LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 32 Bertahan dan Mengakhiri



HAPPY READING ☺️


"Halo? Maaf, ini siapa, ya?"


Suara itu kembali menyapa gadis manis dengan ponsel yang menempel di telinga kanannya. Suara yang masih dirindukannya sampai saat ini. Gadis itu duduk bersandar di kursi kerjanya dengan kedua netra terpejam, tidak bersuara. Ia hanya ingin mendengar suara dari lelaki yang ternyata masih belum benar-benar pergi dari ruang hatinya.


Saat makan siang tadi, gadis itu mengirimkan pesan pada mantan kekasihnya yang hari ini diwisuda. Ia mengetahui perihal hari wisuda mantan kekasihnya dari postingan akun sosial media Danisha dan Distha pagi tadi kala dalam perjalanan menuju stasiun televisi tempatnya magang.


Lalu, sekembalinya dari makan siang di kantin kantor stasiun televisi tempatnya magang, ponselnya berbunyi. Tak disangka, sang Mantan Kekasih meneleponnya setelah ia mengirim pesan ucapan selamat atas kelulusan lelaki itu.


Renata menggigit bibir bagian bawahnya dengan netra terpejam.


"Aku mau kita selalu bersama, Sayang. Semenjak mengenalmu dan kamu hadir membuat aku nyaman dan aku tak pernah tertarik dengan siapapun selain kamu."


"Aku mencintaimu. Jangan pergi ya ... Terus bersamaku, dengan semua kebiasaanku, dengan semua rasa yang kumiliki, semuanya hanya untukmu."


Renata terus menggigit bibir bawahnya kala tanpa permisi memorinya memutar kembali kenangan-kenangan bersama Prasta. Memorinya memutar kembali segala ungkapan rasa lelaki itu.


Kedua netra Renata masih terpejam dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Namun, tak terdengar lagi suara dari ponselnya. Pun sambungan telepon tak juga putus. Lalu benak gadis itu berucap.


Nyatanya aku tak bisa melupakanmu meski telah pergi jauh darimu. Aku nggak tahu apa sebenarnya yang terjadi sama kita. Mungkinkah kamu telah melupakan semuanya tentang kita?


Sementara itu, Prasta tidak memutuskan sambungan telepon pada nomor yang telah mengiriminya pesan ucapan selamat atas kelulusannya. Benda pipih elektronik itu masih menempel di telinga kanannya. Menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara di seberang sana. Namun, tetap hening. Tak ada suara. Hingga bibirnya kembali bergerak.


"Siapa pun kamu, terima kasih untuk ucapan selamatnya. Terima kasih karena mengingatku. Terima kasih telah mengingatkanku untuk selalu bahagia. Semoga kamu juga selalu bahagia di mana pun kamu berada, bersama orang yang menyayangimu dan menjagamu. Maaf dan terima kasih."


Lirih Prasta berkata dengan kepala menunduk dan selanjutnya ia mengakhiri sambungan teleponnya. Helaan napas berat lolos dari mulutnya. Perlahan tangan kanan yang menggenggam ponsel ia letakkan di dadanya, berusaha mengusir rasa sesak yang mengimpit di sana. Sementara tangan kirinya memijat pangkal hidungnya yang mancung.


Akhirnya aku harus berhenti berharap dan kita benar-benar selesai.


Ucap Prasta dalam hati bersamaan dengan sebuah senyuman getir di bibirnya.


Sementara Renata berusaha mati-matian supaya tidak mengeluarkan suara. Ia membekap mulutnya rapat dengan tangan kirinya. Perkataan Prasta sebelum sambungan telepon mereka berakhir sungguh membuat hatinya nyeri. Tanpa sadar bulir bening lolos dari pelupuk netranya. Ia semakin rapat membekap mulutnya agar tidak terdengar isak tangisnya sembari berlari menuju ke toilet.


***


Bu Nia tersedu sedan setelah membaca pesan dari nomor baru milik Renata. Wanita paruh baya itu baru saja tiba di rumah setelah melaksanakan kewajibannya sebagai guru bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan.


Diraihnya tisu yang ada di atas meja riasnya untuk menyeka air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Mama lega, kamu baik-baik saja selama ini di sana. Kenapa, sih, kamu nggak pernah mau menjawab telepon Mama? Mama kangen, Ata ...." rintih Bu Nia bermonolog di dalam kamarnya.


Sudah beberapa kali anak gadisnya itu mengirim pesan padanya setelah beberapa bulan tak memberi kabar sejak kepergiannya. Sayangnya, anak gadisnya itu tidak pernah memberitahu di mana tempatnya tinggal selama di Jakarta. Pun tak mau menerima panggilan telepon dari keluarganya. Anak gadisnya hanya mau berbalas pesan. Itu pun tidak terlalu sering.


Pintu kamar terbuka. Tampak Pak Danny yang baru saja datang dari bekerja.


Dengan terburu-buru, Bu Nia mengusap wajahnya menggunakan tisu untuk menghapus air matanya.


"Tumben Papa udah pulang," ujar Bu Nia, sekilas ia menatap jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 17.10. Tak biasanya suaminya tiba di rumah sebelum waktu Maghrib.


Pak Danny tersenyum tipis pada istri yang menyambutnya. Pria paruh baya itu menanggalkan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja rias istrinya.


"Ata kasih kabar apa?" tanya Pak Danny lembut sembari menatap lekat wajah istri yang berdiri di hadapannya dengan mata sembab walaupun senyum menghias di bibirnya. Pria paruh baya itu juga terlihat sangat merindukan putrinya.


"Apa Mama berhasil membujuknya?" tanya Pak Danny penuh harap.


Bu Nia menggeleng sedih.


"Dia hanya bilang kalau dia baik-baik saja. Dia bilang saat ini lagi senang dan menikmati pekerjaan magangnya," papar Bu Nia.


Pak Danny menghela napas panjang, lalu tersenyum penuh arti pada istrinya.


"Syukurlah kalau dia baik-baik saja dan senang dengan apa yang dilakukannya sekarang. Mungkin udah saatnya kita harus benar-benar membiarkannya mandiri, seperti keinginannya," tutur Pak Danny sembari melepas jam tangannya yang kemudian diletakkannya di atas nakas.


"Apa yang dikatakan Prasta benar. Kita harus percaya pada Ata. Percaya pada apa yang dilakukannya saat ini adalah usahanya untuk meraih keinginan dan impiannya yang memang sudah sejak lama dipendamnya. Yang bisa kita lakukan adalah merelakan dan mendukungnya."


Bu Nia mengangguk, lalu menyunggingkan sebuah senyuman pada suami yang juga tersenyum sembari merangkul bahu wanita itu.


Ya, lambat laun kedua orang tua itu harus merelakan putrinya untuk menempuh jalan kehidupannya sendiri. Mereka kini memutuskan untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk putri sulungnya. Semua itu karena Prasta yang mengungkapkan keinginan dan kesungguhan Renata meraih impian untuk masa depan yang dicita-citakan gadis itu kepada kedua orang paruh baya itu, yang sebenarnya adalah bagian dari rencana masa depan keduanya sebelum hubungan mereka berakhir.


***


Bertahan atau mengakhiri


Keduanya sama


Sama-sama memiliki konsekuensi


Tetaplah bertahan, meskipun kenyataannya kau ingin semuanya berakhir


-Prasta-


"Thank you, Pras!"


Prasta tersenyum menatap gadis berwajah eksotis di hadapannya yang tampak sembab karena derai air mata yang terus luruh dari kedua netra gadis itu.


"It's ok, Jo! That's what friends are for, right?"


Joanna menyunggingkan senyum tipis di bibirnya sembari mengusap hidungnya yang memerah.


Kedua orang itu saat ini tengah berada di balkon unit apartemen Joanna setelah gadis itu menelepon Prasta sembari menangis dan memintanya untuk segera datang. Saat itu, Prasta sedikit ragu untuk mendatangi apartemen gadis itu, mengingat hari sudah beranjak malam.


Saat Prasta tiba di unit apartemen Joanna sudah hampir jam 8 malam. Joanna membukakan pintu apartemennya dengan tangisan yang terdengar sangat menyesakkan. Gadis itu langsung memeluk tubuh Prasta begitu lelaki itu masuk ke dalam unit apartemennya. Hingga membuat Prasta membeliakkan kedua netranya karena terkesiap dengan tindakan Joanna.


Selanjutnya, gadis itu menceritakan semua yang terjadi padanya setelah Prasta sedikit memaksanya untuk bercerita.


"Masa sih, orang tua kamu tega berbuat begitu sama anak sendiri? Sorry! Bukannya aku nggak percaya sama kamu. Tapi ... Aku merasa aneh aja, gitu!"


"That's my Dad, Pras! Itu kenapa aku nggak mau diajaknya tinggal bersama. Papa selalu memaksakan kehendaknya. Sejak mama meninggal, sikap papa semakin menjadi," cerocos Joanna sembari menatap langit malam dengan bintang yang bertebaran di atas sana.


"Entah dapat bisikan setan mana, sampai papa begitu percayanya sama laki-laki brengs*k itu! Aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama, Pras! Gila kali, ya!" ujar Joanna menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya, ya! Aku paham, Jo! Lalu, selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?"


Joanna terdiam dengan kedua tangan memeluk kedua lututnya yang ditekuk.


"Entahlah! Menurut kamu, aku harus apa?" Gadis itu balik bertanya.


Prasta menghela napas singkat. Ia tak pandai memberi saran. Selain itu, dirinya sering merasa tak enak hati bila memberikan saran. Takut timbul kesalahpahaman.


"Bicarakan baik-baik dengan papa kamu, atau meminta bantuan kakak kamu, mungkin?" Akhirnya Prasta memberikan sarannya.


Joanna bergeming, pandangannya datar dan lurus ke depan. Lalu menghela napasnya panjang.


"Nggak cuma sekali aja aku berbicara masalah ini sama dia, Pras. Semuanya zonk! Nggak pernah ada titik temu. Aku capek!" terang gadis itu dengan nada yang terdengar kesal.


Jo menggeleng.


"Cobalah ajak kakak kamu, berbicara bersama mereka. Siapa tau berhasil," cetus Prasta.


Prasta tidak menyangka dibalik keceriaan dan ketangguhan yang dimilikinya, Joanna menyimpan begitu banyak luka. Ketidakcocokan dengan sang Ayah dalam berbagai hal sedari kecil, kehilangan ibunya dan kepergian kakak satu-satunya setelah menikah, hingga puncaknya dikhianati oleh tunangannya. Lebih parah lagi mantan tunangannya itu menginginkan gadis itu kembali bertunangan dan menikah dengannya. Dan yang baru saja terjadi pada Joanna beberapa jam yang lalu adalah perbuatan mantan tunangannya. Lelaki itu berbuat kasar pada Joanna.


Prasta menghela napasnya dalam, lalu menoleh dan menatap gadis manis yang kini duduk bersila di sampingnya. Keduanya duduk di bawah beralaskan lantai balkon sambil memandang langit malam yang terlihat cerah dengan bintang-bintang yang bertaburan menghias malam.


"Apa dia sering datang ke sini?" tanya Prasta akhirnya, memecah keheningan mereka.


"Ini yang ketiga kalinya. Oh, Ya Tuhan!" rintih Joanna sembari menutup wajah sembabnya dengan kedua telapak tangannya. Ia kembali teringat peristiwa yang baru dialaminya beberapa jam yang lalu.


"Jo! Are you ok? Sorry, Jo!" Prasta mengusap pelan bahu Joanna.


Joanna mengusap wajahnya perlahan, lalu gadis itu mengangguk sembari menatap Prasta dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.


"Thanks, Pras! I was ok since you're here. Sorry, ya. Udah ngerepotin kamu. Aku tadi benar-benar panik dan yang terlintas di kepalaku cuma kamu," ungkap Joanna. Tangannya menggenggam erat tangan Prasta yang masih berada di bahunya.


Prasta tertegun dan sekilas melihat tangan Joanna yang menggenggam tangannya. Tangan gadis itu terasa dingin. Prasta mengusap lembut punggung tangan Joanna dengan ibu jarinya. Sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyuman yang diikuti dengan sebuah anggukan.


"Jangan sungkan, Jo. Hubungi aku kapan pun selagi kamu butuh pertolongan atau barangkali hanya sekedar teman ngobrol. Insya Allah aku siap dan ada buat kamu," tutur Prasta, masih dengan senyuman di bibirnya dan tangan yang menggenggam tangan Joanna.


***


Beberapa bulan berlalu ....


Hujan masih belum juga reda sore itu ketika Renata telah siap untuk pulang. Hari ini ia cukup disibukkan dengan pekerjaannya. Sudah satu minggu ini ia ditempatkan di News Room setelah sebelumnya ia diberi kesempatan bergabung di Creative Team dan Talent. Tinggal beberapa bulan lagi masa magangnya selesai. Beberapa rencana sudah ia siapkan untuk langkah selanjutnya jika seandainya dirinya tidak berlanjut bekerja di tempat itu.


"Ren!"


Renata yang tengah duduk di bangku tunggu lobby dan fokus dengan ponselnya karena menunggu taksi online yang dipesannya sontak mendongak.


"Hai!" Senyum mengembang di bibir mungilnya mengetahui seseorang yang menyapanya. Afif, salah satu Cameraman..


"Belum dijemput?" tanya lelaki itu sembari membetulkan tas punggung yang bertengger di bahu kanannya.


Renata tersenyum lebar. "Iya ... Dijemput taksi online," ujarnya bercanda.


"Serius? Biasanya dijemput, kan? Uummm ... Maksudku sama ... Pacar kamu?" berondong Afif ingin tahu, sebuah senyuman terbit di bibirnya. Senyum yang canggung.


"Yaa ... Kali ini nggak biasa, hehehe ... Oh, no! Maksud aku ... Nggak selalu dijemput juga, kok! Kamu sendiri, udah mau pulang?" cerocos Renata, ia bangkit dari duduknya.


"Iya, nih! Sorry, nih, aku cabut dulu, ya! Dan maaf juga nggak nawarin tumpangan. Bawa motor soalnya. Masa iya, nawarin tumpangan motor pas hujan kayak gini. Bisa digorok pacar kamu nanti!" tukas Afif dengan candaannya.


Renata tertawa sembari mengangguk-angguk. "Iya, silakan! Hati-hati di jalan, ya!"


"Siap! Sampai ketemu besok!" pamit lelaki 25 tahun itu dengan kedua ibu jari terangkat.


Beberapa saat kemudian, taksi online yang dipesan Renata datang dan sesaat setelah ia masuk ke dalam, kendaraan bermotor roda empat itu melesat dengan segera meninggalkan gedung stasiun televisi itu.


Selang beberapa menit kemudian ....


Renata mengambil ponsel dari dalam tasnya ketika ia baru saja masuk ke dalam unit apartemennya. Gadis itu melepas sepatu dan meletakkannya pada rak sepatu di samping pintu masuk, lalu berjalan menuju dapur sembari mengecek pesan yang baru saja masuk.


Ada beberapa pesan dari Bian masuk di chat room-nya.


Bian πŸ’•πŸ’•


Miss you badly, Hun 😘


Imagine that you come into my arms πŸ€—


Are you fine?


Bian πŸ’•πŸ’•


Sorry, I haven't been able to chat.


And really sorry about our last conversation. You definitely know why I did it. I don't wanna lose you, I love you so much, Ata


Renata menyesap air mineral dingin setelah membaca pesan dari lelaki yang telah membawanya ke dalam dunianya saat ini. Dunia yang hanya ada dirinya, Bian dan keinginan serta mimpi-mimpinya. Tak ada keluarganya. Ia menghela napasnya sembari meletakkan gelas minumnya di atas meja makan. Kemudian ia beranjak duduk di sana.


Sudah hampir dua minggu, Bian pergi ke Surabaya setelah sebelumnya mereka beradu mulut karena Renata ingin ikut serta bersamanya, tetapi lelaki itu tak mengizinkannya.


-Flashback on-


"Kamu udah janji, lho! Sebelum semua mimpi dan keinginan kamu terwujud, nggak akan kembali ke Surabaya! Kamu masih ingat, kan?" beber Bian, mengingatkan pada janjinya kala itu.


"Ya, aku ingat! Tapi, aku kangen mama, Bi ... I miss her so much!" tuturnya.


"Oh, ya? Bukannya kamu sering berbalas chat sama mama kamu? Trus, masih juga chat sama laki-laki anak buahnya Mitha itu, kan? Jangan kamu pikir aku nggak tau, Ata!" cecar Bian. Kedua netranya berkilat dengan rahang yang mengeras sembari mengarahkan telunjuknya ke wajah gadis itu.


Renata melipat keningnya dalam hingga kedua netranya menyipit.


"Apa? Kamu memata-matai aku, huh? God damn it, Bian! You don't trust me?" tudingnya sembari mendengkus kesal.


"Benar, kan? Kamu masih berhubungan dengan dia? Even udah ganti nomor ponsel pun, you did it! How dare you, Ata!" bentak Bian.


-Flashback off-


Saat itu, Renata hanya terdiam mengatupkan bibirnya mendengar Bian yang kembali berubah kasar dengan membentak dan menuduhnya tanpa alasan yang logis. Ia berusaha meredam emosinya atas perkataan kasar lelaki itu. Ia tidak mau bertengkar dengan lelaki itu hanya karena sesuatu hal yang sepele dan tidak masuk akal. Sifat posesif lelaki itu telah membuat sikapnya jauh dari pemikiran logis. Ia mencoba memahaminya. Namun, sisi lain hatinya merasa lelah menghadapi sikap Bian. Ia juga merasa bahwa Bian seolah-olah sedang menjauhkan dirinya dengan keluarganya.


Gadis itu kembali menghela napas panjang dan mengusap wajah manisnya perlahan dengan kedua tangannya. Lalu mengerjap perlahan dan bangkit dari duduknya beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


TBC


**Hai, Cinta ❀️❀️


Gimana part ini? Komen, ya ... ☺️ dan jgn lupa tekan πŸ‘ πŸ™


Nggak terasa, kita udah di penghujung tahun 2021. Semoga di tahun yg akan datang, kita diberikan rezeki yang berkah melimpah, selalu sehat dan lebih taat dalam beribadah. Aamiin...


Thank you buat semua atensinya, yg udah membaca, mengikuti dan menemani aku di sini selama ini. Ditunggu terus, ya, kelanjutannya πŸ€—


Dan satu lagi, doakan karya baru ku segera bisa aku rilis di awal tahun depan.


Happy New Year to you all.


Love you πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’•πŸ’•**