LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 41 Hanya Bertemu Tapi Tak Bersatu



HAPPY READING


❤️


❤️


❤️


"Mama jadi ikut Ata ke rumah sakit?" tanya Renata yang baru saja duduk untuk sarapan bersama orang tuanya.


"Kamu nggak kerja?" tanya Pak Danny setelah menyesap kopi buatan istrinya.


"Kerja, Pa. Tapi siang," jawab Renata sembari mengunyah roti bakar buatan sang Mama.


"Kayaknya nggak jadi, deh! Ini Mama baru dapat pesan, teman Mama nggak bisa ngajar karena anaknya sakit," ujar Bu Nia yang masih sibuk berbalas pesan dengan teman sesama pengajar di grup chat lembaga bimbingan belajar tempatnya bekerja.


"Jadi Mama yang gantiin?" tanya Renata.


"Ya, pasti! As usual," sahut Bu Nia sembari meletakkan ponselnya.


Pak Danny beranjak dari duduknya dan meraih tas kerja berisi laptop di kursi sebelah kirinya.


"Papa berangkat duluan. Kamu yakin nggak berangkat sama Papa?" tanya Pak Danny pada putrinya yang tengah menyesap susu coklat hangatnya.


Renata menggeleng. "Ata naik ojek online aja, Pa." Gadis itu menjawab setelah menyesap habis minumannya.


"Baiklah! Mama nunggu Rakha?" tanya Pak Danny pada sang Istri sembari berjalan meninggalkan ruang makan.


"Belum tahu juga. Tadi Rakha bilang, dia cuma latihan basket biasa, sih! Katanya nggak ada kuliah hari ini, bisa pulang sebelum jam 11.00," jawab Bu Nia yang berjalan beriringan dengan sang Suami.


"Tapi Mama udah bilang sama dia?" tanya Pak Danny lagi.


"Udah Mama chat, tapi belum dibalas. Masih latihan kali." Suami istri itu berdiri berhadapan di teras, sebelum akhirnya Bu Nia mencium punggung tangan suaminya.


"Ya, udah. Papa berangkat, ya. Assalamu'alaikum," ucap Pak Danny berpamitan.


"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Nia.


Pak Danny segera masuk ke dalam mobil. Setelah menyalakan mesinnya, pria paruh baya itu segera melajukan Toyota Camry-nya meninggalkan kediamannya menuju tempat kerjanya.


Bu Nia hendak masuk ke dalam rumah, tetapi diurungkannya ketika melihat anak gadisnya tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya dengan pandangan yang tak lepas dari ponselnya.


"Ma, Ata berangkat sekarang, ya. Ini ibunya Prasta barusan nge-chat bilang Prasta pulang hari ini," ujar Renata, tangannya sibuk mengetik di ponselnya.


Bu Nia menggelengkan kepalanya disertai helaan napas singkat melihat sikap putrinya yang berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


"Nggak sopan banget, sih! Bicara sama orang tua tapi mata sibuk sama ponselnya," keluh Bu Nia, yang sontak membuat Renata mengalihkan pandangannya kepada sang Mama.


"Maaf. Maaf, Mama. Ini Ata lagi pesan ojek online dan balas chat dari ibunya Prasta. Maaf ya, Ma," ucap Renata memohon.


"Iya, lain kali jangan begitu lagi." Bu Nia tersenyum, tangannya mengusap pelan rambut putri sulungnya.


"Siap! Nah, itu ojeknya udah datang. Ata berangkat ya, Ma. Assalamu'alaikum," pamit Renata sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Wa'alaikumsalam. Sampaikan salam Mama ke Bu Ranti, ya," seru Bu Nia sesaat setelah anak gadisnya mencium punggung tangannya.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk dengan kedua ibu jari yang terangkat.


Bu Nia menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum semringah menatap kepergian anak gadisnya. Ada binar bahagia menyaksikan anak gadisnya yang beberapa hari terakhir tampak bersemangat dan selalu menampakkan keceriaannya. Tentu saja sejak putri sulungnya itu bertemu dengan mantan kekasihnya. Ya ... Meskipun pertemuan mereka dalam situasi dan kondisi yang tidak baik. Namun, setidaknya memberikan harapan baik untuk putrinya. Ia paham perasaan putrinya yang sesungguhnya masih menyimpan rasa yang mendalam pada mantan kekasihnya. Pun dengan dirinya dan suaminya, yang sangat berharap keduanya bisa bersatu kembali. Harapan orang tua yang menginginkan kebahagiaan putra putrinya.


***


Joanna tertawa kecil, sementara netranya tak berpaling menatap Prasta yang juga menatapnya dengan kening yang berkerut.


"What?"


Kembali Joanna tertawa disertai gerakan kepala ke kanan dan kiri.


"Nothing," ucapnya singkat, lalu kepalanya menunduk. Namun, hanya dalam hitungan detik kemudian, kepalanya kembali tegak dengan senyum yang dikulum menatap lelaki yang duduk di kursi roda dengan penampilan rambut barunya. Keduanya kini berada di taman rumah sakit yang tidak jauh dari kamar rawat Prasta.


"Rasanya aneh," ujar Joanna.


"Aneh? Apa dan siapa yang aneh?" cecar Prasta, keningnya semakin berkerut dengan netra menyipit menatap Joanna yang berdiri di hadapannya.


"Uummm ... Entahlah!" sahut Joanna mengedikkan bahu dan senyum kecil terukir di bibir tipisnya.


"Aku yang aneh? Aneh kenapa?" cecar Prasta lagi, melayangkan tatapan yang tajam kepada Joanna.


"Calm down, Dude! Sorry! You look different in your new hair style. Aku merasa aneh aja melihat style rambut baru kamu. Selama kita kenal, nggak pernah lihat kamu dengan rambut pendek kayak gini," ungkap Joanna diiringi tawanya yang lebar.


"Dih! Segitu banget ya, anehnya? Ck!" Prasta mendengkus kesal dengan bibir mencebik.


Joanna semakin tergelak melihat raut Prasta yang mencebik, terlihat lucu. Prasta tak pernah berubah, masih saja sama dengan sikapnya yang selalu menyenangkan dan membuatnya nyaman. Pun dengan tingkah serta ocehannya yang terkadang absurd.


Beberapa detik kemudian, tawa Joanna terhenti. Keheningan datang di antara kedua orang yang beberapa bulan tidak bertemu.


"Aku hampir nggak percaya waktu Mas Bekti meneleponku, memberitahu kalau kamu kecelakaan. Tapi jujur, bukan cuma nggak percaya, aku khawatir banget mendengar kabar kamu kecelakaan. Apalagi waktu itu Mas Bekti bilang leher dan kaki kamu patah. Bayangan buruk langsung hinggap di kepalaku. Aku teringat teman sekolahku, dia juga mengalami patah tulang leher." Setelah beberapa saat saling terdiam, akhirnya Joanna bersuara diiringi helaan napas berat dengan kepala menunduk. Kakinya yang terbungkus sneaker putih bergerak-gerak memainkan ranting dan daun yang berguguran di bebatuan paving jalan setapak taman.


Prasta mendongak menatap gadis semampai yang berdiri di hadapannya. Ia tersenyum tipis sebelum akhirnya bersuara.


"Really? Bayangan buruk apa? Apa yang terjadi dengan teman kamu?" berondong Prasta.


Sekali lagi Joanna menghela napasnya berat, lantas pandangannya beralih pada kedua netra teduh Prasta yang juga menatapnya.


"Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan, patah tulangnya ternyata bukan hanya pada lehernya. Tulang punggungnya juga cedera. Membuatnya mengalami kelumpuhan selama beberapa tahun," tutur Joanna, tatapan netranya berubah sendu.


Prasta tertegun mendengar penuturan Joanna. Kesedihan dan kekhawatiran tergambar di raut wajahnya.


"Karena itu aku nggak berani menghubungimu. Jangankan menelepon, sekedar chat kamu aja aku nggak berani. Rasanya takut banget denger kabar buruk seperti yang dialami temanku. Sorry," lanjut Joanna disertai sebuah senyuman tipis.


"Alhamdulillah aku nggak separah itu," ucap Prasta. "See, aku udah semakin membaik. No worries." Prasta merentangkan kedua tangannya, menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Joanna ikut mengangguk dan menghela napasnya pelan.


"Ya! Aku lega waktu Mas Bekti mengabariku tentang kondisi kamu beberapa hari yang lalu, setelah dia dan anak-anak kantor menjengukmu. Saat itu, aku ingin meneleponmu tapi ... Aku masih takut," ungkap Joanna.


"Dia ... Maksudku teman kamu itu, apakah dia orang yang spesial?" tanya Prasta ragu.


Joanna mendongakkan kepalanya dengan sedikit memicingkan netranya saat menatap langit yang membiru pada hari menjelang siang itu. Lantas ia menghela napasnya panjang sembari menatap Prasta lekat dengan pandangan tak percaya.


"Ya, Tuhan! Kenapa, ya, Tuhan mempertemukan aku sama kamu?" lontar gadis itu.


Prasta mengernyit bingung mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Joanna. Sementara Joanna tertawa kecil membalas tatapan bingung Prasta. Gadis itu mengangkat bahu sembari merentangkan kedua tangannya sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.


"Kenapa, sih, kamu selalu benar tentang segala hal pada diriku? Dan aku ... Kenapa nggak pernah bisa sembunyiin apa pun dari kamu?" ujar Joanna.


Prasta melebarkan kedua netranya, terkejut mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Joanna.


"Hah? Ma-maksudnya?" Prasta tergagap.


Joanna menyejajarkan posisinya dengan posisi Prasta. Gadis itu duduk berjongkok dan menatap lekat lelaki yang duduk di kursi rodanya itu seraya tersenyum simpul.


"Kamu selalu tahu dan paham diriku." Joanna menghela napasnya singkat setelah berkata-kata, senyumnya masih mengembang di bibirnya.


"Astaga, Joanna! Kita teman, Jo! Bukan sehari dua hari kita kenal. Tentu saja aku tahu dirimu dan gimana kamu," tukas Prasta, kedua tangannya memegang kedua bahu Joanna.


"Iya! Teman," sahut Joanna, terkekeh.


"Jo ...." ringis Prasta lirih. Kedua netranya menatap manik mata Joanna yang meredup, meskipun senyum tak lepas dari bibir gadis itu. Prasta merasa tenggorokannya kering, ia menelan salivanya kelat. Ia merasa bersalah telah menyakiti hati gadis itu.


Joanna memegang tangan Prasta dan perlahan ia bangkit berdiri seraya menggenggam tangan lelaki itu.


"Maaf, jika sudah membuatmu terjebak dalam situasi yang rumit bersamaku. Sejujurnya aku senang, lebih tepatnya bahagia. Bertemu denganmu, melewatkan hari bersama. Aku berharap kamulah rumahku, tempat ternyaman dan teramanku. Lalu aku sadar, semesta tak mendukung kita. Dan tidak semua yang kita harapkan akan diwujudkan oleh Tuhan. Terima kasih sudah menjadi tempat persinggahan yang paling nyaman dan aman untukku," ungkap Joanna, senyumnya mengembang menghias paras eksotiknya.


Keduanya saling menatap lekat. Kedua netra Prasta menatap raut sendu dan bibir yang mengulas senyuman tulus di hadapannya. Lantas, lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya.


"Aku yakin, Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat pada saat yang tepat pula. Mungkin saat ini bukanlah saat yang tepat kita bertemu. Mungkin juga karena aku bukan orang yang tepat buat kamu, Jo. Percayalah, suatu hari nanti, entah kapan, akan ada seseorang yang tepat, yang akan mencintaimu dengan cara yang pantas, Jo. Karena kamu memang pantas untuk dicintai," tutur Prasta. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Joanna.


Gadis itu melebarkan senyumnya sembari berkata, "Jangan khawatir. Aku akan bahagia, dan kuharap kau pun akan menemukan bahagiamu," pungkas Joanna. Prasta dengan cepat mengangguk tegas meyakinkan gadis itu akan perkataannya.


***


Renata terpaku berdiri di koridor rumah sakit beberapa meter dari kamar rawat inap yang hendak ditujunya. Langkahnya terhenti kala kedua netranya menangkap sosok yang duduk di kursi roda sedang berbincang akrab dengan seorang gadis di taman rumah sakit yang tengah dilewatinya.


Seketika hatinya meringis menyaksikan pemandangan beberapa meter dari tempatnya berdiri. Lelaki di kursi roda dan gadis itu saling menatap dan menggenggam tangan dengan raut berbinar. Terlihat sangat akrab dan dekat. Ia tak mengenal gadis itu.


Renata melangkah pelan ke arah salah satu pilar gedung agar bisa melihat lebih jelas siapa gadis semampai berpenampilan modis yang bersama mantan kekasihnya. Hatinya tiba-tiba merasa perih melihat pemandangan di depan netranya yang kini terasa menghangat. Tangannya meremas tali paper bag berisi almond cake kesukaan lelaki itu yang dibelinya di bakery langganan sang Mama saat perjalanan ke rumah sakit.


Mungkin hanya anganku. Bertemu bukan berarti bersatu. Mungkin Allah hanya mempertemukan. Bukan menyatukan.


Gadis itu bergumam di dalam hatinya.


"Renata?"


Sontak Renata menoleh mendengar seseorang memanggil namanya.


"Danisha!" sahutnya kaget dan dengan gerakan cepat jemarinya menghapus bulir bening yang sedikit menggenang di kedua pelupuk netranya. Lantas, ia segera melempar senyuman pada wanita berhijab yang berdiri di sampingnya.


"Kok di sini?" tanya Danisha dengan tatapan penuh tanya, kedua netranya menyipit.


"I-iya! Uummm ... Kamu sendiri?" tanya balik Renata. Gadis itu celingukan, netranya menyapu seluruh area tempat di mana mereka berada, seolah tengah mencari seseorang.


Danisha mengerutkan dahinya melihat tingkah Renata, tetapi sesaat kemudian ia menyadari sesuatu. Ia tersenyum menatap gadis manis temannya ketika siaran di radio dahulu.


"Aku datang sendiri, Ren. Saka-nya nanti menyusul, ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal," jelas Danisha.


"Ooh, pantes nggak lihat Saka. Hehehe ...." sahut Renata sembari terkekeh.


Danisha mengalihkan pandangannya ke arah taman. Ia tersenyum dan beralih menatap gadis yang terlihat salah tingkah di sampingnya. Lantas ia menghela napasnya pelan ketika menyadari apa yang membuat Renata salah tingkah dengan raut yang tampak sendu dan kedua netra yang sedikit memerah.


"Kalian mungkin tidak sadar. Ego-lah yang telah menguasai kalian selama ini.


Honestly, aku percaya kalian itu masih saling mencintai. Saling membutuhkan. Try to have a deep talks, Ren. Bicarakan baik-baik. Jangan sampai semua yang telah kalian miliki hancur lebur hanya karena tiga huruf itu. Ingat, ego itu cuma tiga huruf, tapi tiga huruf itu bisa menghancurkan sebuah kata dengan jumlah huruf yang lebih banyak yang kita sebut relationship. Kamu paham kan, maksudku?" tutur Danisha lemah lembut.


Renata menatap ke arah taman, tempat di mana mantan kekasihnya dan seorang gadis berpenampilan modis yang tak dikenalnya berada. Namun, dua orang itu terlihat berjalan meninggalkan taman dengan senyum bahagia pada raut keduanya. Renata kembali merasakan perih di hatinya, senyum getir terbit di bibir gadis itu. Lantas ia menggeleng pelan.


"Aku melihatnya, Danish. He looks so happy ... With her," lirih Renata. "Look at them!" imbuhnya.


Danisha menggeleng.


"Ren, dia Prasta! Believe you know him so well as well as I am!" tukas Danisha sembari memegang kedua bahu Renata.


Renata menatap punggung gadis yang bersama Prasta yang tengah mendorong kursi roda tempat lelaki itu duduk menuju kembali ke kamar rawatnya.


"Aku nggak tahu, Danish. Apa masih ada kesempatan buatku untuk kembali bersamanya setelah apa yang kulakukan? Dua tahun lebih, cukup buat hatinya berubah. Melihatnya tertawa seperti tadi bersama gadis itu, sudah membuatku semakin paham dan yakin di mana posisiku. He looks so happy with her. It's good, right?" ungkap Renata dengan suara yang mulai bergetar, tetapi senyum tetap terukir di bibir cantiknya. Ia berusaha tegar dan terlihat baik-baik saja, meskipun apa yang dirasakannya sebaliknya. Hati gadis itu kecewa, harapannya pupus sudah saat itu juga. Saat dirinya menyaksikan senyum dan netra penuh binar bahagia di wajah lelaki sang Mantan Kekasih yang telah menjadi penyelamatnya.


TBC


Prasta's new look