
HAPPY READING ☺️
❤️
❤️
Renata menghela napas pelan setelah mengakhiri panggilan teleponnya. Sementara Danisha mengerutkan dahi menatap heran temannya.
"Ada masalah?" tanya Danisha begitu Renata kembali berdiri di hadapannya.
Renata menyunggingkan senyum pada Danisha.
"Tugas memanggil," sahutnya. "Aku titip ini. Aku harus segera ke kantor, bos dari Jakarta datang. Minta tolong sampaikan maafku ke Prasta dan Ibu karena nggak bisa mengantar pulang," imbuhnya sembari menyerahkan paper bag berisi almond cake kesukaan Prasta.
Danisha menerima paper bag dari tangan Renata dengan raut sedih, sedikit kecewa.
"Ayolah, Ren. Sebentar aja temui dia. Setidaknya kamu berikan ini sendiri padanya. Aku yakin dia pasti senang. Bukankah udah hampir seminggu kamu nggak jenguk dia?" rayu Danisha.
Renata tersenyum tipis.
"Maaf, ini benar-benar nggak bisa ditunda. Aku juga nggak tahu kalau bos dari Jakarta bakalan datang. Bukan begini juga rencanaku," terang Renata. Panggilan telepon yang baru saja ia terima adalah dari atasannya, Bang Andro, yang mengabarkan bahwa pria 40 tahun yang berkantor di Jakarta itu baru saja mendarat di bandara Juanda Surabaya dan memintanya untuk segera ke kantor.
"Ini bukan alasan kamu aja kan, buat menghindar dari Prasta?" tuding Danisha.
Renata menggeleng keras.
"Nggak! Sungguh! Aku harus segera ke kantor. Aku baru saja memulai pekerjaanku. Aku nggak mau dapat penilaian buruk di mata orang-orang kantor, terutama bos aku. Aku janji nanti bakalan jenguk dia di rumah. Tolong kamu sampaikan seperti itu ke mereka. Nanti aku akan kirim pesan juga ke Prasta maupun Ibu," tutur Renata sungguh-sungguh.
Danisha manggut-manggut, lalu menarik sudut bibirnya.
"Baiklah! Insya Allah aku sampaikan. Kamu harus pikirkan apa yang aku bilang tadi. Kesampingkan ego dan harga diri untuk hubungan kalian kali ini. Mengalah bukan berarti kalah, Ren. Kebesaran hati kalian untuk mengalah dan mau menerima segala kekurangan dan konsekuensinya adalah suatu bentuk perjuangan dan pengorbanan dalam membangun sebuah hubungan yang langgeng." Danisha mengingatkan Renata dan memberikan wejangan pada gadis itu.
Renata menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis. Lantas ia mengangguk.
"Ya, Danish. Thank you," ucapnya, sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk teman satu profesinya dahulu.
Danisha menyambut pelukan Renata. Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan, sebelum akhirnya Danisha mengurai pelukannya.
"Dan satu lagi, yang kamu harus tahu. Prasta sangat mencintai kamu. Dia masih mencintai kamu, Ren. Dia nggak pernah berpaling dari kamu," ujar Danisha, dengan bibir yang mengulas senyuman menatap Renata yang melipat keningnya dalam.
"Buktinya udah jelas, kan? Dengan kejadian yang kalian alami. Dia merelakan dirinya terluka," lanjut Danisha.
Seketika kedua netra Renata berubah sendu. Bibirnya berkedut hendak mengatakan sesuatu tetapi tertahan di tenggorokannya.
Danisha mengangguk meyakinkan gadis di hadapannya tentang semua yang baru saja dikatakannya. Membuat Renata menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Senyuman lebar mengembang di bibirnya disertai kedua netra yang berbinar cerah.
"I-iya, Danish! Terima kasih sekali lagi. By the way, I got to go!" ujar Renata akhirnya sembari mengulum senyuman. Kedua netranya berbinar, memancarkan kembali harapan yang sempat pupus.
"Baiklah! Hati-hati," sahut Danisha, tersenyum manis. Renata membalasnya dengan sebuah anggukan dan tentu saja senyuman bahagia.
Kakinya melangkah meninggalkan Danisha yang masih berdiri di tempatnya. Namun, Renata menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Danisha yang ternyata masih belum beranjak dari tempatnya.
Kening Danisha terlipat menatap Renata yang berbalik arah kepadanya.
"Ya, Ren? Ada yang tertinggal?" tanyanya heran sembari berjalan mendekati Renata yang juga menatapnya ragu.
Renata mengembuskan napasnya pelan.
"Kamu kenal dia?" tanyanya pada Danisha.
"Siapa?" tanya balik Danisha yang tak tahu siapa yang dimaksud Renata.
"Dia ... Maksudku gadis yang tadi bersama Prasta," jawab Renata.
"Oh, dia!" Danisha mengulum senyumnya dengan kepala mengangguk.
Renata mengernyit. "Kamu kenal?" tanyanya lagi, penasaran.
Danisha mengangguk sekali lagi. "Namanya Joanna," jawab Danisha. "Partner kerja Prasta," imbuhnya.
"Partner kerja?" Renata bertanya lagi.
"Lebih tepatnya seniornya di tempat kerja," jelas Danisha.
Renata melipat bibirnya ke dalam disertai gerakan kepala ke atas dan ke bawah.
"Baiklah, aku pergi. Sampai ketemu lagi, Danisha. Thank you again," pamit Renata dengan bibir yang melengkung.
"See you, Ren!" balas Danisha. Sebuah anggukan dan senyuman diberikan Danisha pada Renata yang lantas mengayunkan langkahnya pergi.
***
Bian mengacak rambutnya frustrasi. Helaan napas kasar keluar dari bibirnya disertai umpatan-umpatan kasar. Lelaki itu tengah berada di dalam ruangan kerjanya di kafe.
"Kenapa semua jadi begini? Ta, maafin aku!" Bian meraih botol minuman beralkohol di atas mejanya. Ia tenggak minuman beralkohol itu dengan gerakan kasar hingga bercecer membasahi mulut dan mengenai pakaian bagian depannya.
"Windy sialan!" umpatnya geram.
Ia mendengkus keras dengan dada naik turun menahan amarah mengingat perempuan yang selama ini menjadi teman pemuas nafsunya. Yang telah ikut andil mengacaukan hubungannya dengan Renata, gadis yang sebenarnya dicintainya.
Kemudian terngiang di kepalanya perkataan orang tua Renata saat beberapa hari yang lalu ia berusaha menemui gadis itu di rumahnya. Sayangnya, bukan Renata yang ditemuinya tetapi kedua orang tua gadis itu.
"Masih berani ya, kamu datang ke sini? Setelah menyakiti putri saya untuk ke sekian kalinya! Benar-benar tak tahu malu!" seru Pak Danny dengan telunjuk mengarah pada lelaki muda yang saat ini berdiri membeku di hadapannya. Kedua netra pria paruh baya itu menggelap dengan rahang yang mengeras, emosinya meluap.
"Apa sebenarnya salah Ata? Sampai kamu tak berhenti menyakitinya! Benar-benar keterlaluan!" Kali ini Bu Nia yang bersuara, terdengar bergetar. Wanita paruh baya itu tak kuasa menahan tangisnya.
"Sudah sejak awal, saya nggak pernah suka sama kamu! Sejak awal saya tidak pernah mempercayai kamu! Tetapi putri saya selalu berusaha meyakinkan kami bahwa kamu lelaki yang baik dan tidak seperti yang kami pikirkan. Ternyata benar! Kamu laki-laki brengsek yang nggak bertanggung jawab! Pergi kamu! Jangan pernah menemui Ata lagi! Kali ini saya nggak akan tinggal diam bila kamu masih saja mendekati atau menemui Ata lagi!" Setelah meluapkan emosinya, Pak Danny dan Bu Nia bergegas masuk ke dalam rumah. Sebelumnya, Pak Danny menutup pintu pagar rumahnya dan menguncinya tanpa memedulikan Bian yang berdiri terpaku dengan wajah lesu dan penampilan yang acak-acakan.
Bian menelungkupkan wajahnya di atas meja kerjanya, sementara kedua tangannya meremas rambutnya. Kepalanya pening mengingat semua kejadian yang telah terjadi. Penyesalan kini datang menghampiri lelaki itu. Ia sadar bahwa semua karena kesalahannya. Ia memang brengsek. Bajingan. Semua yang dikatakan orang tua Renata memang benar.
Bahu lelaki itu bergetar dengan tangan yang masih meremas rambut hitam tebalnya. Bersamaan itu terdengar rintihan dan isakan, Bian menangis.
"Aku mencintaimu, Ata. Sangat mencintaimu. Maafin aku! Please, jangan tinggalin aku! Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi! Aku janji akan berubah!" rintih Bian bersama isakan yang semakin melemah penuh penyesalan.
Sementara itu setelah kepergian Renata, Danisha segera pergi menuju kamar rawat Prasta dengan membawa paper bag titipan gadis itu. Sebuah suara yang sangat dikenalnya membuatnya berhenti, hanya beberapa meter dari kamar rawat sahabatnya.
"Bee!"
Danisha tersenyum manis ketika membalikkan tubuh dan mendapati suaminya yang setengah berlari menghampirinya.
Saka balas tersenyum ketika sang Istri meraih tangan kanannya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Kedua lesung pipinya menghias paras cantiknya saat kedua sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyuman.
"Kok cepat? Udah beneran selesai meeting-nya?" tanya Danisha, netranya tak lepas menatap suami tercintanya.
"Yup! Lagian meeting-nya nggak jauh dari sini. Cuma 15 menit jalan ke sini. Searah, jadi nggak perlu jalan memutar," terang Saka dengan senyuman rupawannya.
Danisha mengangguk paham. "Ayo!" ajak Danisha menggamit lengan suaminya.
"Itu kamu bawa apa, Sayang?" tanya Saka yang melihat dua paper bag di tangan istrinya.
"Ini tadi aku ...."
"Kamu masakin Prasta lagi?" potong Saka. Lelaki itu menghentikan langkahnya yang spontan diikuti sang Istri.
"Itu tahu!" sahut Danisha sembari tersenyum menatap sang Suami yang kini wajahnya cemberut.
"Sebanyak itu?" tanya Saka lagi sembari menunjuk dua paper bag di genggaman Danisha.
Danisha menggeleng dan menghela napas pelan.
"Yang ini titipan Renata," jawab Danisha sambil menunjukkan paper bag dari Renata dengan logo brand sebuah bakery ternama.
"Renata?" Saka melipat keningnya dalam.
Danisha mengangguk. "Tolong bawain, dong!" cetusnya sembari menyodorkan paper bag miliknya yang berisi dua kotak makanan. Satu kotak berisi sapo tahu dan satu lagi berisi chicken katsu yang sengaja ia masak untuk sahabatnya itu.
Saka berdecak saat menerima satu paper bag yang disodorkan padanya.
"Sayang ...! Udah deh, jangan ngomel gitu. Jelek, tahu!" tegur Danisha. "Senyum, dong! Biar nggak hilang gantengnya!" rayu Danisha sembari tersenyum saat melihat wajah cemberut suaminya.
Saka berdecak sekali lagi diiringi dengusan pelan yang masih bisa didengar oleh Danisha.
"Please deh, Ayahnya Barra!" Danisha merotasikan kedua bola matanya. Ia teringat Barra, putra kecilnya jika sedang kesal dan merajuk. Persis seperti sang Ayah.
"Iya-iya, Bundanya Barra! Sampai rumah nanti aku juga mau dimasakin. Atau ...." Saka tersenyum menatap Danisha dengan satu alisnya terangkat. Senyum penuh seringai diikuti satu netranya yang mengerling nakal.
"Ish!" Danisha mencubit pinggang Saka kesal, membuat lelaki itu mengaduh cukup keras, tepat ketika mereka berada di depan kamar rawat Prasta.
"Aduh! Sakit, Bee!" jerit Saka mengaduh, wajahnya meringis kesakitan sembari tangannya mengusap-usap pinggangnya.
Pintu kamar rawat Prasta terbuka, muncul Arga, adik Prasta, dari balik pintu dengan cengiran di wajahnya.
"Eh, ternyata Mas Saka sama Kak Danisha! Kirain siapa. Keras banget teriakannya tadi, Mas," lontar Arga sembari terkekeh.
Danisha tersenyum kecil menanggapi lontaran Arga. Lantas ia melenggang begitu saja masuk ke dalam kamar, tanpa menghiraukan Saka yang masih meringis kesakitan.
"Kenapa pinggangnya, Mas?" tanya Arga iseng.
"Ck! Anak kecil dilarang tahu adegan dewasa!" sahut Saka asal dengan raut kesal. Ia mengikuti istrinya yang masuk ke dalam kamar, membiarkan Arga berdiri bengong sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
"Sorry, Bro! Bikin repot kamu lagi," ucap Prasta yang duduk di kursi rodanya.
Saka menatap tajam sahabatnya. "Kampret! Nggak perlu sok basa-basi, deh!" sahut Saka sarkas.
Prasta hanya terbahak membalas komentar Saka.
"Mas!" seru Danisha mengingatkan. Sementara Saka hanya mencebikkan bibirnya mendapat peringatan istrinya.
"Thanks, Danish!" cetus Prasta dengan senyuman lebar di bibirnya, merasa senang Danisha membelanya.
Danisha tersenyum sembari mengangguk.
"Ini aja barang-barang kamu?" tanya Danisha pada Prasta yang melihat beberapa barang bawaan yang sudah dikemas dan ditata rapi untuk dibawa pulang.
"Iya, udah diberesin sama Ibu dan Arga tadi, dibantu si Jo," jawab Prasta, tangannya mengarah pada Joanna yang duduk di sofa di sebelah Danisha.
Danisha mengangguk-angguk. "Thank you, Jo," ucap Danisha menatap Joanna dengan seulas senyum.
"Anytime," sahut Joanna balas tersenyum.
"Ok, I have to go," ucap Joanna setelahnya. Gadis itu bangkit dari duduknya.
"Eh! Nggak sekalian aja nih, sama-sama keluarnya?" lontar Danisha yang juga bangkit dari sofa.
"Sorry, ada yang harus aku kerjakan. Harus segera selesai hari ini," jelas Joanna, bibirnya melengkung menatap Danisha.
"Gitu, ya!" ujar Danisha.
"Yup!" sahut Joanna singkat sembari mengangkat tas punggungnya.
"Udah fix bener keputusan kamu, Jo? Coba kamu pertimbangkan sekali lagi," timpal Prasta.
"Keputusan?" tanya Saka, satu alisnya terangkat menatap gadis dengan tas punggung yang sudah bertengger di bahunya. Lalu pandangannya beralih kepada Prasta.
"Joanna berencana pindah ke Singapore," jawab Prasta sembari menghela napasnya pelan.
"Singapore?" Danisha refleks menoleh pada Joanna yang berdiri di sebelahnya.
"Why? Bukannya karier kamu udah bagus di sini?" cecar Saka yang duduk di pinggiran ranjang.
Senyum Joanna mengembang. "Mencoba peruntungan di negeri orang nggak ada salahnya, kan?" cetus gadis itu.
"Iseng-iseng berhadiah sebenarnya. Aku coba mengirimkan beberapa hasil jepretanku ke salah satu perusahaan media di Singapore sewaktu aku di sana beberapa waktu lalu. Dan ... Mereka tertarik, menawariku sebuah pekerjaan," lanjut Joanna, menarik kedua sudut bibirnya.
"Wow! Hebat!" seru Saka dengan senyum lebarnya. Sementara Prasta tersenyum samar dan memberikan tatapan tajam pada sahabatnya itu.
"Yeah ...." Joanna terkekeh. "Kakakku yang tinggal di sana mendukungku dan memintaku untuk menerima tawaran itu. Setelah aku pikir-pikir, nggak ada salahnya mencobanya dan mengikuti saran dari kakak satu-satunya yang aku punya," ungkap Joanna disertai senyuman lebar dan helaan napas panjang.
Danisha mengusap pelan lengan Joanna sembari tersenyum hangat.
"Udah bulat ya, keputusan kamu?" tanya Danisha.
"I think so!" jawab Joanna tegas.
"Beneran yakin, Jo?" Kali ini Prasta yang bertanya.
Joanna terkekeh dan mengangguk. "No doubt!"
"Nggak kangen sama aku?" tanya Prasta dengan senyum miring di bibirnya.
Joanna tergelak sebelum membalas kelakar teman ternyamannya itu.
"Percuma juga kangen sama kamu. Nggak ada apa-apa juga!" sahut Joanna disertai kekehannya.
Danisha dan Saka ikut tertawa mendengar jawaban Joanna.
"Trus kalau aku kangen gimana?" Lagi, Prasta melontarkan candaannya.
Joanna memajukan bibir bawahnya. "Emang iya? Yakin, Pak, bakal kangen aku? Nggak bakal sempat kangen sama aku, deh! Leher barusan bener dan itu kaki masih begini. Sia-sia nanti pengorbanan kamu, ck!" sindir gadis itu yang sontak membuat sepasang suami istri di ruangan itu tergelak bersamaan.
"Kampret kamu, Jo!" umpat Prasta, raut wajah laki-laki itu seketika berubah masam dengan kedua bibir mengerucut.
Joanna semakin tergelak melihat raut wajah Prasta yang mendongkol.
Gadis itu telah memutuskan untuk pindah dan menetap di Singapore, mengikuti saran kakak satu-satunya. Ia pikir tak ada salahnya kali ini dirinya menyingkirkan ego dan sifatnya yang keras kepala. Mencoba berdamai dan dekat dengan anggota keluarga mungkin akan memberinya sebuah kenyamanan dan rasa aman. Bahkan kakaknya juga sudah menyiapkan tempat tinggal berupa apartemen untuknya, yang tentu saja tidak terlalu jauh letaknya dengan tempat tinggal sang Kakak. Tujuannya tidak lain agar sang Kakak dapat mengawasi dan memperhatikan sang Adik dengan baik tanpa rasa khawatir setiap saat.
TBC
Meet Joanna yang bakal pindah ke Singapore
**Holla, Cinta ❤️❤️ gimana puasa kalian?
Semoga masih lancar dan semangat, ya ☺️
Lho! Joanna mau pindah ke Singapore 🤧
Btw, Bian menyesal? Yang bener, Maszeh? Udah telat pun! 😒
Eh, Ayah Saka merajuk sama Bunda Danisha. Ish minta apa, sih? Kok pake seringai gitu senyumnya. Hayooo 🤭
Next, apa yg terjadi dengan Renata dan Prasta?
Kalian timnya siapa?
Prasta-Renata
Prasta-Joanna
Bian-Renata
Drop komen ya, Cintaku 😘
Thank you for reading n enjoy this story 🤗🙏
Lope lope yuuuuu 😘💕💕**