LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 10 When Love & Hate Collide



Renata baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya saat dilihatnya ada notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ia raih ponsel yang ada di atas meja belajarnya. Ada beberapa pesan masuk yang belum dibacanya sedari sore tadi.


Helaan napasnya terdengar berat saat dilihatnya beberapa pesan baru dari Bian. Lelaki itu tidak pernah berhenti mengiriminya pesan dan menemuinya, entah di rumah, di kampus bahkan di studio Radio DG FM saat dirinya sedang bertugas.


Sudah lebih dari 5 bulan, hubungannya dengan Prasta sedang dalam ketidakjelasan. Lelaki itu sepertinya telah benar-benar melupakannya. Tak sekalipun pesan yang dikirimnya dibalas oleh lelaki yang telah merebut hatinya. Dan tak pernah sekalipun ia bertemu dengannya sejak peristiwa di cafe milik Bian. Sepertinya hubungannya dengan lelaki itu benar-benar sudah tidak bisa dipertahankan lagi.


Dipandangnya foto dirinya berdua dengan Prasta yang dijadikannya wallpaper di ponselnya. Hingga saat ini, ia masih mencintai lelaki berambut gondrong dengan segala pesonanya. Ia rindu dengan kejahilan dan kekonyolan lelaki itu. Ia juga rindu berboncengan naik motor sport dengan lelaki yang sangat menyenangi fotografi itu. Sangat rindu.


Tanpa disadarinya, air matanya luruh. Ia terisak mengingat semuanya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi semuanya. Ia sudah menyerah. Ia memutuskan untuk melepaskan lelaki yang dicintainya itu. Ia akan fokus dengan kuliahnya, mengejar mimpi dan cita-citanya serta membahagiakan kedua orang tuanya. Tinggal selangkah lagi kuliahnya akan selesai.


Dihapusnya air mata di pipinya. Menghela napasnya pelan, ia berjalan menuju ranjang tidurnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bian. Lagi-lagi lelaki masa lalunya itu menelponnya. Padahal ia sangat mengharapkan Prasta lah yang menelponnya. Dengan malas, ia pun menggeser tombol hijau ponselnya.


" Hallo. "


" Hai, Hun. Kok ga balas pesanku ? Aku udah ada di depan rumah kamu. "


" Mau apa ? " tanya Renata malas.


" Mau ketemu kamu, dong ! Miss you so much, Hun. "


Renata memutar kedua bola matanya jengah.


" Ck ! Suka banget ngegombal ! "


" Kenapa sih, ga pernah percaya aku. "


" Kamu mau tau kenapa ? " tanya Renata sedikit kesal.


" Ya, iyalah ! "


" Tanya sama diri kamu sendiri apa yang udah kamu buat 2 tahun yang lalu ! " ketus Renata.


Seketika hening, tidak ada sahutan dari seberang sana. Selang beberapa menit kemudian, terdengar helaan panjang di seberang sana.


" Hun, aku udah minta maaf. Emang semua salahku. Aku akui kesalahanku itu. Aku ingin menebusnya, beri aku kesempatan, sayang, " suara Bian mengiba.


" Aku tunggu di bawah, di teras rumah, " ujar Bian kemudian, lalu sambungan telpon terputus.


Renata mendengus kesal. Setelah meletakkan ponselnya di atas meja riasnya, ia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar terlihat segar. Sebelum keluar kamar untuk menemui Bian, Renata sempat memoles tipis-tipis wajahnya dengan bedak dan menyapu bibirnya dengan lip tint yang sewarna dengan kulit bibirnya.


Renata berjalan menuruni anak tangga setengah berlari. Ketika kakinya menginjak anak tangga terakhir, ia berpapasan dengan Rakha.


" Tuh orangnya dah di teras. Kakak beneran pacaran lagi sama dia ? " tanya Rakha ketus.


" Kamu apaan sih ? Ga usah kepo deh ! " sahut Renata tak kalah ketus.


Rakha mendengus, kemudian berlalu meninggalkan Renata yang terlihat kesal.


Lalu Renata pun berjalan malas menemui Bian di teras rumahnya.


" Mau kamu apa sih ? " tanya Renata yang langsung duduk di hadapan Bian, di kursi yang ada di teras rumahnya.


Bian yang tadinya sibuk dengan ponselnya, seketika mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum menatap Renata yang berwajah kesal.


" Ketemu kamu, " jawabnya singkat.


Renata berdecak dan melengos, " Ck ! "


" Please, kasih aku kesempatan, Ata. Aku ingin menebus kesalahan yang pernah aku buat. Kamu tau alasan aku kembali ? Kamulah alasanku ! " tutur Bian serius. Matanya tak lepas menatap gadis berbibir mungil di hadapannya.


Renata terdiam, hatinya berdesir mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Bian pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya sebelumnya. Yang lebih membuatnya sakit, ia pergi dengan alasan ingin bersama Windy yang juga melanjutkan sekolah di Swiss.


Ya, Windy, teman satu kelas Bian yang sangat menggilai lelaki di hadapannya saat ini.


" Apa kabar, Windy ? Kamu meninggalkan dia di Swiss ? " cecar Renata.


" Bisa ga, kita ga bahas orang lain saat ini ? Aku ingin bicara soal kita, " ujar Bian.


" Soal kita, juga soal dia, Bian ! " sungut Renata.


" Udah aku bilang, aku tidak pernah ada hubungan apapun dengannya, Ata, " kilah Bian.


" Haruskah aku percaya ? " tanya Renata serius.


" Aku harus bagaimana lagi, Ata ? " tanya balik Bian.


" Ada laki-laki lain ? " tanya Bian lagi.


" Ada atau tidak ada, ga akan mengubah apapun, Bi, " jawab Renata dengan wajah tertunduk. Dadanya sesak, bayangan Prasta berkelebat di kepalanya.


" Aku mencintaimu, Ata. Masih seperti dulu. Aku benar-benar minta maaf, " Bian berkata-kata sembari menatap lekat Renata penuh harap.


" Aku udah memaafkan kamu, Bi. Selesai, kan ? " jawab Renata.


Bian berpindah tempat duduk, di samping Renata. Meraih tangan Renata dan menciumnya lembut.


" Beri aku kesempatan sekali lagi, Ata. Please.... " Bian mengiba, menatap Renata penuh pengharapan.


Renata menelisik kedua mata sendu Bian, mencari kesungguhan yang dikatakan lelaki berkulit putih itu. Kedua mata sipit dengan pandangan sendu di hadapannya membuatnya tenggelam ke dalam pusaran arus kerinduan yang telah lama ia kubur.


Keduanya duduk berdampingan dengan wajah saling berhadapan yang hanya berjarak tak lebih dari 20 sentimeter. Dapat Renata rasakan hembusan napas hangat Bian.


Keduanya masih saling menatap lekat. Perlahan Bian memajukan kepalanya. Pandangannya tertuju pada bibir Renata yang terlihat basah. Renata spontan memejamkan kedua matanya saat bibir Bian menyentuh bibirnya. Seolah terhipnotis, Renata tidak memberi penolakan saat bibir Bian mulai memagut bibirnya. Ada kehangatan di sana. Desiran dan gelenyar halus menghampiri hatinya. Keduanya terbuai, menikmati kedua bibir mereka yang saling bersentuhan.


*******


" Distha ! " teriak Prasta memanggil sahabatnya dengan berlari.


Distha menoleh mendengar namanya disebut. Kenapa lagi itu anak, gumam Distha.


Dengan nafas tersengal, Prasta melambaikan kertas yang ada di tangannya saat sudah sampai di hadapan Distha.


Distha menautkan kedua alis cantiknya.


" Apa ini ? " tanya Distha penasaran.


Prasta tersenyum girang dengan napas yang masih tersengal.


" I did it, sist ! Coba kamu lihat, kamu baca ! " Prasta menyodorkan kertas yang dipegangnya kepada Distha, yang segera diterima oleh Distha. Dengan cepat Distha membuka dan membacanya. Distha membelalakkan matanya sempurna dan tersenyum lebar.


Tangannya spontan meninju lengan Prasta sembari berseru senang, " Yesss ! You did it ! "


Prasta merangkul bahu Distha, keduanya tertawa bahagia. Ya, kertas yang dibaca Distha adalah surat pemberitahuan bahwa Prasta lolos seleksi magang kerja di perusahaan media massa terbesar di Surabaya. Usaha keras dan penantiannya pun membuahkan hasil.


Distha mengacak rambut gondrong Prasta. Sang empunya tak hentinya menyunggingkan senyum bahagia di bibirnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia.


" Congratz ya, Pras ! Aku ikut senang, akhirnya kamu berhasil lolos seleksi di tempat itu. Kamu udah kasih tau Saka dan Danisha ? "


" Belum, sih... Aku belum kasih tau mereka. Thank you, by the way. Itu karena support dan doa kalian juga, " ucap Prasta sumringah.


" So... kapan kita hang out ? " tanya Distha mengedipkan sebelah matanya.


" Maunya ke mana ? " tanya Prasta tersenyum simpul.


" Widih ! Gaya nih ! " ledek Distha.


" Iya, dong ! " sahut Prasta terkekeh keras.


" Kamu sendiri, gimana ? Skripsi udah boleh start ? " tanya Prasta pada Distha, raut wajahnya berubah serius.


Distha menaikkan kedua alisnya.


" Begitulah ! Mau ajukan judul belum juga ketemu sama dosennya. Sebel juga, sih ! Jadi start di tempat aja, " keluh Distha.


" Denger dari Saka, Danisha udah dapat approval lho ! Dia udah bisa maju Bab satu, " ujar Prasta.


" Hu um, dia udah cerita kok, " imbuh Distha.


Kedua sahabat itu telah sampai di kantin kampus. Seperti biasa, mereka mengambil tempat duduk di ujung pojok ruangan. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka saling diam. Distha sibuk membalas pesan dari sang Mama. Sedangkan Prasta sedang chat dengan Saka, yang sedang menjemput Danisha di studio radio DG FM.


" Uummm... Boleh aku bertanya, Pras ? "


" Mau tanya apaan ? "


" Gimana Renata ? " tanya Distha ragu.


" Please, ga usah ngomongin dia, " tukas Prasta.


" Sampai kapan kalian bertahan dengan ketidakjelasan ? " tanya Distha lagi.


" Aku ga bertahan. Udah aku lepaskan, " jawab Prasta ketus.


Distha menggelengkan kepalanya.


" Jangan mengambil keputusan saat dirimu diliputi amarah, Prasta, " ujar Distha kemudian.


" Kamu egois, Pras. Memutuskan secara sepihak, tanpa mendengarkan penjelasan Renata, " lanjut Distha.


" Dia menolakku dan dia jalan dengan cowok lain, Dis. Dan.... " Prasta terdiam menelan ludahnya sebelum melanjutkan bicaranya.


" Aku sadar siapa aku dibanding cowok itu. Lebih baik aku menyingkir. Membiarkan dia memilih kebahagiaannya, " Prasta tersenyum getir.


" Emang kamu tanya sama Renata kalau dia bahagia sama cowok itu ? " tanya Distha.


" Dis, udah ya. Ga usah ngomongin dia. Aku ga ingin bahas dia lagi. Aku udah memilih tidak bersamanya. Aku mau fokus sama kuliah dan kerjaanku. Tinggal selangkah lagi kuliah selesai. Mungkin nanti setelah lulus, aku akan pergi dari kota ini, " tutur Prasta.


Distha mengernyitkan dahinya. Memandang Prasta dengan tatapan penuh tanya.


" Kenapa harus pergi dari kota ini ? Karena kamu kecewa dengan Renata ? Ck ! " Distha berdecak, ada nada kesal dalam ucapannya.


" It's not you ! Kenapa kamu jadi lemah kek gini, sih ! " sungut Distha.


Prasta hanya diam sembari menyesap cappucino yang dipesannya tadi.


" Apa gunanya kertas tadi ? Kamu udah lolos seleksi magang kerja di media massa besar di sini. Pergunakan itu supaya kamu bisa menjadi yang terbaik di sana. Jangan lepaskan, tapi perjuangkan apa yang udah ada di depan mata. Seperti halnya Renata, kenapa tak kau perjuangkan kalau kamu benar-benar mencintainya. Please, Pras ! Aku tau kalian berdua saling cinta. Aku ga pernah melihatmu benar-benar bahagia dan bersemangat sebelum mengenal Renata. Cobalah berbicara dengannya baik-baik, perjuangkan hubungan kalian. Apa kamu lupa dengan mimpi-mimpi yang udah kalian rajut bersama untuk masa depan kalian ? " tutur Distha panjang lebar. Ia hanya tak ingin sahabatnya salah langkah dan semakin terpuruk karena rasa kecewanya.


Prasta masih terdiam. Ia tatap Distha dengan senyum tipisnya.


" Thanks, sist. Aku masih fokus untuk segera lulus sekarang. Itu prioritasku, " ucap Prasta, tangannya mencomot pisang goreng di hadapannya. Sesekali mulutnya ikut bersenandung mengikuti lagu slow rock dari band legendaris Def Leppard asal Inggris yang diputar di kantin saat itu.


🎢🎢


Got the time got a chance gonna make it


Got my hands on your heart gonna take it all I know, I can't fight this flame


You could have a change of heart if you would only change your mind


'Cause I'm crazy 'bout you baby time after time


Without you, one night alone


Is like a year without you baby do you have a heart of stone?


Without you


Can't stop the hurt inside when love and hate collide


🎢🎢


*******


Bian menggandeng mesra tangan Renata masuk ke dalam sebuah restoran Western di salah satu mall terbesar di Surabaya.


Seorang pelayan memberi salam dan mempersilahkan mereka untuk mengambil tempat duduk.


Bian menggeser kursi dan mempersilahkan Renata untuk duduk.


" Thank you, " ucap Renata.


Lalu Bian pun duduk di hadapan Renata. Pelayan memberikan buku menu kepada mereka. Sesaat setelah melihat beberapa menu, mereka pun memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. Pelayan pun mencatat pesanan mereka dan segera beranjak untuk menyiapkan makanan dan minuman pesanan mereka.


" Thank you, udah ngasih aku kesempatan lagi, " ucap Bian tersenyum manis pada Renata sembari mengusap lembut punggung tangan Renata.


Renata tersenyum tipis. Ia hela napasnya pelan. Lalu ia edarkan pandangannya ke seluruh ruangan restoran tersebut. Pandangannya terhenti pada seseorang yang sangat dikenalnya, berjalan bergandengan tangan dengan seorang lelaki yang juga dikenalnya masuk ke dalam restoran yang sama.


" Renata. "


" Danisha. "


Bian menyipitkan kedua matanya dan memalingkan wajahnya ke arah yang sama dengan pandangan Renata.


Renata berdiri dari duduknya ketika Danisha mendekat menghampirinya.


" Ren, " sapa Danisha, lalu matanya beralih ke sosok lelaki yang duduk semeja dengan Renata.


" Hai, Danish. Hai, Ka, " Renata menyapa balik Danisha dan Saka dengan canggung.


Saka memperhatikan lelaki yang bersama Renata. Lalu beralih pada Renata yang tersenyum canggung.


" Bee, ayo kita duduk di sana, " ajak Saka pada Danisha sembari menunjuk meja yang tak jauh dari meja Renata.


" Ren, aku ke sana ya.... " ucap Danisha kemudian. Sekilas ia melihat lelaki yang bersama Renata, tersenyum tipis padanya dan berlalu meninggalkan mereka.


Renata kembali duduk. Bian menatap Renata dengan tatapan penuh tanya. Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


" Silahkan, selamat menikmati, " ucap pelayan itu.


" Terima kasih, " balas Renata dan Bian bersamaan.


Renata menyeruput sedikit jus alpukat yang dipesannya. Sementara Bian masih memperhatikan Renata dengan lekat, sebelum detik berikutnya ia melontarkan pertanyaan pada gadis di hadapannya.


" Siapa mereka ? "


" Teman aku, " jawab Renata singkat sembari menyuap salad buah di hadapannya.


Bian kembali menatap gadis yang sekarang telah kembali menjadi kekasihnya sembari menyuap potongan daging tenderloin ke mulutnya, ia tersenyum simpul. Kemudian ia memotong lagi tenderloin steaknya.


" Cobain, Hun. Enak bener nih ! " Bian menyodorkan potongan daging tenderloin ke mulut Renata, ingin menyuapkannya.


Renata sedikit menjauhkan wajahnya sembari melihat potongan daging tenderloin yang disodorkan ke hadapannya.


" Cobain deh, beneran enak, Hun. Ga bohong, " ucap Bian.


Renata membuka mulutnya dan menerima suapan potongan daging tenderloin itu dari garpu milik Bian.


Renata mengunyahnya, perlahan wajahnya menunjukkan kepuasan menikmati rasa potongan tenderloin steak di mulutnya.


" Gimana, Hun ? Enak, kan ? " tanya Bian penasaran.


" Enak, " jawab Renata singkat, mulutnya masih mengunyah sisa-sisa potongan daging tenderloin yang penuh cita rasa.


Bian tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.


Masih di tempat yang sama, di meja yang berbeda, Danisha masih penasaran dengan lelaki yang bersama Renata dan apa hubungan mereka. Danisha mencuri-curi pandang pada mereka berdua. Saka mengetahui jika Danisha mencuri-curi pandang pada Renata dan teman lelakinya.


" Bee, aku di sini lho ! Kok ngeliat orang lain sih ! " ucap Saka memperlihatkan ketidaksukaannya.


Seketika Danisha memalingkan wajahnya beralih menatap lelaki yang duduk di hadapannya.


Danisha menghela napasnya pelan dan tersenyum pada Saka.


" Maaf, " ucapnya.


" Kamu tau tentang ini ? " tanya Danisha kemudian.


" Tentang apa sih, Bee ? " Saka bertanya balik.


" Kamu pura-pura ga tau atau emang benar ga tau, sayang ? "


Saka menghela napas pelan, menatap Danisha dengan tatapan serius. Gadis di hadapannya ini insting nya memang tajam jika ada sesuatu hal menyangkut teman, sahabat ataupun orang-orang terdekatnya.


" Masih ga mau cerita ? It's ok, nanti aku tanya Prasta langsung atau sekarang aku akan tanya Renata, " ujar Danisha dengan nada sedikit mengancam.


" Wait, Bee. Ok, aku akan cerita, " tukas Saka kemudian.


Ia menghela napasnya lagi. Pikirnya daripada gadisnya bertanya pada Renata sekarang, lebih baik ia yang menceritakan semua yang terjadi di antara Prasta dan Renata, juga lelaki itu. Ia tidak mau terjadi hal-hal yang bisa membuat tersinggung orang yang bersangkutan. Ia merasa sedikit kesal juga kenapa harus bertemu dengan Renata dan lelaki yang diketahuinya sebagai mantan gadis itu.


Tbc





**Hellooww Cintaa πŸ˜˜πŸ’—πŸ’—


Sorry for late up yaa...


Semoga masih setia sama story mereka


Renata akhirnya menyerah, apa emang CLBK itu sulit dihindari sih ? apalagi si Bian gencar gitu ya 🀭


Apa kabar Prasta kalo tau yaa ? Uhukk ! Tolong saos yg mau jaga Prasta ???


Aq tuh curi2 nulis di opis loh.. demi bisa up buat semua teman cinta aq 😘


Banyak cinta, sayang dan terima kasih buat kalian semua πŸ€—πŸ˜˜πŸ’—πŸ’—**