
Kak Mitha heran dan kaget melihat Prasta merokok. Sejak kapan teman adeknya itu merokok ? Sejak mengenalnya, kakak Distha itu tidak pernah melihat sekalipun Prasta merokok. Distha, adeknya itupun mengatakan bahwa dua sahabat laki-laki nya, Prasta dan Saka itu bukan perokok.
" Kamu mau di sini terus ? " tanya Kak Mitha, membuat Prasta kaget dan melihat ke arah Kak Mitha.
" Jam berapa dimulai acaranya ? " tanya Prasta datar, masih menghisap rokoknya.
" Mereka mau sekarang dimulai. Sejak kapan kamu merokok ? " tanya Kak Mitha ingin tahu. Ia bisa melihat raut wajah Prasta yang dingin.
Prasta mematikan rokoknya dan membuang puntung rokoknya ke dalam tong sampah tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Jadi ini yang buat kamu sering melamun akhir-akhir ini ? " Kak Mitha bertanya lagi.
" Ga penting juga, Kak. Ayo ! " Prasta beranjak pergi masuk kembali ke bangunan cafe milik Bian, mendahului Kak Mitha.
Kak Mitha menghela napasnya, lalu menggelengkan kepalanya.
Di dalam cafe, suasana sudah semakin ramai.
Acara pembukaan cafe itu pun dimulai. Prasta bertugas memotret keseluruhan acara itu dan kali ini ia harus benar-benar profesional menjalankan tugasnya. Ia harus bisa mengesampingkan masalah pribadinya.
Prasta benar-benar fokus pada tugasnya kali ini. Kehadiran Renata di acara itu, tidak membuatnya terganggu menjalankan tugasnya mengabadikan setiap momen acara tersebut. Lain halnya dengan Renata, ia sangat tidak menikmati acara itu. Ia tampak tidak nyaman, sesekali pandangannya bertemu dengan Prasta yang sibuk dengan pekerjaannya.
" Kamu kenapa, Ta ? Kok kelihatan gelisah begitu ? " tanya Bian, raut wajahnya terlihat sedikit khawatir.
" Hah ? Tidak apa-apa. Aku permisi ke toilet dulu, " ujar Renata gugup.
" Mau aku antar ? " tawar Bian.
" Owh ga usah, sendiri aja. Toiletnya sebelah sana, kan ? " tanya Renata menunjuk ke arah tempat yang dituju.
Bian mengangguk membenarkan.
Renata berjalan menuju ke toilet. Di depan pintu toilet wanita, Renata tertegun, melihat Prasta yang baru saja keluar dari toilet pria.
" Ay ! " panggil Renata lirih.
Prasta mendongakkan kepalanya dan kaget melihat gadis di hadapannya. Mereka saling menatap lekat. Namun, seketika Prasta tersadar. Ia segera memalingkan wajahnya dan hendak berlalu dari tempat itu. Namun, secepat kilat Renata menggapai lengan kekar laki-laki yang dirindukannya itu.
" Ay, please. Dengerin penjelasan aku dulu, " ujar Renata sedikit mengiba.
" Sorry, aku sibuk, " Prasta menepis tangan Renata tanpa menatap gadis itu dan berlalu pergi.
Seketika Renata merasakan sakit di dadanya. Hatinya serasa diremas-remas. Sungguh ia tak menyangka atas sikap dan perlakuan Prasta. Mendadak kepalanya sangat pusing. Ia terdiam sejenak, menyandarkan tubuhnya pada dinding toilet. Sebelum kemudian ia menghapus bulir bening di sudut matanya dengan tissue.
" Ah, di sini kamu rupanya. "
Renata tersentak kaget, Bian tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
" Lama bener di toilet. Ada apa ? " tanya Bian mengusap pipi Renata.
" Kamu nangis ? " tanya Bian lagi.
Renata menggeleng dan berkata, " Aku mau pulang. Kepalaku pusing banget, Bi. "
Bian menatap Renata, mencari sesuatu di manik mata gadis cantik di hadapannya.
" Baiklah. Setelah acara inti, aku antarkan kamu pulang. Ok ? Ayo, kita ke depan dulu, temani aku, " tutur Bian.
Bian menggandeng tangan Renata. Bibirnya tak lepas menyunggingkan senyuman bahagia. Sebaliknya, Renata menunjukkan sikap ysng tidak nyaman dan canggung.
Prasta melihat kedua orang tersebut berjalan menuju panggung kecil. Kak Mitha pun menghampiri Prasta yang berdiri mematung menyaksikan kedua orang itu berjalan ke arah panggung kecil. Bian akan memberikan sambutan dan menyapa para undangan serta pengunjung cafe nya yang baru saja dibuka.
" Pras, tugasmu mengabadikan setiap momen di acara ini. Jangan sampai ada yang terlewatkan, " bisik Kak Mitha mengingatkan Prasta.
Tanpa berbicara dan menanggapi perkataan Kak Mitha, Prasta pun mengangkat kamera nya dan mengintip di balik jendela bidik, sang pemilik cafe yang berjalan dengan percaya diri menggandeng tangan Renata. Matanya serasa pedih sepedih hatinya menyaksikan keduanya berjalan dengan mesranya. Namun, tugas tetaplah tugas. Ini pekerjaannya dan ia harus profesional. Beberapa kali ia melepaskan jepretan kameranya mengabadikan pasangan itu. Ia tak menampik, penampilan Renata sangat cantik dan anggun. Bahkan dengannya, Renata tak pernah berdandan seanggun saat ini. Prasta tersenyum getir. Apalah dirinya yang hanya seorang juru foto, gumamnya dalam hati.
******
Renata dan Bian saling diam di dalam mobil. Bian fokus dengan kemudinya. Sementara Renata, memandang keluar jendela mobil menyaksikan kendaraan yang melintas di sebelah kiri mobil yang mereka tumpangi. Pikiran dan hatinya, masih didominasi oleh Prasta. Ia benar-benar tidak menyangka bertemu dengan laki-laki yang dirindukannya di cafe milik Bian, pada saat dia sedang menjalankan pekerjaannya. Ia tak bisa melupakan tatapan mata Prasta saat ia berjalan bergandengan tangan dengan Bian. Tatapan mata yang dingin dan tajam. Tatapan yang tak pernah ia dapatkan dari seorang Prasta. Selama ia mengenalnya, Prasta adalah laki-laki yang berhati lembut walaupun sesekali ia bertindak tegas dan asal bicara. Suka sekali bercanda dan sangat usil. Sikapnya itulah yang membuat Renata jatuh cinta. Membuat Renata selalu tersenyum dan tertawa, melupakan masa lalunya.
Renata menghela napas nya dalam. Pikiran dan hatinya berkecamuk. Ada rasa sesal dalam hatinya. Seandainya ia menolak ajakan Bian untuk datang, mungkin semuanya tidak akan menjadi serumit ini.
" Kamu kenapa, sih ? " tanya Bian, tetap fokus mengemudi.
Renata tetap diam. Pandangannya pun tak berpaling.
" Kamu sakit ? " tanya Bian lagi.
Masih diam dan tidak ada pergerakan sedikitpun dari Renata.
Tiba-tiba Bian menepikan mobilnya. Ia terdiam sesaat setelah menghentikan mobilnya. Ia hela napasnya singkat.
" Ada apa sih, Hun ? "
Seketika Renata memalingkan wajahnya, menatap tajam wajah Bian.
" Please, berhenti memanggilku begitu ! " sungut Renata.
" Kamu kenapa, sih ? " Bian kembali bertanya, kali ini emosinya sedikit terpancing.
" Kamu yang kenapa ! " tukas Renata dengan nada yang mulai meninggi.
Bian memiringkan tubuhnya, menghadap Renata. Tangannya terangkat ingin meraih kepala gadis itu. Namun dengan cepat Renata menepisnya.
" Cukup, Bi ! Kamu apa-apaan sih ! " Renata mulai emosi.
" Aku ga ngerti kamu kenapa. Ngomong, dong ! Jangan diem aja ! Mana bisa aku ngerti ! " seru Bian, nada suaranya pun ikut meninggi.
Renata kembali menatap Bian tajam. Renata menelan saliva nya sebelum ia mulai bicara. Berusaha menahan emosinya agar tidak tumpah.
" Kamu masih ga berubah ya. Masih aja sama kek dulu. Masih suka seenak kamu sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, " tutur Renata, suaranya sedikit bergetar karena menahan emosinya.
" Maksud kamu apa, Ta ? " tanya Bian ingin tahu lebih jelas arah pembicaraan Renata.
Renata tersenyum miring dan memalingkan wajahnya ke depan melihat ke arah jalanan yang mulai padat karena jam pulang kantor. Ia hela napasnya dalam. Ia benci mengingat masa-masa dulu, masa lalunya yang sempat menggoreskan luka di hatinya. Ia benci harus kembali membuka luka lama itu saat ini. Kepalanya terasa semakin pusing.
" Aku ingin pulang sekarang, please, " ucap Renata kemudian, suaranya lirih.
Bian pun menghela napasnya panjang. Tanpa berkata sepatah katapun, Bian menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya membelah jalanan yang ramai dan lumayan padat.
Hingga sampai di depan rumah Renata pun mereka berdua masih saling diam. Mobil Bian sudah berhenti di depan pagar rumah Renata.
" Makasih udah mengantar aku pulang, " tangan kiri Renata membuka pintu mobil. Namun tangan kanannya tertahan oleh tangan Bian.
Renata melihat tangan Bian yang memegang tangan kanannya.
" Aku memang masih sama seperti dulu, Ta. Aku ga berubah. Perasaanku sama kamu pun ga berubah, " kata Bian kemudian.
Mata Renata mengerjap lalu membulat dengan sendirinya. Dengan spontan ia menarik tangannya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
" Sorry, Bi. Sekali lagi thank you udah mengantar aku sampai rumah, " ujar Renata dan ia buru-buru membuka pintu mobil, lalu keluar dari mobil Expander hitam itu.
" Ata ! " Bian pun dengan gerakan cepat keluar dari mobil dan menyusul Renata yang sudah berjalan masuk ke teras rumah.
" Ta, please. Aku sayang kamu ! " seru Bian, yang membuat langkah Renata terhenti.
Apa yang dia katakan ? Masih aja seenaknya mempermainkan perasaan orang, batin Renata.
Renata tidak bergeming. Ia tetap berdiri di tempatnya membelakangi Bian. Menunggu apa lagi yang akan diucapkan laki-laki itu.
" Aku kembali karena aku sayang kamu, Ta ! " ucap Bian lantang.
Renata memejamkan kedua matanya. Ingatannya pun melayang dan berputar ke masa lalunya, 2 tahun yang lalu.
" Ta, aku.... "
" Stop ! Cukup, Bian ! Please... pergilah ! " seru Renata kemudian. Ia tak ingin mendengarkan apapun lagi dari bibir lelaki maskulin itu.
Bian tersentak kaget. Ia tidak menyangka Renata menyuruhnya pergi.
" Ta, aku minta maaf ! " tukas Bian.
" Aku minta kamu pergi, Bian. Please... ! " ucap Renata lirih. Ada perih di hatinya. Perlahan air mata yang sudah menggenang di kedua pelupuk matanya pun luruh. Ia tak sanggup lagi menahannya. Hatinya seolah diobrak-abrik oleh laki-laki dari masa lalunya itu.
Bian terdiam. Ia memandangi punggung Renata yang perlahan masuk ke dalam rumahnya. Perlahan ia berjalan mundur dan membalikkan tubuhnya untuk bergegas pergi dari rumah Renata.
******
Setelah acara di cafe itu selesai, semua kru EO milik Kak Mitha pun kembali ke kantor.
Prasta masuk ke ruangan Kak Mitha. Lalu ia menyerahkan memory card yang diambilnya dari dalam kameranya.
" Maaf, Kak. Kali ini aku ga bisa, " kata Prasta.
" Maksud kamu apa, Pras ? " tanya Kak Mitha setelah menerima benda pipih kecil berwarna hitam dari tangan Prasta.
" Aku serahkan pada Kak Mitha dan teman-teman untuk memproses jepretan kameraku tadi. Maaf, aku ga bisa ! " ucap Prasta dengan suara yang tegas.
" Terserah kalian mau bilang apa. Jujur aku ga sanggup. Mungkin sebaiknya aku pergi dari sini karena aku udah ngecewain kakak dan teman-teman. Makasih banyak atas semuanya, Kak ! Aku pergi, " lanjut Prasta yang dengan cepat berlalu pergi meninggalkan ruangan Kak Mitha.
Kak Mitha tertegun dan kaget dengan semua sikap dan pernyataan Prasta. Seketika ia berlari menyusul Prasta.
" Prasta, tunggu ! Pras ! " seru Kak Mitha memanggil sahabat adiknya.
Namun, Prasta tetap saja mengacuhkan panggilan Kak Mitha. Ia langsung naik ke atas motornya. Kak Mitha berdiri menghalangi Prasta yang akan menancapkan gas motornya.
" Pras, semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Berpikirlah jernih, jangan mengambil keputusan selagi hati dan diri kamu diselimuti emosi. Kakak paham apa yang kamu rasakan. Ini bukan kamu, bukan Prasta yang kakak kenal, " tutur Kak Mitha dengan napas sedikit tersengal karena sedikit berlari mengejar Prasta.
Prasta terdiam. Entah kenapa, dirinya seolah ingin menghilang dari jagat raya ini. Hatinya benar-benar sakit dengan kenyataan yang ia lihat di depan matanya.
Kak Mitha melotot mendengar ucapan Prasta.
" Kamu bilang apa, Pras ? Dengar ! Ini bukan masalah uang, Pras ! Ini masalah hati kamu ! Ok, kamu ingin sendiri. Kakak beri kamu ijin cuti sesuka kamu, sampai kamu benar-benar siap untuk kembali ke sini membantu kakak. Deal ? " kata Kak Mitha tegas. Tangannya disodorkan pada Prasta tanda persetujuan atas tawarannya.
Prasta terdiam dan melihat tangan Kak Mitha yang siap menanti tangannya untuk bersalaman tanda setuju.
*******
Prasta duduk di pinggir danau buatan di salah satu komplek hunian mewah. Sudah tiga batang rokok ia habiskan sejak satu jam lalu ia sampai di tempat itu.
Pandangannya nanar ke dalam air danau. Ada bayangan dirinya terlihat di permukaan air danau itu. Ingin ia berteriak meluapkan gejolak yang ada di hatinya.
Ia membuka aplikasi musik di ponselnya, lalu menyalakan lagu dengan asal.
πΆπΆ
Bagiku kamulah duniaku
Semua 'ku berikan hanya untukmu
Aku menyayangimu
Apa kau tak sayang aku?
Kau tak pernah menyadari itu
Cinta ini 'ku beri hanya untukmu
Tapi semudah itu
Kau tinggalkan semua melukaiku
Kau tutup kisah cinta kita
Saat 'ku sedang sayang-sayangnya
Apa ada dia yang lain?
Yang beri semua yang 'ku tak punya
Kau tepikan kisah cinta kita
Saat 'ku sedang sayang-sayangnya
Kini 'ku tak bisa memaksa
Tapi 'ku harus bilang
Hatiku terluka
πΆπΆ
( Song : Sedang Sayang-sayangnya by Mawar de Jongh )
******
Tiga hari berlalu dari peristiwa pembukaan cafe Bian. Lelaki masa lalu Renata itu tak pernah berhenti menghubungi Renata bahkan sempat menemui Renata di rumahnya. Namun, Renata hanya menemuinya sebentar saja. Ia tidak ingin memberi kesempatan pada lelaki penggemar basket itu untuk kembali memasuki kehidupannya.
Siang itu Renata sedang bertugas siaran. Di dalam studio siaran ia ditemani Bang Hendra.
" Kamu kenapa, Ren. Sedari tadi putar lagu melow mulu, " ujar Bang Hendra heran, karena biasanya gadis dengan rambut ekor kudanya ini lebih menyukai lagu-lagu mid atau up beat
" Lagi pengen aja lah, Bang ! " jawab Renata asal.
" Hilih ! Bohong tuh, Hen. Lagi CLBK dia ! " celetuk Kak Ella yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang siaran.
" Apaan sih, Kak Ella ! " sahut Renata cemberut.
" Eh, CLBK ! Trus Prasta mau dikemanain ? " goda Bang Hendra.
Renata terdiam. Ia tidak tahu lagi bagaimana kabar Prasta. Pesan dan telponnya tidak pernah direspon oleh lelaki itu. Nyeri, kembali ia rasakan di dalam dadanya.
" Hey, Ren ! Renata ! " panggil Kak Ella.
" Renata ! " seru Bang Hendra setengah berteriak.
Sontak Renata terkejut dan gugup. Ia memegang dadanya.
" Hah ? Eh iya ! A... Ada apa ? "
" Nah kan, kau ngelamun lagi. Beberapa hari ini hobi banget ngelamun, " ujar Bang Hendra menatap Renata yang gugup.
Renata menghela napas panjang.
" Kamu ga bisa bohong sama Kak Ella, Ren. Kalo ada masalah, cerita sama kakak atau sama Bang Hendra. Kita siap dengerin, kok, " tutur Kak Ella sambil mengusap lengan Renata.
Renata tersenyum tipis.
" Thanks, Kak. Aku ga apa-apa. Mungkin nanti, ya.... " sahut Renata lirih.
Kak Ella dan Bang Hendra tersenyum simpul dan mengangguk.
Setelah jingle radio DG FM diputar, Renata memutar lagu berikutnya.
πΆπΆ
Lemahnya diri ini
Tak berhasil kubujuk
Hatiku untuk
Melupakan dirimu
Bayangmu masih berlari
Ke mana hatiku pergi
Masihku menangis
Mendengar namamu
Ku tak sanggup kasih
Tak bisa ku tak bisa
Bila harus bermimpi
Senyummu masih ada
Saat kupejamkan mata ini
Ku tak bisa
Pindah ke lain hati
Bila kau tak kembali
Lebih baik kuhidup sendiri
πΆπΆ
( Song : Tak Bisa by Brisia Jodie )
*******
Di kantin kampus, Prasta duduk sendiri di bangku yang terletak di pojok ruangan kantin. Menghisap rokoknya, sesekali ia hela napasnya berat. Ia menatap layar ponselnya, terpampang fotonya dan Renata yang ia jadikan sebagai wallpaper. Kenapa sulit sekali melupakannya, batinnya berkata sesekali menghisap rokok yang ada di tangannya.
" Ternyata bener yang dibilang Kak Mitha. "
Tiba-tiba Distha sudah duduk di bangku berhadapan dengan Prasta.
" Kenapa ? Kak Mitha cerita kalo Renata ninggalin aku, lebih memilih laki-laki pemilik cafe itu ? " celoteh Prasta sinis dan ketus.
Distha menautkan kedua alisnya sembari menatap Prasta.
" Hey ! Sejak kapan kamu merokok ? Sejak kapan kamu jadi lemah kek gini ? " cecar Distha.
" Bukan kamu banget, Prastawan Nugroho ! " lanjut Distha meninggikan nada suaranya.
Prasta menatap tajam Distha. Ia mematikan rokoknya yang masih setengah batang. Ia berdiri dari duduknya, akan beranjak dari tempat itu. Namun Distha menahannya.
" Pras, duduklah ! Sorry bila aku bicara kasar, " ucap Distha kemudian, ia tersenyum tulus pertanda maaf pada Prasta.
Prasta menghela napas dalam. Lalu ia kembali duduk. Bibirnya menyunggingkan senyum pada Distha.
" Sorry, aku yang udah bicara kasar tadi. Bukan kamu, " ujar Prasta tersenyum tulus.
Tbc
**Hai Cintaaaπ... I'll try to do up this story as soon as possible lho...! But banyak iklan bersliweran saat nulis ni story π€§ ditambah body yg lagi ga fit banget π€§
Masih pada galau π€
Jan lupa jejak n komen kalian slalu ditunggu π€ Rate nya jg Jan lupa ya π 5... Vote ? Thank you so much ππ€
Stay safe n healthy as always ya π€πππ**