LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 11 Tetap Kamu Di Hati



Saka menceritakan semua hal tentang hubungan Prasta dan Renata yang memburuk hingga akhirnya Prasta lebih memilih mengakhiri semuanya. Alasan Prasta, Renata tidak ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Renata lebih memilih bersama mantan kekasihnya yang lebih segalanya dibanding Prasta.


Danisha mendengarkan cerita Saka dengan serius, sesekali berdecak dan menggelengkan kepalanya.


" Aku ga yakin Renata seperti itu. Pasti ada kesalahpahaman, " ujar Danisha.


" Aku dan Distha udah mencoba bicara dan menasehati dia, Bee. Berkali-kali. Tapi kamu tau sendiri gimana keras kepalanya Prasta, mirip kamu, " kata Saka menyunggingkan sebuah senyuman mencoba sedikit bercanda agar Danisha tidak terlalu tegang dan serius.


Danisha cemberut mendengar perkataan kekasihnya.


" Ish ! Mana ada itu ! " sungut Danisha.


" Kalian keras kepalanya hampir sama, " sahut Saka terkekeh pelan.


Danisha kembali menatap ke arah sepasang kekasih yang duduk tidak jauh dari tempatnya saat ini. Terlihat sikap lelaki itu sangat perhatian dan mesra dengan Renata. Meskipun sekilas Danisha bisa melihat Renata kurang nyaman dengan sikap lelaki itu yang terkesan begitu show up.


Danisha menghela napas singkat.


" Udah, ah ! Kamu kenapa ngeliat cowok itu terus sih, Bee, " ujar Saka sedikit kesal.


" Pantas aku merasa ada yang berubah pada diri dan sikap Prasta. Kalian kenapa sih ga cerita sama aku. Kamu juga, kenapa ga cerita ? " Danisha ingin tahu kenapa sahabatnya tidak menceritakan hal ini padanya, terlebih Saka.


" Bee, udah dong ! Ga usah dibahas dulu bisa, kan ? Kita ke sini bukan untuk membahas hal ini, lho ! " protes Saka, tangannya meraih tangan Danisha dan mengusapnya lembut.


Saka sudah pasti tahu Danisha akan membahas terus masalah Prasta dan Renata. Karenanya, ia mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan dan membujuk kekasihnya untuk tidak membahasnya saat ini.


Danisha tersenyum menatap Saka. Lalu ia pun mengangguk dan pandangannya beralih pada menu makanan yang sudah tersedia di atas meja di hadapan mereka.


******


Siang itu Prasta ditugaskan meliput sebuah acara pameran Wedding di salah satu Mall. Ya, sudah 2 bulan Prasta magang kerja di salah satu media massa terbesar di Surabaya sebagai pewarta foto. Meliput acara pameran tersebut adalah tugas dari kantor tempat ia magang. Karena kegigihan dan keahliannya melukis cahaya baik menggunakan kamera DSLR maupun kamera ponsel, ia tak menunggu lama untuk mendapatkan kepercayaan dari sang atasan untuk menjalankan tugas keluar meliput beberapa acara dan peristiwa.


Prasta duduk di salah satu kursi yang disediakan oleh panitia. Sibuk dengan kameranya, melihat-lihat hasil jepretannya. Nampak ia tersenyum puas dengan hasil jepretannya.


" Prasta ! "


Seseorang memanggilnya.


Mendongakkan kepala, Prasta mencari sumber suara yang memanggilnya.


Seorang gadis memakai topi berwarna pink berbahan cordoray dengan rambut dibiarkan tergerai hingga ke punggung. Celana jeans navy dan blouse lengan panjang warna senada dengan topi membalut tubuh gadis berwajah blasteran itu. Syal rajut menutupi bahu hingga ke tubuh bagian depan. Senyum mengembang di bibir gadis itu, berjalan melenggang menghampiri Prasta.


" Olly ? " gumam Prasta, menautkan kedua alis hitamnya yang tebal. Ia pun berdiri dari kursinya.


" Hey ! Kamu kok di sini ? " tanya Prasta ketika Olly sudah berdiri di hadapannya.


" Kamu sendiri ngapain di sini ? " tanya balik Olly.


" Ish ! Ditanya belum dijawab malah balik nanya. Kebiasaan nih ! " ujar Prasta, tangannya masih menggenggam kameranya.


" Wow ! Jadi, lagi kerja meliput acara ini ? " celetuk Olly, tangannya meraih kartu identitas yang menggantung di lehernya.


Prasta tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.


" Begitulah... Tapi udah selesai sih. Mau balik ke kantor. Eh, kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Kamu ngapain di sini ? " tanya Prasta lagi.


" Olly ! Jangan lupa besok ya, jangan telat ! " seru seseorang pada Olly.


Prasta seketika menengok pada sumber suara yang berbicara sedikit berteriak pada Olly karena bisingnya tempat itu.


" Oke, Kak ! " jawab Olly dengan senyuman dan lambaian tangan.


" Eh, tadi kamu tanya apa ya ? " Olly kembali menatap Prasta dan bertanya balik dengan raut cengengesan.


Prasta merotasikan kedua bola matanya.


" Kamu tuh kebiasaan, Olly ! Ngapain kamu di sini dan itu tadi siapa ? " Prasta pun dengan gemas mengulang lagi pertanyaannya yang belum dijawab Olly.


Olly terkekeh melihat raut wajah gemas Prasta yang menurutnya sangat lucu.


" Tuh kan, malah ketawa ! Ga mau jawab ya udah, aku mau cabut ! " sungut Prasta yang bersiap untuk pergi dari tempat itu.


Dengan cepat Olly menarik lengan Prasta, menahannya untuk tidak pergi. Masih dengan tawa kecilnya, Olly menahan lengan kokoh Prasta.


" Jangan suka ngambek kenapa ! Ga sabaran banget ! " gerutu Olly, kali ini ia mengerucutkan bibirnya.


Prasta tersenyum menatap Olly.


" Bukan gitu, Ly... Waktuku ga banyak, aku harus segera balik ke kantor dan mengerjakan tugasku, deadline hari ini, " jelas Prasta.


" Oke, deh ! Sorry, kamu besok ke sini lagi ? " tanya Olly.


" Tentu saja. Kenapa ? "


" Oke, kita ketemu lagi besok, ya ? Aku sampai sore di sini, " ujar Olly, bibir tipisnya mengulum sebuah senyuman.


" Oke, deal ! Wait, kamu ngapain sih di sini ? " Prasta bertanya lagi, penasaran.


Olly menghela napas nya perlahan dan tersenyum pada Prasta, lalu berkata, " Dasar ya, jiwa kepo mu tuh ga bisa dibohongi kok, Pras. Cocok emang kamu kerja kek gini, jadi wartawan. "


" Eh ? Apaan, coba ! " seru Prasta.


" Aku ke sini lagi ada job, Pras. Orang tadi itu yang kasih aku job. Besok aku jadi model baju pengantin rancangannya. Udah jelas ? " jelas Olly tersenyum simpul sembari menatap Prasta.


" Wow ! Kamu jadi model ? Bisa, ya ? " celetuk Prasta, serasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Olly memukul lengan Prasta dengan wajah merengut.


" Aduh ! Sakit, Olly ! Udah ah, aku cabut dulu ya... See you tomorrow, Olly, " Prasta terkekeh, tangannya memegang puncak kepala Olly yang terlindung topi cordoray nya. Setelahnya ia berjalan tergesa meninggalkan Olly yang masih berdiri mematung di tempat itu dengan wajah merengut.


******


Entah kenapa sejak memutuskan menerima Bian kembali dalam hidupnya, Renata selalu merasa ada yang salah dalam dirinya. Ia merasa dirinya yang sekarang bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Ia merasa hampa. Tidak seperti dirinya ketika masih bersama Prasta. Ia rindu dengan lelaki itu. Ia rindu dengan kelakar dan kejahilan lelaki itu. Ia rindu dengan keromantisan lelaki itu. Ia rindu segalanya yang dimiliki lelaki itu.


Perlahan tangannya bergerak membuka gallery di ponselnya. Sesekali ia hela napasnya memandangi sosok lelaki yang fotonya banyak memenuhi gallery nya. Ada sesak di sana. Ia masih mencintai lelaki itu. Tanpa ia sadari bulir bening luruh dari kedua sudut matanya.


Renata benci hal ini. Semakin ingin melupakan semakin terasa menyakitkan. Ia hapus pipinya yang basah dengan telapak tangannya. Ia hela napasnya panjang dan meletakkan ponselnya ke sembarang tempat di ranjangnya. Berbaring di ranjang dan memeluk boneka Teddy besar kesayangannya.


" Kak ! Kak Ata ! " suara Rakha diikuti suara ketukan di pintu kamarnya ia abaikan. Ia tidak ingin keluar dari kamarnya. Tidak ingin semua di rumah ini tahu jika saat ini hati dan dirinya sedang tidak baik-baik saja.


" Kak Bian menunggu di bawah, Kak ! " seru Rakha kembali.


Renata tetap mengabaikan panggilan adiknya. Ia sedang tidak ingin diganggu. Masa bodoh dengan Bian. Ia hanya ingin menikmati kesendiriannya saat ini. Tak ingin diusik oleh siapapun dan apapun.


Rakha masih berdiri di depan pintu kamar kakaknya. Tak mendengar suara apapun dari dalam kamar kakaknya, ia menghela napasnya dalam. Meskipun ia terkadang cuek dan terlihat tak akur dengan kakak satu-satunya itu, tapi ia sangat menyayangi dan selalu berusaha memberikan perhatian kepada sang kakak.


Sesungguhnya ia kecewa, kakaknya kembali menjalin hubungan dengan Bian. Entah kenapa, sejak dulu ia tidak terlalu menyukai lelaki masa lalu kakaknya itu. Apalagi saat lelaki yang sekarang duduk di sofa ruang tamu menunggu kakaknya itu pergi begitu saja meninggalkan sang kakak tanpa pamit, hanya meninggalkan secarik kertas memo yang hanya bertuliskan, " Maaf, aku pergi. Ke Swiss, bersama Windy. "


Ya, teringat dengan jelas di kepalanya tulisan tangan Bian itu karena ia membacanya saat tanpa sengaja menemukannya di meja belajar sang kakak.


Waktu itu ingin rasanya ia menghajar lelaki itu, apalagi saat melihat kakak satu-satunya itu menangis dan menjadi terpuruk.


Sekarang, ia sungguh tak mengerti dengan sikap kakaknya. Setelah sekian lama ditinggalkan dan dikecewakan, kakaknya masih saja bersedia memberi kesempatan pada lelaki itu. Namun, ia juga tidak sepenuhnya menyalahkan sang kakak yang pada saat kemunculan lelaki itu, hubungan cintanya dengan kekasihnya, Prasta, sedang tidak baik-baik saja.


Rakha tersentak kaget, suara sang Mama membuatnya tersadar dari lamunannya.


" Mama... kirain siapa. Keknya Kak Ata ga mau diganggu, Ma. Mungkin udah tidur juga. Dari tadi Rakha panggil-panggil ga ada sahutan, " ujar Rakha.


" Ya udah, bilang gih, sama Bian kalau kakak kamu udah tidur, " sahut Bu Nia.


Rakha berdecak pelan.


" Mama aja deh, yang ngomong sama dia. Rakha males ngomong ama dia, Ma, " tukas Saka sarkas.


Bu Nia menghela napas singkat dan menggelengkan kepalanya. Ia paham jika anak bungsunya tidak menyukai Bian.


Bu Nia pun turun ke lantai bawah untuk menemui Bian.


" Bian, maaf ya, nunggu lama. Sepertinya Ata tertidur. Tadi dipanggil-panggil tidak menyahut, " kata Bu Nia memberitahu Bian jika Ata tidak bisa menemuinya.


Bian tersenyum tipis.


" Iya, Tante. Ga apa-apa, mungkin dia kecapekan. Maafkan Bian juga, udah datang siang-siang, " ujarnya berbasa-basi. Dalam hatinya ia kecewa, Renata tidak mau menemuinya. Ia tahu gadis itu bukan tertidur tetapi memang sengaja tidak mau menemuinya.


Setelahnya, Bian berpamitan pulang. Bu Nia pun mengantar Bian hingga ke teras depan sebelum akhirnya lelaki itu pergi dengan mobil Expander hitamnya.


" Ma, Rakha khawatir sama Kak Ata, " kata Rakha pada Bu Nia saat keduanya bertemu di ruang keluarga.


Bu Nia mengerutkan dahinya. Tumben anak laki-lakinya bicara seperti itu, mengkhawatirkan sang kakak.


" Emang kakak kenapa ? " tanya Bu Nia.


" Masa sih, Mama ga merasa kalau kakak berubah. Ck ! Rakha ga suka kakak balikan sama Kak Bian, Ma, " cetus Rakha.


Bu Nia kembali mengerutkan dahinya. Tidak biasanya putranya itu berkomentar tentang kehidupan kakaknya.


" Kenapa ? " tanya Bu Nia lagi, ingin tahu alasan ketidaksukaan putranya pada hubungan sang kakak dengan Bian.


" Dari dulu Rakha udah ga suka sama Kak Bian. Rakha lebih suka Kak Ata sama Kak Prasta, " jawab Rakha lugas.


Bu Nia tersenyum menatap putranya. Saat ini kedua ibu dan anak itu sedang duduk di ruang keluarga. Sebelum berbicara pada putranya, wanita paruh baya itu menghela napasnya panjang.


" Kakak kamu sedang bingung aja, Kha. Sedang apa tuh anak jaman sekarang bilang, galau, iya galau, " ujar Bu Nia terkekeh pelan diikuti pula dengan Rakha yang justru tertawa lebar.


" Kakak sih, egois. Rakha paham maksud Kak Prasta waktu itu. Rakha respect sama Kak Prasta karena berani mengambil sikap, pertanda laki-laki yang bertanggung jawab. Seminggu yang lalu, Rakha ketemu Kak Prasta waktu liat pertandingan basket. Rupanya dia diterima magang kerja sebagai pewarta foto. Kak Prasta titip salam buat Mama, " tutur Rakha bercerita mengenai Prasta.


" Oh ya ? Wa'alaikumsalam, " sahut Bu Nia tersenyum simpul. Sesungguhnya Bu Nia memang lebih menyukai bila putrinya itu menjalin kasih dengan Prasta daripada dengan Bian. Namun, semua ia serahkan kepada putrinya karena dia yang menjalani.


" Bagaimanapun kita harus support kakak kamu, mendoakannya supaya memilih dan mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Mama juga setuju pendapat kamu tentang Prasta. Papa kamu juga bilang, Prasta laki-laki yang bertanggung jawab karena dia berani mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya pada saat ini. Saat usianya yang terbilang masih sangat muda, masih kuliah juga, belum sepenuhnya bekerja dan mempunyai pendapatan yang cukup bila harus melamar dan menikahi anak gadis orang. "


Sesaat Bu Nia terdiam dan menghela napasnya, lalu berkata sembari tersenyum, " Papa kamu juga dulu seperti itu. Mereka mirip. " Bu Nia tersenyum lebar mengingat masa muda bersama suaminya, Pak Danny.


Rakha terkekeh melihat sang Mama yang terkenang masa mudanya.


Tanpa mereka sadari, di atas sana tepatnya di ujung tangga bagian atas, Renata mendengarkan semua obrolan antara Mama dan adiknya. Dadanya semakin sesak. Ia semakin merasa bersalah, egois dan tidak adil terhadap Prasta. Niatnya untuk turun ke lantai bawah, ia urungkan. Berjalan gontai dengan mata berkaca-kaca, ia kembali masuk ke dalam kamarnya.


******


Ting !


Prasta keluar dari lift setelah terdengar dentingan dari kotak baja yang membawanya dari lantai atas ke lantai satu gedung tempatnya magang kerja. Ia ingin membeli segelas kopi dan makanan kecil di coffee shop yang ada di lantai satu gedung itu untuk menemaninya menyelesaikan tugasnya sebelum deadline malam ini.


Baru beberapa langkah Prasta keluar dari lift menuju coffee shop, ada yang memanggil namanya.


" Prasta ? "


Prasta menengok ke arah suara yang memanggilnya. Ia sedikit terkejut, sosok pria paruh baya berkacamata yang sangat dikenalnya ada di hadapannya. Tersenyum dan berjalan menghampirinya. Seketika Prasta pun berjalan tergesa menghampiri pria paruh baya itu. Meraih tangannya dan mencium punggung tangan pria itu dengan hormat dan sopan.


" Om Danny, apa kabar ? " tanya Prasta pada pria paruh baya itu, yang ternyata Om Danny, Papanya Renata.


" Alhamdulillah baik, Pras. Apa kabar kamu ? " Pak Danny balik bertanya.


" Alhamdulillah, Om. Ada keperluan di sini ya, Om ? " tanya Prasta lagi.


Pak Danny tersenyum simpul sembari membetulkan letak kacamatanya.


" Sebentar ya.... " Pak Danny menengok ke arah 3 orang yang bersamanya.


" Kalian duluan ga apa-apa, nanti saya susul, " ujar Pak Danny kemudian kepada ketiga orang tersebut.


Ketiga orang tersebut mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


" Om ada meeting dengan orang yang kantornya ada di lantai 5, " jelas Pak Danny dengan sebuah senyuman. Prasta pun menggoyangkan kepalanya naik turun.


" Kamu bekerja di sini ? " tanya Pak Danny kemudian.


" Ah, bukan bekerja. Tapi magang kerja, Om. 3 bulan saja dan sekarang udah 2 bulan saya di sini, " tutur Prasta.


Pak Danny tertawa sumringah.


" Hebat ! " Pak Danny menepuk bahu Prasta, seolah bangga dengan apa yang dicapai oleh laki-laki muda di hadapannya sejauh ini.


" Uummm... Maafkan Prasta, Om. Udah bikin Om dan Tante kecewa. Prasta tidak bermaksud.... "


" Om yang harusnya minta maaf sama kamu. Maafkan Renata, ya... Harusnya dia tidak bersikap demikian sama kamu. Sesekali mampirlah ke rumah, Pras. Rumah kami masih selalu terbuka buat kamu. Rakha akan sangat senang jika kamu sering main ke rumah, " tutur Pak Danny memotong perkataan Prasta. Ada rasa sesal bercampur pengharapan dalam nada bicaranya.


Prasta semakin merasa canggung di hadapan Pak Danny. Pria paruh baya ini sangatlah baik dan penuh perhatian padanya, selayaknya seorang ayah kepada anaknya.


" Baik, Om. Insya Allah, kalau ada waktu senggang, Prasta akan mampir ke rumah. Tante Nia dan semuanya sehat kan, Om ? " tanya Prasta.


Pak Danny menyunggingkan sebuah senyuman.


" Semua baik dan sehat, Pras. Ngomong-ngomong, kamu mau kemana ? " tanya Pak Danny.


" Uummm... Mau ke coffee shop itu, Om, " sahut Prasta sembari menunjuk coffee shop yang ada di depan gedung, tetapi masih berada di area gedung tersebut.


" Kebetulan Om juga mau ke sana. Kalau begitu, ayo sama-sama Om, " ajak Pak Danny penuh suka cita.


Prasta semakin kikuk dengan sikap dan perlakuan Pak Danny. Ia tidak ingin mengganggu aktivitas pria paruh baya yang sudah seperti ayahnya sendiri itu.


Tbc





**Hellooww Cinta 💗💗


Makasih masih setia menunggu kelanjutan kisah Prasta n Renata


Happy SatNite to you all 🤗😘


Banyak cinta, sayang n terima kasih buat kalian semua 🤗😘💗💗**