yang menepuk bahunya.
"Bang Hendra!" seru Prasta. "Sama siapa?" tanyanya kemudian, matanya melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang mungkin bersama lelaki penyiar radio itu.
Bang Hendra juga tertawa sembari meninju lengan Prasta. "Tuh! Sama siapa lagi, kita orang kan jombloers!" gelak Bang Hendra, tangannya menunjuk pada dua orang lelaki yang tentu saja sangat dikenal Prasta, Andhika dan Yoga, teman siaran Bang Hendra. Mereka sedang berdiri mengantri untuk membeli minuman dan tentu saja makanan ringan.
Prasta pun melambaikan tangannya saat Andhika dan Yoga melihatnya di antara keramaian orang di dalam gedung bioskop. Ya, saat ini mereka sedang berada di gedung bioskop yang terletak di sebuah mall.
"Kamu sendiri?" tanya Bang Hendra pada Prasta yang sedang celingukan mencari seseorang.
"Pras!"
"Udah?" tanya Prasta pada seorang gadis yang baru saja muncul menghampiri mereka.
"Ly, kenalin Bang Hendra. Dia penyiar radio teman Danisha dan ... Renata," ujar Prasta memperkenalkan Bang Hendra pada Olly. Gadis yang bersama Prasta adalah Olly.
"Hai!" sapa Bang Hendra mengulurkan tangannya. Olly pun tersenyum menjabat tangan Bang Hendra.
"Cantik!" bisik Bang Hendra di telinga Prasta, yang spontan membuat Prasta tersenyum kecil.
"Bagus, deh! Kamu cepat move on!" imbuhnya, masih berbisik di telinga Prasta.
Prasta menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit salah tingkah. "Teman, Bang!" sahutnya, juga berbisik.
Olly menatap kedua lelaki di hadapannya dengan sedikit canggung, keningnya sedikit terlipat ke dalam. Menerka-nerka apa yang sedang dibicarakan keduanya.
"Yuk, Pras! Studio 2 udah dibuka, tuh!" celetuk Olly menyela obrolan kedua lelaki di hadapannya.
"Studio 2 juga?" tanya Bang Hendra. "Barengan, nih!" seru Bang Hendra dengan tawa jahilnya.
Prasta memutar bola matanya. Tanpa sadar ia menggamit tangan Olly, mengajaknya masuk ke dalam studio.
"Eh, Pras!" seru Bang Hendra.
Prasta mengangkat tangannya. "Sorry, aku duluan!" serunya dengan tawa kecilnya.
"Gila ya, tuh anak!" Bang Hendra menggelengkan kepala sembari tertawa.
"Prasta sama ceweknya tuh, Bang?" tanya Yoga.
"Mungkin! Kata dia sih, teman. Who knows?" jawab Bang Hendra mengangkat kedua bahunya. Lalu mereka bertiga pun pergi menyusul Prasta dan Olly ke studio 2, tempat film yang akan mereka tonton diputar.
********
Prasta menghisap sisa rokoknya, menghembuskannya perlahan. Lalu tangannya menekan-nekan puntung rokok di dalam asbak untuk mematikan bara yang tersisa. Ia duduk di teras rumahnya, sendiri. Setelah mengantar Olly pulang selepas menonton film sore tadi, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Seharian ia pergi bersama Olly, kebetulan hari ini hari liburnya. Pagi tadi, ia mengantar ibunya berangkat mengajar sebelum pergi ke rumah Nenek Olly untuk menjemput gadis itu dan mengantarkannya kuliah. Hingga Olly pulang kuliah dan mereka menghabiskan waktu dengan makan bersama dan menonton film di bioskop. Prasta tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Olly hari ini. Saat ini, ia memang merasa nyaman bersama Olly. Namun ia tak yakin bisa membuka hatinya untuk gadis itu atau gadis lainnya. Ia teringat perkataan ibunya.
"Jika memang sudah tidak bisa dilanjutkan, berhentilah. Lalu carilah jalan lain untuk menemukan kebahagiaanmu. Mungkin kamu akan lelah, tetapi jangan pernah menyerah. Allah hanya sedang menguji kesabaran dan keikhlasan hatimu. Sejauh mana kamu bisa melangkah dan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaanmu yang sesungguhnya."
Prasta menghela panjang napasnya. Skripsinya hampir rampung. Pekerjaannya semakin baik dan lancar. Keluarga yang sangat menyayangi dan mendukungnya. Sahabat yang luar biasa baik dan juga selalu berada di sampingnya. What's else? Semua sudah ia dapatkan dengan mudah. Lalu untuk apa ia menyiksa hati dan diri seperti ini?
Mungkin memang aku harus melepaskan semua tentang aku dan dirinya. Ibu dan Saka benar. Kita boleh merasa lelah, tapi jangan pernah menyerah. Kita bisa berhenti sesaat untuk melepaskan lelah, lalu bangkit lagi dan melanjutkan perjalanan kita menuju kebahagiaan yang ada di seberang sana. Meskipun harus ditempuh dengan jalan yang berbeda dan sulit sekalipun.
Dering ponsel mengagetkan Prasta dari lamunan dan kecamuk hatinya.
"Halo, Kha!" sapa Prasta begitu ia menggeser tombol hijau ponselnya.
"Halo, Kak! Kakak lagi sibuk?"
"Kalau sekarang nggak, sih! Baru sampai rumah. Ada apa, Rakha?"
"Besok ada waktu? Terserah Kakak jam berapa, aku ikut aja."
"Besok, ya?" Prasta terdiam, berpikir sesaat. "Siang jam 12, gimana? Tapi mungkin nggak bisa lama juga," lanjutnya.
"Ok, Kak. Ketemu di mana? Di tempat Kakak kerja aja, ya ... Kafe biasanya."
"Ok! Jam 12 siang, ya. Kalau bisa jangan telat," tegas Prasta dengan tawa kecilnya.
"Siap, Kak! Sebelum jam 12 Rakha udah di tempat!"
"Baiklah! Sampai besok!" sahut Prasta, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Ada apa lagi? Batinnya bertanya-tanya.
Sebuah notifikasi pesan baru muncul, Olly.
Olly
"Udah tidur?"
Jari Prasta bergerak di atas keyboard ponselnya, membalas pesan Olly.
Prasta
"Belum. Kenapa?"
Lalu dikirimnya. Sesaat kemudian ia bangkit dari duduknya, berjalan masuk ke dalam rumah. Hari semakin malam, rumah sudah terlihat sepi. Ayah dan ibunya pasti sudah terlelap saat ini, hampir pukul 22.00. Kamar adiknya pun terlihat gelap, adik satu-satunya itu pasti sudah tidur juga. Setelah ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki dan wajahnya, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar.
Ponselnya kembali berbunyi, pesan baru dari Olly.
Olly
"Thanks ya, buat hari ini. Udah ngajakin aku jalan dan nonton. Hariku berbeda dengan biasanya. Jadi nggak monoton ☺️."
Prasta tersenyum simpul saat membaca pesan balasan dari Olly. Lalu tanpa menunggu, ia pun segera membalas pesan tersebut.
Prasta
"Sama-sama, Olly. Thanks juga udah nemenin aku jalan hari ini ☺️. Udah malam, tidur, gih. Aku juga mau tidur. Malam, Olly."
Olly yang sudah berbaring di ranjangnya tersenyum ketika ponsel yang ia letakkan di sampingnya berbunyi. Setelah membaca pesan dari Prasta, ia pun segera membalasnya.
Olly
"Hu um. Malam, Pras. Selamat istirahat."
Wajah Olly berbinar bahagia. Kebersamaannya dengan Prasta hari ini sungguh membuatnya bahagia. Prasta tidak pernah berubah. Meskipun terkadang sifat cuek dan jahilnya selalu muncul dan membuatnya kesal. Namun lelaki teman kecilnya itu selalu bersikap baik dan melindungi.
Tbc